Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Terjebak


__ADS_3

Katrin berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil menunggu sambungan dari Gerdy dengan sabar. 


"Ada apa?" Terdengar suara Gerdy yang tenang di speaker handphone.


"Kamu ke mana saja sih, Ger?" tanya Katrin lembut, padahal hatinya jengkel bukan main dicuekin sepanjang siang. "Dihubungi dari siang tidak diangkat."


"Handphone di-silent," jawab Gerdy santai. "Aku lagi kerja."


Katrin ternganga sekejap. "Kerja? Kamu sudah kerja?"


"Magang. Persiapan masuk dunia kerja."


"Oh, kirain kerja full. Kamu kan belum lulus."


"Kayaknya penting banget menghubungi aku."


"Aku baru pulang dari Bandung, kamu tidak ada. Kata mereka minggu-minggu ini kamu jarang tidur di apartemen. Kamu ada di mana?"


"Perlu tahu aku tidur di mana?"


"Tidak perlu," sahut Katrin segera. "Aku ingin minta alamat Nadine. Kamu punya?"


"Kakaknya masa tidak tahu alamatnya?"


"Ceritanya panjang. Aku minta dikirim kalau kamu punya."


"Aku mau tahu sepanjang apa ceritamu."


"Biasa urusan keluarga. Kamu kayaknya tidak perlu tahu. Tidak penting juga kan? Kirim saja alamatnya segera."


"Kamu siapa main perintah seenaknya?" ujar Gerdy dingin.


"Aku mohon, please."


"Aku harus minta persetujuan Nadine dulu."


"Jangan," cegah Katrin cepat. "Jadi ribet nanti."


"Ribet kenapa?"


"Dia pasti tidak mengijinkan."


"Kok bisa?"


"Aku susah menceritakan."


"Jangan hubungi aku lagi kalau kamu belum siap untuk bercerita, atau nomormu aku blokir." Gerdy mengakhiri sambungan. 

__ADS_1


Katrin jadi geram. "Kurang ajar."


Dia tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi. Dia bersedia untuk jujur, bagaimana dengan keluarganya? Mereka tidak boleh menanggung malu akibat perbuatannya.


Katrin perlu menjelaskan kalau mereka salah pemikiran tentang apa yang dilihat hari itu. Dia mengakui caranya keliru, tapi adakah cara lain untuk menghentikan kebuasan ayahnya? Kesalahan mereka adalah mengapa memiliki kepala keluarga seperti Papi!


Katrin kurang tidur memikirkan kepergian Mami dan Prilly. Nadine mengajak mereka tinggal di mana? Dia sudah meninggalkan pondokan mewah, berhenti kerja, dan cuti kuliah. Maksudnya apa? Dia benar-benar kehilangan jejak!


Katrin curiga aktor di balik semua ini adalah Gerdy. Nadine tidak mungkin berani membawa ibu dan adiknya pergi kalau tidak ada yang bertanggung jawab jika mereka kesusahan. Dia terlalu berat menanggung beban hidup sekeluarga untuk tinggal di kota yang sangat mahal.


Jika kecurigaan itu benar, apa tujuan Gerdy melindungi mereka? Atau dia memperdaya Nadine karena tidak tahu kalau dirinya sudah punya calon di kota satelit?


Setiap laki-laki pasti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan gadis yang demikian sempurna seperti adiknya!


Katrin tidak mau memikirkan hal yang pelik itu, cuma menambah pusing kepala. Memikirkan Mami dan Prilly saja sudah mumet. Semua sanak famili dan teman Nadine sudah dihubungi dan mereka tidak ada yang tahu.


Kuncinya ada pada Gerdy. Dia tahu di mana Nadine bersembunyi. Katrin tidak peduli dengan cerita yang terjadi di antara mereka. Dia hanya mau membawa ibu dan adik bungsunya pulang. Masa bodoh dengan Nadine. Dia sudah berani membangkang.


Bagaimana caranya memperoleh informasi dari Gerdy?


Menggunakan kekerasan tidak mungkin. Buntutnya berurusan dengan polisi. Lagi pula, orang suruhannya belum tentu mampu menjalankan misi. Gerdy jago bela diri.


Katrin tidak mau menambah rumit keadaan dengan cara kriminal seperti itu. Dia hanya ingin membahagiakan mereka, tidak ada maksud lain. Keluarga tidak boleh terpecah belah cuma karena satu orang bermasalah di rumah ini. Jika pengorbanan itu salah, maka perlu musyawarah untuk mencari jalan yang benar. Bukan ditinggal pergi.


Orang bermasalah itu muncul di pintu kamar. Papi kelihatan sudah minum obat kuat, padahal kondisi lagi sakit. Katrin kadang benci melihat ayahnya setiap hari cuma berjudi, mabuk, dan bercinta. Tapi dia tidak tega kalau sudah melihat kondisinya seperti itu.


"Aku capek banget," kata Katrin. "Papi kan tahu aku baru pulang."


"Maksudnya?"


"Aku ingin minum puyer sakit kepala, salah ambil."


