Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Cintaku Tidak Pernah Mati


__ADS_3

"Bagaimana, Bos?" tanya Parjo sambil mematikan mesin rumput. "Bilang apa bos gede?"


"Pokoknya beres."


"Apanya?"


"Sebentar lagi kamu disuruh menghadap."


"Aku?" Parjo terbelalak gembira. "Terima kasih, Bos. Kau ternyata tidak lupa nasib bawahan. Kau cocok jadi direktur tukang sapu!"


"Bukan menghadap bos gede."


"Menghadap HRD?"


"Menghadap Tuhan." Gerdy tertawa.


"Sialan," maki Parjo keki.


"Tidak ada apa-apa kok, Jo. Cuma koordinasi biasa. Suara orang kecil katanya tak berlipstik." Gerdy melihat jam tangan. "Aku kuliah dulu, Jo."


"Kembali lagi?"


"Ya."


"Kusisakan jatahmu."


"Direkturnya itu aku apa kamu?" sergah Gerdy galak. Anak buahnya yang satu ini tak boleh dikasih hati. Kalau dibantu, bukannya mikir, malah melunjak. "Semua sudah kuatur. Gimin dan ketiga kawannya membersihkan kaca gedung. Arif dan Jali menyapu halaman belakang. Yang lain beres-beres gudang. Kamu pangkas rumput sampai selesai. Kalau tidak, kupangkas rumputmu!"


"Siap!"


Gerdy pergi ke belakang masuk ruang ganti. Salin pakaian dan mengambil tas berisi buku di locker. Lalu seperti biasa lapor ke atasannya.


"Berangkat, Pak," kata Gerdy ke pria beruban yang terkantuk-kantuk mendengarkan lagu kenangan yang mengalun dari piringan hitam di sudut ruang kerjanya.


"Mm."


"Pulangnya jam dua."


"Mm."


"Mereka sudah dibagi tugas."


"Mm."


"Minta tanda tangan izin keluar, Pak."


"Mm."


"Mm, Pak?"


"Mm."


Pasti semalam kena shift sama istrinya. Dia kehabisan bahan bakar untuk menjawab panjang-panjang. Salah sendiri madu tiga.


Kuliah sambil kerja ternyata repot juga. Mesti pandai membagi waktu. Kadang jam istirahat digunakan buat belajar, atau mengerjakan tugas.


Luki sendiri heran. Gerdy seolah tak kenal lelah. Pagi kerja, siang kuliah, sore masuk lagi. Dia sungguh pekerja yang loyal dan bersemangat untuk maju.


"Ke mana dia?" tanya Nadine ke Luki ketika melihat Gerdy membawa motor keluar dari pintu gerbang. Mereka sedang berjalan-jalan keliling kantor.


"Kuliah S2."


Nadine terdiam. Jadi Gerdy sudah meneruskan studinya?


"Dia bukan tukang sapu biasa. Beberapa bulan di muka saya kira sudah ganti pakaian. Dia akan saya promosikan sebagai pionir di NTB. Orang baru lulus biasanya semangat tempurnya tinggi."


"Sepertinya kamu kenal dekat?"


"Dia teman kuliah saya dulu. Hanya beda nasib."


"Kenapa dipekerjakan sebagai supervisor cleaning service kalau benar temanmu?"


"Ibu tahu bagaimana komitmen pimpinan lama. Perusahaan ini bukan kumpulan koneksi, tapi kumpulan orang berprestasi."


"Dia tidak memenuhi syarat?"


"Cuma soal kesempatan."


Bagaimanapun inginnya Nadine memindahkan Gerdy ke tempat yang lebih baik, dia tak mau melanggar tradisi perusahaan. Sementara dia harus rela membiarkan mantan suaminya terpanggang matahari.


Sebagai orang yang paling dekat, Luki dapat merasakan kelainan sikap pimpinannya. Dia seperti menaruh perhatian khusus pada Gerdy.


Hampir tiap hari Luki memergokinya berdiri dekat jendela. Dia tahu siapa yang diperhatikan. Baru kali ini dia melihat seorang owner begitu peduli pada pegawai middle.


Dia masih sempat meluangkan waktu memandang ke bawah sana padahal pekerjaannya demikian sibuk. Seakan pegawainya cuma Gerdy. Cuma dia yang pantas diperhatikan.


Untuk karyawan yang satu itu, dia bahkan lebih hapal dari HRD. Dia tahu jam berapa Gerdy keluar. Hari apa tidak masuk. Di mana tempat istirahatnya. Padahal wajah orang-orang yang berada di dekatnya saja dia hampir lupa.


"Kamu apakan si bos cantik itu?" tanya Luki penasaran ketika mentraktir Gerdy makan malam di sebuah restoran mewah. "Kamu guna-guna ya?"

__ADS_1


"Direktur percaya begituan."


"Perhatiannya padamu membuat aku curiga."


"Kalau perempuan, kamu juga pasti gemas melihat tampangku."


"Iya. Gemas ingin menusuk pakai garpu!"


