Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Nyonya Muda


__ADS_3

Nadine bangun dengan badan pegal-pegal. Dia melihat suaminya tidak ada di tempat tidur. Matanya melirik jam besar berbentuk lemari berlapis emas dengan ukiran unik yang terdapat di sudut ruangan. Pukul delapan. Suaminya tentu sudah berada di tempat kerja. Dia berangkat pagi-pagi sekali.


Nadine mengambil handphone di meja kecil. Ada notifikasi chat dari suaminya. Dia buka.


"Aku tidak membangunkan kamu karena kelihatan pulas sekali," bunyi chat itu. "Orang rumah hari Minggu biasa breakfast jam 8.00. Kamu pasti bangun telat. Hubungi saja manajer rumah tangga untuk menyiapkan sarapan saat kamu bangun. Nomornya ada di telepon internal."


Nadine mengirim chat untuk memberi kabar, "Aku bangun jam delapan tepat. Aku minta ijin pergi ke rumah Katrin karena tidak membawa baju salinan."


Kemudian muncul chat balasan, "Wisnu sudah membelikan beberapa setel pakaian dan seperangkat alat kecantikan sebagai hadiah ulang tahun. Aku simpan di dekat tempat tidur."


Nadine mengetik pertanyaan dalam kotak dialog, "Suamiku sendiri ngasih hadiah apa?"


Tampil chat di bawahnya, "Semalam sudah. Hadiah apa lagi?"


"Suamiku pasti kekenyangan," balas Nadine. "Jadi tidak ada alasan untuk mencari kemesraan di luar."


"Aku justru lagi bermesraan sekarang," jawab Gerdy dalam kotak chat. "Pekerjaan menggodaku dan harus tuntas hari ini. Aku pulang malam nanti."


"Selamat bekerja, pulang jangan mampir, ingat yang di rumah, cipika cipiki dari jauh, bye." Nadine menutup chat dengan emoji love segambreng.


Nadine menaruh handphone di meja kecil. Kemudian membuka travel bag yang ada di sisi tempat tidur. Di dalamnya terdapat berbagai model baju hamil produk luar. Harganya sangat mahal. Dia pernah melihat model itu di butik.


Kemudian Nadine memeriksa kotak kosmetik. Peralatan kecantikan yang sangat berkelas. Dia biasa mengirim barang ini untuk istri pengusaha.


Nadine pergi ke kamar mandi. Air hangat bathtub sedikit mengurangi rasa pegal-pegal. Bathtub itu bertiang dan beratap dengan model unik dan bertirai keemasan. Dia merasa bagai puteri raja, berendam sambil berbaring merasakan kesegaran air hangat di bathtub yang sangat mewah itu.


Selesai mandi dan berdandan, Nadine turun ke lantai bawah dan berjalan menuju ke ruang makan. Dia sudah mengingat-ingat letak ruang makan semalam.


Rumah ini sangat besar dan banyak ruangan, entah ruang apa saja. Kamar pegawai terletak di paviliun belakang. Dia tidak kenal satu per satu. Jumlahnya mencapai lima puluh orang, banyak sekali, padahal semua pekerjaan didukung alat canggih. Dia baru kenal manajer rumah tangga saja, Silvana, usia hampir kepala empat.


Mereka biasa makan bersama-sama. Orang tua Gerdy tidak membedakan kasta dalam perkara makan. Pegawai selalu datang lebih dahulu ke meja makan, menunggu tuan dan nyonya besar datang.


Wisnu dan pegawai duduk mengobrol di ruang makan saat Nadine tiba. Wisnu mengenakan pakaian sport habis latihan kebugaran di ruang fitness.


"Akhirnya muncul juga," kata Wisnu. "Perutku sudah lapar banget."


Nadine terkejut. "Kalian menungguku?"

__ADS_1


"Menunggu siapa lagi? Sementara Abi dan Umi di Tanah Suci, kamu jadi nyonya besar di rumah ini. Mereka tidak mulai makan tanpa kehadiranmu."


Nadine merasa tersanjung dengan sebutan nyonya besar. Untung dia tidak berlama-lama berendam. Jadi cuma telat setengah jam. Dia membiarkan pelayan memasang celemek di tubuhnya.


"Selamat menikmati hidangan," kata Nadine. "Semoga santapan pagi ini membawa berkah bagi kita semua."


"Aamiin," jawab mereka serempak.


Mereka mulai bersantap pagi. Nadine memilih salmon asap. Dia sering menyajikan ikan ini untuk santap sore buat suaminya. Beda sekali rasanya, sangat empuk dan lezat. Dia perlu belajar kepada juru masak di rumah ini. Tidak cukup dari internet.


"Kau bisa minta antar Bu Silvana untuk melihat-lihat rumah ini," kata Wisnu. "Tolong hubungi aku kalau ingin bersantai di taman."


"Hari ini aku ingin istirahat," sahut Nadine. "Badanku rasanya pegal-pegal tak karuan."


Nadine belum pernah berhubungan intim sampai lima kali dalam semalam selama trimester ketiga. Energinya benar-benar terkuras. Bayi dalam kandungan jadi beban tersendiri.


"Kau bisa minta pijat Bu Lastri," kata Wisnu. "Dia tukang pijat Umi. Orangnya memakai blus berwarna biru itu."


"Aku coba nanti," sahut Nadine. "Mulanya aku mau minum herbal."


