Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Atas Nama Cinta


__ADS_3

Adalah normal kalau hubungan rumit mereka menumbuhkan putik-putik cinta di hati Karlina. Gerdy adalah laki-laki yang memiliki segalanya untuk dicintai.


Tapi pemuda itu hanya menjadikannya transit dari perhelatan cinta yang sesungguhnya. Padahal perjodohan ini mulai mengikis mimpi yang dibangun bersama pacarnya.


"Biasanya di sepanjang jalan ini banyak ABG pacaran," kata Karlina saat SUV mewah meluncur kencang melewati jalan perkebunan yang sepi. Mereka dalam perjalanan untuk menghadiri resepsi pernikahan sepupu Gerdy. "Malam Minggu kemarin beberapa pasangan digelandang ke pos Linmas karena tertangkap basah lagi wikwik di atas motor."


"Berani sekali mereka," cetus Gerdy kaget. "Ini kan jalan umum."


"Jadi jalan slebew kalau malam."


"Kids jaman now emang pada berani-berani."


"Kau nggak minggir kayak Jeep itu," canda Karlina sambil menoleh ke mobil tua yang parkir di pinggir jalan. "Mereka pasti lagi seru di dalam mobil."


"Kau kepingin mampir?"


"Oke-oke saja kalau kamu mau."


"Bagiku tinggal cerita masa lalu."


"Cetak ulang bersamaku."


Gerdy merasa ada perubahan pada sikap Karlina. Biasanya waktu di perjalanan habis tersita oleh cerita tentang Robby. Hampir tidak pernah ngomong nyerempet-nyerempet. Kalau gadis itu lebih dulu hadir dalam hidupnya, pasti habis jadi hidangan penutup makan malam.


"Sudah terlambat untuk cetak ulang," kata Gerdy. "Ceritanya sudah dibuang semua."


Sebuah kenyataan yang sangat unik sebenarnya. Bagaimana seorang predator cinta bisa bertahan dengan satu perempuan, dan perempuan itu jadi istrinya kelak!


Kenyataan yang kadang membuat Karlina iri...bahkan cemburu. Dia berharap apa yang dilewati bersama sekali-sekali atas nama cinta, bukan drama perjodohan.


"Lagi pula kita mau menghadiri resepsi," ujar Gerdy santai. "Masa kita awali dengan begituan?"


"Kau mengingkari masa lalu," gerutu Karlina. "Kau pernah cerita setiap kali mengantar Tarlita untuk menghadiri resepsi selalu diawali dan diakhiri dengan bercinta."


"Karena aku jadi sopir pribadi untuk keperluan acaranya," senyum Jodi kecut. "Jadi aku minta persekot. Pulangnya minta pelunasan."


Padahal Gerdy tidak biasa memakai perempuan bekas orang lain, meski orang itu adalah pacarnya. Dia ingin jadi orang pertama setidaknya untuk malam itu. Pulangnya minta pembayaran tunai kalau tidak ada bekasnya. Kalau bekas dipakai, boleh indent.


Maka itu di masa lalu Gerdy memegang rekor untuk lost virgin gadis putih abu-abu. Itulah kenapa dia lebih suka mempunyai pacar dari kalangan mereka.


Atas nama cinta, pintu masa lalu sudah ditutup rapat-rapat menjelang hari pernikahan dengan calon istri pilihannya.


"Karena malam ini adalah acaramu, berarti aku harus minta dong?" Karlina tersenyum berlumur madu, penuh jerat asmara.


"Sejujurnya aku selalu membuat perempuan untuk minta. Aku tidak biasa minta."


"Apa itu berlaku untuk semua perempuan?" tanya Karlina penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Aku pasti minta sama istriku kalau kepingin, dan hanya kepada istriku."


"Bisa begitu?"


"Aku tidak mau ada tuntutan di kemudian hari. Jika kamu minta, berarti siap menanggung risiko dari pemberian aku."


"Laki-laki tidak bertanggung jawab. Mau enaknya sendiri."


"Aku bertanggung jawab kalau aku minta, biar perempuan itu tidak menuntut tanggung jawab."


"Aku minta sekarang."


"Waktunya sudah kadaluwarsa. Kamu bisa keracunan kalau memaksa untuk menikmati."


Gerdy ingin memberi peringatan secara halus kepada Karlina agar tidak main-main dengannya. Gadis itu bisa saja memasang perangkap jika situasi mendesak.


Gerdy ragu Robby bersedia menikah muda karena California banyak menyuguhkan kesenangan. 


Gerdy tahu Karlina mulai mengalami kejenuhan dengan pacarnya, sehingga tidak menyesal kalau rencana pernikahan mereka batal. Dia terlalu liar untuk anak motor itu sehingga sulit memperoleh kepuasan.


"Aku merasa hatiku mulai beda," kata Karlina terus terang. "Aku kuatir dengan kebersamaan kita."


"Kamu kuatir jatuh cinta padaku?" senyum Gerdy samar. "Aku tidak kuatir jatuh cinta padamu. Karena kita pantas untuk saling jatuh cinta. Tapi di antara rasa yang muncul harus ada kesetiaan untuk pasangan masing-masing."


Mereka sangat diuntungkan dengan perjodohan ini. Mereka tidak perlu sibuk cari alasan untuk pergi dengan pacar masing-masing. Perjodohan ini menyuguhkan jalan bebas hambatan.


