
Gerdy tertidur pulas di karpet kamar bayi dan mengalami mimpi unik yang jarang sekali terjadi. Dia mimpi bercinta dengan seseorang di sebuah kamar yang indah. Berguling-gulung. Saling tindih....
Sentuhan Nadine membuatnya terjaga. Tampak istrinya memandang sedih sambil membelai wajahnya.
"Kasihan suamiku," bisik Nadine. "Gara-gara aku lahiran harus puasa sangat lama. Jadi terbawa mimpi."
Gerdy terdiam. Jadi peristiwa barusan cuma mimpi? Mengapa terasa begitu nyata?
"Kamu mimpi bercinta dengan siapa?" tanya Nadine lembut. "Aku tidak cemburu kalau kamu jujur karena mimpi cuma bunga tidur."
"Katrin," jawab Gerdy pelan.
"Mimpi bercinta dengan kakakku?" delik Nadine dengan nada tinggi.
"Katanya tidak cemburu kalau aku jujur."
"Kamu pasti berfantasi dengannya sebelum tidur."
"Fantasi aku dari dulu adalah kamu. Alangkah nikmatnya bercinta denganmu. Apa yang dirasakan sekarang ternyata jauh lebih nikmat."
Nadine belum percaya. "Tidak mungkin kamu mimpi bercinta dengan Katrin kalau sebelumnya tidak berkhayal tentang kemolekan tubuhnya."
"Aku jadi menyesal jujur. Aku harusnya bilang mimpi bercinta dengan kaki meja."
Nadine mengecup bibir suaminya dengan mesra, dan tersenyum manis. "Begitu saja marah. Maafkan aku kalau cemburu. Aku percaya di pikiranmu cuma ada aku."
"Aneh sekali."
Nadine jadi naik lagi. "Aneh kenapa? Katrin sangat ahli dalam bercinta? Beda banget sama adiknya?"
"Aku menyesal ngomong."
"Aku cuma tanya," kata Nadine dengan suara lunak. "Aneh kenapa, baby?"
"Papi menyaksikan kami bercinta. Wajahnya demikian pucat dan menakutkan. Di dadanya tertancap sebuah pisau dengan gagang unik."
Nadine tertegun sesaat. "Pisau? Jangan-jangan Papi ada yang membunuh, bukan hilang."
"Polisi tidak menemukan bukti ke arah itu."
"Sudahlah. Lupakan saja."
Gerdy sulit menghapusnya dari ingatan. Situasi paceklik membuat mimpi itu terbayang-bayang di pelupuk matanya. Apalagi terjadi tiga malam berturut-turut. Ada apa ini?
"Jangan-jangan Katrin menggunakan ilmu hitam," kata Nadine curiga. "Kamu diguna-guna."
Gerdy mencoba menghubungkan mimpi itu dengan rentetan peristiwa sebelumnya. Beberapa orang pintar yang dihubungi Surya dulu memberi gambaran sama bahwa pelaku sulit dilacak karena memiliki pagar gaib. Sesuatu yang tidak masuk logikanya.
Akan tetapi logika itu sedikit terbuka manakala dia mengalami mimpi berturut-turut dengan kejadian sama persis, pasti bukan sekedar bunga tidur.
"Kata Surya guna-guna tidak begitu," ujar Gerdy. "Pikiranku baik-baik saja dan baru menyelesaikan skripsi. Mimpi itu menurutku sebuah petunjuk."
Nadine memandang tak mengerti. "Petunjuk apa? Bukan petunjuk untuk datang ke rumahnya kan?"
"Papi dibunuh oleh seseorang dengan pisau dapur."
"Tapi kenapa ngasih petunjuknya lewat bercinta sama kakakku?" Ada sinar cemburu dalam tatap mata istrinya.
"Karena keadaanku lagi paceklik."
__ADS_1
"Aku minta buang pikiran itu," tegas Nadine. "Seandainya dugaanmu benar pun, bagaimana kamu membuktikannya? Mimpi bukan alat bukti yang diakui hukum, seperti halnya penerawangan paranormal yang kamu dapat."
