Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Demi Mertua


__ADS_3

Gerdy dan Surya mengalami kesulitan mencari teman sekolah Papi. Mami hanya memberi nama dan kelurahan di mana mereka tinggal tanpa tahu persis alamat rumahnya.


Mereka terpaksa mesti bertanya ke kantor kelurahan setempat, kemudian menelusuri alamat yang tercatat. Beberapa orang sudah pindah alamat. Entah ke mana pindahnya.


"Di sini pentingnya jadi warga negara yang baik, minta surat keterangan pindah sehingga pihak kelurahan tahu ke mana pindahnya, jangan main pergi saja kayak burung," gerutu Surya kesal. Mereka sudah pusing tujuh keliling mencari alamat, tidak tahunya sudah pindah. "Atau teman Papi kriminal semua, jadi pindah rumah nggak lapor."


Kebanyakan warga tidak peduli untuk melaporkan data faktual ke kantor kelurahan. Mereka baru mengurus domisili kalau ada keperluan. Data yang akurat sangat penting sehingga memudahkan pelayanan bila ada tamu butuh informasi.


Mereka jadi kehilangan rejeki karena kelalaian sendiri. Gerdy memberikan amplop kepada teman Papi yang dijumpai meski tidak memberi informasi yang menggembirakan.


"Ini nomor yang bisa dihubungi kalau bapak melihat Papi," kata Gerdy. "Minta tolong ya, Pak. Kasihan istrinya."


"Brengsek sekali si Marwan," maki bapak itu. "Kirain sudah tobat jadi play boy. Kamu tenang saja. Aku pasti menghubungi nomor ini kalau dia datang ke rumahku."


"Ini buat beli pulsa." Gerdy menyelipkan amplop ke tangannya. "Permisi ya, Pak."


Bapak itu langsung mengintip isi amplop dan mendelik melihat beberapa lembar uang lima puluh ribu. "Kau banyak duit rupanya. Terima kasih ya. Lumayan buat modal sabung ayam."


"Kamu memberi sedekah pada orang yang salah," bisik Surya sambil pergi. "Mending masukkan ke kotak amal."


"Kotak amal banyak yang nyolong. Sama juga ngasih sedekah sama orang yang salah."


Mereka masuk ke dalam mobil yang parkir di halaman. Gerdy membunyikan klakson ke tuan rumah yang duduk di beranda, kemudian mobil bergerak pergi dan meluncur di jalan raya.


"Ada lima lagi," kata Surya sambil melihat daftar nama di secarik kertas. "Hari ini bisa selesai pencarian."


"Alamat itu lumayan jauh," sahut Gerdy. "Aku rasa tidak mungkin Papi pergi ke kampung itu. Dia pergi jalan kaki dan tidak membawa uang. Menurutmu mana tempat yang masuk akal untuk dituju?"


"Pulang."


"Curigaku dengan polisi sama. Dia pulang ke rumah dengan memotong jalan lewat sungai di belakang rumah perempuan itu. Jalan kaki lewat jembatan yang biasa ditempuh sangat jauh. Dia hanyut terbawa arus sungai saat menyeberang."


"Lalu buat apa kita capek-capek cari alamat kalau curigamu sama polisi begitu?"


"Demi mertua aku tutup curigaku. Aku ikuti keinginan Mami. Jadi tidak penasaran kalau sudah kita cari."


"Kita minta bantuan penduduk untuk mencari mayat Papi di sungai. Aku kira lokasinya tidak jauh."


"Lokasinya pasti jauh karena malam itu hujan deras. Arus sungai pasti kencang."


"Papi tidak mungkin berani menyeberang kalau arus sungai kencang."


"Orang dalam keadaan syok begitu mana memikirkan soal itu? Di otaknya yang ada cuma segera pulang."


"Kamu bisa sewa beberapa perahu untuk menyisir ke muara."


"Sayang-sayang duit. Dia pantas dikubur tanpa nisan."

__ADS_1


"Sama mertua begitu."


"Itu kata anaknya."


"Bagaimana kalau Mami minta mencari mayatnya?"


"Demi mertua apa boleh buat. Hanya perlu ditekankan, apa Mami sanggup melihat jasad suaminya yang mungkin tidak utuh?"


"Firasatku Papi dibunuh."


"Kita tidak mungkin menuduh seseorang dengan modal firasat. Sebenarnya masuk akal Papi dibunuh karena dendam dan benci. Paranormal menyebut pelaku berinisial K. Motif Karleny cukup mendukung karena Papi tidak memberi nafkah lahir dalam beberapa hari. Dia cuma memberi nafkah batin yang sangat berlebihan. Tentu saja Karleny sakit hati. Istrimu juga, Kalila."


Surya kaget. "Istriku?"


"Kalila pernah hampir diperkosa karena Papi dalam pengaruh minuman. Tanjakan di seberang sungai itu dekat rumah istrimu. Bu Lurah, Kaira. Bu Sekel, Karisa. Ibuku, Kirana. Mereka pernah kena pelecehan seksual diremas bokongnya. Enam bulan masuk sel tidak cukup rupanya."


"Lagi mabok tahu kalau bokong bagus."


"Mana berani kalau bukan pengaruh minuman?"


"Katrin juga."


