Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Menengok Bayi


__ADS_3

Nadine tidak senang ketika Gerdy sering bolak-balik ke Jakarta. Kadang mandi saja tidak sempat. Begitu datang langsung tidur karena kelelahan. Energi terkuras untuk kuliah dan kerja. Rumah jadi hotel.


Gerdy bisa masuk kantor kapan saja. Bahkan sering siang kuliah malam kerja. Jadwal kerja Sabtu Minggu jadi kacau.


"Jangan sering-sering pulang," tegur Nadine ketika suaminya berangkat ke Bandung pagi hari dan siangnya sudah muncul lagi. "Nanti kuliahmu terganggu."


Gerdy mengambil minuman dingin di kulkas dan duduk di sofa. "Aku masuk kantor sore ini."


"Cukup Sabtu Minggu saja kerja." Nadine mulai menggelar meja setrika. Dia membantu pekerjaan Mimin yang pergi ke mall bersama Mami untuk belanja kebutuhan dapur. Kasihan Mimin. Gaji tidak seberapa pekerjaan begitu banyak, dari urusan rumput di halaman sampai urusan dapur. "Hari-hari biasa untuk keperluan kuliah."


"Aku ingin cari tambahan."


Nadine menoleh sekilas. "Kamu cari tambahan buat apa? Semua kebutuhanmu sudah tercukupi oleh orang tua."


"Tapi kebutuhan istri tidak tercukupi olehku," sahut Gerdy hambar. "Kamu hanya mau menerima uang dari hasil keringatku."


"Uang pemberian orang tuamu itu untuk biaya kuliah, bukan untuk biaya istrimu. Nah, pergunakan uang itu untuk keperluan hidup di Bandung."


"Aku sudah kurangi biaya hidupku. Jadi sisanya lumayan banyak."


"Aku tidak mau kamu hidup hemat karena ada aku di dalam hidupmu. Aku seolah jadi beban kalau begitu. Aku sudah cukup dengan gaji yang kamu berikan. Aku sendiri kerja. Jadi kehidupanku jangan dilihat dari kehidupanmu. Lihat dari kehidupan tetangga kita. Hidupku sudah mewah di mata mereka."


"Aku ingin kamu meneruskan kuliah."


"Aku pasti meneruskan kuliah. Tapi tidak sekarang. Kamu sudah lulus baru kita bahas soal ini."


"Aku ingin kamu melanjutkan kuliah sekarang."


"Dengan biaya dari orang tuamu? Bagaimana kalau secara tiba-tiba mereka tahu tentang kita? Semua jadi berantakan. Kamu jangan pikirkan studiku. Kamu fokus saja pada cita-citamu. Kerja cukup Sabtu Minggu."


"Besok tak ada kuliah. Ngapain aku di apartemen? Aku takut kembali pada kebiasaan lama kalau tidak ada kesibukan."


"Besok kamu kerja?"


"Tidak. Aku bisa cari kesibukan sama istri."


"Kesibukan apa?"


"Menurutmu kesibukan apa yang pantas untuk pasangan muda?"


"Kamu sudah tingkat persiapan. Mesti belajar sungguh-sungguh. Jangan buang-buang waktu."


Gerdy menatap tidak senang. "Aku datang untuk menengok bayi, bukan cuma untuk kerja. Kamu bilang itu buang-buang waktu?"


"Aku tak mau diperlakukan kayak anak kecil."


"Aku takut terjadi apa-apa dengan bayimu."


"Ada yang lebih perlu dikuatirkan, kuliahmu."

__ADS_1


"Aku lebih mencemaskan bayimu."


"Itu yang aku tidak mau."


"Tidak bisa, Nad," protes Gerdy tegas. "Aku ingin ikut memikirkan bayi dalam kandunganmu, ikut merasakan penderitaanmu."


"Belajarlah baik-baik. Berarti kamu sudah ikut merasakan kesusahan diriku karena di situlah tersimpan harapanku."


"Kadang aku ingin berhenti kuliah saja," keluh Gerdy tawar. "Aku ingin totalitas mencari nafkah."


"Aku tidak yakin Ibu CEO menerima kamu kalau tidak lulus kuliah. Mereka butuh tenaga ahli, bukan tenaga tanggung."


"Aku bisa pindah kerja."


"Cari kerja itu tidak gampang. Aku sudah merasakan sendiri. Jangan main-main dengan kehidupan. Kamu sedang menghadapi tanggung jawab besar. Masa depan kita."


"Apa kita masih punya masa depan, Nad?" desis Gerdy hampa. "Apa kita masih punya kesempatan untuk meraih apa yang kita impikan?"


"Jawabannya ada di kamu. Maka itu pikirkan saja kuliahmu."


