Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Saling Terbuka


__ADS_3

Gerdy tidak bisa mengatasi masalah dengan menghindar. Dia harus berani menghadapi dan membereskan satu per satu. Membiarkan masalah menguap begitu saja membuat kepala makin mumet.


Tante Friska adalah kerikil kecil yang mesti disingkirkan. Dia akan berbicara secara baik-baik bahwa jadi sugar baby bukan pilihan hidupnya. Dia hanyalah seorang lelaki yang mencari kesenangan di masa lajang, dan sudah tiba waktunya untuk mengakhiri kegilaan.


Tarlita bukan masalah besar. Hubungan mereka cuma sebatas kebutuhan batin. Masalah jadi sulit karena gadis itu adalah selingkuhan om istrinya. Dia pasti terseret karena membiarkan hal itu terjadi. Istri Dennis pasti menyalahkan dirinya, sementara sahabat seniornya sudah kehilangan segalanya.


Karlina menjalani hubungan rumit dengannya. Masalah jadi besar kalau gadis itu gagal menikah dengan pacarnya. Dia bisa berubah pikiran untuk melanjutkan perjodohan ke jenjang pernikahan.


Masalah terbesar adalah orang tuanya. Tidak ada keputusan yang benar untuk mengatasinya. Kesalahan Gerdy adalah jatuh cinta pada Nadine. Dia sudah mengambil keputusan paling berani dengan menikah secara diam-diam.


Masalah itu bertumpuk sore ini. Kedatangan Gerdy sudah ditunggu istrinya di teras rumah. Dia sampai tidak sempat untuk mengantarkan motor ke tetangga.


Nadine segera membawa masuk ke dalam rumah, kelihatannya ada hal penting sekali. Dia ingin bicara di dalam kamar sehingga hanya mereka berdua yang tahu kalau di rumah ini banyak masalah.


"Aku tidak enak sama Pak Mirza," kata Gerdy. "Dia pasti menunggu motornya."


"Pak Mirza belum pulang," sahut Nadine.


"Tahu dari mana kalau Pak Mirza tidak ada di rumahnya?"


"Suara mobilnya kedengaran kalau sudah pulang."


"Sampai segitunya kamu memperhatikan suami tetangga," sindir Gerdy.


"Untuk membedakan dengan suara mobil suamiku agar tidak salah nyambut," sambar Nadine gemas.


Mereka tiba di ruang tengah. Mami dan Prilly duduk santai di sofa sambil menonton acara televisi. Gerdy menaruh beberapa kantong plastik yang dijinjingnya di atas meja.


"Keripik tempe dan oncom kesukaan Mami," kata Gerdy. "Sebagian buat Pak Mirza,"


"Terima kasih," sahut Mami senang. "Kamu ternyata ingat kesukaan Mami."


Mimin muncul dari belakang membawa teh hangat dan beberapa pisang goreng di atas nampan.


"Buat siapa, Min?" tanya Nadine.


"Buat Tuan."


"Tuan tidak doyan pisang goreng."


"Taruh saja di kamar," kata Gerdy. "Mulai hari ini aku makan apa yang kalian makan."


"Biar aku saja, Min," ujar Nadine. "Kamu ketinggalan sinetron favoritmu nanti. Ada keripik buat cemilan biar kamu tambah betah nonton."

__ADS_1


Nadine membawa nampan ke dalam kamar. Ditaruhnya di meja kecil. Gerdy duduk di atas tempat tidur.


Kamar ini tidak cukup untuk ditambah kursi. Meja rias dan lemari berpintu tiga sudah membuat sesak. Dia harus membiasakan diri melewati malam di kamar mungil ini.


"Kamar ini lebih indah dari kamarku karena penghuninya," puji Gerdy. "Aku betah sekali tinggal di kamar ini karena setiap detik bisa berpandangan dan berbisik tentang cinta. Di kamarku, kamu di kamar mandi dan aku di tempat tidur, kita ngomong harus pakai mikrofon supaya kedengaran."


Nadine duduk di sampingnya. "Aku minta maaf karena aku ketiduran siang tadi sehingga tidak sempat menyiapkan keperluan suami saat berangkat kuliah. Handphone kamu ketinggalan. Banyak yang menghubungi dari siang. Aku tidak berani mengangkat karena pasti bermasalah."


"Kamu bisa sebutkan siapa saja yang menghubungi aku?"


"Friska, Tarlita, Karlina, Umi, dan Katrin."


Gerdy heran mendengar nama yang terakhir. "Katrin? Dia tahu nomor aku dari siapa? Apa dari Surya?"


"Aku sudah ngebel Surya. Dia ada di rumah pacarnya beberapa hari ini untuk prewedding dan Katrin tidak minta."


"Nomorku yang tahu terbatas. Di kampung cuma keluarga, Surya, dan Karlina."


