
Pagi itu Katrin bertamu ke rumah Umi. Dia disambut oleh Umi dan suaminya dengan ramah. Mereka heran perempuan itu datang sendiri.
"Pengacaranya tidak dibawa?" tanya Abi. "Mediasi sebaiknya dilakukan dengan kehadiran pengacara sehingga terlihat resmi."
"Pengacara lagi mengurus klien lain karena kedatangan saya sifatnya mendadak," kata Katrin. "Menurutnya tidak masalah kalau saya mampu menjaga situasi tetap kondusif."
Abi tersenyum tulus. "Aku dan istriku selalu menyambutmu dengan tangan terbuka, dan tidak ada niat untuk mengotori pertemuan kita dengan emosi yang tidak diperlukan. Tapi menurut pihak kami permintaanmu terlalu berat untuk dikabulkan. Jadi kedatanganmu untuk mencari titik temu atau bagaimana?"
"Sebelumnya saya minta maaf sama Abi dan Umi," ujar Katrin. "Saya mengakui bahwa perilaku saya sangat kotor sehingga memunculkan ujaran kebencian. Saya sudah menghubungi pengacara untuk menarik gugatan. Jadi mulai hari ini tidak ada silang sengketa lagi di antara kita."
Umi memandangnya dengan tak percaya. "Maksudmu semua tuntutan dibatalkan?"
"Ya. Pikiranku saat itu lagi kacau sehingga muncul niat untuk melapor ke pihak kepolisian. Tapi kemudian banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Saya bisa kehilangan adik saya karena Nadine menentang keras kasus ini dilanjutkan. Jadi sekali lagi saya minta maaf."
"Aku juga minta maaf. Tidak sepatutnya mengatai kamu dengan sebutan itu."
"Sama-sama, Umi. Saya kira sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Saya permisi."
"Tunggu sebentar," kata Abi sambil mengeluarkan buku cek dari tas kerja yang tersimpan di atas meja. Kemudian menulis angka sebesar satu milyar pada selembar cek, dan diserahkan ke Katrin. "Sebagai tanda terima kasih kami atas kemuliaan hatimu."
"Besar sekali," cetus Katrin terkejut. "Saya tidak bisa ..."
"Sudah terima saja," potong Umi. "Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah membuka mata hatiku, kamu ternyata tidak seperti apa yang kudengar. Hatimu sungguh mulia dan menyayangi keluarga."
Setelah Katrin pergi, lama mereka duduk tanpa bicara. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dialami. Pasti ada sesuatu yang membuat wanita itu berubah pikiran. Umi berharap sesuatu itu adalah hidayah, agar para istri hartawan di kelurahan ini merasa tenteram. Laki-laki paling setia pun sulit untuk menghindar dari pesonanya.
"Umi mesti ke rumah Nadine untuk minta maaf," kata Abi. "Umi sudah mengeluarkan kata-kata kotor untuknya, dan ternyata dia turut berperan atas kejadian hari ini."
Umi terpana. "Aku minta maaf sama Nadine? Abi mau merendahkan harga diriku?"
"Umi justru sudah merendahkan diri sendiri kalau tidak minta maaf. Katrin saja mendapat mukjizat sehingga bersedia datang ke rumah kita. Masa Umi selaku orang terhormat tidak berani untuk minta maaf? Sama saja dengan minta Abi...."
"Minta Abi cari istri lagi, begitu?" sergah Umi. "Barusan ada calon istimewa! Jangan-jangan ada perjanjian rahasia untuk membebaskan aku. Cek itu adalah mahar."
"Mahar untuk body goal masa kecil banget?"
"Lalu maksud Abi apa?"
"Sama saja dengan minta Abi untuk datang sendiri minta maaf."
"Jago ngeles."
"Kan punya mertua pengusaha bajay," canda Papi. "Kalau nggak jago ngeles, keseruduk terus."
__ADS_1
"Tapi antar."
"Asyiap," sahut Abi gesit. "Umi kan Pertabo."
"Pertamax turbo maksudnya?"
"Perempuan tua tapi bohay," senyum Abi nakal. "Kalau ada yang ganggu, gimana?"
Abi tidak pernah membiarkan Umi pergi sendiri untuk urusan silaturahmi. Kecuali tidak sependapat dengan tujuan istrinya, kadang dilepas pergi sendiri.
Nadine sedang bermain dengan Idyla di taman depan ketika mobil Abi memasuki pelataran rumah. Dia menyerahkan anaknya ke baby sitter. Hatinya berdebar-debar. Tapi melihat cerianya wajah mereka, dia sedikit tenang.
Nadine menyambut mereka dan membawanya ke beranda.
"Silakan, Abi Umi," kata Nadine, mempersilakan mereka duduk.
"Terima kasih," sahut Abi sambil duduk di kursi rotan diikuti istrinya.
"Ada apa ya Abi sama Umi datang ke rumahku?" tanya Nadine agak gugup. "Apakah ada sangkut pautnya sama Katrin?"
"Ya," jawab Umi tenang. "Kami datang untuk silaturahmi, sekalian minta maaf sama Nak Nadine atas perkataan Umi tempo hari di pesta pernikahan."
