
Hasil tes laboratorium membuat pikiran Gerdy sangat mumet. Dia hampir setiap hari bercinta dan tidak pernah timbul masalah. Satu jam bersama Nadine langsung mendatangkan bencana!
Gerdy jadi tidak fokus mengerjakan laporan hasil riset di Kalimantan. Banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Begini kalau tim banyak dihuni orang titipan. Dia babak belur sendiri.
Siang itu Tarlita mampir habis bimbingan skripsi. Ada beberapa poin yang perlu direvisi, tapi tidak krusial.
"Sayang aku lagi dapet," kata Tarlita sambil duduk di sofa. "Jadi aku tidak bisa membantu."
"Membantu apa?" tanya Gerdy sambil mengambil minuman dingin di kulkas, lalu menaruh minuman itu di atas meja dan duduk di sampingnya. "Minum."
Tarlita membuka tutup kaleng dan meneguknya, kemudian berkata, "Aku tahu kalau kamu lagi pusing obatnya cuma satu ... bercinta."
"Hari ini jadwal kamu sama Dennis," ujar Gerdy. "Dia tidak datang?"
"Dinas ke luar kota. Lagian aku lagi dapet. Mana bisa?"
"Kamu bicara bukan sama putih abu-abu."
"Jadi?"
"Jadi apaan?"
"Katanya bukan putih abu-abu, jadi tahu dong maksud aku?"
Justru aku pusing gara-gara itu, gerutu Gerdy dalam hati. Dia belum pernah mengalami peristiwa seperti ini. Sekalinya kejadian, kalang kabut.
"Apa kata dosen pembimbing tiga?" tanya Gerdy. "Ada revisi?"
"Gak penting-penting banget. Bisa diperbaiki lain waktu."
"Jangan menunda-nunda, itu bagian dari kegagalan."
"Gak jadi sarjana juga aku jadi istri Dennis."
"Lebih baik jadi sarjana, biar kamu jadi perempuan berdaya dan tidak mengalami KDRT."
Tarlita mencubit pipi Gerdy dengan gemas. "Iya, sahabat tercintaku!"
Gerdy memijit kepalanya yang terasa pusing. "Aku sudah pergi ke dokter, obat hampir habis tapi kepalaku belum sembuh."
"Karena obatmu bukan itu," jawab Tarlita. "Pergi clubbing saja. Banyak gadis bispak. Kamu kan tidak mau pakai aku kalau lagi dapet, padahal banyak jalan menuju cinta."
Sejak berpacaran dengan Nadine, tidak pernah kepikiran untuk bercinta dengan perempuan lain. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah dengan apa yang pernah dilakukan, meski cuma nonton film biru!
"Aku sudah lama tidak pergi ke diskotik, sibuk banget," kata Gerdy. "Lagi pula, aku tidak pernah bercinta sembarangan."
"Ya sudah aku sembuhkan sakit kepalamu...."
Tarlita hendak membuka tali celana draw string, Gerdy menolak secara halus, "Tidak usah."
"Aku sudah lama nggak ngemut es krim."
"Begini saja, aku hubungi Bimo, bagaimana? Barternya kalau kamu sudah ready nanti?"
"Luki saja, Bimo sudah."
Gerdy pernah meminjam pacar Bimo dengan Tarlita sebagai agunan. Pernah juga pinjam pacar Luki tanpa tukar guling. Permainan gila yang tidak ingin diulanginya lagi!
"Aku pamit dulu ya," kata Tarlita sambil bangkit dari sofa. "Selamat berpesta sama pacar Luki. See you tomorrow."
__ADS_1
Gerdy menarik nafas lega ketika Tarlita hilang di balik pintu apartemen. Untuk urusan kebutuhan batin, gadis itu boleh diandalkan. Dia rela berkorban kalau dirinya tidak tersedia!
Luki muncul di pintu bersama pacarnya, dan memaki, "Brengsek! Aku ngebel gak diangkat-angkat!"
"Kau yang brengsek," balik Gerdy keki. "Yang kamu berikan pil anti hamil apa obat beranak?"
Gerdy kehabisan stok hari itu. Dia terpaksa minta sama Luki dan imbasnya Nadine hamil.
"Kecolongan?" tanya Luki.
"Kau harus tanggung jawab."
"Menikahi pacarmu maksudnya?" belalak Luki geli. "Kamu kan tahu seleraku. Gadis yang punya semangat juang sampai titik darah pertama!"
"Alah, tante-tante saja diembat!"
"Pacarku lagi tidak tersedia, men. Aku sudah dapat ijin darinya. Betul kan, Darling?"
Gadis berpakaian putih abu-abu itu tersenyum.
