
Malam yang penuh kebahagiaan.
Nadine sangat tersanjung mendapat sambutan hangat dari orang rumah. Dia sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Mereka mengingatkan dengan kejutan yang sangat istimewa.
Pesta ulang tahun yang sangat mewah dan mungkin cuma satu kali untuk seumur hidupnya. Pesta pertama dan terakhir dari orang rumah.
Gerdy mengajak istrinya masuk ke kamar selesai menikmati hidangan makan malam. Koki menyiapkan masakan spesial dan semua memuji kelezatannya.
Nadine duduk di sofa beludru sambil melihat-lihat interior kamar. Sebuah kamar yang sangat besar dan mewah. Lebih besar dari rumah mereka di Jakarta.
Semua perabotan dan furnitur sangat eksklusif dan memiliki nilai seni. Lukisan naturalisme ghotic yang terpampang di dinding berwarna cerah menambah kesan mewah.
Suaminya begitu dimanja kehidupan. Kemewahan adalah identitas sehari-hari. Dia tidak perlu bermimpi tentang sesuatu karena semua sudah terwujud.
Sebuah keadaan yang membuat Nadine sangat khawatir suaminya berat untuk meninggalkan jika pernikahan mereka terbongkar.
Gerdy keluar dari kamar mandi berdinding kaca bening dengan mengenakan kimono. Dia habis mandi air hangat di bawah siraman shower di dalam kotak kaca berwarna buram.
Nadine bisa melihat secara samar kegagahan tubuh suaminya. Dia merasa beruntung memiliki suami seperti Gerdy, lelaki brengsek tapi bertanggung jawab setelah berumah tangga. Suaminya sudah mencapai puncak kejenuhan jadi petualang cinta dan yang tersisa adalah kesetiaan.
Gerdy meraih tubuh istrinya yang masih terkagum-kagum di sofa dan membopong ke tempat tidur.
"Kita mulai jadwal yang tertunda," kata Gerdy. "Aku ambil semua malam ini."
"Aku belum mandi," desah Nadine manja.
"Tubuhmu wangi biar tidak mandi."
Hati-hati Gerdy membaringkan istrinya di kasur yang empuk.
"Woman on top ya," pinta Gerdy. "Aku tidak mau menyakiti bayimu."
"Aku ingin melakukan semua gaya sampai periode akhir kehamilan," jawab Nadine sambil mulai melepas pakaian. "Bayiku aman dan dokter tidak melarang untuk berhubungan intim. Aku tidak rela kamu mencari kepuasan pada perempuan lain karena kuatir dengan perutku."
__ADS_1
Gerdy membelai rambut istrinya yang terurai panjang dengan lembut. "Aku sudah cukup denganmu. Aku tidak merasa perlu mencari perempuan lain."
"Tapi mereka merasa perlu mencarimu untuk sebuah kepuasan. Aku tahu teman-teman kantormu mengharapkan itu. Kamu adalah laki-laki yang paling dicari perempuan."
Gerdy sangat gampang untuk memperoleh kenikmatan di kantor. Banyak pegawai wanita yang cantik dan seksi, bahkan sudah bersuami, berani tebar pesona. Dia tinggal tepuk tangan saja, mereka langsung berdatangan siap diajak kencan.
Gerdy sangat hati-hati dalam bersikap karena kuatir terjebak.
Minggu lalu suami pegawai mengadu ke kantor kalau istrinya selingkuh dengan rekan sejawat.
Kepala HRD tidak dapat memecat mereka meski bukti cukup mendukung. Mereka selingkuh di luar jam kerja. Sang suami mestinya complaint ke hotel yang membolehkan mereka booking kamar. Kepala HRD cuma menegur mereka karena rasa kemanusiaan belaka.
Nadine tahu skandal itu karena sering minta suaminya bercerita tentang peristiwa yang terjadi di kantor, sebagai obrolan santai selesai bercinta.
"Aku siap melakukan apa saja untuk memuaskan dirimu agar tidak ada alasan untuk selingkuh," kata Nadine. "Aku sendiri sudah mengunci pintu hati karena sudah cukup denganmu, segalanya."
"Jangan lupa pakai gembok," canda Gerdy. "Biar susah dibobol maling."
"Aku sangat bahagia bisa tidur di kamar yang indah ini. Kamar di mana aku seharusnya membesarkan anakmu."
