
Papi sering pergi berhari-hari membawa uang banyak, lalu muncul di depan pintu dengan wajah berdosa, dan Mami selalu memaafkan.
Malam itu Papi pergi tidak membawa apa-apa dari rumah istri muda dan tidak pulang-pulang. Mami jadi gelisah.
Dia duduk menunggu di ruang tamu setiap pagi. Lelaki yang diharapkan tidak ada di muka pintu setiap kali dia mengintip lewat gorden depan.
Suaminya sudah melakukan perbuatan yang melampaui batas, manakala tidak pulang-pulang, tak urung jadi beban pikiran.
"Aku heran sama Mami," kata Katrin. "Mami harusnya senang Papi tidak pulang-pulang, berarti rumah aman dan damai. Tidak ada minuman keras, tidak ada keributan, tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, dan tidak ada perbuatan keji yang membuat Mami meninggalkan rumah."
"Dia ayahmu."
"Aku tidak tahu dia ayahku atau suamiku," sahut Katrin enteng. "Dia minta tiap hari sampai aku capek segala-galanya."
"Tapi kamu menikmatinya," sindir Mami pedas. "Kamu tidak lebih baik dari ayahmu."
"Aku cuma tidak ingin hidup tersiksa."
"Dia adalah suami pilihanku. Aku turut berperan terhadap perubahan ayahmu. Jadi masalah yang terjadi di rumah ini tidak sepenuhnya kesalahan dirinya."
"Mami jangan menyalahkan diri sendiri. Masalah yang terjadi di rumah ini adalah sepenuhnya kesalahan Papi. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Mami. Apa yang diharapkan dari kepulangan Papi? Berantem setiap hari atau menyiksa Mami dengan KDRT? Aku tidak rela ibuku mati karena melayani nafsu maniaknya."
"Ayahmu sangat menyayangi aku. Dia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit saat itu karena terlilit hutang, menyerahkan istri ke rentenir atau menerima tawaran kontrak rahim untuk anaknya."
"Akhirnya Papi memilih mengorbankan aku. Jadi karena itu Mami mengharapkan kepulangan manusia terkutuk itu?"
"Jangan sebut manusia terkutuk karena di dalam tubuhmu telah mengalir darahnya. Jadi kamu sebut apa dirimu?"
Katrin mendengus sinis. "Di dalam tubuhku bukan cuma mengalir darahnya. Aku terbuat dari air maninya dan setelah dewasa aku dijadikan penampungan air maninya."
Pintu diketuk dari luar. Mami bangkit untuk membuka kunci rantai.
__ADS_1
Mami menoleh sekilas ke anaknya. "Ganti bajumu. Tidak pantas berpakaian begitu di depan adik ipar."
Katrin mengenakan kimono transparan sehingga pakaian dalam serba mini kelihatan jelas. Dia bangkit pergi. "Mami bicarakan saja dengan Gerdy. Aku mau berkemas-kemas untuk pergi ke rumah bersalin. Suster menganjurkan pada diriku untuk beristirahat total menjelang detik-detik lahiran."
Mami membuka pintu. Di luar berdiri Gerdy dan istrinya. Mereka cium tangan, kemudian masuk. Mereka duduk di sofa.
"Kakakku mana?" tanya Nadine.
"Lagi siap-siap pergi ke rumah bersalin," jawab Mami.
Katrin pasti menolak untuk ikut campur masalah ini, pikir Nadine hambar. Dia sendiri malas untuk membahas. Papi bukan ayah kandung yang pantas untuk dicari. Masyarakat saja tidak ada yang peduli dengan kepergiannya, bahkan berharap tidak kembali.
"Bagaimana urusannya ini?" keluh Nadine. "Katrin menyuruh suamiku datang. Dia sendiri tidak hadir."
"Biarkan saja kakakmu berkemas-kemas," kata Mami. "Aku yang minta suamimu datang. Aku tidak tahu minta bantuan sama siapa lagi."
"Mami memanggil suamiku untuk mencari Papi?"
"Mami mau apa kalau sudah tahu ke mana Papi pergi? Mau menyuruh dia pulang? Katrin tidak suka itu. Aku sendiri berharap dia tidak pulang. Dia cuma ayah dalam status."
"Tidak baik bicara begitu. Dia tetap ayahmu biar sudah melakukan kesalahan besar pada kalian. Aku takut terjadi apa-apa dengan ayahmu karena pergi dari rumah istri muda tanpa membawa uang sepeser pun."
Masalah ini sangat pelik, pikir Gerdy. Polisi sudah turun tangan dan tidak menemukan titik terang. Kecurigaan dibunuh sempat mencuat ke permukaan karena perilaku istri muda yang mencurigakan. Polisi sudah menggeledah rumahnya dan tidak menemukan petunjuk apapun. Dia bahkan tidak tahu ke arah mana suaminya pergi. Dia cuma melihat keluar lewat pintu depan.
