Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Sesuka-sukanya


__ADS_3

Katrin menjalankan mobil lambat-lambat memasuki halaman rumah. Matanya yang bercahaya meredup dan menguncup. Senyum kepuasan yang menggantung sepanjang perjalanan langsung jatuh terpecah. Cerita mesra yang tergambar indah di kepala terbang berhamburan.


Datuk Meninggi bersama empat pengawal setianya berdiri menunggu kedatangannya di beranda dengan wajah garang.


Katrin turun dari mobil dengan bertanya-tanya, hatinya tertindih rasa penasaran menggunung. Kemudian menuangkan rasa ingin tahunya dalam sebuah pertanyaan, "Ada apa ini?"


"Dari mana kamu?" tatap Datuk Meninggi dengan sinar mata tajam dan berkobar amarah.


"Latihan senam," jawab Katrin santai. "Di kelurahan sebelah."


"Habis senam?"


"Shopping."


"Habis shopping?"


"Aku tidak ada waktu untuk menjelaskan acara hari ini secara detail. Aku capek."


Datuk Meninggi memandang jijik. "Dasar perempuan murahan!"


Lelaki separuh baya itu mengangkat tangan hendak menampar wajah istrinya. Seorang pengawal segera memegang tangannya dan mencoba menyadarkan, "Sabar, bos. Jangan main fisik. Kena pasal nanti."


Datuk Meninggi berusaha mengendalikan emosi, dan berkata dengan gigi bergemerutuk, "Kamu sudah memberaki wajahku dengan perbuatan bejatmu."


"Abang sudah menerima laporan apa sebenarnya sampai demikian marah padaku?" pandang Katrin bingung.


"Munafik!" maki Datuk Meninggi sambil mengepalkan tangan dengan geram. "Kau berlagak tidak berdosa di depanku! Apa yang dilakukan barusan dengan pemuda kemarin sore di home stay ku? Tidak ada takutnya bermain gila di tempatku!"


"Abang pasti sudah mendengar omongan tidak benar dari kompetitor instruktur senam," kata Katrin sabar. "Aku sudah sering digosipkan punya sugar baby."


"Kamu benar-benar perempuan tidak tahu diuntung!"


"Abang tidak bisa menuduhku tanpa bukti. Aku selaku istri tersinggung."


"Aku tidak semarah ini kalau tidak ada bukti!" Datuk Meninggi mengambil handphone di tangan pengawal dan memutar sebuah video. "Kamu tentu kenal perempuan ini!"


Di layar tampak Katrin begitu bersemangat menjadi joki di atas tubuh seorang pemuda tampan. Hubungan intim itu terjadi beberapa jam lalu di sebuah home stay milik suaminya. Yang membuat dirinya terkejut, bagaimana kejadian itu dapat direkam secara jelas? Kalau melihat angle, pasti diambil di dalam kamar dan dari jarak dekat.


"Kamu pasti heran bagaimana aku bisa memperoleh rekaman ini?" dengus Datuk Meninggi sengit. "Sudah lama aku mencurigaimu. Pemuda itu adalah Reo, aku bayar untuk umpan. Dia merekam semua informasi tentang perbuatan bejatmu selama ini."


Bajingan, geram Katrin dalam hati. Kekagumannya pada keperkasaan Reo langsung amblas ke dasar bumi. Pantas saja pemuda tanggung itu begitu santai bercinta, rupanya orang bayaran.


Katrin tahu siapa yang menyulut suaminya sehingga muncul curiga. Pasti istri ketiga. Bedebah.

__ADS_1


"Aku cukup waras cuma menjebakmu," desis Datuk Meninggi dengan rahang mengeras menahan amarah. "Semula aku ingin menangkap basah, dan dijadikan konten agar kamu mendapat malu satu Indonesia. Tapi setelah dipikir ulang, hanya menunjukkan kebodohanku tidak bisa mendidik istri."


