
Mata Nadine tak dapat terpejam. Sudah jam sembilan malam Gerdy belum pulang, padahal tak pernah pulang telat. Dia takut terjadi apa-apa dengan suaminya. Tidak mungkin masih cari kerja. Kantor tentu telah tutup. Sekalipun buka, bukan untuk tenaga kerja. Handphone suaminya dihubungi tidak aktif, mungkin lowbat.
Untuk menyapu keresahan, Nadine merubah posisi tidurnya. Matanya tertumpu ke sosok mungil yang berbaring di sampingnya. Idyla tampak terlelap. Pulas sekali.
Tak sadar Nadine tersenyum. Hatinya selalu terhibur melihat wajah polos itu. Idyla sudah mengerti bahasa isyarat. Sudah bisa diajak bercanda. Cuma Nadine belum sempat mencari baby sitter untuknya. Belum ada waktu yang tepat buat mendiskusikan dengan suaminya. Dia cukup repot bolak-balik ke tempat penitipan bayi, mendingan diurus dan dirawat oleh tenaga tersendiri.
Gerdy masih disibukkan dengan masalah pekerjaan. Dia masih terus mencari dan mencari. Entah kapan ditemukan. Mendapatkan pekerjaan di kota ini butuh mukjizat, apalagi minim pengalaman kerja.
Nadine bahkan tidak sempat memikirkan diri sendiri. Siang malam pikirannya tersita untuk sang bayi. Bagaimana mencukupi semua kebutuhannya. Memberi makanan bergizi, susu tambahan, vitamin, kontrol rutin, dan entah apa lagi yang diperlukan besok. Dia harus kerja keras cari uang tanpa peduli kelelahan yang diderita.
Kadang Nadine iri melihat suami tetangga. Pendidikan mereka cuma lulusan SMA, ada sarjana tapi non reguler. Tapi memiliki pekerjaan tetap, bahkan ada yang jadi pegawai negeri sipil. Lalu apa gunanya pendidikan tinggi?
"Kamu mulai membandingkan aku dengan suami tetangga," keluh Gerdy suatu hari. "Sekalian saja bilang aku adalah suami paling jelek nasibnya."
"Suamiku kok baperan? Aku cuma cerita kalau jalan hidup lebih bergantung pada keberuntungan."
"Dan suamimu tidak beruntung, begitu?"
Nadine diam, sebelum suasana berubah jadi tidak menyenangkan. Sejak jadi pengangguran Gerdy sangat sensitif.
Nadine masih belum dapat tidur ketika terdengar suara Moge berhenti di depan rumah dan langsung dimatikan. Kemudian terdengar bunyi pintu pagar dibuka. Gerdy pasti masuk dengan mendorong motor. Dia biasa mematikan mesin sebelum mencapai halaman kalau pulang larut malam. Takut mengganggu tidur orang rumah.
Bergegas Nadine bangun dari pembaringan dan berjalan ke luar kamar menuju ke pintu depan. Sekilas diliriknya jam dinding di ruang tamu. Hampir pukul sebelas.
Begitu pintu depan terbuka, sebuah kecupan hangat mampir di keningnya. Nadine mengatupkan mata merasakan nikmatnya kemesraan yang tak pernah terlupakan jika suaminya pulang.
"Maaf pulang telat," kata Gerdy.
"Begini malam lagi," sahut Nadine tanpa perasaan apa-apa. "Dari mana?"
Nadine menutup dan mengunci pintu kembali setelah suaminya melangkah masuk.
"Ya cari kerja," ujar Gerdy. "Masa cari tante-tante?"
"Malam-malam begini?" Nadine menatap Gerdy yang berjalan menuju kamar. "Cari kerja apa cari kesempatan yang punya rumah lengah?"
"Maling dong?"
"Kerja di mana?"
"Bukan di kantor."
"Terus?"
"Di pertokoan."
"Dapat?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Bersinar wajah Nadine. Senyumnya merekah lebar- lebar. Tidak sia-sia perjuangannya selama ini. Akhirnya membuahkan hasil.
"Kerja apa?" tanya Nadine sambil mencopot sepatu dan pakaian suaminya di dalam kamar. "Pramuniaga apa sales?"
"Sales."
"Sales alat-alat elektronik?"
"Sales diri," senyum Gerdy kecut. "Menawarkan jasa sama ibu-ibu habis berbelanja untuk diantar sampai rumah."
Nadine terbelalak. "Tukang ojek?"
"Jadi driver online kamu larang, maka itu aku ngambil ojek offline."
"Aku tidak melarang. Daripada jadi penyedia jasa transportasi bagi orang lain, mendingan bawa pick up untuk melayani pelanggan toko, bantu Pak Marto."
"Pemborosan tenaga kerja. Pak Marto sanggup menangani sendiri. Buat apa harus berdua?"
"Bukan karena muatannya berbeda kan?"
"Maksudnya?"