"Maka itu inisial K terlalu bias."


Gerdy melambatkan laju mobil dan menghidupkan lampu sen, kemudian belok memasuki pelataran sebuah mall.


"Kita makan siang dulu," kata Gerdy sambil menjalankan mobil masuk ke tempat parkir di basement. "Alamat sisanya kita cari selesai makan. Kita lanjutkan besok kalau tidak sempat hari ini."


Gerdy tahu percuma mencari Papi ke rumah teman sekolahnya. Mereka tidak pernah bertemu sejak lulus SMA. Reuni saja Papi tidak pernah datang. Bahkan beberapa temannya harus berpikir cukup lama untuk mengingat namanya.


Selesai makan, mereka naik ke lantai dua menuju outlet peralatan bayi. Gerdy memborong peralatan bayi; cot, stroller, baby bath, jumper, diaper, dan lain-lain. Harganya hampir lima belas jutaan.


Crazy rich, pikir Surya takjub. Sekali belanja keperluan bayi sama dengan biaya hidupnya selama lima bulan!


"Kirim atau bagaimana, Pak?" tanya penjaga outlet.


"Kirim."


"Tolong alamatnya."


Gerdy menoleh ke Surya. "Kasih alamat ke pramuniaga."


Surya bengong. "Alamat? Alamat apa?"


"Alamat rumah, masa alamat palsu? Semua peralatan yang kubeli ini buat bayi kalian. Sebentar lagi lahir kan?"


"Satu bulan lagi."

__ADS_1


"Usianya beda sedikit dengan anakku. Anakmu berarti harus panggil kakak."


"Anakmu keluar dua minggu lagi."


"Sahabatmu ngasih tahu?"


"Sama siapa lagi dia berbagi kebahagiaan kalau bukan sama sahabatnya?"


"Aku sering banget dengar kata-kata itu. Apa istriku sahabatnya cuma satu?"


"Sahabatnya banyak, yang dapat dipercaya cuma satu."


"Maaf, Pak," potong penjaga outlet. "Alamatnya."


"Alamatnya, Sur," kata Gerdy. "Bilang sama istri hadiah dari bapak angkat anakmu."


Surya mencatat alamat rumahnya di note book dengan perasaan senang bercampur tidak percaya. Dia tidak terpikir untuk membeli peralatan itu karena dana terbatas.


"Silakan ke kasir, Pak," ujar penjaga outlet.


Mereka berjalan ke kasir. Surya masih belum percaya dengan hadiah yang diterimanya.


"Lima belas juta," cetus Surya. "Kamu banyak banget ngasih hadiah."


"Cuma segitu banyak. Kamu bisa mati berdiri kalau lihat harga peralatan anakku."


Kehidupan mereka bagai langit dan bumi. Surya sendiri belum pernah masuk ke rumah Gerdy. Dia merasa cukup bersahabat di luar. Hanya warga pilihan yang bisa masuk.


Surya hanyalah seorang anak pemilik bengkel kecil. Kulitnya hitam legam karena setiap hari bermain dengan oli. Kontras sekali dengan kulit Gerdy yang putih bersih.


Nadine sejak kecil bercita-cita ingin jadi istri sahabatnya. Dia ingin hidup seperti keluarga raja, di samping hidup dengan pria yang menawan hatinya. Dia baru berani menunjukkan perasaannya manakala tahu Gerdy memiliki perasaan yang sama.


Surya bahagia melihat mereka hidup bersama, meski badai sudah menunggu.


Mereka melanjutkan perjalanan yang lumayan jauh untuk menjumpai lima kawan Papi yang tersisa. Gerdy sudah menebak kalau mertuanya tidak pernah datang ke rumah mereka.


Dia mengunjungi beberapa teman perempuan Papi dengan alamat yang diperoleh dari mereka. Mantan-mantannya malah sudah melupakan kenangan masa lalu. Dia mempunyai sejarah buruk di mata mereka.


Gerdy dan Surya pulang dengan tangan hampa setelah seharian penuh menempuh perjalanan antar kecamatan. Hari sudah malam saat mereka mampir ke rumah Katrin. Mami kelihatan sedih mendengar laporan menantunya.


"Suamiku pergi ke mana kalau begitu," keluh Mami. "Mereka tidak menyembunyikan Papi?"


"Buat apa mereka menyembunyikan Papi?" tatap Gerdy tawar. "Tidak ada untungnya. Mereka malah tidak pernah bertemu dengan Papi sejak lulus sekolah."


Mami memandang muram. "Jangan-jangan curigamu benar. Papi terbawa arus sungai saat mengambil jalan pintas untuk pulang."


"Semua kemungkinan sudah kita tempuh. Kepergian Papi masih jadi misteri. Aku punya firasat Papi sudah tiada. Entah apa penyebabnya tidak ada yang tahu. Aku sudah minta Surya untuk menyewa perahu dan tukang selam untuk menyisir sungai sampai ke muara. Jika jasadnya tidak ditemukan, Mami harus merelakan Papi pergi tanpa nisan."

__ADS_1


"Barangkali karena suamiku selama hidupnya hanya mendatangkan masalah, maka matinya pun bermasalah."


Mami terlihat pasrah.


__ADS_2