Katrin justru berharap jadi konten di media sosial. Keindahan tubuhnya sangat pantas untuk jadi istri pemersatu bangsa. Pasti banyak play boy tajir menginginkan bercinta dengannya. Kemolekan tubuhnya akan menjadi lumbung uang.


"Abang demikian marahnya melihatku selingkuh," sindir Katrin sinis. "Tapi Abang diam saja istri ketiga ada affair dengan orang kepercayaan Abang sendiri."


"Aku sudah membereskan mereka sebelum membereskanmu," sahut Datuk Meninggi dingin. "Aku minta kamu pergi dari rumah ini sekarang juga karena bukan istriku lagi."


Saat itu dua orang pengawal mengeluarkan beberapa koper besar dari dalam rumah dengan didorong secara bersamaan.


"Semua barang-barangmu ada di dalam koper," kata Datuk Meninggi. 'Lekas enyah dari hadapanku sebelum aku bertindak kasar."


Mendapat perlakuan seperti anjing buduk begitu, Katrin tersinggung. Dia berkata, "Kamu tidak bisa mengusirku pergi. Rumah ini adalah rumah ayahku. Seharusnya kamu yang angkat kaki dari rumah ini."


Datuk Meninggi mengambil sertifikat rumah dari tangan pengawal, dan menunjukkan akta jual beli dengan tanda tangan ayahnya.


"Tanah dan rumah ini aku beli dari ayahmu," jelas Datuk Meninggi. "Silakan hubungi notaris untuk membuktikan keabsahan kepemilikan ini."


"Kamu dusta!" bantah Katrin sengit. "Surat ini palsu!"


Katrin tidak tahu bagaimana bentuk tanda tangan ayahnya. Dia tidak pernah melihat dan tidak pernah peduli. Tapi dia berani memastikan kalau surat itu palsu. Bagaimana Papi bisa transaksi jual beli sementara jasadnya sudah habis dimakan belatung?


"Kamu kurang jelas melihat kalau ayahmu sudah membubuhkan tanda tangan di atas materai?" pandang Datuk Meninggi menusuk. "Pakai kacamata! Anak ABG kamu jelas melihat biar di kejauhan!"


Datuk Meninggi memberikan sertifikat kepada pengawal untuk diperlihatkan secara dekat bukti keabsahan tanda tangan ayahnya. Katrin tidak perlu melihat bukti itu.


"Setelah kamu jadi istriku."


"Di mana kamu bertemu ayahku?"


"Ayahmu berada jauh dari kota kecil ini. Dia lagi bersenang-senang dengan uangnya."


"Aku berhak tahu di mana ayahku."


"Ayahmu berhak untuk tidak memberi tahu karena kecewa dengan kelakuan busuk anaknya. Transaksi terjadi di hotel bintang lima. Setelah itu aku tidak tahu ayahmu pergi ke mana."


Pendusta, geram Katrin dalam hati. Datuk Meninggi sudah melakukan transaksi jual beli secara fiktif. Tapi bagaimana dia membuktikannya? Jika bersikukuh, dia bakal terjerat masalah besar.


Jadi Katrin terpaksa mengangkat kopernya ke dalam mobil walau hatinya sangat jengkel. Lelaki pasti berbuat seenak-enaknya kalau berada di atas angin! Berada di atas perut saja sesuka-sukanya! Dia harus mencari akal untuk menuntut balas!


"Kamu bisa memiliki rumah ini kalau kamu serahkan adikmu kepadaku," seringai Datuk Meninggi licik. "Prilly pasti sudah tumbuh jadi gadis cantik jelita."


Katrin mendengus muak. "Anjing buduk saja tidak pantas diberikan padamu."

__ADS_1


Datuk Meninggi melemparkan uang sepuluh juta ke lantai di hadapannya, dan berkata, "Untuk ongkos bensin. Tapi tolong layani dulu empat body guard ku."


Mereka tertawa. Katrin merasa sangat terhina. Dia segera meninggalkan rumah itu dengan hati membara.


