Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Calon Menantu Idaman


__ADS_3

Bradley bukan pemuda biasa. Di usia yang semuda itu dia sudah menggenggam kehidupan yang gemilang. Yang mungkin mesti dicapai puluhan tahun oleh orang kebanyakan. Itu pun butuh keberuntungan.


Semua itu tak lepas dari andil orang tua. Mereka menyuguhkan semua fasilitas yang dibutuhkan, putranya tinggal menjalankan, tanpa perlu susah payah berjuang, atau keliling kantor menjual diploma Oxford. Tapi apa bedanya?


Wajahnya sangat tampan, putih bercahaya, perpaduan Birmingham dan Solo. Wajah yang tak pernah tahu arti debu. Tubuhnya ideal. Bukan peminum atau pemakai. Pemuda idaman setiap orang tua untuk jadi menantu.


Yang biasa hanya sifatnya, tidak beda dengan pemuda kebanyakan. Kalau sudah tergila-gila pada seorang gadis, moncong senjata pun diterjang!


Dia sudah jatuh cinta pada Nadine sejak pertama kali melihat fotonya di rumah itu, lalu timbul niat untuk meminangnya. Kebetulan dia sedang mencari calon istri, dan orang tuanya tidak memberi kriteria khusus.


Gadis model begini yang didambakannya: Cantik, terpelajar, dan gadis pinggiran, tapi tidak terpinggirkan.


Gadis pinggiran biasanya tidak suka memberontak, tak banyak menuntut. Dia hanya menerima apa-apa yang diberikan, patuh, tunduk.


Justru ayah gadis itu yang banyak permintaan. Dia memasang harga tinggi untuk putrinya yang paling cantik itu. Tapi bukan persoalan. Orang tua mata duitan adalah sarapan paginya.


"Pastikan putri anda bersedia jadi istri saya, itu yang penting," tandas Bradley saat Papi mengajukan persyaratan. "Anda ingin mobil seperti apa tinggal pilih di dealer."


Bradley tahu ayah seperti itu pasti tidak mampu membujuk anaknya. Orang tua kemaruk harta tidak ada harga di mata seorang pekerja keras seperti Nadine. 


Maka itu Bradley tidak membawa mami-papinya pada hari yang dijanjikan. Dia cuma membuat malu mereka dengan omong besar pemabuk itu, dan ternyata benar. Nadine tidak pulang pada hari yang dijanjikan.


"Kamu tenang saja," kata Papi. "Minggu depan pasti pulang."


"Pulang ke mana?" tanya Bradley melecehkan.


"Pulang ke rumah, masa pulang ke alam baka?" Papi tertawa kecil.


Sebuah canda yang sebenarnya tidak pantas keluar dari mulut seorang ayah.


"Orang tua seperti anda sering saya jumpai," kata Bradley sinis. "Tong kosong berbunyi nyaring."


"Minggu ini Nadine sibuk pemotretan karena dapat kontrak baru," ujar Papi.


"Minggu depan putri anda ada break, begitu?" Bradley mengeluarkan amplop besar dari balik jas. "Uang ini tidak habis untuk minum dan berjudi selama tujuh hari tujuh malam. Tapi hentikan omong kosong anda."


Bradley sengaja memberi uang banyak kepada lelaki tua itu. Dia pasti tidak pulang berhari-hari menghabiskan uang di meja judi. Rumah ini jadi sempurna tanpa kehadirannya. 


Bradley merasa iba dengan kehidupan di rumah ini. Keberadaan pria itu membuat mereka kehilangan roh kebahagiaan. Tidak aneh ada pertengkaran tiap hari karena kepala rumah tangga cuma memikirkan kartu dan minuman.


Bradley basa-basi mengobrol dengan tante muda yang seusia dengannya. Dia tidak ada urusan dengan rumah tangga omnya. Dia berada di rumah ini untuk membuktikan informasi tentang sosok perempuan yang cocok jadi istrinya, dan ternyata melebihi ekspektasinya.  

__ADS_1


Bradley tidak lama di rumah itu. Tidak ada yang berkesan selain gadis impian itu. Katrin tidak lebih dari mesin uang yang kemudian terkurung di dalamnya.


Pernikahan dengan Om Sastro hanyalah sekedar kontrak rahim, atas permintaan istri pertama. Tante Rini mandul, dia butuh keturunan untuk meneruskan dinasti usahanya. Lalu terpilihlah Katrin dengan bayaran sangat mahal plus semua fasilitas yang dibutuhkan.


Ketika Katrin sudah melahirkan seorang anak, maka kontrak selesai.


Bradley tidak kecewa Nadine tidak pulang hari itu. Gadis seperti dirinya tidak silau oleh kemewahan dan tidak mudah menjatuhkan pilihan. Butuh perjuangan keras untuk mendapatkannya.