Nadine tampak surprise. Sebuah kenyataan yang hampir tak berani menerimanya saking tak percaya. Umi datang untuk minta maaf? Perempuan yang membencinya sampai ke ubun-ubun sudi mengeluarkan penyesalan?
Air mata Nadine mengembang merasa terharu.
"Tidak seharusnya orang setua ini dikendalikan emosi," kata Umi penuh sesal. "Saat Umi sadar, betapa malu teringat pada kata-kata yang sudah diucapkan."
Nadine tersenyum samar. "Emosi datang tidak pandang usia dan tempat. Jadi aku sangat maklum. Aku juga selaku adik Katrin minta maaf atas apa yang dia perbuat. Aku sudah melarang keras, tapi watak kakakku ya begitu."
"Oh, masalah Umi dan Katrin sudah selesai. Dia menarik semua tuntutan, jadi kasus itu sudah ditutup."
Nadine terpukau. Dia serasa mimpi mendengarnya. Angin apa yang sudah merubah pendirian Katrin? Dia tidak mungkin berubah secara tiba-tiba tanpa sebab, dan hanya satu nama yang bisa membuatnya begitu. Nama yang sekarang demikian menyakitkan bila diingat.
Untuk nama itu, Nadine datang ke rumah Surya. Sahabatnya menyambut sebagaimana biasa, mencoba menghilangkan jarak yang mulai tercipta, tapi tetap saja terasa ada dinding pemisah.
"Kamu sakit hati karena aku tidak mengundangmu ke pestaku?" tanya Nadine dengan sinar mata lembut tapi menusuk. "Kamu tahu kenapa aku tidak mengundangmu? Aku hanya ingin berbagi bahagia dengan sahabatku. Pesta itu bukan pesta pernikahanku, tapi pesta kematian kehidupanku."
Surya tersenyum berusaha menghalau mendung di depannya. "Ada apa sampai kamu beranggapan begitu?"
"Kenapa kamu tidak bilang kalau Gerdy pulang ke kota ini?"
"Kok bisa berpikiran begitu?"
__ADS_1
"Benar kan dia pernah pulang?"
"Dia pulang bukan untuk menanyakan kabarmu."
"Aku tahu dia pulang untuk membujuk Katrin agar menarik gugatannya."
"Kapan dia membujuk perempuan?"
"Apa dia melakukannya dengan Katrin?"
"Melakukan apa?"
"Katrin terobsesi untuk tidur bersamanya. Aku kira itu yang membuat pendiriannya berubah."
"Maksudnya kakakmu menarik gugatannya?" tatap Surya dengan setumpuk perasaan senang di hatinya. Tidak percuma kedatangan mereka malam-malam ke rumah Katrin.
"Ya," jawab Nadine pendek.
"Aku tidak tahu Gerdy bercinta atau main congklak dengan kakakmu. Lagi pula apa masalahmu?"
"Katrin adalah kakakku! Dan aku mantan istrinya! Menurutmu pantas dia melakukan itu dengan kakakku?"
"Dia pantas bercinta dengan siapapun di keluargamu, karena kamu bukan siapa-siapa lagi."
"Aku sangat mencintainya, Sur. Kau mengerti tidak?"
"Tidak. Sebab kalau kau sangat mencintainya, kenapa kau meninggalkannya dan menikah dengan Bradley?"
"Aku tidak meninggalkannya. Kesalahanku adalah memilih anakku."
"Jadi karena Idyla kamu menikah dengan Bradley?"
"Gerdy tahu aku menginginkan anakku tetap hidup, sementara dia tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya, maka itu dia pergi meninggalkan aku."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi kalau kau ingin tahu setiap kedatangan Gerdy ke rumahku, bunuh saja aku."
Nadine tampak kecewa. Perkawinannya dengan Bradley membuat temannya menjauh dan susah diminta bantuan, seakan perceraiannya dengan Gerdy merupakan kesalahan mutlak dirinya.
"Kejadian ini membuat aku tahu harus menaruh simpati pada siapa," kata Surya. "Pergilah ke pangkuan suamimu. Gerdy hanyalah masa lalu bagimu. Aku lebih suka memberi tahu Katrin. Dia rela berkorban demi adiknya. Dia tidak pernah mencintai Dodi atau siapapun. Dia cuma mencintai laki-laki yang kau sia-siakan."
"Kau kejam, Sur." Nadine pergi sambil menangis.
"Aku tidak kejam," bantah Surya separuh berteriak. "Aku kecewa dengan sikapmu. Jika Gerdy tidak mau pulang karena perasaan bersalahnya, mengapa kau tidak berusaha pulang dengan membawa anaknya? Cucu mereka? Kau malah lari pada laki-laki yang paling dicemburuinya!"
__ADS_1
"Dia sendiri yang menyerahkan aku pada Bradley!"
"Karena kau ingin diserahkan pada Bradley! Sejak kecil kau bersahabat dengannya, tapi kau tidak mengenal siapa Gerdy! Inikah yang dinamakan cinta?"