Mereka sudah mendapat kepercayaan penuh dari orang tua. Bebas pergi tanpa kecurigaan. Tapi kepercayaan ini jadi bumerang menjelang detik-detik pernikahannya.


***


Karlina sangat gelisah menghadiri acara resepsi pernikahan. Dia hanya sanggup untuk tersenyum saat Umi mengenalkan kepada keluarga besar sebagai calon menantu. Semua memuji kecantikannya. Dia sempat lupa kalau perjodohan itu cuma sandiwara, dia merasa bangga jadi calon istri Gerdy karena sambutan hangat mereka.


Pada jam berikutnya Karlina sulit memasang muka ceria. Dia merasa sebal pada Gerdy yang seolah sengaja mengulur waktu untuk pulang. Tak bosan-bosannya ngobrol.


Padahal Gerdy tidak enak meninggalkan omnya yang rindu untuk ngobrol panjang lebar karena lama tidak bertemu.


Umi cukup pengertian melihat calon menantunya gelisah. Ia berkata, "Kamu kepingin malam mingguan, cah ayu? Tidak apa pergi saja."


"Saudara hajatan masa aku malam mingguan, Umi?" Karlina terpaksa tersenyum. "Calon menantu kurang ajar namanya."


"Kamu gelisah begitu, kenapa?"


"Kurang enak badan."


Umi menyentuh dahi Karlina, terasa hangat.


"Kamu demam," serunya kaget. "Baiknya segera pulang istirahat."

__ADS_1


"Bareng Umi sama Abi saja."


"Kami menginap."


Kesempatan, pikir Karlina senang. Dia bisa mampir di rumah Gerdy. Mereka sering tiduran di kamarnya, sesekali tiduran di rumah calon suaminya.


Dalam tiduran itu kadang Karlina berharap mereka bukan cuma bercanda, buka-buka album, tapi buka-buka yang lain.


Pikiran kotor itu melesat begitu saja di benaknya karena ada dorongan aneh di dadanya yang sulit dikendalikan.


"Kamu demam apa kepingin?" sindir Gerdy dalam perjalanan pulang, melihat Karlina tidak betah duduk kayak cacing kepanasan. "Umi menyuruhku buru-buru pulang. Aku tidak enak om ingin ngobrol banyak. Dia tugas di ujung timur. Ketemu setahun sekali saja belum tentu."


"Makanya biasakan sebelum sampai tujuan mampir di jalan sepi," omel Karlina kesal. "Sekalinya kepingin aku jadi kelabakan."


"Biasa begituan setiap week end ya? Sekalinya absen kelimpungan. Itu bukan modal yang bagus buat berumah tangga. Bagaimana kalau Robby jarang di rumah? Pakai alat bantu?"


"Aku nggak tahu kenapa perasaanku begini banget," keluh Karlina panik. "Tolongin aku dong, Ger."


"Tolongin apaan?"


"Aku kepingin banget."


"Nggak," tegas Gerdy. "Mendingan aku anterin ke rumah si Robby, atau cari Linmas."


Gerdy sudah nekat kalau Karlina berani melanggar perjanjian, maka perjodohan bubar. Dia sudah siap menghadapi ancaman terburuk; semua fasilitas dicabut dan diusir dari rumah.


Minggu depan dia mulai bekerja separuh waktu. Gaji sebulan cukup untuk kebutuhan sehari-hari dengan standar orang biasa. Biaya kuliah bisa menggunakan tabungan dan tinggal di pondokan sederhana buat menghemat biaya.


Gerdy sebenarnya bisa bertahan di apartemen dan kuliah secara gratis asal bersedia jadi sugar baby Tante Friska, istri pemilik apartemen. Tapi predikat itu pasti mengganggu keharmonisan rumah tangganya kelak. Dia menghabiskan masa lajang dalam hidup bebas untuk kemudian terikat dalam hidup berumah tangga.


"Aku mohon, please ," pinta Karlina dengan mata berair. "Aku benar-benar tidak tahan."


Gerdy jadi curiga. Gadis itu belum pernah sampai mengemis begini. Jangan-jangan minum obat pesanan Surya untuk ibunya yang mengalami frigiditas. Sahabatnya itu minta dicarikan obat untuk menyelamatkan rumah tangga orang tuanya.


"Kamu minum obat titipan buat temanku ya?" selidik Gerdy.


"Aku tidak tahu reaksinya sedahsyat ini."


Gerdy tahu bagaimana hebatnya pengaruh obat itu. Karlina bisa mati tersiksa.


Segera Gerdy menepikan mobil dan berhenti. Diambilnya yoghurt, susu cair, dan air mineral dari kantong belanjaan di kursi belakang.


"Nih, habiskan," kata Gerdy sambil menyerahkan makanan dan minuman itu. "Cepetan."


"Aku nggak lapar," tolak Karlina dengan tubuh menggigil. "Aku butuh pertolongan pada mulut bawah."


"Makanya isi mulut atas biar ada reaksinya di mulut bawah. Pengen sembuh nggak?"

__ADS_1


"Aku pengen lontong...."


"Kamu tahu kenapa aku tidak mau menolongmu? Karena kamu pasti ketagihan! Aku sudah repot menolak permintaan perempuan yang pernah merasakan kehebatanku!"


__ADS_2