"Obatmu palsu," gerutu Gerdy. "Pengkhianat bangsa kau!"
"Kamu saja kurang hati-hati! Mestinya lihat tanggal main, tanya kapan haidnya. Kalau situasi gawat darurat, pakai pengaman meski kurang sensasinya."
"Dia calon dokter kandungan."
"Nah, apalagi! Pasti tahu betul. Jangan-jangan sengaja mau menjebakmu."
"Kau interview dulu jika mau main?"
"Tidak juga."
"Di apotek langganan."
"Jangan-jangan vitamin! Aku pernah beli obat gatal dikasih obat perangsang! Apotekernya lagi kepingin kayaknya!"
"Kamu biasa beli obat itu kali. Jadi kebiasaan."
"Aku tidak pernah beli obat perangsang!"
"Masalah cetek begitu saja kau sudah panik."
Gerdy mendelik. "Masalah cetek? Aku menghamili anak orang!"
"Justru masalah cetek menghamili anak orang. Kalau menghamili anak gorila, nah, baru masalah besar. Aku tidak tahu muka bayi itu kayak apa jadinya."
"Pasti kayak mukamu! Muka bapaknya!"
"Berapa bulan?"
"Satu minggu."
Luki terbelalak tak percaya. "Baru satu minggu kau paniknya kayak bayi mau brojol? Kiamat benar-benar sudah dekat! Suruh pacarmu mempraktekkan ilmunya. Pasti beres."
"Beres apanya?"
"Bego banget sih. Bikinnya tidak banyak tanya. Kayak belum pernah kejadian saja."
"Emang belum!"
__ADS_1
"Kau main rapi sekali. Aku sudah tiga kali kejadian."
"Lalu?"
"Aborsi."
Gerdy terbelalak. "Jadi pembunuh amatir?"
"Jangan katrok deh, pakai melotot segala. Itu biasa, men."
"Biasa? Membunuh dianggap biasa?"
"Kamu mau jadi bapak?"
Tentu saja tidak, tegas Gerdy dalam hati. Dia belum siap. Tapi kalau harus berbuat sekejam itu, selintas pun tak pernah terpikirkan. Janin itu sudah punya hak untuk hidup meski baru segumpal darah. Hanya haknya salah alamat.
"Jangan salah paham," kata Luki. "Aku bukan guide ke neraka, cuma bagi-bagi pengalaman. Jangan hancurkan masa depanmu cuma karena segumpal darah."
"Cuma? Aku tidak mengerti cara berpikir kamu."
"Tidak perlu mengerti. Kamu hanya perlu mengambil tindakan."
"Moral kamu di mana?"
"Kamu merasa jadi orang bermoral?"
"Setidaknya bukan pembunuh berdarah dingin."
"Dalam kasus ini biarlah hukum yang bicara."
"Terus rajin ibadah buat apaan?"
"Strategi hidup. Kehidupan yang satu menutupi kehidupan yang lain. Tujuan yang satu menyembunyikan tujuan yang lain. Itu yang membuat aku diperhitungkan dunia."
Dan banyak orang tertipu, sambar Gerdy dalam hati. Penampilannya yang alim sanggup memperdaya lingkungan, padahal kelakuannya lebih bejat dari orang yang paling bejat sekalipun. Menyembunyikan kebusukan memang paling aman di balik kesucian!
Dia jadi teringat diri sendiri. Tapi tidak separah Luki!
"Ada pilihan lain," ujar Luki. "Dan ini yang paling baik. Minta ampun sekaligus minta restu sama orang tua."
Justru itu jalan yang paling buruk bagiku, pikir Gerdy lesu. Dia tidak kalang kabut begini kalau jalan ke arah itu bisa ditempuh. Jangankan dapat restu, baru mendengar kecelakaan saja, dia pasti sudah diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak. Lain cerita kalau hal ini terjadi pada Karlina. Mereka pasti mencari solusi yang terbaik.
"Tadi aku ketemu si Tarlita di depan," kata Luki. "Katanya kau pinjam sepeda."
"Jadi kau sengaja mengantarkannya ke mari?"
"Sekalian pinjam kamar...."
"Tidak, tidak. Di sofa saja. Aku lagi sibuk bikin laporan."
"Belum selesai juga?"
"Mana bisa selesai aku kerja sendiri! Kamu sibuk main cewek!"
"Ya sudah, kamu sekarang kerja sambil main cewek." Luki menoleh ke pacarnya. "Kamu tidak keberatan kan, Darling?"
Perempuan bodoh menolak tidur denganku, sahut Gerdy dalam hati. Tapi aku jadi laki-laki paling bodoh kalau tidur dengannya!
Masa lalu adalah masa lalu! Itu tekatnya sekarang!
__ADS_1