Akibat kecerobohannya, rumah jadi berpindah tangan. Seharusnya dia mengurus surat-surat rumah itu sejak dulu. Ketika orang lain memegang sertifikat kepemilikan, maka lepaslah haknya.


Katrin menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah lama. Dia tidak melihat Dudung bekerja di taman, mungkin lagi di belakang. Mirna juga tidak kelihatan. Sudah sebulan lebih dia tidak pulang ke rumah ini.


Katrin memencet bel dan menunggu beberapa saat. Tidak ada yang muncul dari dalam rumah. Sekali lagi ditekannya bel. Tidak ada yang datang juga membuka pintu gerbang. Jangan-jangan mereka pergi. Dasar pembantu tidak tahu diri. Majikan tidak pulang dijadikan kesempatan.


Katrin menghubungi Mirna, begitu tersambung langsung mendamprat, "Kamu di mana? Aku ada di depan pintu gerbang menunggu dibuka."


Mirna menjawab dari seberang dengan tenang, "Maaf, Nyonya. Saya sudah tidak bekerja lagi di rumah itu."


"Kamu kurang ajar banget ya. Pergi begitu saja tanpa pamit. Mestinya ngomong dulu ke aku. Masuk baik-baik keluar juga baik-baik."


"Maaf, Nyonya. Saya dipecat oleh pemilik rumah itu. Katanya tidak membutuhkan asisten rumah, biar saja rusak dimakan rayap. Saya sudah berulang kali menghubungi Nyonya tapi tidak diangkat."


"Pemilik rumah ini aku! Aku tidak pernah memecatmu!"


"Minggu kemarin ada lelaki tua bernama Tuan Sastro meminta saya untuk mengosongkan rumah, karena sudah pindah hak milik. Nyonya hubungi saja beliau untuk lebih jelas. Nomornya ada di pintu pagar."


Katrin melihat di dekat gembok ada kertas karton bertuliskan sederet angka. Barangkali Mirna sengaja menggantungkan di pagar untuk memberi tahu majikannya kalau rumah digembok oleh pemilik nomor itu.


"Enak saja kamu main gembok rumahku!" hardik Katrin pada Sastro lewat handphone. "Sudah kubilang berkali-kali, aku tidak sudi kembali padamu! Maka itu aku minta talak tiga!"


"Yang minta kamu kembali siapa?" balik Sastro santai. "Aku bisa memperoleh gadis virgin semudah mengambil apel dari kulkas."


"Lalu apa maksudmu menggembok rumahku?"


"Jangan ngaku-ngaku. Rumah itu adalah milikku, berdasarkan transaksi jual beli dengan ayahmu. Kalau mau lihat surat-suratnya, datang saja ke rumahku di Jakarta. Atau minta dikirim fotonya via chat?"


"Bangsat! Kamu sudah menipu aku!"


"Hati-hati bicara. Aku bisa menuntutmu. Yang menipu siapa? Surat-suratku resmi."


Katrin terdiam lemas. Dia tahu Sastro sudah memalsukan surat, tapi sulit untuk dibuktikan. Serba salah. Ibarat makan buah simalakama.


"Barang-barangku ada di dalam." Katrin mencoba menurunkan emosinya. "Setidaknya kasih kesempatan untuk mengambil semua barangku."


"Dalam perjanjian jual beli disebutkan ayahmu menjual rumah beserta semua isinya, berarti barangmu termasuk. Untung kamu sudah pindah. Jika masih tinggal di situ, kamu termasuk dijual."


"Keparat!"

__ADS_1


Sastro tertawa. "Memakilah sepuasmu karena rumah itu tidak akan kembali lagi, kecuali kamu serahkan Prilly, cukup beberapa malam kalau tidak mau jadi istriku."


Dua bandot tua itu pasti sudah bersekongkol, dan Katrin yakin mereka membuat sertifikat dari orang yang sama. Dia tidak mungkin menukar adiknya dengan sebuah rumah. Tapi bagaimana dengan hidupnya?


__ADS_2