Bukti fiktif ini menyulitkan Gerdy untuk mengambil kesimpulan secara bulat. Lagi pula, mimpinya tidak utuh. Dia cuma melihat Papi tertusuk pisau dapur, kemudian pergi entah ke mana. Barangkali memintanya untuk mengikuti, tapi mana mungkin karena mereka lagi seru bercinta!
Gerdy curiga kalau Papi dibunuh puteri sulungnya. Tapi dia belum menemukan motif yang pasti. Entah Katrin benci karena ayahnya sudah menghancurkan keluarga atau jengkel kawin lagi.
"Aku memiliki dugaan kakakmu membunuh Papi," kata Gerdy hati-hati. "Dia mengeksekusi ayahmu malam itu juga. Dia sudah merencanakan pembunuhan secara matang sehingga polisi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di rumahnya.
"Bagaimana bisa merencanakan secara matang sementara Katrin tidak tahu kapan Papi pulang?"
"Dia tahu Papi kapan-kapan pasti pulang. Papi akan kehabisan uang. Ke mana lagi tempat meminta selain kepada puteri sulungnya?"
"Itu teorimu dan sangat lemah. Kamu mengambil kesimpulan berdasarkan mimpi."
"Ada bukti fisik mendukung, jejak kaki di sekitar sungai."
"Jejak kaki itu bisa milik siapa saja karena kamu melihatnya beberapa hari setelah kejadian. Sudahlah, jangan halu karena mimpi indah itu."
"Mimpi indah?" tatap Gerdy heran. "Maksudmu apa?"
"Kamu berhubungan intim dengan wanita body goal. Menurutmu tidak indah?"
"Aku berharap mimpi bercinta denganmu karena istriku lebih sempurna."
"Kamu bisa merasakan langsung, tidak perlu bermimpi."
"Tapi lagi tidak siap pakai. Selama menunggu masanya tiba, aku berharap dapat bermimpi denganmu."
"Seandainya teorimu benar, apa yang akan dilakukan?"
Gerdy belum berpikir ke arah itu. Dia hanya ingin menghentikan harapan semu yang dipelihara Mami setiap hari. Jika terbukti Papi dibunuh, maka harapannya akan mati dengan sendirinya.
"Kamu akan melaporkan kasus pembunuhan itu sehingga skandal yang terjadi di keluarga istrimu terbongkar?" sindir Nadine. "Ingat, warga akan mengingatnya sebagai aib terdahsyat untuk besan keluarga sultan."
"Lagian sejak kapan kamu percaya sama mimpi? Sama paranormal?"
"Harapan Mami yang tak pernah mati membuat aku menyingsingkan logika. Aku ingin Mami menghapus harapannya dan hal itu terjadi kalau ada bukti di depan matanya."
"Sekarang begini saja. Mulai malam ini kamu tidur di kasur bersamaku. Aku mau tahu mimpi itu datang lagi atau tidak. Kalau datang lagi kan lumayan."
"Lumayan apanya?"
"Karburator banjir jadi ada pembuangan."
"Jangan meledek."
"Kok meledek? Berasa banget kan? Maka itu dinamakan mimpi basah."
"Kalau aku pindah tidur lalu bermimpi lagi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak ada."
"Buat apa aku melakukan sesuatu yang tidak ada solusinya?"
"Jadi menurutmu bagaimana baiknya? Aku tidak mau konsentrasi dirimu terganggu memikirkan kenikmatan dari kakakku. Besok kamu harus ke Bandung untuk bimbingan dari dosen pengampu. Jika skripsi mendapat persetujuan, kamu bisa langsung daftar sidang."
"Kejadian ini cukup mengganggu pikiranku. Aku akan pindah tidur ke sofa dan mencari solusi untuk misteri mimpi itu."
Gerdy ingat Katrin sudah punya tukang kebun baru. Tukang kebun itu tinggal bersama istrinya di rumah lama. Dia ingin tahu apakah mereka mengalami kejadian aneh selama menempati rumah itu.
__ADS_1
Surya adalah orang yang tepat untuk menyelidiki. Gerdy mau memintanya untuk mengorek informasi dari tukang kebun atau tetangga dekat, bahkan harus mencoba akrab agar bisa masuk ke rumah itu untuk menemukan kejanggalan yang mungkin luput saat pemeriksaan dulu.