"Aku sudah merasa cukup dengan menghabiskan hari-hari selama mereka berada di Tanah Suci. Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bisa tidur bersama suamiku di kamar ini. Maka itu aku bahagia sekali."
Harapan yang wajar dari setiap perempuan, pikir Gerdy tawar, di mana mereka bisa tinggal bersama suami di pesanggrahan yang semestinya. Harapan itu sudah tertutup untuk Nadine karena bukan menantu pilihan. Sementara Karlina yang jadi menantu pilihan sudah tertutup untuk bersanding dengannya.
Entah Karlina dapat menerima kenyataan atau tidak, Gerdy sudah dua minggu tidak berkunjung ke rumahnya karena sibuk kuliah dan kerja. Dia tetap setia jadi sopir pribadi mengantarnya kencan dengan Robby.
"Kamu hubungi Wisnu kalau mau keluar rumah atau jalan-jalan di taman untuk mengkondisikan CCTV," kata Gerdy. "Abi sama Umi bisa saja memantau keadaan rumah dari Tanah Suci."
"Mereka pasti tidak kepikiran karena sibuk ibadah."
"Jaga-jaga."
"Aku cukup jalan-jalan di dalam rumah. Di kamar ini saja bila perlu."
__ADS_1
"Tidak apa jalan-jalan di taman. Wisnu bisa menampilkan gambar lokasi seharian tanpa ada sosok kamu."
Nadine jadi berpikiran negatif. "Jangan-jangan Wisnu sering melakukan itu agar bisa membawa perempuan ke rumah."
"Curigaku begitu. Abi sama Umi sering shopping ke Singapura berdua. Dia banyak waktu untuk membawa pacarnya menginap. Aku tidak enak untuk bertanya. Lagi pula buat apa? Aku sudah berterima kasih bisa membawa istriku dengan aman ke rumah ini."
"Kamu bisa tanya sama orang rumah kalau kepingin tahu."
"Mereka tidak mungkin memberi tahu. Orang rumah berada di bawah kendali Wisnu. Aku pulang enam bulan sekali. Keterikatan batin dengan orang rumah sangat kurang. Jadi aku kalah pengaruh sama Wisnu."
"Menantu akan berebut pengaruh di rumah ini. Untung aku bukan menantu pilihan. Jadi bebas dari persaingan. Aku kuatir suamiku berat meninggalkan semua kemewahan di rumah ini hanya demi istri dari keluarga tidak bermartabat."
Gerdy memandang mesra. "Aku lebih memikirkan kemewahan cintaku. Aku sudah merasakan bagaimana hidup dengan bergelimang harta. Hari ini dan hari-hari nanti aku ingin merasakan bagaimana hidup dengan bergelimang cinta."
"Maka itu cukup tiga puluh hari aku di sini. Aku takut pikiran suamiku berubah."
"Pikiranku untuk jadi crazy rich tidak berubah. Perempuan secantik kamu berhak mendapatkan yang terbaik."
"Aku tidak mau kamu kaya dengan menomorduakan aku. Aku ingin jadi nomor satu dalam hidupmu biar keadaan sederhana. Aku tidak mencari suami kaya, aku mencari suami yang menempatkan aku di posisi pertama, yang tidak terkalahkan oleh pekerjaan dan karir."
"Kamu beda sama wanita di kantorku. Mereka mencari suami kaya, karena dengan banyak uang dapat mencari lelaki yang menempatkan mereka di atas segala kepentingan."
"Kebahagiaan rumah tangga di mana kalau begitu? Aku berumah tangga bukan sekedar ikatan bisnis, ikatan batin yang penting. Cinta dan kasih sayang."
"Ikatan bisnis maksudnya saling mencari keuntungan? Berhubungan intim tidak egois, harus sama-sama puas, begitu maksudnya?"
"Dalam segala hal."
"Satu hal saja kita nikmati malam ini."
"Kamu tahu apa yang kusuka dari suamiku?"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Satu hal itu yang kusuka." Nadine tersenyum mesra sambil siap-siap menyambut suaminya. "Kita pesta cinta malam ini."
Mereka benar-benar menikmati kemesraan yang terjadi di kamar yang indah dan bergelimang kemewahan, karena mereka sadar hari-hari nanti kamar itu hanyalah kenangan yang harus dilupakan.