"Maka itu hati-hati," tegur Katrin. "Aku panggil si Emi sebentar."


Emi adalah asisten rumah yang baru bekerja siang tadi, dua lagi menyusul. Dia sudah berumah tangga. Suaminya mendekam di penjara karena kasus narkoba. Katrin mau minta wanita itu untuk melayani ayahnya. 


Katrin mendatangi Emi yang lagi beres-beres di dapur.


"Mi, suami kamu sudah berapa tahun di penjara?" tanyanya basa-basi.


"Dua tahun, Nyonya."


"Tahan betul kamu. Aku ditinggal dua minggu saja sudah tak karuan rasanya. Kamu nggak kepingin?"


"Ada apa sebenarnya, Nyonya? Kok tiba-tiba nanya masalah begituan?"


"Mulai saat ini kamu bisa minta sama Papi kalau kepingin. Aku kasih uang juga. Bagaimana kurang baiknya coba? Kamu dapat banyak."

__ADS_1


Emi tersenyum sipu. "Saya sudah fitting sama Kanjeng Papi ... kekecilan."


Katrin terbelalak. "Jadi Papi sudah minta ke kamu?"


"Barusan dari sini. Saya kasihan lihat Kanjeng Papi. Maka itu saya coba bantu."


Katrin jadi bingung. Bagaimana kalau sudah begini? Apa ayahnya dibiarkan mati tersiksa? 


Kalau pun harus mati, belum saatnya bagi Papi. Katrin masih butuh dirinya untuk meminta Mami pulang. Ibunya cuma bisa luluh kalau mendengar penyesalan darinya.


"Kamu nggak kepingin pergi ke pasar malam?" pancing Katrin. "Siapa tahu dapat brondong."


"Kepingin, Nyonya," sahut Emi. "Saya minta ijin selesai bersih-bersih."


"Gak apa-apa kerjaan tunda saja," kata Katrin berbaik hati. "Cepat pergi sana. Komedi putar keburu tutup."


"Terima kasih, Nyonya."


Katrin tidak mau Emi tahu kejadian di rumah ini. Dia butuh banyak asisten rumah yang pengertian seperti perempuan mungil itu.


Katrin benci dengan keadaan ini, tapi tidak bisa menghindar dari kebencian itu. Dia sudah terperangkap dalam jaring kehidupan sehingga sulit untuk melepaskan diri.


Bagaimana dia dapat membawa ibu dan adiknya pulang sementara hal yang mereka benci selalu terjadi? Dia sebenarnya senang mereka tinggal bersama Nadine, tapi dia sedih kalau mereka tinggal di kandang kerbau!


Katrin tidak akan memikirkan mereka kalau Nadine jadi istri Bradley. Kesenangan hidup sudah pasti terjamin. Dia baru menyadari hal ini saat mengetahui betapa banyak gadis di kota satelit yang mendambakan kemewahan tanpa peduli bagaimana mendapatkannya, dan tidak semua memperoleh kesempatan.


Katrin merasa beruntung batal menikah dengan tunangannya dulu. Dia pasti menggendong bakul setiap hari kalau bertahan dengan cinta, jadi buruh perkebunan.


Katrin ingin menikmati apa yang dijalaninya. Dia tidak mau merasa tersiksa dengan apa yang terjadi, sehingga menderita tekanan batin dan meninggal seperti istri tetangga.


Wanita itu bertahan untuk setia pada suami bajingan, sering dinas ke luar kota ternyata menengok simpanan, padahal banyak yang menawarkan kenikmatan, termasuk ayahnya.


Katrin mengakui tidak cukup memiliki kesetiaan untuk suaminya. Dia tidak risau meski Sastro tidak pulang-pulang sejak kepergian mereka. Dia tahu di mana suaminya berada.


Tugasnya adalah merawat aset berharga di dalam perutnya. Setiap minggu pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa perkembangan.


Cek kesehatan secara rutin itu atas permintaan istri pertama Sastro. Minggu depan dia akan mengirim suster untuk menjaganya.


Rini adalah satu-satunya orang yang perlu didengarnya saat ini, karena dia yang akan membayarnya saat anak itu sudah lahir kelak.


Jadi persetan dengan Sastro yang entah berada di pelukan wanita mana. Tapi dia selalu memberikan kabar yang baik-baik setiap kali Rini menanyakannya.


Katrin duduk bersandar di atas kasur. Dia lagi mencari-cari nomor kontak yang sekiranya tahu tentang keberadaan mereka, dan tidak bermulut ember. Dia tidak mau kepergian mereka jadi trending topik.


Katrin melihat ayahnya datang dengan nafas yang sangat memburu.


"Katrin...," panggil Papi bergetar didera hasrat yang menggebu. "Boleh ya?"

__ADS_1


Sebuah pertanyaan sederhana yang membuatnya terjebak dalam satu jawaban...melayani.


Ketika semua sudah berlalu, Katrin kembali ke alam sadar. Air mata menetes. Bagaimana dia bisa membawa mereka pulang ke rumah kalau Papi selalu berkunjung ke kamarnya?


__ADS_2