Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Adakah Luka Yang Lebih Dalam


__ADS_3

Tahun-tahun pertama orang tua Gerdy sulit melupakan kesalahan anaknya. Mereka benci pada putera sulungnya yang durhaka itu. Tak peduli seandainya pergi ke dasar neraka sekalipun.


Lebih-lebih Umi. Setiap kali mendengar gunjingan tetangga setiap kali pula kemarahannya berkobar. Kehormatan keluarga yang dibangun susah payah hancur berkeping-keping karena kedunguan anaknya.


Karena tidak tahu ke mana harus menumpahkan kemarahan, Wisnulah yang jadi sasaran. Hampir tiap hari kena damprat. Semua yang dilakukannya seolah tidak ada yang benar. Kupingnya sampai bising.


Pergaulan Wisnu pun dibatasi. Tidak boleh keluar malam melewati jam delapan, itu juga untuk kepentingan mendesak. Haram hukumnya nongkrong di mall pulang sekolah. Selesai sekolah, selesai pula kemerdekaan yang dimilikinya. Kembali ke sangkar emas.


Satu-satunya yang diperbolehkan adalah bepergian dengan Karlina, atau Andini, gadis itu masih memiliki secercah harapan untuk bersanding dengan pujaan hatinya.


Umi memberi lampu hijau kepada anaknya untuk menjalin hubungan dengan mereka. Tapi bukan berarti bebas hambatan. Semua tak lepas dari aturan ketat yang diberlakukan.


Wisnu dilarang keras membawa Karlina atau Andini ke rumah kalau tidak ada orang tuanya. Jangan harap bisa duduk berdua di serambi yang cukup tersembunyi. Wilayah bebas untuk pacaran adalah ruang tamu dengan pengawasan CCTV. Kencan di luar dikawal security.


"Lama-lama pengen putus," gerutu Wisnu jengkel.


"Pengen putus sama siapa? Karlina apa Andini?"


"Dua-duanya."


"Coba kalau berani! Lehermu sendiri yang kuputus!"


"Apa enaknya pacaran kayak begini?"


"Maunya kayak apa?" sergah Umi bengis. "Kayak kakakmu? Belum puas orang tua jadi bahan berita?"


Ujung-ujungnya pasti ke situ. Semua persoalan bermuara pada kakaknya. Tiap hari dosanya diungkit-ungkit. Padahal setiap orang pernah melakukan kesalahan.


Hal ini membuat Wisnu tidak menolak ketika Karlina dilimpahkan padanya, padahal Andini sudah mendapat tempat di hatinya. Sementara waktu dia mengambil dua-duanya sebagai calon istri. Entah dia lelaki beruntung atau tidak punya pendirian, masa bodoh.


"Apa seorang anak harus sempurna di mata Umi?" tatap Wisnu muram. "Semua harus sesuai dengan keinginan Umi."


"Aku tidak pernah punya anak seperti itu! Anak haram jadah!"

__ADS_1


"Kakakku sudah menghukum dirinya."


"Menghukum apa? Dia lari dari tanggung jawab!"


Saat-saat sekarang tidak mungkin bicara dengan ibunya. Cari penyakit. Abi apalagi. Dia sudah tak bisa diajak bicara. Tempat mengadunya hanya Tuhan. Mengapa sampai mempunyai anak yang berani menginjak-injak kepalanya!


Tapi setelah kegemparan mereda, setelah perhatian masyarakat tertutup oleh peristiwa lain, kemarahan mereka mulai mencair. Mulai terpikirkan nasib anaknya.


Sering Umi termenung seorang diri di kamar Gerdy. Membaca bolak-balik surat yang bertahun-tahun dibiarkan tergeletak di meja kamarnya. Dan ada seleret rindu bila matanya terbentur pada benda-benda kesayangan anaknya.


"Ampuni aku, Umi Abi," tulisnya mengharukan sekali. "Ampuni aku. Aku tidak tahu bagaimana menebus kasih sayang yang tidak terbayarkan. Bagaimana menghapus coreng yang tidak terhilangkan. Anggaplah aku tak pernah lahir dari rahim Umi. Anggaplah Abi tak pernah menyisakan keringat buat aku. Aku pamit...."


Surat yang sekarang baru disadari maknanya. Gerdy pergi bukan untuk kembali. Dia ingin dianggap mati oleh orang tuanya!


Umi sering menitikkan air mata setiap kali membaca surat itu. Gerdy memang telah menggoreskan luka yang amat dalam, yang sulit untuk disembuhkan. Tapi orang tua mana yang tega membiarkan anaknya berlalu dari kehidupannya?


Tahun-tahun terakhir mulai terpikir untuk menemukan anaknya yang hilang dengan memboyong anak-istrinya. Bagaimanapun, mereka harus rela menerima kenyataan. Semua sudah terjadi.


