
Nadine tidak dapat menerima logika kakaknya. Katrin rela melayani untuk menyelamatkan Mami dari kekerasan rumah tangga. Pengorbanan salah kaprah, atau baru sebatas itu pola pikirnya tentang arti pengorbanan.
"Kalian binatang," geram Nadine marah. "Kalian tidak pantas disebut manusia."
"Aku tidak peduli dengan sebutan itu," kata Katrin tenang. "Aku cuma peduli dengan keselamatan Mami. Papi minum obat overdosis dan Mami lagi sakit. Aku tidak mau Mami mati melayani nafsu bejatnya."
"Picik sekali otakmu. Kau bisa biarkan Dajjal itu mati karena perbuatan sendiri."
"Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya Papi saat itu. Kehormatan keluarga tidak bersisa kalau aku menolak. Dia pasti lari ke rumah tetangga untuk melampiaskan hasratnya. Kau masih ingat kan Papi mendekam tiga bulan di penjara gara-gara lagi mabok menepuk bokong Bu Lurah! Aku tidak mau kejadian itu terulang!"
"Aku mau kau cerdas sedikit," sambar Nadine pedas. "Kau biarkan Dajjal itu menggagahi dirimu tanpa peduli bagaimana perasaan keluargamu."
"Maka itu cukup kau yang tahu kalau sayang sama keluarga," dengus Katrin dingin. "Aku perempuan cantik yang bodoh, cuma tamatan SMA. Jadi aku tidak bisa berpikir sehebat calon dokter."
"Kau bukan hanya bodoh, tapi tidak bermoral."
"Nah, orang tidak bermoral ini sudah menyelamatkan cintamu," balik Katrin sengit. "Papi membubuhi minuman Bradley dengan obat perangsang dan membubuhi minumanmu dengan obat tidur. Apa yang terjadi kalau kubiarkan?"
Sudut bibir Nadine terangkat sedikit. "Asal kau tahu, aku dan Prilly tidak pernah minum di rumah ini kecuali bikin sendiri. Aku mencium aroma busuk suamimu."
"Dengar baik-baik," tegas Katrin hilang sabar. "Menurutmu bagaimana aku menghindari kebejatan Papi? Mengunci pintu kamar dan membiarkan Papi menggedor-gedor biar tetangga berdatangan? Atau membiarkan Papi gentayangan ke tetangga untuk melampiaskan nafsu bejatnya? Biar bagaimana dia ayahku! Aku tidak mau namanya makin hancur!"
Nadine memandang dingin. "Artinya kau menginginkan aku pergi dari rumah ini."
Nadine benci dengan kebobrokan yang terjadi pada keluarganya. Tidak ada lagi kehormatan yang bisa dipertahankan. Kekecewaan Katrin pada kehidupan telah mengabaikan segala norma dan menjadikan rumah ini sebagai rumah binatang.
Nadine semakin bulat untuk membeli sebuah rumah. Dia ingin membawa Mami dan Prilly pergi. Suatu saat bisa saja adiknya jadi korban, karena Sastro tidak lebih baik dari Papi.
Di tempat tinggal yang baru nanti, Nadine berencana membina rumah tangga bersama Gerdy. Dia tidak yakin Abi dan Umi akan menerimanya sebagai menantu. Dan semakin musnah harapan kalau peristiwa memalukan itu bocor ke masyarakat.
__ADS_1
Kebejatan mereka pasti terulang, membuatnya merasa tidak pantas tinggal di istana itu.
Nadine berharap Gerdy menepati janjinya, memilih pergi dari rumah dan menikah dengannya. Tidak tergiur untuk hidup bersama dengan perempuan pilihan ibunya.
Nadine sebenarnya khawatir Gerdy tergoda oleh Karlina. Gadis itu memiliki segalanya untuk jadi menantu Abi dan Umi. Cantik, terpelajar, kaya raya, dan berasal dari keluarga terhormat.
Sejujurnya Nadine mengakui kalau Karlina lebih pantas jadi istri Gerdy.
Nadine hanya memiliki keunggulan pesona yang bukan pertimbangan utama untuk menentukan pasangan hidup. Gerdy sudah bosan dengan perempuan rupawan.
Keagungan cinta. Barangkali itu yang membuat Nadine menaruh harapan besar pada Gerdy. Dia cinta mati pada pemuda itu dan akan mempersembahkan kesempurnaan cintanya bilamana mereka hidup berumah tangga.
Malam ini Nadine akan diperkenalkan kepada pacar Karlina. Gerdy sebenarnya tidak perlu membuktikan sejauh itu. Dia sudah percaya. Kemudian mereka akan menghabiskan malam Minggu berdua.