"Kamu bisa minta advice dari dokter di rumah ini. Dia ada di sampingku sekarang, dokter Hilman namanya."


Sarapan pagi selesai saat Nadine menyantap potongan terakhir salmon asap. Mereka tidak ada yang melanjutkan makan. Kebiasaan yang ditanamkan di rumah ini, tuan dan nyonya besar selesai makan, maka jam makan habis.


Nadine berpesan kepada Lastri, "Tolong pijat aku jam sepuluh ya, Bu."


"Baik, Nyonya," jawab Lastri.


Kemudian Nadine memandang Silvana. "Anda bisa antar aku jalan-jalan sebentar?"


"Baik, Nyonya," sahut Silvana.


Gaya hidup keluarga ini sangat berbeda dengan penduduk sekitar. Mereka bukan hanya kaya raya, manajemen rumah sudah tertata dengan baik. Katrin sudah termasuk orang kaya di kota kecil ini, tapi tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan mereka.


Katrin cuma punya pekerja lima orang, bagian dapur, bagian bersih-bersih rumah, dan tukang kebun. Pekerja itu sering berganti orang karena tidak sanggup bertahan, gaji besar tidak cukup menarik dengan pekerjaan yang menumpuk.


Taraf hidup keluarga ini melesat jauh meninggalkan warga sekitar. Mereka tinggal di kota satelit sejak memiliki perkebunan yang luasnya bertambah setiap tahun.

__ADS_1


Konon mereka adalah orang terkaya di kota ini. Tidak ada data pasti mengenai jumlah kekayaan individu di wilayah yang cukup sejahtera ini.


Gerdy dan Wisnu semasa kecil hampir tidak memiliki teman. Kemewahan hidup mereka membuat anak tetangga inferior untuk bermain bersama.


Lagi pula, nyonya besar membatasi pergaulan anak-anaknya. Mereka bahkan sewaktu kecil sempat dititipkan kepada opanya yang tinggal di kota besar. Nyonya besar tidak mau anaknya tertular oleh anak tetangga yang memiliki kebiasaan hidup jorok.


Gerdy tentu sangat berat untuk meninggalkan kehidupan di istana ini demi anak istrinya. Nadine sempat berharap dapat diakui sebagai menantu setelah mempersembahkan cucu pertama bagi keluarga ini, tapi harapan itu bagai kodok bisa terbang.


Nadine bahkan tidak yakin bisa diterima jadi menantu seandainya berasal dari keluarga baik-baik. Mereka bukan cuma butuh menantu cantik.


Karlina adalah calon menantu yang sebenarnya tidak sepadan untuk keluarga ini. Dia hanyalah pilihan terbaik yang ada di kelurahan ini. Pilihan itu pasti berubah jika mereka mengetahui perilaku yang sebenarnya.


Nadine adalah gadis yang beruntung terpilih oleh anaknya, dan sempat merasakan kehidupan keluarga sultan meski hanya untuk sesaat.


Nadine sempat mengunjungi beberapa ruangan dalam waktu yang singkat itu. Dia cukup tertarik dengan teater mini yang menampilkan film klasik dan jadi tontonan keluarga di akhir pekan.


Nadine cukup lama berada di ruang piano, mencoba memainkan Ode to Joy dari Beethoven. Simfoni ini punya pola nada yang simpel namun melodi yang dihasilkan sangat bagus.


Dia belajar dari temannya untuk menguasai lagu itu sewaktu kuliah di kedokteran. Menurut temannya, anak kedokteran harus memiliki kehidupan berkelas, di antaranya menguasai lagu klasik.


"Tuan muda sangat pandai bermain biola," kata Silvana. "Nyonya cocok bermain dengan beliau."


Nadine tampak surprise. "Oh ya? Aku belum pernah melihat suamiku bermain biola."


Nadine berarti harus membeli biola untuk suaminya. Dia tidak mampu membeli biola seperti yang terpajang di ruangan ini. Biola itu seharga mobilnya. Dia perlu menyisihkan uang untuk membeli biola yang cukup bagus karena dia senang mendengar alunan suaranya.


Tepat jam sepuluh Nadine masuk ke ruang pijat. Lastri sudah menunggu di dalam. Nadine mencopot semua pakaian di kamar ganti dan mengenakan handuk, kemudian duduk di meja pijat. Dia tidak bisa bertahan lama kalau berbaring terlentang karena dadanya sesak menanggung beban bayi dalam kandungan.


Mereka mengira Nadine mengandung anak kembar karena melihat perut sangat buncit, padahal hasil USG bayi perempuan tunggal. Bayinya berkembang normal karena dia sangat memperhatikan kesehatan kandungan.


"Tubuh nyonya sangat sempurna," kata Lastri sambil melakukan pijatan halus pada tangannya. "Nyonya sangat pantas jadi menantu di rumah ini."


"Perut buncit jadi mengurangi pesona itu."


Lastri tersenyum. "Menurut saya kelihatan makin seksi. Saya heran nyonya besar memilih nona Karlina jadi calon menantu."


Wajah Nadine berubah murung. "Jadi nyonya muda di rumah ini tidak cukup dengan kesempurnaan fisik."

__ADS_1


Lastri diam. Dia simpati pada istri tuan muda karena berhati emas, itu kesan yang didapat pada hari ini.


__ADS_2