Tapi sungguh tak disangka. Setelah sekian lama pergi tanpa berita, tiba-tiba saja terdengar kabar Nadine pulang membawa laki-laki lain! Dan mereka akan menikah!


Istri macam apa itu? Gerdy sudah berkorban habis-habisan. Kalau bukan karena bujuk rayunya, dia pasti tidak akan pergi dari istana megahnya! Hh, hanya sekiankah harga sebuah kesetiaan?


Umi tidak rela puteranya disakiti. Dipermalukan di depan warga. Dia bukan ibu si Dodi! Yang diam saja pertunangan anaknya dibatalkan! Dia harus memberi pelajaran pada perempuan brengsek itu!


Ketika Umi datang ke rumah itu, tamu undangan sedang banyak-banyaknya. Dia sengaja memilih waktu yang tepat, biar perempuan laknat itu tahu rasa!


Tak dihiraukan gadis berkebaya yang menyodorkan buku tamu. Dia terus melangkah ke dalam ruangan. Toh dia bukan mau menghadiri pesta perkawinan. Tamu tak diundang!


Hati Nadine sudah merasa tidak enak begitu melihat Umi muncul di ambang pintu. Dia membaca gelagat yang tidak baik dalam sorot matanya yang membara. Tapi dia mencoba tenang sambil menyalami tamu yang antri memberi selamat.


"Hai, perempuan busuk!" bentak Umi mengguntur, seluruh penghuni ruangan sampai menoleh terkejut. Tapi dia tidak peduli. Persetan dengan mereka. "Kamu buang di mana anakku?"


Katrin yang berada di dekatnya memandang bingung. "Ada apa ini? Kenapa Umi marah-marah?"

__ADS_1


"Diam kau, pelacur!"


Melihat ada keributan di sekitar pintu, Bradley datang menghampiri dan bertanya dengan tenang, "Ada apa, Bu? Kenapa bicara Ibu kasar sekali?"


"Aku tidak bicara denganmu! Aku bicara dengan perempuan sundel itu!"


"Dia istri saya."


"Istri anakku! Karena anakku gembel, dia lari padamu!"


Bradley terpana sesaat. Ingatannya terlempar kembali pada seorang ibu yang pingsan mendengar kabar kelahiran cucunya beberapa tahun lalu. Perlahan bibirnya tersenyum, sekalipun semua tamu undangan terbelalak ke arahnya. Untung orang tuanya lagi di dalam.


"Mereka sudah cerai," ujar Bradley tenang. "Apakah salah Nadine menikah dengan saya?"


"Tentu saja salah! Dia merampas anakku dari tanganku! Dan mengembalikannya setelah anakku hancur! Perempuan model apa itu?"


Keras kepala, pikir Bradley separuh kesal. Dia kira siapa dirinya? Lancang betul!


"Saya harap Ibu tidak membuat kegaduhan," pinta Bradley menahan sabar. "Hormatilah tamu-tamu kami."


"Perempuan sundel itu sudah menginjak-injak harga diriku! Bagaimana aku bisa menghargai kalian? Seharusnya buka matamu lebar-lebar! Kenapa dia mau kawin sama kamu? Dia cuma ingin menguras hartamu!"


"Sudah, Umi!" Tiba-tiba Wisnu muncul di pintu bersama dengan dua orang security. Diraihnya tubuh ibunya. "Mari kita pulang...."


"Biarkan aku bicara!" Dengan sengit Umi menepiskan tangan anaknya. "Dikiranya aku akan diam saja anakku dipermainkan!"


"Umi disuruh pulang sama Abi." Separuh memaksa Wisnu menyeret ibunya pergi. "Abi marah-marah di rumah."


Umi terpaksa meninggalkan ruangan sambil mengumpat-umpat. Bagaimana juga dia tak berani membantah perintah suaminya, meski berani menghadapi semua orang yang ada di sini!


Mulut Nadine tetap terkunci sampai Umi hilang dari pandangannya. Seorang pun tidak ada yang tahu kalau air matanya mengalir bukan karena malu dimaki-maki di depan umum, hatinya pedih!


Kalau saja Umi tahu anaknya sendiri yang menyerahkan istrinya kepada laki-laki lain. Kalau saja Umi tahu bukan cuma anaknya yang tersiksa, yang hidupnya hancur....

__ADS_1


Ketika membaca pesan terakhir Gerdy, betapa remuk hatinya saat itu. Dia menangis, menjerit. Tapi dia tahu suaminya tidak akan kembali.


Dia telah kehilangan suaminya. Dia juga hampir kehilangan puterinya. Dan dia terpaksa berkorban agar tidak kehilangan keduanya! Adakah luka yang lebih dalam dari semua itu?


__ADS_2