Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Barang Bukti


__ADS_3

Gerdy mengamati pisau dapur yang dipegangnya secara teliti.


"Pisau ini sama persis dengan pisau yang tertancap di dada Papi dalam mimpiku," komentarnya.


"Pisau dapur di rumah itu banyak dan jenisnya sama persis," kata Surya. "Bagaimana kau bisa membedakannya?"


"Gagang pisau ini sedikit karatan, kayak pernah disimpan cukup lama pada zat korosif."


Surya angkat bahu sedikit. "Lalu apa yang hendak kamu lakukan dengan pisau itu?"


"Entahlah." Gerdy menggeleng pelan. "Tapi aku yakin pisau ini yang digunakan untuk membunuh mertuaku."


"Keyakinanmu tidak berguna. Kamu butuh bukti di alam nyata, bukan di alam mimpi."


"Maka itu aku minta kamu untuk menjalankan misi terakhir. Kamu harus bisa masuk ke rumah itu untuk memeriksa dan melihat situasi di dalam rumah."


"Seharusnya tugas kamu. Kedatanganmu tidak akan dicurigai tukang kebun. Kamu bebas masuk ke kamar mana saja."


"Tukang kebun dan istrinya tidak curiga, Katrin pasti curiga, apalagi jika dia pelakunya. Aku bisa terlilit masalah, Nadine pasti tidak menerima kalau aku berada di rumah itu tanpa dirinya."


"Istrimu cemburu sama kakaknya sendiri ya?"


"Banget. Maka itu aku minta kamu untuk menyusup, pura-pura ada kepentingan atau apa dengan tukang kebun."


"Kata Mirna, majikannya lagi bulan madu. Jadi kita bisa menyelidiki bersama-sama."


Gerdy terkejut. Jadi Katrin sudah menikah dengan Datuk Meninggi? Dan mereka tidak dikasih tahu? Hubungan keluarga benar-benar sudah retak!


"Kau tahu kapan pulangnya?" tanya Gerdy.


"Tidak."


"Berarti kau pergi menyelidiki sendiri. Bagaimana kalau aku lagi berada di rumahnya tiba-tiba Katrin pulang? Bahaya sekali. Kalau kamu, Katrin tidak curiga. Alasannya kan main catur."


"Dudung lagi sakit."


"Nah, kebetulan. Kamu jenguk sambil bawa buah-buahan. Aku harap mereka tinggal di kamar si Mimin. Jadi kamu bisa leluasa untuk menyelidik karena kamar itu terletak di belakang."


"Apa yang perlu kucari di rumah itu?"


"Apa saja yang bisa menjadi alat bukti tentang pembunuhan Papi atau tentang keberadaannya terakhir kali."


"Apa itu?"


"Kalau aku tahu, maka polisi pasti sudah menemukan."


"Jadi kita mencari sesuatu yang kita tidak tahu?"


"Tantangannya itu."


"Aku tidak tahu penyelidikan ini sebuah tantangan atau kebodohan."


"Masa kita menyebut diri sendiri bodoh? Apa kata istri kita?"


"Aku bisa minta Mirna dan suaminya untuk mencari bukti yang dibutuhkan. Dudung adalah tukang kebun yang rajin, dan Mirna sangat apik membersihkan rumah sehingga satu jengkal pun tidak ada yang lolos dari tangannya."


"Masalahnya adalah mereka pasti curiga kalau diminta melakukan hal yang spesifik itu. Mereka pasti lapor ke majikannya. Hal ini tidak cuma berbahaya bagimu, aku juga."


"Bukan hal spesifik tapi hal bodoh. Aku menyuruh mereka mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu."


'Terserah deh apa katamu."

__ADS_1


"Aku berarti harus mencari waktu tertentu yang sekiranya tidak membuat mereka curiga."


"Waktu tertentu itu adalah sekarang, sekalian aku pulang ke Jakarta. Kita mampir di toko buah, dan kamu bisa membawa tukang kebun ke klinik, atau bagaimana caranya supaya kamu bisa berada lama di rumah itu."


"Aku tidak sanggup kalau sekali bertamu. Jadi aku akan berkunjung ke rumah itu kalau di bengkel tidak sibuk."


"Begitu lebih bagus."


"Tapi aku nggak janji bisa menemukan apa yang kamu mau."


"Lebih baik nggak janji. Aku tidak suka janjimu, kebanyakan meleset."


"Janji lelaki adalah sampah dunia."


"Jangan menyepelekan gendermu."


"Aku bicara fakta."


"Kamu lihat lelaki di sekeliling, banyak yang lebih sial hidupnya."


"Aku tidak maju-maju kalau melihat mereka."


"Kau tidak akan merasa bangga pada apa yang dicapai kalau tidak melihat mereka. Kebanggaan perlu untuk membangun kepercayaan diri."


"Lalu apa hubungannya kepercayaan diri dengan penyelidikan ini?"


"Kamu gampang dicurigai kalau tidak percaya diri. Jadi nervous dan semacamnya."


"Masuk akal juga."


"Kau tidak ada minat untuk buka warung kecil-kecilan untuk menambah penghasilan?"


"Istriku sudah buka kedai kopi. Modalnya dari hasil pemberianmu. Jadi aku tidak pusing untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.".


