Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Menghapus Cerita Cinta


__ADS_3

Umi terkejut melihat anaknya pulang dengan wajah lusuh. Dia sedang menonton sinetron di ruang keluarga, ditemani suaminya yang membaca majalah pertanian. Di meja ada secangkir kopi dan penganan hangat.


"Kamu habis berantem sama Karlina?" tanya Umi. "Mukanya lecek banget kayak cucian kotor."


Gerdy duduk di hadapan mereka, dan menjawab dengan santai, "Sama calon istri masa berantem sih, Umi? Bagaimana sudah berumah tangga nanti? Aku ingin kayak Umi dan Abi, tetap mesra sampai tua."


Cita-cita itu terpelihara sebelum mimpinya hancur oleh kejadian ulang tahun itu. Sekarang dia tidak tahu dengan siapa membangun mahligai indah itu.


"Nah, terus kenapa mukamu kusut begitu?" selidik Umi penasaran. "Benang diacak-acak ayam saja tidak begitu-begitu banget."


Muka Gerdy terlihat kucel bukan karena memikirkan kejadian itu. Dia lupa pergi ke wastafel waktu bangun tidur di hotel karena buru-buru pulang.


"Aku capek," kata Gerdy. "Antar Karlina sana sini. Aku ini sebenarnya calon suami apa sopir pribadi? Besok mengantar dia menghadiri resepsi pernikahan. Jauh lagi tempatnya."


"Kamu belum apa-apa sudah mengeluh," tegur ibunya. "Ayahmu ini sudah puluhan tahun mengantar Umi ke mana-mana tidak pernah mengeluh."


"Soalnya Abi yang mengejar-ngejar Umi," sahut Gerdy. "Jadi wajar sekarang menanggung risikonya."


Abi membela diri, "Ibumu jual mahal. Pura-pura tidak butuh."


"Perempuan berdarah biru nilainya tinggi," sambar Umi keki. "Jadi pantas jual mahal."


"Adikmu jual murah. Ketemu sekali di Malioboro langsung ke pelaminan."


"Aku jauh lebih cantik dari si Retno."


"Aku baru sadar kalau kamu cantik."


"Dasar."


"Oh ya, minggu depan aku pergi ke Kalimantan," kata Gerdy.


Umi kaget. "Buat apa?"


"Riset."


"Apa itu?" tanya Umi tidak mengerti. "Bahan kloset?"


"Makanya jangan cuma nonton sinetron," sindir Abi. "Sekali-sekali jaga berita."


"Alah, sering baca majalah yang dilihat perempuan melulu! Baca berita apa curi kesempatan?"


"Untuk studi banding," dalih Abi.


"Studi banding apa?"


"Kalau istriku ternyata jauh lebih cantik."


"Modus," cibir Umi, padahal hatinya berbunga dapat pujian. "Ngomong saja pengen cuci mata!"


"Cuci mata masa pakai majalah? Bagaimana caranya? Begini?" Abi menggosok-gosokkan majalah ke mukanya.


"Eh eh eh, siapa tuh yang dicium?" tanya Umi curiga.


"Nih!" Abi menunjukkan gambar alat pertanian. "Cemburu sama traktor?"


"Riset adalah penelitian lapangan," kata Gerdy sabar. "Ada hubungannya dengan bidang keahlian."


Umi memandangnya dengan serius. "Persyaratan jadi sarjana?"


"Semacam kegiatan ekstrakurikuler. Umi pasti tidak tahu deh apa ekstrakurikuler, tahunya ekstravaganza."

__ADS_1


"Berapa biayanya?" tanya Abi. "Kok diam-diam saja tidak minta transfer ke Abi?"


"Tidak dipungut biaya. Semua ditanggung oleh sponsor. Kegiatan ini khusus untuk mahasiswa berprestasi."


Abi kelihatan antusias. "Berapa hari?" 


"Kurang lebih sebulan."


Umi terperanjat. "Lama betul?"


"Kalau sebentar namanya bukan penelitian...piknik."


Tapi sebulan di Kalimantan? Pulau yang asing bagi anaknya? Yang katanya banyak lumpur hidup?


"Anakku." Suara Umi bergetar teringat pada kekhawatirannya itu. "Apa itu harus?"


"Tidak juga."


"Kalau bisa jangan pergi."


Gerdy menatap ibunya sambil tersenyum. "Takut di sate suku pedalaman? Jaman sudah berubah, Umi. Manusia yang mengaku dirinya beradab justru banyak melakukan perbuatan biadab."


"Biarkan anak kita cari pengalaman," ujar Abi. "Kapan lagi bisa pergi ke Kalimantan secara gratis?"


"Aku tidak biasa dengar istilah gratis!"


"Pemberian secara cuma-cuma ini bukan bantuan, tapi penghargaan terhadap prestasi," jelas Abi. "Bukan begitu, Ger?"


