
Pagi itu suasana kampus lain dari biasanya. Spanduk terpampang cukup mencolok di berbagai tempat. Umbul-umbul berdiri di sepanjang jalan menuju balairung. Pelataran gedung penuh sesak dijejali tamu-tamu yang datang.
Gerdy turun dari Moge sambil menjinjing pakaian toganya. Penampilannya amat rapi. Celana hitam. Kemeja putih. Berdasi.
Hanya dia yang datang naik motor. Hanya dia pula yang datang seorang diri. Semua teman-temannya pakai mobil, baik mobil pribadi maupun rental, dan membawa keluarga.
Gerdy bingung siapa yang harus dibawa. Shopia dan Pak Haji menghadiri acara yang sama di universitas lain. Lagi pula, dia tak mau memberi harapan sementara hatinya belum bisa menerima kehadiran perempuan lain.
Luki barangkali lebih baik untuknya. Dia ingin memberinya kesempatan, dengan beberapa syarat tentunya.
"Mana calon istrimu?" sambut Doni "Masa sudah S2 masih jomblo? Bukan nggak laku kan?"
Teman-temannya tidak ada yang tahu kalau dirinya seorang duda. Mereka tahunya Gerdy karyawan supermarket dan ojek offline.
"Calon istri sih gampang," kata Gerdy. "Yang penting bagaimana supaya buru-buru jadi pejabat. Pengen perempuan kayak apa tinggal babat."
"Soto kali."
"Waktu mahasiswanya saja jadi tukang ojek," sindir Jono. "Ujung-ujungnya paling banter jadi juragan ojek."
"Nah, yang begini ini yang perlu di upgrade," sambar Doni. "Belum baca sejarah orang-orang besar ya? Kebanyakan anak singkong!"
Gerdy memandang ke sekeliling. Wajah-wajah tak dikenal tampak tertawa-tawa. Bersuka ria. Hari ini adalah milik mereka. Milik kebahagiaan.
"Cari si Vanny?" tanya Doni. "Lagi gladi bersih."
"Kok kalian tidak ikut?"
"Bosan. Sejak SD belajar baris-berbaris."
"Pantas rambutmu ABCD."
"Apaan tuh?"
"Armed Bukan Cepak Doang."
Seorang gadis berpenampilan modis berjalan ke arah mereka dengan langkah gemulai.
"Wah, cantiknya!" decak Doni kagum. "Nggak percuma ibunya melahirkan."
"Calon istriku," kata Jono bangga.
"Sayang cakep-cakep matanya rabun. Tidak tahu pria yang berkualitas."
"Coba kepingin lihat yang bagaimana sih pria berkualitas itu? Hhh, yang kayak begini sih pantasnya didaur ulang! Sudah nggak terbit!"
Hari wisuda adalah kebahagiaan mahasiswa yang paling lengkap. Di samping bangga dapat berdiri di atas pentas dengan topi sarjana, mereka bisa memperkenalkan calon istri ke orang tua. Dan teringat itu hati Gerdy merasa sunyi.
Seharusnya dia yang paling paling bahagia. Dia sudah meraih prestasi yang mengagumkan. Wisudawan S2 terbaik tahun ini.
Tapi Gerdy tidak bangga. Tidak pula ketika menjadi orang pertama yang diwisuda rektor. Semua orang mengira dia menangis karena bahagia. Padahal hatinya sedih. Pedih.
Andai ini terjadi beberapa tahun silam, tentu di antara tamu undangan tepuk tangan orang tuanya yang paling bersemangat. Alangkah bangganya mereka naik ke panggung untuk foto bersama.
Tapi sekarang mereka tidak ada. Tidak terdapat di antara tamu undangan. Bahkan satu-satunya orang yang diharapkan bisa hadir pun tidak muncul sampai acara wisuda selesai.
Padahal kalau ada, hatinya sedikit terhibur. Dia ada teman untuk berbagi kebahagiaan. Punya jawaban-jawaban manis buat wartawan kampus dan luar. Mereka bisa bergaya di bawah siraman lampu blitz.