"Bawa pick up mengantar barang sembako, sedangkan ojek mengantar perempuan cantik."
"Aku berhenti jadi ojek elit kalau pikiranmu begitu."
"Aku bingung. Tidak ada pekerjaan yang terlepas dari cemburumu."
"Aku sudah sering mengatakan tidak akan berhenti cemburu karena dengan itu cintaku bertahan."
Kegembiraan yang sempat memenuhi rongga dadanya surut tinggal separuh. Sinar matanya yang memancarkan kebahagiaan meredup. Gerdy jadi tukang ojek?
Bertahun-tahun dia menimba ilmu pengetahuan, dari SD sampai pendidikan sarjana. Tak terhitung disiplin ilmu yang terkemas dalam kepiawaian otaknya. Sekarang malah menggeluti pekerjaan yang tidak butuh ijazah dan pendidikan!
"Kamu malu punya suami tukang ojek?" tanya Gerdy.
"Tidak." Nadine menarik nafas sesak. Suaminya tak bisa berpegang teguh pada pendidikan. setelah kegagalan demi kegagalan dihadapi. "Hanya prihatin, orang sepertimu tak sepantasnya terdampar di jalanan."
"Pantas tidaknya bukan kita yang menilai, kehidupan. Tapi sudahlah, perutku lapar. Kamu masak apa?"
Gerdy bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar menuju meja makan. Perutnya dari siang hanya diisi beberapa potong gorengan dan segelas es kelapa.
"Belum makan?" tanya Gerdy ketika istrinya menyiapkan hidangan untuk dua orang.
"Bagaimana bisa makan kalau jam segini kamu baru pulang?"
"Sudah kubilang jangan risaukan aku," kata Gerdy separuh menegur. "Pikirkan saja dirimu. Jaga kesehatan baik-baik."
"Kamu sendiri jarang makan."
__ADS_1
"Aku sudah biasa sejak jadi pengangguran."
"Apalagi aku." Nadine mengambil nasi buat suaminya, kemudian menyiapkan nasi untuk dirinya. "Aku sudah biasa sejak kecil."
"Kamu punya bayi. Mesti banyak makan. Terutama sayur supaya air susumu banyak, asal jangan kebanyakan."
"Kalau kebanyakan?"
"Tentu saja aku bingung menjualnya."
Nadine tersenyum sedikit. Barangkali salah satu kelebihan Gerdy dibanding suami yang lain adalah selera humornya. Dalam situasi apapun, dia tak pernah kehabisan kata-kata segar.
Nadine teringat sesuatu, dan berkata hati-hati, "Ada yang mau aku bicarakan. Minggu depan aku menduduki posisi baru, aku sudah kasih tahu kamu sebelumnya, tentu waktuku lebih sedikit untuk anakku. Aku mau mempekerjakan baby sitter."
"Hari pertama kamu jadi manajer marketing, hari itu baby sitter datang," kata Gerdy.
"Maksud kamu?"
"Tidak mungkin dong seorang manajer bolak-balik ke penitipan bayi, maka itu aku menghubungi sebuah biro jasa untuk menyiapkan baby sitter."
Nadine sampai tidak jadi menyuap nasi. Matanya menatap tak berkedip. "Kapan kamu menghubungi biro jasa?"
"Setelah kamu ngasih tahu ada promosi jabatan."
"Kok tidak bilang-bilang?"
"Aku sedianya mau bikin kejutan sebagai bentuk dukungan atas promosimu. Kuberi tahu nanti saat merayakan jabatan barumu, tapi kau sudah bertanya duluan. Tidak marah kan aku mencuri urusan?"
"Aku sangat surprise." Nadine tersenyum renyah, lalu bangkit dari duduknya. Dengan mesra dirangkulnya Gerdy dari belakang.
"Sudah! Sudah! Jangan mulai!"
Ketika istrinya mulai juga, Gerdy malah lupa kalau lagi makan. Mereka berciuman dengan mesra. Prilly muncul dan bengong melihat kehebohan mereka. Dia mau pergi ke toilet untuk buang air kecil.
Nadine kaget melihat keberadaan adiknya. "Sejak kapan kamu ada di situ?"
"Cukuplah untuk kursus kilat cara berciuman yang benar," sahut Prilly santai. "Mau menyalahkan aku karena tidak ketuk pintu? Sejak kapan masuk ruang makan harus ketuk pintu?"
Prilly pergi dari hadapan mereka dengan sinar mata penuh sindiran.
"Kamu pernah bilang kalau skandal di rumahmu terjadi karena Katrin sering melihat Papi dan Mami bermesraan," kata Gerdy. "Maka itu hati-hati kalau ingin bermesraan."
"Kok jadi menyalahkan aku? Kita berdua tidak bisa menahan diri!"
"Kamu saja kali. Aku bisa menahan diri."
"Menahan diri apa?"
"Menahan diri untuk tidak marah sama Prilly yang sudah berkata kurang sopan."
__ADS_1