"Betul," jawab Gerdy. "Bagaimana keputusannya?"


"Aku ijinkan."


"Abi sudah mengijinkan masa Umi melarang?"


Bagaimana juga sebulan di Kalimantan jauh lebih aman daripada sebulan di Jakarta! Gadis itu jauh lebih berbahaya dari daerah yang berawa-rawa!


Umi curiga anaknya masih menjalin hubungan dengan si Betadine. Hari Sabtu tidak ada kuliah. Tapi Gerdy selalu pulang sore hari. Bisa saja mampir di Jakarta, atau bahkan dari malam Sabtu menginap di pondokan gadis itu! Tidur satu kamar!


Dia lagi mencari orang yang tepat untuk menyelidiki. Ada beberapa pegawai perkebunan yang hapal Jakarta. Tapi suaminya pasti keberatan karena mengganggu pekerjaan.


Jika kecurigaannya terbukti, maka dia akan memaksa Gerdy untuk menikah saat ini juga!


"Doakan saja tidak terjadi apa-apa sama aku, Umi," pinta Gerdy.


"Itu sudah pasti. Tidak usah diminta."


"Kamu pergi ke Kalimantan naik pesawat atau apa?"


"Naik pesawat. Mobil aku titip nanti di Karlina biar dirawat."


"Jangan merepotkan calon istrimu," tukas ayahnya. "Biar pegawai Abi nanti yang merawat."


Gerdy sangat apik dengan mobilnya. Jadwal ke bengkel dan ke salon mesti tepat waktu. Dicuci setiap hari meski tidak digunakan. Mesin dipanaskan setiap pagi.


Tekad Gerdy sudah bulat untuk pergi ke Kalimantan. Dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Mahasiswa lain sampai merayu-rayu ingin ikut. Tentu saja yang dipilih mahasiswa yang betul-betul bisa diandalkan karena segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kepada lembaga yang membiayai. 


Selain itu, Gerdy ingin menghapus cerita cinta yang ada. Kenyataan yang diterimanya malam ini telah mencabik-cabik hatinya. Dia mau mencoba hidup tanpa seorang Nadine.


Dia tidak mau hatinya terluka karena seorang perempuan!


"Aku istirahat dulu," kata Gerdy sambil bangkit dari sofa. Malam ini sungguh berat. Dia butuh istirahat yang cukup. 

__ADS_1


Umi bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana?" tanya Abi.


"Lihat Wisnu di kamarnya. Tumben anak itu malam Minggu tidak keluar rumah. Jangan-jangan ada masalah dengan pacarnya."


Bergegas Umi menaiki anak tangga menuju ke kamar Wisnu. Dia heran melihat anaknya malam Minggu mengurung diri di kamar. Biasanya kalau tidak pergi dengan anak motor, main game online di home studio.


"Lagi belajar apa?" tanya Umi penasaran sambil menghampiri Wisnu yang duduk di kursi belajar.


"Latihan soal matematika."


"Rajin banget anak Umi."


Wisnu berhenti sejenak mengerjakan soal. Tidak biasanya Umi memuji. Ceramah adalah bekal terakhir sebelum tidur. Ada apa ini? Apa mau menjodohkannya dengan anak Pak Sekdes yang kemarin bawa oleh-oleh dari Yogya? Dia tidak suka anak SMA!


"Bagaimana pacarmu?" selidik Umi. "Masih suka ngambek?"


"Bubar."


Umi terdiam. Jadi benar Wisnu lagi ada masalah? Jangan-jangan pengaruh mie instan itu? Tidak mungkin! Mie itu dialamatkan buat kakaknya! 


"Tiap hari ribut, tiap hari ngajak putus," kata Wisnu.


"Tapi tiap hari dimaafkan."


"Demen sih."


"Sekarang kenapa putus?"


"Bete. Tiap hari korslet."


"Asal jangan sekolahmu korslet."


"Cewek cakep bukan cuma satu."


"Sudah ada gantinya?"


"Namanya hampir sama dengan mantan si kakak...Andin."


"Jangan-jangan kelakuannya sama!"


"Ayahnya pejabat Pemda."


"Suka korupsi tidak?!"


"Orang bersih. Jaman now kalau berbuat curang dipangkas habis."


"Rumput liar kali dipangkas. Umi tak peduli siapa bapaknya. Yang penting anaknya baik."


"Kak Nadine baik, buktinya nggak Umi restui?"


"Tahu apa kamu soal perempuan! Cinta saja belum hapal betul!"


"Mulai deh."


"Kamunya sok pintar!"


Wisnu segera membimbing ibunya ke luar kamar, sambil berkata, "Maaf ya, Umi tersayang. Hari Senin ada tes matematika, fisika, dan kimia. Aku lagi mumet belajar, jangan tambah dengan khotbah Umi. Selamat malam, ibuku sayang."


Wisnu mencium kening Umi dan menutup pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2