"Aku curiganya Karlina. Katrin tidak mungkin berani minta sama keluargamu. Jadi dia sudah mulai masuk ke dalam kehidupanmu untuk mencari Mami dan Prilly."


"Karlina bukan hidupku."


"Karlina adalah hidupmu di mata masyarakat. Dia calon istrimu."


"Hanya sedikit yang tahu dia calon istriku."


Gerdy menatap sejurus. "Ada apa sebenarnya di antara kalian? Jangan cerita kalau kamu ingin menyelesaikan sendiri."


"Aku sebenarnya malu menceritakan aib ini," kata Nadine. "Kamu suamiku jadi perlu tahu. Katrin sebenarnya sangat menyayangi aku, Mami, dan Prilly. Caranya salah. Dia sudah menggantikan posisi Mami untuk melayani seorang maniak."


Gerdy tidak terkejut mendengar kabar itu. Hubungan inses sudah sering terjadi. Hanya di kampung peristiwa ini terlalu dahsyat dan sangat fatal bila terdengar oleh orang tuanya.


"Siapa saja yang tahu kejadian itu?" 


"Mereka yang ada di rumah ini dan Om Dennis."


"Semoga cuma itu," keluh Gerdy pasrah. "Aku berharap dengan perkawinan kita orang tuaku bisa menerima meski butuh waktu lama. Aib keluargamu ini membuat aku tidak diakui sebagai anak untuk seumur hidup jika mereka tahu."


"Kecuali kita berpisah."


"Itu bukan pilihan."


"Friska dan Tarlita itu siapa?"

__ADS_1


Gerdy merasa sudah waktunya untuk jujur. "Kamu siap mendengar ceritaku?"


"Kesalahanku adalah mempunyai kekasih brengsek yang kini jadi suamiku."


"Friska adalah istri pemilik apartemen. Dia sempat ingin menjadikan aku sugar baby. Tarlita dan aku hanya sebatas hubungan untuk kebutuhan biologis. Aku sudah menghentikan semua kegilaan itu sebelum menikah denganmu. Mereka sibuk ngebel karena aku tidak muncul di apartemen. Jika handphone itu bunyi lagi, aku persilakan kamu untuk menerima."


Nadine tersenyum manis. "Aku senang mendengarnya."


"Kamu pasti tidak senang mendengarnya kalau kukatakan Tarlita adalah selingkuhan Dennis. Om kamu mengaku bujangan dan berjanji untuk menikahinya setelah wisuda."


Nadine menatap kaget. "Jadi itu yang membuat kamu diterima dengan gampang sebagai suamiku?"


"Aku harap kamu tidak mencampuri urusan mereka karena itu janjiku sama Dennis."


Nadine termenung. "Keluargaku begitu kotor. Aku malu pada suamiku."


"Aku juga begitu kotor. Aku malu sama istriku. Kita buka lembaran baru dengan catatan putih."


Nadine memandang suaminya dengan hati-hati. "Karlina bagaimana? Kamu yang mengambil ... mahkotanya?"


"Aku tidak mengambil apa-apa darinya. Dia penganut hidup bebas. Kamu pasti tidak menyangka kalau melihat keseharian Karlina."


"Aku tidak kaget karena aku melihat keseharian dirimu." Wajah Nadine berubah mendung. "Karlina membuat aku khawatir. Bagaimana kalau pacarnya menghindar? Dia merasa berhak untuk menikah denganmu karena perjodohan itu.."


"Maka itu aku hentikan semua kegilaanku sebelum kita menikah. Jika Karlina ngebel lagi, katakan saja apa adanya."


"Belum waktunya Karlina tahu soal pernikahan kita." 


"Waktu itu takkan pernah ada karena situasi yang rumit ini."


"Kamu tidak ngebel balik Umi? Siapa tahu ada hal penting?"


"Hal penting Umi adalah Karlina. Dia pasti minta aku pulang malam Minggu untuk menemaninya."


"Aku cuma mengizinkan kamu untuk menemani, bukan untuk menikmati cintanya. Jangan sia-siakan kepercayaanku karena aku pasti sangat sedih."


"Aku bahagia mempunyai istri sangat pengertian dan memaafkan dosa-dosa masa lalu."


"Aku tidak hidup di masa lalu."


Nadine harus berjiwa besar menerima suami apa adanya. Jadi dia tidak disibukkan dengan masa lalu dan membuat masalah makin menumpuk.


Nadine bangga satu hal, suaminya berani untuk jujur. Dia ingin memelihara kejujuran itu dengan berusaha untuk percaya.

__ADS_1


"Aku mau kita saling terbuka," kata Nadine.


Gerdy tersenyum penuh arti. "Aku sudah terbuka, kamu masih rapi."


__ADS_2