"Jealous."


"Dia sudah punya suami."


"Bukan berarti menutup kesempatan untuk jatuh cinta pada pria lain."


"Kalau mau selingkuh, dia pasti menjatuhkan pilihannya padaku."


"Sejak kapan kamu jadi pilihan pertama?"


Semasa kuliah, Luki selalu mendapat sisa. Gadis-gadis lebih butuh otak Gerdy daripada uangnya. Sekarang wanita manapun di kantor ini tentu berpikir dua kali untuk menempatkannya sebagai pilihan kedua.


Tapi Luki segera meralat pendapatnya kembali ketika Nadine memintanya untuk memberikan sejumlah uang pada Gerdy. Hhh, rupanya perempuan itu lebih tertarik pada jajanan kaki lima daripada kue hypermarket!


Kalau tidak menaruh rasa, buat apa bermurah hati begitu? Uang itu terlalu besar untuk bonus sekalipun!


"Kamu serahkan sendiri," kata Nadine. "Jangan sekretarismu."


"Kenapa tidak sama Ibu saja?" tatap Luki masih belum percaya.


"Kalau aku pasti ditolak."


"Apalagi saya, ditendang bisa."


"Supervisor berani menendang direktur?"


"Di luar, saya adalah sahabatnya yang tak pernah dianggap. Ibu keliru kalau ingin mengasihaninya. Dia biasa hidup tanpa belas kasihan. Menimba pelajaran dari kehidupan bagaimanapun pahitnya."


"Sebagai pimpinan wajar aku memberi hadiah."


"Sebenarnya apa maksud Ibu memberi uang sebanyak ini?"


"Dia butuh biaya buat kuliah."


"Hanya itu?"


"Kalau kukatakan alasan lain, kamu pasti tidak percaya."


"Dia mantan suamiku."


Di depan pembantu dekatnya ini, Nadine tidak sungkan-sungkan bicara terbuka. Dia sudah menaruh kepercayaan penuh.


"Apa?!" Luki terbelalak lebar-lebar. Dia sampai lupa untuk tetap berlaku sopan di hadapan pimpinannya. Ketika sadar, lekas-lekas berkata, "Maaf."


Nadine tersenyum. "Betul kan tidak percaya?"


"Tentu saja. Gerdy pernah berumah tangga, tapi istrinya sudah meninggal."


Sekarang Nadine yang kaget. Dipandangnya Luki dengan tak berkedip.


"Dia bilang aku sudah mati?"


"Bukan Ibu, istrinya."


"Aku istrinya!"


Luki terdiam tak percaya. Gerdy punya mantan istri seorang presiden direktris? Mana mungkin!


"Barangkali Ibu salah lihat," kata Luki. "Yang dimaksud bukan Gerdy sahabat saya. Banyak orang memiliki wajah dan nama yang sama."


"Pikirmu aku tidak bisa membedakan? Biar ada seribu kembarannya, aku hapal Gerdy seperti aku hapal diriku sendiri!"


"Tapi istrinya sudah tiada, Bu."


"Jadi kau anggap aku arwahnya?" delik Nadine kesal. "Setan gentayangan mana bisa menggajimu!"


Luki mengatupkan mulut dengan kaku. Dia tak mau memperpanjang masalah itu. Andai benar pun, apa pedulinya?


"Aku ingat sekarang," cetus Nadine tiba-tiba. "Kamu pasti Luki yang memberikan obat anti hamil pada Gerdy. Yang menyuruhnya untuk merenggut kehormatanku."


Merah padam wajah Luki. Dari mana bosnya tahu soal itu? Satu hal dia yakin, wanita itu tahu banyak kehidupan Gerdy!


Nadine meninggalkan Luki bengong sendiri. Dia turun ke lantai dasar lewat lift khusus direksi, dan pergi ke gedung logistik.


"Bos gede ke mari," kata Parjo salah tingkah. "Aduh, ada apa ya?"


Melalui jendela kaca, Gerdy sudah melihat Nadine sejak muncul dari ujung gedung. Tapi dia tetap duduk santai sambil membuka nasi bungkus.


Nadine masuk ke ruang istirahat. Pura-pura melihat keadaan. Memeriksa ini itu.


"Yang lain mana?" tanyanya ke mereka.

__ADS_1


"Jam istirahat pada pulang, Bu," sambar Parjo. "Makan di rumah."


"Kamu tidak pulang?"


"Rumah saya jauh."


"Tidak makan di luar? Di seberang jalan kan ada restoran sea food."


"Wah, bisa-bisa gaji tidak kebawa pulang, Bu. Harga lobster bisa bikin anak istri kelaparan."


Tanpa banyak bicara, Nadine mengeluarkan beberapa lembar uang dari tas mungil dan diulurkan ke Parjo.


"Ambil." Nadine tersenyum melihat Parjo ragu-ragu. Dia melirik ke arah Gerdy, tapi atasannya itu pura-pura asyik menyantap makanan. "Sekali-sekali kamu makan enak. Jangan bilang dari aku. Yang lain nanti iri."


