Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Semoga Masih Diberi Waktu


__ADS_3

Gerdy merasa heran saat terbangun berada di sebuah kamar dengan kasur empuk dan ada tangan halus melingkar di dadanya.


Gerdy berusaha mengingat-ingat. Kemarin dia terserang demam tinggi dan Katrin membawa ke rumahnya. Nyenyak sekali dia tidur.


Hati-hati Gerdy menyingkirkan tangan yang melingkar di dadanya. Katrin terbangun.


"Sudah istirahat dulu," katanya. "Kamu belum sembuh betul."


"Aku sudah baikan," ujar Gerdy seraya keluar dari selimut. "Aku harus mengantar pelanggan."


"Pelangganmu pasti belum bangun. Hari masih pagi banget."


Dan Gerdy baru sadar kalau tubuhnya hampir tanpa busana.


"Apa ... yang sudah kamu lakukan padaku?" tanya Gerdy tergagap.


Katrin tersenyum berlumur madu. "Kamu sungguh-sungguh tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan?"


"Aku sudah melakukan apa?" tatap Gerdy bingung.


"Sudahlah," tukas Katrin seakan tidak mau memperpanjang persoalan. "Lebih baik kamu lupa."


"Apa yang terjadi semalam?" desak Gerdy penasaran, dan makin penasaran saat Katrin keluar dari selimut dengan keadaan serupa. "Apakah kita sudah melakukan...?"


"Aku sudah bilang lebih baik kamu lupa," potong Katrin tersenyum. "Cuma aku heran, sejak kapan kamu suka minum dan merokok?"


"Kemarin itu adalah pertama kali aku minum," ujar Gerdy jujur. "Aku ditawari si Poltak untuk menyembuhkan demam tinggi."


"Sejak kapan Vodka bisa menyembuhkan meriang?" senyum Katrin geli. "Yang ada kamu lupa diri."


"Nyatanya pagi ini aku sembuh."


"Kamu sembuh karena dikasih obat dan dikompres."


Gerdy mengambil pakaian yang tergeletak di kasur dan memakainya.


"Kamu perlu keramas," kata Katrin. "Aku siapkan air hangat buat mandi."


Melihat wajah Katrin demikian ceria, Gerdy makin yakin dengan kecurigaannya.


"Jadi benar ... semalam sudah terjadi...?" selidiknya tercekat. "Kok aku perlu keramas?"

__ADS_1


"Aku juga mau keramas," senyum Katrin penuh arti.


Perempuan itu pergi ke luar kamar meninggalkan Gerdy dalam kebingungan. Dia betul-betul tidak ingat apa yang terjadi semalam. Pengaruh minuman menguasai pikirannya.


Katrin seakan ingin membuat Gerdy penasaran. Dia tidak banyak bercerita sampai mereka sudah berjalan keluar rumah untuk pergi ke tujuan masing-masing.


"Kamu tidak mau bercerita tentang kejadian semalam?" tanya Gerdy sekali lagi. "Bukan aku yang mulai kan?"


Katrin tersenyum manis. "Penting ya untuk dijawab?"


"Maafkan aku kalau sudah ..."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan karena segalanya terjadi di luar kendali pikiranmu."


Mereka berpisah di halaman. Katrin berangkat ke tempat kerja dengan menggunakan mobil, sementara Gerdy pergi naik Moge.


Seperti biasa, pagi-pagi Gerdy berkeliaran di antara hiruk pikuk pedagang kaki lima. Pemakai jasanya adalah PSK yang janji kencan dengan pelanggan di suatu tempat, atau pedagang yang mengurus suatu keperluan.


Tanpa sengaja mata Gerdy terbentur ke sebuah headline surat kabar yang terpajang di kios koran. Hurufnya besar-besar sehingga bisa dibaca sambil lewat, kecuali yang lewatnya buta huruf.


Gerdy menghentikan Moge dan membaca sekilas judulnya: Sebuah keluarga membutuhkan donor ginjal. Disediakan uang satu miliar sebagai tanda kasih.


Gerdy merasa tertarik. Diambilnya harian itu dari tempatnya dan dibaca isi beritanya.


"Tapi yang amit-amit itulah yang lagi kau jalani sekarang," senyum Gerdy tak kalah sinisnya.


Senyum Gerdy mendadak sirna begitu membaca nama orang yang membutuhkan ginjal tersebut, apalagi setelah tahu alamat rumahnya.


"Abi...!" desis Gerdy tanpa sadar.


Bergetar seluruh pembuluh darahnya saat membisikkan simfoni yang syahdu itu. Yang selama bertahun-tahun tidak berani melantunkannya. Terbelenggu erat dalam jeruji dosanya. Dia sampai tak merasakan sepatunya terinjak orang yang lalu-lalang.


"Pikirmu siapa ayahmu?" gerutu penjual koran seolah bicara pada dirinya sendiri. "Koran yang kamu baca itu untuk berita orang-orang penting, bukan orang-orang genting!"