Polisi juga sudah memeriksa beberapa tempat perjudian dan warung remang-remang, mereka mengatakan Papi sudah beberapa hari tidak muncul. Mereka kira sudah tobat.
Gerdy dan Surya sudah membantu polisi dengan mencari di rumah-rumah janda muda, tidak ada indikasi Papi bersembunyi di rumah mereka. Lagi pula bersembunyi buat apa? Dia tidak punya hutang atau musuh.
Kecurigaan terakhir adalah Papi bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai dan mayatnya terbawa arus deras ke muara karena malam itu hujan lebat. Tapi motifnya apa? Dia kecewa kepada istri muda karena memasang tarif setiap kali berhubungan intim? Atau patah hati karena wanita cantik itu mengusir dari rumah? Sebuah motif yang kurang masuk akal. Untuk ukuran Papi harusnya muncul dendam.
Surya sempat bertanya ke paranormal, malah membuat otak makin pusing. Orang pintar itu bilang Papi mati dibunuh, cuma pelakunya susah diidentifikasi karena dilindungi pagar gaib.
__ADS_1
Paranormal yang ilmunya lebih tinggi mengatakan Papi dibunuh oleh perempuan berinisial K dan dikubur di sekitar rumahnya.
Dia harusnya memberi bocoran yang jelas. Perempuan berinisial K sangat banyak di kelurahan ini dan kecurigaan mengarah kepada Kartini, janda langganan Papi yang ditinggal pergi. Fakta di lapangan nihil. Papi hilang tanpa jejak.
"Ayahmu menikah lagi karena aku pergi meninggalkannya," sesal Mami. "Dia jadi lelaki yang tidak tahu diri karena kelalaian aku juga."
Hal ini yang membuat Nadine tidak enak. Ayahnya makin liar dan tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang dilakukan karena sikap lembek ibunya.
"Kapan Mami berhenti menyalahkan diri sendiri?" Nadine menatap ibunya dengan sedih. "Apa yang terjadi di rumah ini bukan kesalahan Mami. Papi adalah seorang suami yang tidak perlu dimaafkan."
"Aku tahu betapa besar cinta ayahmu pada diriku. Dia jadi begitu karena kehabisan akal untuk membahagiakan aku."
Nadine tidak mengerti dengan cara pandang ibunya. Papi kehilangan akal untuk membahagiakan istri karena usaha bangkrut, dan Mami memaklumi semua perbuatan yang dilakukannya. Logika macam apa ini? Apa Mami cinta buta kepada Papi sehingga menutup mata terhadap apa yang terjadi?
"Jadi maunya bagaimana sekarang?" tanya Gerdy. Dia berpikir sederhana saja. Dia akan berusaha memulangkan Papi kalau Mami merasa bahagia hidup dalam masalah. "Aku sudah mencari Papi ke setiap pelosok bersama Surya, jejaknya tidak ditemukan. Mami ada masukan untuk ini?"
"Aku curiga suamiku berkumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu. Dia pernah memiliki laskar anak muda."
"Mami sebutkan saja nama teman-temannya. Aku cari nanti. Masalahnya adalah Papi mesti dibawa ke mana jika ditemukan? Katrin kayaknya tidak mau menerima kehadiran Papi, istriku juga."
"Bawa ke rumahku yang dulu. Aku sudah mendapat izin dari Katrin. Rumah itu sebenarnya buat kalian, jadi aku juga perlu minta izin kepada kalian."
"Aku tidak apa-apa," sahut Nadine. "Aku tidak berminat tinggal di rumah itu."
Gerdy memandang mertuanya dengan sinar mata berkabut. "Hanya pintaku, jika aku sudah mencari ke mana-mana, Papi tidak ditemukan, Mami harus merelakan. Barangkali semua masalah di rumah ini harus selesai dengan jalan seperti itu."
Gerdy khawatir penyakit lama Mami kambuh karena banyak memikirkan suaminya. Dia tidak mau mertuanya stres karena memikirkan lelaki yang tidak berguna. Mami demikian mencintai suaminya sehingga setiap permasalahan yang ditimbulkan selalu mendapat maaf darinya.
Gerdy tidak yakin bisa menemukan Papi. Dia berfirasat sesuatu yang buruk telah terjadi. Papi pergi tanpa membawa uang sepeser pun. Tidak mungkin pergi jauh. Tapi sudah disisir seluruh wilayah hasilnya nihil.
Masyarakat tidak ada yang melihat karena malam itu hujan lebat. Mereka sudah pergi tidur. Lagi pula, mereka tidak peduli.
__ADS_1