Surya gampang diminta bantuan. Gerdy tahu perkembangan situasi terakhir darinya. Warga sudah melupakan peristiwa yang terjadi karena menganggap wajar pernikahan secara diam-diam mengingat status keluarga sangat berbeda. Bukti yang dimiliki temannya cukup untuk meyakinkan mereka kalau pernikahan terjadi bukan karena kecelakaan.
Tapi orang tuanya belum mengganggap selesai masalah ini. Surya tidak tahu kabar tentang Wisnu dan Karlina. Perjodohan ini cuma orang-orang tertentu yang tahu sehingga terhindar dari isu miring.
"Jadi kamu mencurigai kakak ipar?" tanya Surya kaget lewat handphone.
"Jangan kencang-kencang, pelankan sedikit suaramu."
"Aku teriak juga tidak ada orang dengar. Aku lagi mancing sendiri di sungai."
"Aku minta kamu ngobrol sama tukang kebun dan tetangga dekat."
"Gampang itu. Kebetulan tukang kebun sering nongkrong di warung pengkolan. Jadi aku tidak perlu cari alasan untuk bertamu."
"Oh ya, besok istrimu ulang tahun. Belilah kalung atau apa untuk hadiah supaya kebutuhan batin lancar. Aku kirim uang cukup lumayan."
"Nah, ini aku tidak suka. Aku sahabatmu. Minta tolong tidak perlu pakai duit."
"Yang pakai duit siapa? Aku ngasih kado buat istrimu. Nah, aku minta tolong suaminya buat beli kalung. Totalnya sepuluh juta. Awas jangan dicatut."
Gerdy mengakhiri percakapan. Dia ingin setiap masalah ditangani sampai tuntas agar tidak menjadi beban pikiran sehingga bisa tidur nyenyak.
Besok pagi-pagi dia pergi ke Bandung untuk bimbingan terakhir, dan pulang malam karena dosen pembimbing tiga harus didatangi ke rumah. Dia baru pulang dari daerah.
Nadine muncul di ruang tamu, dan melihat suaminya sibuk membolak-balik skripsi sambil duduk di sofa.
"Sudah malam, tidurlah," tegurnya. "Besok kamu harus berangkat pagi-pagi."
"Aku ingin memastikan tidak ada kesalahan ketik dan tanda baca," kata Gerdy. "Pembimbing satu teliti betul sampai titik koma jadi masalah, padahal apa gunanya untuk kehidupan."
"Jangan lupa istri nanti di Bandung karena banyak mantan."
"Bahaya kalau ingat istri. Aku bisa halu, setiap mantan pasti terlihat mirip denganmu, jadi boleh untuk...."
"Dasar." Nadine mencubit hidungnya dengan sayang. "Tante Caroline ngebel barusan."
Gerdy menatap kaget. Caroline adalah istri Dennis. "Malam-malam begini? Ada apa?"
"Perselingkuhan Om Dennis mulai tercium. Tante Caroline sudah mendapat nama dan tahu gadis itu alumni kampusmu."
"Tantemu tahu dari mana soal Tarlita?"
"Dia mengangkat call darinya saat Om Dennis sedang mandi, dan pura-pura jadi adiknya sehingga dapat informasi lengkap."
"Hubungannya denganku apa?"
"Tarlita mengaku kenal denganmu dan mengatakan kalau kamu tahu alamat rumahnya. Jadi Tante Caroline minta diantar ke rumahnya."
"Bego banget Tarlita. Dia bilang alamatnya di mana?"
"Nah, masalah itu si Tante tidak bilang. Besok dia menunggu di rumahnya."
"Kamu tidak bilang besok aku sibuk banget?"
"Dia cuma minta ditunjukkan rumahnya. Setelah itu kamu pergi."
"Kalau mereka ribut, bagaimana?"
__ADS_1
"Bukan urusanmu."
Gerdy bersandar lemah ke sofa. Sejak menikah dengan Nadine, masalah sering sekali menghampiri.