Tapi semua cuma angan-angan. Dia melangkah ke luar dalam kesendirian, dalam kesunyian.
"Keluarganya mana?" tanya bapak-bapak. "Belum punya calon?"
"Tahu begini puteriku dibawa!"
__ADS_1
"Anak kita bukan barang dagangan, Mam."
"Apa salahnya kalau laku mahal?"
Gerdy hanya tersenyum sambil terus melangkah di tengah galau orang banyak menuju ke tempat parkir motornya.
"Papa! Papa!"
Ada teriakan yang membuatnya makin iri. Barangkali gadis kecil itu sedang mencari ayahnya, atau memanggil ayahnya yang baru keluar dari dalam gedung. Ah, mereka memang pantas bahagia. Anak, istri, semua dibawa serta.
"Papa! Papa!" Suara panggilan itu makin dekat. Dan Gerdy terhenyak bingung ketika tahu-tahu gadis kecil itu menangkap lengannya dari belakang. "Papa dipanggil kok diam saja?"
Gerdy memandangnya dengan terheran-heran. Anak siapa ini? Kenapa memanggilnya Papa? Atau anak ini kurang waras?
Melihat wajahnya yang berseri-seri rasanya tidak mungkin ingatannya terganggu. Dia sehat. Normal. Dan di dalam bola matanya yang bening polos itu Gerdy seperti menemukan gambaran dirinya.
"Dia anakmu, baby." Terdengar suara lembut di hadapannya. "Anak kita."
Gerdy mengangkat wajahnya dengan tak percaya.
"Nadine," menggagap Gerdy. "Kau datang?"
"Aku sengaja menunggumu di sini." Nadine tersenyum manis. "Idyla tidak mau menghadiri acara yang tidak ada es krimnya."
"Papa jadi magic jar ya?"
Suara Idyla menyadarkan Gerdy dari pesona yang memukau di depannya. Ada perasaan syahdu mendengar panggilan itu. Tentu Nadine yang mengajari, yang memperkenalkan pada ayah kandungnya.
Gerdy merendahkan tubuhnya. Diperhatikan sesaat wajah yang masih menunggu jawaban itu. Dibelainya dengan lembut. Tidak tahan diraihnya ke dalam pelukannya. Pertemuan dengan putrinya sungguh sebuah anugerah yang dalam doa pun tak berani dilantunkannya!
"Selamat ya, Papa sudah jadi magic jar," kata Idyla.
"Tahu dari mana Papa sudah jadi magic jar?" tatap Gerdy terharu.
"Perasaan Mama nggak ngajarin gitu deh." Nadine pura-pura cemberut. "Mama bilang jadi magister, bukan magic jar."
Idyla bertanya ke Gerdy, "Yang benar magic jar apa magister, Pa?"
"Magic jar."
"Es kelapa campur kedondong."
"Cakep."
"Papa jujur dong."
"Papa nggak bohong kok."
"Yang benar magister, bukan magic jar."
"Idyla kok pintar sih?"
"Siapa dulu dong mamanya," senyum Idyla menggemaskan. "Magister itu apa sih, Pa?"
"Magister ya, Papa."
"Oh, jadi Papa namanya magister?"
"Yang pakai jubah ini namanya magister."
"Kalau Idyla pakai jubah ini, berarti Idyla magister?"
"Jubah ini terlalu besar buat Idyla. Kalau Idyla sudah besar dan jubahnya sudah pas, baru dikatakan magister."
__ADS_1
"Mama senang Papa jadi magister."
"Bukan cuma Mama, Sayang," kata Nadine. "Masih ada."
Gerdy menatap putrinya. "Tante Prilly dan Oma juga datang?"
"Bukan cuma mereka," tukas Nadine.
"Siapa lagi?" toleh Gerdy heran.
Dan dia menemukan jawabannya ketika dari kerumunan orang banyak muncul wajah-wajah yang sangat disayanginya.