"Ada apa sebenarnya, Nad?" pandang Gerdy mulai curiga. "Mengapa tiba-tiba saja kamu tidak suka aku berada di dekatmu?"


Nadine pura-pura mengambil pakaian yang menumpuk di bak plastik. Dia gelar di atas meja lalu disetrika.


"Apa laki-laki itu datang lagi?" desak Gerdy penasaran. "Dia masih mengharapkan dirimu walau sudah jadi istriku?"


"Laki-laki mana?" tanya Nadine acuh tak acuh.


"Mana tahu Bradley aku pindah ke mari?"


"Lalu apa alasannya kamu melarang aku pulang untuk menengok bayi?"


Melihat wajah istrinya memerah, timbul pikiran lain di benak Gerdy. Perempuan hamil muda biasanya gairah seksualnya tinggi. Nadine pasti mengalami hal serupa, hanya malu untuk meminta.


Mereka cukup lama tidak bercinta karena kesibukan dirinya. Dia sekedar mampir di rumah ini. Barangkali itu yang membuat Nadine pusing.


"Aku ikuti kemauan istriku." Gerdy tersenyum, pura-pura setuju. "Aku tidak masuk kerja sore ini. Aku kerja Sabtu Minggu saja. Aku akan fokus pada studi. Aku minta izin untuk istirahat sebentar. Begitu bangun langsung pergi lagi ke Bandung. Aku berangkat kerja dari Bandung nanti. Malam Minggu baru pulang."


Gerdy merebahkan tubuh di lantai di dekat kaki istrinya dan memejamkan mata. 


Malam Minggu, pikir Nadine gelisah, berarti enam hari lagi suamiku pulang, padahal sudah satu minggu pembaringan dingin! Dan rasanya sudah tak karuan!


Nadine segera mencabut kabel setrikaan dan menindih suaminya. Dia kecup bibir yang terkatup itu dengan lembut.


Gerdy membuka mata, berlagak bodoh. "Ada apa?"


"Kamu pulang untuk apa?" tatap Nadine mesra.


"Menengok bayi."

__ADS_1


Nadine tersenyum manis. "Kok malah tidur? Bayinya minta ditengok."


"Masa?" 


"Periksa saja kalau tidak percaya."


Tangan Gerdy menyelusup masuk melakukan investigasi. Tidak pakai segitiga pengaman! Siap menerima tamu!


Gerdy bangun dari rebahan. "Ayo kita ke kamar."


"Bayinya keburu marah. Di sini saja."


"Mereka pulang bagaimana?"


"Jangan lama-lama nengoknya."


"Tidak bisa. Jam besuk satu jam."


Ketika mereka sudah siap beraksi, pintu depan terdengar ada yang membuka. Mami dan Mimin sudah pulang dari mall.


Mereka segera merapikan pakaian.


"Aku bilang apa," kata Gerdy. "Di luar banyak iklannya."


"Sebentar lagi aku selesai," sahut Nadine. "Kamu tunggu di kamar."


"Oke." Gerdy mengecup wajah Nadine lalu pergi ke kamar.


Nadine sedikit terburu-buru menyetrika karena ingin cepat selesai.


Mimin datang. "Biar saya lanjutkan. Nyonya istirahat saja."


"Tinggal sedikit lagi. Kamu langsung masak saja. Tuan pulang."


"Baik, Nyonya."


"Min, kamu tidak apa-apa digaji segitu?"


"Saya sudah bilang sama Nyonya tidak digaji juga tidak apa-apa, asal jangan disuruh pulang ke rumah lama. Gaji itu sudah sangat besar bagi saya, maka itu saya traktir Mami makan siang di kafe."


"Pantesan kalian pulang telat."


Padahal dia merasa cepat sekali mereka pulang. Atau cinta membuat jarum jam bergeser tanpa terasa?


Mimin pamit, "Saya ke belakang dulu, Nyonya."


"Ya."


Nadine menyelesaikan pekerjaan menyetrika. Pakaian hasil setrika sudah dipisahkan sesuai kepunyaan masing-masing. Dia membawa pakaian miliknya ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. Gairahnya sudah meledak lagi.

__ADS_1


Nadine membuka pintu kamar. Dia tampak kecewa melihat suaminya tertidur pulas di tempat tidur. Saking kecewanya, dia menaruh pakaian di lemari sampai berjatuhan, dan semakin banyak yang berjatuhan ketika tangan suaminya meraih pinggang dan merangkul dari belakang.


"Istriku cemberut kenapa?" Gerdy mengecup lehernya dengan mesra. "Aku pulang untuk menengok bayi, masa tidur?"


__ADS_2