Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Menjemput Cinta


__ADS_3

Dengan lesu Nadine duduk di sisi pembaringan. Dia baru pulang dari kampus melihat hasil ujian praktikum. Nilainya sangat baik, tapi dia tidak gembira, tidak bangga.


Mata Nadine tertuju ke kalender kecil di meja belajar. Ada bulatan hitam yang jatuh hari ini di mana Gerdy seharusnya datang. Berarti sudah satu minggu dia tidak muncul sejak pulang dari Kalimantan. Entah penelitiannya sukses atau tidak, tak pernah ada kabar.


Nadine teringat kembali kata-kata Gerdy setiap kali akan menghadapi ujian, "Kalau nilaimu bagus, kamu boleh jitak kepalaku sejumlah angka yang diperoleh."


Nadine tahu Gerdy cuma bergurau. Memberi motivasi. Tapi dia ingin pemuda itu menepati janji. Ada di sisinya saat menghadapi momen yang dianggap penting.


"Naik mobil saja aku buka pintu sendiri," sindir Nadine kala itu. "Pakai minta jitak kepala."


"Kamu mau dibukakan pintu? Gak sekalian minta dibukakan baju!"


"Jangan asal deh!"


"Tolong bedakan antara pacar dan sopir pribadi."


"Semua pacar di pondokan tidak ada yang merasa jadi sopir."


"Jelas saja! Tugas mereka bukan cuma membuka pintu mobil! Tapi juga membuka pintu kamar! Membuka pakaian di kamar! Nah, aku? Cuma boleh berdiri di depan pintu kamar kalau ibu kos pergi pelatihan!"


Brengsek, gerutu Nadine dalam hati. Cuma perkara membukakan pintu mobil jadi melebar ke mana-mana.


Gerdy adalah satu-satunya pacar di pondokan yang tidak pernah membukakan pintu mobil, membawakan kantong belanjaan, apalagi menghapus sisa makanan di bibir pakai tissue.


Gerdy tidak suka memamerkan kemesraan di depan umum. Nadine menggandeng tangannya saja ditolak. Dia hanya mau menerima perlakuan romantis di tempat yang mendukung untuk itu.


Ada yang membuat Nadine bangga dengannya. Dia berhasil membangun cinta untuk memacu semangat mereka dalam mencapai prestasi belajar. Kebanyakan pacar di pondokan malah mengajak bolos kuliah.


Gerdy satu-satunya orang yang memperhatikan perkembangan studinya. Setiap kali bertemu tak pernah lupa menanyakan hal itu. Kadang Nadine sengaja membuat nilainya jeblok karena ingin lebih diperhatikan.


Nadine bisa menjadi gadis kecil yang paling manja atau gadis remaja yang tak lepas dari problema. Gerdy selalu sabar mendengarkan dan mencarikan jalan keluar.


Gerdy adalah sosok yang paling tepat untuknya. Disaat Nadine kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tua, dia datang menggantikan. Dan kehadiran orang ketiga mengacaukan segalanya.


Karlina adalah gadis putih abu-abu yang sangat mengganggu pikirannya. Ada rasa cemburu yang tak mau hilang setiap kali Gerdy pulang untuk calon istrinya. Kedekatan mereka karena tali perjodohan menimbulkan riak-riak yang menggerogoti mimpi yang dibangunnya.


Bukan sebuah kesalahan kalau Karlina jatuh cinta pada pemuda tampan dan kaya raya. Dan sangat wajar jika Gerdy tergiur oleh pesona putih abu-abu. Yang sial Nadine, jatuh hati pada laki-laki yang salah! Play boy!


"Kamu ngapain aja kalau lagi jalan sama Karlina?" tanya Nadine saat makan malam di sebuah kafe. "Dinner juga?"


Gerdy menjawab secara lugas, "Jangan bicarakan perempuan lain disaat aku menikmati makan malam bersama pacarku."

__ADS_1


Sejujurnya Nadine tidak ingin tahu apa yang dilakukan mereka, dia hanya mau tahu apa yang timbul dari perbuatan mereka.


Gerdy seakan menutup diri untuk membahas orang-orang di sekelilingnya, sementara Nadine sering bercerita tentang orang-orang terdekatnya, sampai hal sekecil-kecilnya.


Gerdy hanya mau membicarakan apa yang mereka alami dan rasakan. Dia hanya bicara secara singkat mengenai status orang-orang terdekat di hatinya.


Gerdy cuma menjelaskan bahwa dirinya tidak mencintai Karlina. Mereka selalu pergi setiap malam Minggu. Sudah. Dia tidak pernah menerangkan secara detail, padahal banyak hal terjadi.


Memiliki pacar seperti Gerdy ibarat menaruh telur di ujung tanduk. Nadine harus siap setiap saat untuk terjatuh dan pecah. Apalagi dia merasa Karlina lebih pantas untuk jadi menantu di istana itu.