Sesaat Gerdy berdiri terpaku. Tidak tahu harus bagaimana. Berlari menghambur atau diam menunggu.
Melihat senyum-senyum yang mengembang itu ada keharuan menyentak dadanya. Senyum itu menunjukkan kalau mereka sudah mengampuni dosanya. Sudah menerima kembali sebagai anggota keluarga.
"Selamat, Anakku," bisik Abi sambil mendekap puteranya erat-erat. "Inilah Gerdy yang aku banggakan."
"Maafkan aku, Abi," kata Gerdy dengan air mata berlinang. Bermacam perasaan bercampur aduk di dadanya. "Aku sudah menjadi anak durhaka."
"Masa itu sudah lama berlalu, Anakku," hibur Abi menyimpan haru. "Isilah lembaran baru dengan kehidupan yang lebih baik. Sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu memperbaiki diri."
"Maafkan aku, Umi." Sekarang Gerdy memeluk ibunya sambil menangis tersedu. "Kini aku tahu bagaimana tersiksanya hidup tanpa restu orang tua. Kepergian dari rumah hanya menambah kesengsaraan, dan kehilangan kasih sayang yang paling murni dari keluhuran budi manusia, kasih sayang seorang ibu."
"Lupakan semua yang telah terjadi, Anakku," sendat Umi terharu. Kerinduan yang selama bertahun-tahun terpenjara kini tersalurkan melalui linangan air matanya. Dia bersyukur puteranya ditemukan dalam keadaan segar bugar. Bahkan sudah jadi magister. "Masa lalu bukan untuk disesali. Jadikanlah cermin."
"Selamat ya, Kak," kata Wisnu ketika memperoleh kesempatan untuk memeluknya. "Aku bangga jadi adiknya Kakak."
Kemudian Gerdy menyentuh hidung bayi dalam gendongan Karlina, hasil buah cintanya dengan Wisnu.
"Siapa namanya?" tanya Gerdy.
"Nunggu dikasih nama sama uwanya," senyum Karlina. "Selamat ya, Kak."
Terakhir Prilly dan Mami menyampaikan selamat. Mereka memberikan buket bunga.
"Oh ya, kita langsung pulang atau makan siang dulu sekalian merayakan keberhasilan kakakku?" tanya Wisnu.
"Aku sama Nadine sudah sepakat untuk segera pulang dan mampir di KUA," jawab Umi. "Baru kita rayakan keberhasilan kakakmu."
"Tapi tidak apa mampir di restoran kalau kamu lapar," tukas Abi. "Aku sudah minta pegawai KUA untuk menunggu."
"Bilang saja Abi juga lapar," gerutu Umi.
"Mami nggak lapar?" tanya Abi. "Ya sudah, aku dan Wisnu saja yang mampir di restoran."
"Enak saja!"
"Mampir di KUA untuk apa?" tanya Gerdy bingung.
"Begini," kata Umi. "Aku minta Idyla tinggal di rumahku, tapi Nadine tidak bisa hidup tanpa anaknya, ya sekalian diboyong. Tapi ada syaratnya, dia mau tinggal bersamaku kalau anakku menghalalkannya."
"Keberatan?" kerling Nadine menggoda.
"Kayaknya tidak ada pilihan," senyum Gerdy. "Aku tidak mungkin membiarkan Idyla jadi anak yatim."
Gerdy meraih bahu Idyla dan berlutut di sampingnya, kemudian meminta yang lain untuk berdiri di belakang mereka, dan menyuruh Wisnu untuk mengabadikannya.
Ketika Wisnu mengambil ancang-ancang hendak memfoto dengan kamera digital, kakinya menginjak benda licin dan jatuh terjengkang. Mereka tertawa gelak-gelak.
Wajah Wisnu kerut-merut menahan sakit.
Idyla meledek, "Tiga kali tiga sembilan! Suka tidak suka, wajah Om kayak cemilan!"
__ADS_1
T a m a t