Sebuah wajah hadir dalam pandangannya bersama munculnya rasa yang sudah lama terlupakan. Wajah yang demikian agung, berwibawa, tapi terpuruk dalam duka karena kealpaan anaknya!


Dia masih ingat bagaimana buramnya wajah yang selalu bercahaya itu. Dia masih ingat mata yang bersinar tajam namun bijaksana itu terjebak pilu dalam deraian air matanya. Dia belum lupa rahang yang melambangkan ketegaran itu runtuh dalam rintihan nestapanya. Rintihan yang sampai detik ini masih mencabik-cabik dadanya.


Bertahun-tahun dia tidak mendengar kabar beritanya. Bertahun-tahun dia mencoba berlari darinya. Bertahun-tahun dia berharap wajah itu dapat melupakan petaka yang menimpa. Tahu-tahu kini berbaring di rumah sakit! Ayahnya tidak boleh pergi!


Begitu tiba di Jakarta, Gerdy langsung menuju ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Dia tidak menemukan kesulitan untuk menemukan alamatnya. Dia hapal jalan-jalan di kota ini.

__ADS_1


Dia justru menemui kesulitan ketika sampai di rumah sakit itu. Dia harus menunggu cukup lama sebelum suster menemukan nama ayahnya dalam tumpukan daftar pasien. Padahal sebelumnya hampir setengah jam diperiksa bagian keamanan.


Mereka curiga melihat seorang laki-laki memakai topi pandan butut dan pakaian dekil masuk ke rumah sakit internasional. Hhh, masih saja orang menilai dari penampilan, padahal tahu menyesatkan. Dia sengaja berpakaian ala gembel agar tidak dikenali keluarganya.


Di ruang isolasi, seorang dokter tampak sedang memeriksa kondisi ayahnya. Gerdy tidak berani masuk. Dengan pakaian seperti ini, macam-macam kuman pasti pesta di kamar steril itu, seandainya dibungkus baju lab sekalipun.


Dia berdiri terpaku di balik kaca. Diperhatikan ayahnya dengan sedih. Menangis dalam hati.


Tubuhnya terbujur diam seakan tak bernyawa. Matanya tertutup layu. Pipa oksigen terpasang di hidungnya. Masih ada pipa-pipa lain di tubuhnya. Dan melihat noktah di mesin EKG, grafiknya seolah sedang mengurangi usianya secara perlahan.


Barangkali ayahnya terlalu sibuk bekerja, jadi lupa menjaga kesehatan sehingga kedua ginjalnya hampir hancur, atau ada faktor lain. Yang jelas, saat ini nyawanya amat bergantung pada kebaikan seseorang.


"Keluarganya tak ada yang mau memberikan ginjalnya, Dok?" tegur Gerdy begitu laki-laki berjubah putih itu keluar. "Mereka lebih rela mengeluarkan uang miliaran."


Dokter memandang heran. Siapa lelaki ini? Mau apa di sini? Atau telah membaca koran hari ini? Ah, uang sungguh manis! Pagi-pagi sudah ada orang yang mau menukar ginjalnya!


"Mereka tidak bisa," ujar dokter datar. "Ginjal anaknya tidak cocok. Ginjal istrinya tidak cukup baik, bahkan nyaris satu yang berfungsi. Anda siapa?"


"Orang yang bersedia jadi donor," sahut Gerdy tenang. "Makanya saya menunggu di sini."


Dari balik kacamatanya, pria separuh baya itu mengamati secara seksama. Tentu saja Gerdy tahu sinar apa yang tersembunyi di balik tatapannya.


"Jangan periksa pakaian saya, Dok," senyum Gerdy kecut. "Periksalah ginjal saya. Apakah seburuk pakaiannya?"


"Oh, tentu! Tentu!" Dokter tertawa lembut seolah menyadari kesalahannya. "Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan saudara."


"Tapi mata dokter bilang begitu."


"Anda terlalu perasa."


"Orang macam saya memang perasa. Tiap hari jadi sandal kehidupan."


"Sekali lagi maafkan saya," senyum dokter tulus. "Mari ikut saya. Kita periksa ginjal Anda."


"Kalau ginjal saya tidak cocok, berapa lama beliau sanggup bertahan, Dok?"


"Ginjal Anda cocok pun, saya tidak tahu setelah Anda dioperasi apakah beliau masih bisa bertahan atau tidak." Wajah dokter memburam. "Kondisinya tidak stabil. Setiap saat bisa masuk ke stadium shock."


Jadi sudah separah itu, pikir Gerdy dengan sepotong hati yang terhempas. Oh, tidak! Ayahnya tidak boleh pergi!


"Mereka terlambat membawanya," sesal dokter. "Penyakitnya sudah parah. Hampir dua belas jam dalam keadaan koma."

__ADS_1


"Mudah-mudahan kita masih diberi waktu untuk menolongnya," gumam Gerdy muram.


__ADS_2