Gerdy bukan sosok laki-laki yang mencintai seorang perempuan berdasarkan bibit, bebet, dan bobot. Latar belakang keluarga hanyalah bumbu dari kesungguhan cintanya. Yang dia lihat adalah perempuan seperti apa yang pantas mendampingi hidupnya. Itu yang membuat Nadine besar hati.


Maka itu dia tetap memelihara mimpi dan menyiraminya setiap hari. Dia mesti pandai merawat cintanya.


Lalu datanglah Bradley. CEO gagah dan tampan yang mulai mengikis kepercayaan Gerdy pada dirinya.


"Jadi berangkat?" tanya Nadine lewat handphone pada percakapan terakhir mereka.


"Jadi dong."


"Pulangnya bawa oleh-oleh ya."


"Oleh-oleh apa?"


"Justru aku mau menculiknya satu buat pemuda sinting itu, biar tidak mengganggumu."


"Dia itu CEO, bukan pemuda sinting."


"Pasti tidak punya sekretaris cantik."


"Syarat pertama jadi sekretaris adalah menarik, jadi tidak mungkin sekretarisnya tidak cantik."


"Kalau begitu kenapa masih mengejar kamu?"


"Jadi kau mencintaiku karena aku cantik?"


"Aku justru ingin menukar wajahmu."


"Aku ingin nongki di kafe favorit kita. Kangen-kangenan semalaman."


"Bradley tidak diundang, kan?"

__ADS_1


Setiap pembicaraan pasti ujungnya ke pemuda itu. Pesonanya yang luar biasa membangun kekhawatiran berlebih dalam diri Gerdy.


Bradley adalah simbol kesuksesan eksekutif muda. Setiap laki-laki pasti meragukan pacarnya apabila jadi incaran pemuda itu. Dan pesta ulang tahun Nadine mengikis habis arti sebuah kesetiaan. Padahal sampai langit runtuh pun, cintanya hanya untuk Gerdy!


Semula Nadine berharap Gerdy sudi mendengar penjelasannya dan membuka pintu maaf untuknya. Namun ketika calling-nya tidak diterima dan ratusan chat tak terbalas, Nadine sadar, Gerdy bukan cuma kecewa. Dia ingin meninggalkan dirinya sebelum Bradley sempat merampas dari tangannya! Di mana harga dirinya sebagai laki-laki?


"Bagus kalau Gerdy tersinggung," komentar Rindy, teman pondokan yang paling banyak mendapat fasilitas dari CEO itu. "Jadi ada alasan untuk menerima Bradley."


"Pacarku pantas tersinggung," bela Nadine. "Aku tidak pernah merayakan ulang tahun bersamanya, tapi malam itu aku merayakan bersama Bradley."


"Kamu merayakan ulang tahun bersama seluruh penghuni pondokan, bukan cuma bersama Bradley," kata Friska, satu-satunya jomblo di pondokan mereka.


"Tapi semua itu dari Bradley, termasuk hadiah yang kalian berikan."


"Terus masalahnya di mana?" tanya Nungky, teman pondokan yang sedikit netral.


"Masalahnya kalian sudah diperalat oleh Bradley untuk mendapatkan aku. Kalian cuma berpikir tentang kesenangan kalian sendiri. Kalian tidak pernah berpikir bagaimana perasaan aku. Bagaimana pentingnya harga diri bagi laki-laki seperti pacarku."


Nungky manggut-manggut dengan sinis. "Oh, begitu ya? Tinggi banget harga diri si play boy, kalah tiang listrik!"


"Pertanyaannya, kamu mau tidak sama Bradley?" tanya Rindy.


"Ya ampun! Dari tadi aku ngomong berarti gak nyambung!"


"Sederhana saja, kalau kamu tidak suka, kamu bisa mengajukan keberatan untuk merayakan ulang tahun bersama kami."


"Ulang tahunnya sudah terjadi, aku mengajukan keberatan apaan?"


"Tahun depan masih ada," ujar Rindy santai. "Memangnya ada rencana putus?"


Nadine kesal. "Tahun depan aku sudah pindah dari pondokan ini!"


"Urusan berarti selesai. Apa lagi?"


"Brengsek kalian!"


"Yang brengsek pacarmu!" balik Friska. "Masalah ulang tahun saja dibesar-besarkan!"


"Jangan salahkan pacarku! Otak kalian picik! Egois!"


Mereka sudah terjebak oleh tipu daya Bradley. Di kepala mereka cuma ada dinner dan clubbing dengan gratis. Mereka tidak peduli kalau perbuatan itu telah melukai hatinya! Melukai pacarnya!

__ADS_1


Nadine begitu takut kehilangan cintanya. Begitu takut ditinggalkannya. Tapi diam menunggu saja tidak mungkin. Gerdy tidak akan pernah datang lagi. Dia harus menjemput cintanya!


__ADS_2