Maka itu Bradley mencoba mengadakan pendekatan. Setiap kali Nadine pulang kuliah, dia menunggu di pintu gerbang. Setiap kali gadis itu pergi kerja, dia siap mengantarkan. Dan tidak patah semangat meski selalu mendapat penolakan.


"Aku sudah punya pacar," kata Nadine siang itu untuk kesekian kalinya, saat menunggu taksi untuk pergi kerja dan Bradley datang menawarkan jasa. "Kenapa kamu masih nekat juga?"


Bradley tersenyum. "Justru aneh kalau belum punya pacar, kecuali Tuhan mengambil mata laki-laki."


"Jangan kira aku tertarik dengan sedan mewahmu."  


"Aku tidak minta kamu naksir mobilku."


"Terus buat apa nunggu di depan pondokan?"


"Mengantar kamu kerja."


"Kalau tidak butuh kendaraan, kamu jalan kaki pergi kerja?"


"Maksudku tidak butuh bantuan kamu!"


"Biasanya naik apa?"


"Taksi."


"Anggap saja ini taksi. Aku tak kalah keren kan sama sopir taksi?"


Nadine mendelik. "Jadi sopir taksi? Kebagusan! Pantasnya kamu jadi garong!"


"Sopir taksi kan ada yang jadi garong."


Sialan, maki Nadine dalam hati. Belum pernah dia menghadapi pemuda macam ini; konyol, slengean, tapi tidak melelang rayuan.


Dia membiarkan saja dirinya naik taksi, tidak berusaha membujuk, apalagi memaksa. Dia masih bisa tersenyum padahal ditinggalkan begitu saja seperti seekor lalat.


Mau tak mau Nadine harus mengakui, untuk yang satu ini, ayahnya punya selera yang baik dalam menentukan pilihan.

__ADS_1


Bradley membuntuti taksi yang ditumpangi Nadine dengan sabar.


Biasanya taksi lincah menerobos kepadatan lalu lintas, kejar setoran. Mobil itu disiplin sekali. Barangkali karena sopirnya sudah tua, atau dia membayangkan yang dibawanya Princess Madeleine dari kerajaan Swedia.


Bradley merasa ada yang aneh dengan dirinya. Semakin keras Nadine menolak, semakin jatuh cinta dirinya. Barangkali karena dia belum pernah menerima penolakan dari perempuan manapun. Jadi sekalinya ada yang menolak membuatnya tersungkur dalam jerat cinta.


Nadine minta taksi menunggu di depan sebuah rumah megah. Dia pergi sebentar menemui perempuan separuh baya yang duduk menunggu di teras, menyerahkan satu paket peralatan kecantikan, kemudian kembali lagi dan masuk ke dalam taksi. 


Nadine memerintahkan sopir untuk pergi ke salon kecantikan terkenal di kota metropolitan, "Gloskin, Pak. Ambil pesanan."


"Siap, Non," jawab sopir.


Nadine memandang lelaki berjaket dan bertopi itu dengan terbelalak. "Ngapain kamu jadi sopir taksi? Tukar nasib?"


Bradley tersenyum lebar. "Sopir itu sudah tua. Kasihan kamu suruh-suruh terus."


"Emang kerjaannya, kan? Terus aku nyuruh siapa?"


"Saya sekarang yang bertugas, Non," kata Bradley. "Berarti menyuruh saya. Sopir taksi bawa mobil saya. Non minta antar ke Goskin, kan?"


"Berhenti atau aku teriak?" ancam Nadine gemas.


Bradley tersenyum geli. "Bagaimana ceritanya, Non? Maju saja belum suruh berhenti."


Nadine menengok ke luar. Saking jengkelnya, dia sampai tidak sadar kalau taksi belum jalan!


"Bayar dulu, Non," seru Bradley ketika Nadine membuka pintu hendak keluar. "Main pergi saja."


Nadine bertanya dengan galak, "Berapa?"


"Dua ratus."


Nadine mengeluarkan uang dua ratus ribu dari tas mungil. Ditaruhnya di kotak dekat rem tangan.


"Kayak masukin duit ke kotak amal," sindir Bradley. "Gak ikhlas banget."


Cowok itu benar-benar konyol, gerutu Nadine dalam hati sambil membuka aplikasi untuk memesan taksi. Cinta kok maksa!


Bradley membiarkan saja Nadine berdiri kepanasan di trotoar, tidak berusaha merayu untuk naik atau membawakan payung yang tergeletak di dalam taksi.


Bradley tahu Nadine butuh bantuan, tapi dia membiarkan saja wajah cantiknya terpanggang matahari. Gadis itu pasti makin keras kepala kalau dia datang menolong!

__ADS_1


__ADS_2