"Baik, Bu."


Dengan gembira Parjo menerima uang itu. Mimpi apa semalam dapat rejeki besar.


Padahal Nadine cuma ingin mengusir secara halus agar bisa berduaan dengan Gerdy. Segera Parjo merapikan kembali nasi yang sudah dibuka dan menaruhnya di locker.


Sesudah Parjo pergi, lama Nadine termenung menatap Gerdy. Memperhatikan suap demi suap nasi yang masuk ke mulutnya. Ada selembar kenangan manis menggugah hatinya. Kejadian itu seolah gambaran peristiwa di masa lalu.


Waktu Gerdy belajar jadi orang biasa, mereka sering makan satu bungkus nasi berdua. Lauk pauknya juga sama; limpa, paru, daun singkong rebus, dan sambal.


Kalau makan di luar; gurami bakar, sambal kacang, kecap manis, serta lalap-lalapan segar. Satu ekor berdua, kadang saling menyuapi.


Tak sadar Nadine duduk di tepi meja di dekat Gerdy yang duduk di kursi. Diulurkan tangannya ke nasi bungkus yang terbuka di atas meja.


Gerdy sampai tidak jadi menyantap nasi. Tangan halus yang mencomot nasi itu mengingatkannya pada kenangan yang telah lama lewat. Tapi tangan istrinya! Bukan tangan terhormat itu!


"Kenapa?" pandang Nadine tercekat. "Tidak boleh aku ikut makan?"


"Ibu pimpinan perusahaan," sahut Gerdy datar. "Perbuatan ini bisa mencemarkan nama baik Ibu."


Ada rasa sakit menyengat dada Nadine. Apa maksud Gerdy dengan panggilan asing itu? Atau dia sengaja ingin menciptakan jarak? Jarak yang justru mulai terkikis sedikit demi sedikit dari permukaan hatinya!


"Aku Nadine Arabelle," gumamnya getir. "Jangan memanggilku seperti itu, sementara aku tidak pernah merubah panggilan. Kau sengaja ingin menyakiti hatiku?"


"Bagaimana saya memanggil pimpinan tertinggi?"


"Kau lupa pada perempuan lugu yang pernah mengandung darah dagingmu?"


"Perempuan sudah lama berlalu."


"Kau boleh menganggapku sudah mati. Tapi jangan pernah menganggap cintaku telah mati."


"Nyatanya tak ada yang tersisa."


"Karena kau berikan pada laki-laki lain."


"Karena saya tahu apa yang diinginkannya."


"Kau menyalahkan aku?"


"Ya," tegas Gerdy. "Mestinya Ibu tidak lama-lama di mari. Si Parjo bisa pingsan kalau kembali."


Gerdy meneguk air mineral dalam botol plastik. Ketika sisanya akan dibuang ke tong sampah, tanpa diduga Nadine mengambilnya. Sentuhan jarinya demikian hangat. Tapi tak ada perubahan apa-apa di wajah Gerdy. Air mukanya tetap datar.


"Aku Nadine-mu yang dulu," ujarnya pelan. Diminumnya sisa air mineral itu. "Presiden direktris mana mau minum bekas pegawainya."


"Jam istirahat sudah habis." Gerdy bangkit dari kursinya. "Saya harus mengontrol lapangan. Ibu mau tetap di sini?"


"Jangan panggil aku Ibu, kecuali di depan umum."


"Adalah kewajiban saya menjaga nama baik Ibu di manapun berada."


"Sekali lagi panggil Ibu, kupecat kau," ancam Nadine separuh menangis, jengkel.


"Selamat siang, Bu...."


Cepat-cepat Gerdy berlalu dari hadapannya, seolah takut bayang-bayang masa lalu itu mengejar.


Nadine menghela nafas dengan sesak. Dia segera kembali ke ruang kerja dan bertemu dengan Luki di pintu lift khusus direksi.


"Dia menolak," kata Luki sambil ikut masuk ke dalam lift. "Dia sarankan supaya disumbangkan ke yayasan sosial."


"Kapan kamu ketemu dia?" tatap Nadine heran. Sepanjang istirahat Gerdy bersamanya.


Luki tersenyum. "Waktu meninggalkan Ibu di ruang ganti."


"Jadi kau membuntuti aku?" belalak Nadine. "Menguping semua pembicaraanku?"


"Saya lagi mencarinya, tapi Ibu lebih dulu menemukannya. Ya saya berjaga-jaga di luar. Kalau ada yang masuk, bagaimana?"


Memerah paras Nadine. Biar Luki sudah tahu rahasia mereka, dia malu tertangkap basah oleh bawahannya.


"Jangan bilang siapa-siapa," pesan Nadine.


"Ibu pimpinan saya, dan Gerdy sahabat karib saya. Seandainya Ibu ingin mengulang masa lalu pun, saya hanyalah saksi bisu."

__ADS_1


__ADS_2