Mereka berempat janji bertemu di Tanamera Coffee. Gerdy dan Karlina langsung dari kota satelit. Robby pergi sendiri dari rumahnya. Nadine tinggal naik taksi. Dia bisa santai karena jarak dengan lokasi cukup dekat.
Kalau ibu kos ada panggilan, kemerdekaan buat gadis pondokan menerima tamu. Mpok Siti jadi panen sogokan. Mereka bebas masuk ke mana saja, kecuali ke kamar ibu kos. Kebebasan yang kadang meresahkannya.
Ibu kos seorang dokter. Hidup menjanda. Anak tak punya. Dia membuka pondokan bukan karena uang, kesepian tinggal sendiri. Asisten rumah bukan teman bicara yang mengasyikkan, sering salah sambung. Sayangnya, kebaikan wanita separuh baya itu malah disalahgunakan.
Mereka mungkin diangkut Bradley malam mingguan. Dia pandai mengambil simpati penghuni pondokan. Mentraktir makan, nonton, healing. Gerdy jadi kalah pamor. Mereka mendukung penuh jika Nadine membuangnya. Brengsek.
Gerdy sekarang lagi di perjalanan dan langsung ke tempat pertemuan. Mulanya dia ingin menjemput ke pondokan, tapi Nadine menolak. Rencana bisa berantakan.
Gadis-gadis pondokan selalu mengundi untuk mereka yang pergi kencan, siapa yang harus membawa teman yang masih jomblo. Daripada ketiban sial, Nadine terpaksa berbohong mau menemui pelanggan di sebuah salon kecantikan.
Malam ini Nadine tak mau diganggu. Dia ingin berduaan dengan Gerdy sepuasnya. Minggu besok mereka berpisah dan baru bertemu beberapa minggu lagi. Dia ingin menikmati kebersamaan sebagai pengobat rindu.
Nadine lagi membaca majalah menunggu waktu sambil duduk di sofa ketika tiba-tiba dikejutkan oleh gegap-gempitanya nyanyian ulang tahun, disusul kemunculan teman-temannya mengiringi ibu kos membawa kue tart. Bradley kelihatan paling bersemangat. Pasti ini idenya. Dasar.
__ADS_1
"Hari ini kamu ulang tahun," kata ibu kos sambil menaruh kue itu di meja. "Sekali-sekali kita rayakan."
Nadine belum pernah merayakan ulang tahun sejak perusahaan Papi bangkrut. Dia berkembang dalam ganasnya kehidupan. Usia tujuh belas yang seharusnya jadi kenangan paling indah berlalu tanpa momen apa-apa, dan jadi kebiasaan sampai sekarang.
Ibu kos menyalakan lilin yang membentuk angka usianya.
"Jangan bilang tidak mau," kata ibu kos. "Masih ada waktu, kan?"
Teman-temannya memberi semangat, "Tiup! Tiup! Tiup!"
Nadine merasa tidak enak mengecewakan mereka yang sudah berniat baik memberikan surprise. Tepuk tangan pecah saat lilin padam tertiup.
Ibu kos mencium pipi kanan dan kiri menyampaikan selamat dan memberi bingkisan. Teman-temannya satu per satu mendapat giliran. Nadine sempat terharu merasakan kehangatan dan perhatian mereka.
Bradley memperoleh kesempatan terakhir, dia memberi kado mungil berisi perhiasan berlian.
"Happy birthday," bisik Bradley sambil mengecup tangannya.
Dan Nadine terlambat menarik tangannya. Dia terlambat mengetahui keberadaan Gerdy di ambang pintu. Yang menyaksikan kejadian itu dengan tatapan berlumur kecewa.
Ada rasa tak percaya menggelepar pedih di matanya. Luluh. Hancur. Pantas Nadine melarang mampir ke pondokan. Ada pengkhianatan terjadi di sini.
Selama ini Nadine tak pernah mau merayakan ulang tahun bersamanya. Dia tidak pernah diberi kesempatan untuk menikmati saat-saat manis seperti itu. Saat-saat di mana bisa berbagi cinta pada hari terindah. Tapi malam ini Nadine bersedia merayakannya bersama Bradley!
Cintanya ternyata bukan cinta hakiki sebagaimana yang didendangkan. Janjinya hanya pemanis bibir belaka. Nadine tak seindah yang dibayangkan!
"Tunggu!" buru Nadine ketika Gerdy berbalik pergi. "Kamu salah paham!"
Gerdy sudah keluar lewat pintu depan dan berjalan ke mobilnya. Ketika Nadine tiba di halaman, mobil sudah melesat pergi meninggalkan pondokan.
__ADS_1