"Ibuku."


"Kalau begitu kita beli buah tangan di warung istrimu saja untuk besuk tukang kebun."


"Di warung cuma ada makanan ala kadarnya, gorengan, ubi rebus, mie instan, paling itu saja."


"Itu sudah cukup. Kalau kita beli buah-buahan justru kelihatan heboh banget karena di sekitar sini tidak ada tokoh buah. Aku kuatir Mirna curiga."


"Dia pasti senang. Tandanya kita perhatian banget."


"Perhatian secara berlebihan bisa mengundang curiga, dan menimbulkan dampak tidak baik."


Gerdy jadi begini karena perhatian berlebihan dari orang tua. Uang saku berlimpah membuat dia berpikir bagaimana menghabiskannya.


Ketika kebutuhan lahir tercukupi sedangkan uang saku tersisa banyak, dia mencoba memenuhi kebutuhan batin dengan clubbing dan menyeretnya pada kehidupan bebas.


Keperjakaannya sudah hilang sejak kelas sebelas SMA. Waktu itu Gerdy bertemu dengan Tarlita di sebuah diskotik dalam keadaan mabuk. Dia terpaksa mengantarnya pulang karena tidak bisa menyetir sendiri.


Tarlita mengalami depresi karena diselingkuhi pacar. Pertengkaran orang tua saban hari menambah kacau hidupnya. Gadis itu adalah kakak kelasnya di sekolah yang berbeda.


"Tolong temani aku tidur," pinta Tarlita setelah sampai di rumahnya. "Aku butuh teman malam ini."


Tentu saja Gerdy kalang kabut. Dia belum pernah mendapat tawaran berani dari seorang gadis. Paling undangan dinner atau kencan di kafe.


"Tidur di kamarmu?" tatap Gerdy tak percaya.


"Kamu belum pernah tidur di kamar cewek?"

__ADS_1


Gerdy menjawab dengan tergagap, "Be...lum...."


"Mulailah malam ini," senyum Tarlita manis.


"Orang tuamu bagaimana?" tanya Gerdy takut-takut.


"Aku tidak tahu mereka ada di mana. Lagi pula, kalau ada di rumah, bukan untukku, untuk ribut. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing."


"Namanya orang tua pasti marah kalau melihat ada cowok di kamar anak gadisnya."


"Mereka tidak pernah masuk ke kamarku. Kamarku ada di mana saja mereka mungkin lupa."


Rumah Tarlita sangar besar. Banyak kamar dan fasilitas. Jadi ada kemungkinan mereka tidak bertemu meski berada di rumah.


"Kamu pernah nge-kiss cewek?" tanya Tarlita ketika mereka sudah berbaring di dalam kamar.


"Sering," jawab Gerdy jujur.


"Tolong kiss aku," pinta Tarlita. "Aku butuh banget untuk menghilangkan rasa galau. Aku cukup pantas, kan?"


"Kamu sangat pantas," puji Gerdy. "Wajahmu sangat cantik."


Gerdy mengecup bibirnya. Tarlita membalas dengan sangat agresif, membuat mereka terbuai dalam kenikmatan sesaat. Kamar dengan suasana romantis menyeret mereka untuk berbuat lebih jauh lagi.


"Aku mau kamu melakukannya," bisik Tarlita.


"Aku belum pernah melakukannya," kata Gerdy gugup. "Bagaimana kalau hamil?"


Tarlita tersenyum kecil. "Aku tidak akan menuntut karena aku yang minta."


"Kenapa kamu minta padaku, bukan pacarmu?"


"Pacarku sudah selingkuh dengan sahabatku, aku juga bisa."


"Tapi aku bukan sahabatmu."


"Aku sering melihatmu di diskotek itu, dan tidak pernah bawa cewek. Aku tidak percaya kalau kamu belum punya pacar."


"Pacarku tidak suka dugem, hobinya racing."


"Kamu keberatan melakukannya denganku?"


"Tidak. Tapi aku pasti kikuk karena baru pertama kali melakukannya."


"Aku juga baru pertama. Anak mami banget kita."


Kemesraan di kamar yang indah itu terulang kembali setiap kali mereka bertemu. Tarlita sudah membawa Gerdy terbang ke angkasa bebas dengan segala kenikmatan.


Persahabatan mereka makin mesra ketika kuliah di universitas yang sama. Kemesraan baru berakhir setelah Gerdy menempuh bahtera rumah tangga.


***


"Bagaimana kabarnya warga?" tanya Gerdy dalam perjalanan ke rumah Katrin untuk penyelidikan. "Apa pernikahanku masih viral?"


"Mereka menganggap biasa kejadian itu karena ada perbedaan kasta. Aku berhasil meyakinkan mereka dengan buku nikah kalian. Pernikahan terjadi satu bulan sebelum kehamilan."


"Hal itu terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan nama baik keluarga."


"Tapi kamu tidak selamat dari kemurkaan orang tua."


"Perbuatanku sulit dimaafkan."

__ADS_1


"Dan kamu pergi dari rumah agar mereka melupakan kejadian itu?"


"Bila perlu kamu sebarkan kabar tentang kematianku...."


__ADS_2