
Kesempatan itu muncul ketika Abi memanggilnya pulang. Tidak biasanya dia mengumpulkan semua anggota keluarga. Pasti ada masalah penting yang hendak disampaikan.
Kehadiran Karlina dan orang tuanya membuat Gerdy sedikit tegang. Dia sudah memutuskan untuk mengakui terus terang seandainya gadis itu membocorkan tentang perkawinan rahasianya.
Gerdy tidak akan membongkar aib Karlina dengan video syur itu. Dia merasa cukup namanya yang hancur. Dia tidak mau banyak nama bertumbangan yang akhirnya menimbulkan dendam kesumat. Hidupnya jadi makin sulit.
Mereka tinggal menunggu kehadirannya. Gerdy duduk dengan tenang. Melihat wajah orang tuanya yang demikian jernih, sepertinya bukan untuk membicarakan masalah itu. Mereka belum tahu aib yang menimpa rumah ini.
"Abi dan Umi mau pergi ke Tanah Suci," kata ayahnya. "Kloter pertama."
Gerdy diam sejenak. Tanah Suci? Tempat orang mengagungkan ibadah itu? Melepaskan segala jati diri untuk bersatu memuja Illahi?
"Kapan berangkatnya?" tanya Gerdy.
"Minggu depan," sahut Abi sambil mengeluarkan beberapa kunci dari tas kerja dan diletakkan di atas meja. "Simpan baik-baik. Sebagai anak sulung, kamu bertanggung jawab selama Abi tidak ada."
Gerdy menatap ayahnya dengan bingung. "Kunci apa ini?"
"Kunci brankas. Seluruh harta keluarga tersimpan di situ."
"Abi." Tak sadar Gerdy memegang lengannya. "Abi tidak berniat tinggal di Tanah Suci, kan?"
Ayahnya tersenyum samar. "Tentu saja tidak."
"Lalu kunci ini buat apa?"
Abi memandang anaknya sekejap. Sinar mata yang demikian redup membangkitkan perasaan lain di hati Gerdy.
"Jaga-jaga," desah Abi berat. "Jika terjadi apa-apa sama Abi dan Umi, bagi harta itu dengan adil."
"Abi!" Gerdy tak dapat menahan perasaan lagi. Dia peluk ayahnya dengan haru seolah memang akan berpisah selamanya. "Aku doakan semoga Abi dan Umi selamat."
"Kita hanya bisa berharap, anakku," kata Abi dengan suara bergetar. "Hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi."
Kata-kata itu membuat Gerdy tercenung. Bagaimana kalau Tuhan berkehendak lain? Bukan cuma memanggil mereka ke Tanah Suci? Memanggilnya juga ke alam baka? Berarti pintu maaf tertutup selama-lamanya. Dia hanya dapat bersimpuh di menara dosa tanpa sepenggal kata pun dari ayah ibunya.
Tapi kalau dia menceritakan aib ini sekarang, mereka pasti membatalkan kepergiannya. Dia tak mau hal itu terjadi.
"Pak Lurah akan membantu segala urusan yang menyangkut keperluan keluarga kita," kata Abi. "Calon istrimu akan mengurus semua kebutuhan dapur. Jadi dia akan sering bolak-balik ke rumah ini."
__ADS_1
Kepergian mereka ke Tanah Suci bertepatan dengan pelaksanaan ujian semester. Jadi Gerdy butuh bantuan untuk mengelola perkebunan dan keperluan rumah tangga.
"Kamu tenang-tenang saja menghadapi ujian semester," ujar Umi. "Jangan memikirkan kesibukan di rumah. Kamu mesti lulus tepat waktu karena Umi tidak mau menunda perkawinan kalian."
Gerdy dan Karlina saling melirik dengan sinar mata yang cuma mereka berdua yang tahu artinya.
Gerdy memandang ibunya. "Apa tidak sebaiknya menunggu Karlina selesai kuliah dulu? Usianya terlalu muda kalau menikah setelah tamat SMA."
"Umi ingin kamu membawa Karlina saat sekolah S2 di Netherland nanti, sekalian sekolah masak di sana. Umi kuatir kalau kamu hidup sendiri, nanti terjerumus dalam kehidupan bebas. Netherland itu negeri yang sangat bebas. Umi pernah ke sana. Rotterdam adalah kota romantis. Nah, kalian bisa sekalian bulan madu di sana."
"Umi ini...," tukas suaminya tersenyum. "Kita sebentar lagi pergi ke Tanah Suci, malah bicara bulan madu."
"Apa salahnya bicara tentang bulan madu anak kita?" balik Umi. "Mereka sebentar lagi menikah. Abi baiknya rekomendasikan kota-kota romantis di Eropa tempat bulan madu kita dulu."
"Masa berkunjung ke kota yang sama sih, Umi?" keluh Gerdy. "Bulan madu Abi dan Umi sudah lama sekali, sudah muncul kota-kota baru yang menarik untuk destinasi wisata."
"Jaman boleh berubah tapi destinasi favorit untuk bulan madu tidak berubah; Paris, Barcelona, Venesia, Cornwall."
"Itu tempat bulan madu kamu dulu," sahut Abi. "Mereka berdua pasti punya destinasi berbeda. Sudah, itu urusan mereka berdua nanti. Kita siapkan saja uangnya. Malam ini kita bicarakan persiapan kita ke Tanah Suci. Oh ya, Pak Lurah ada yang mau disampaikan?"
"Cukup," sahut Pak Lurah pendek.
Pak Lurah tersenyum hangat. "Tidak apa, Pak. Kita ini partner kerja di kelurahan. Kita sudah selayaknya saling bantu. Apalagi kita sebentar lagi jadi besan. Jika saya ada kesibukan ke kota kecamatan atau kabupaten, saya akan menyerahkan tanggung jawab untuk mengontrol bisnis Bapak dan keperluan ratiban kepada Pak Sekel."
Sekel adalah sekretaris kelurahan, orang kedua di pemerintahan setempat.
"Nah, betul," sahut Umi. "Saya sudah bicara sama Bu Sekel dan beliau tidak keberatan untuk membantu mengurus keperluan dapur selama ratiban."
"Bagus kalau begitu," komentar Pak Lurah. "Acara ratiban cukup tujuh hari kan, Pak?"
"Saya serahkan semua itu kepada Pak Lurah. Saya sudah siapkan biaya untuk mengantisipasi membludaknya warga yang datang."
"Warga pasti membludak, Pak. Bapak tokoh terpandang di kelurahan kita. Ratiban saya kira bisa sampai ke jalan, barangkali jalan saya tutup selama ratiban berlangsung."
"Tolong atur saja masalah itu. Saya kira ratiban nanti jangan sampai mengganggu kenyamanan masyarakat dalam berkendara di jalan raya."
"Pasti tidak, Pak. Jalan sepi kalau menjelang Isya. Lagi pula, seandainya ada yang berkendara, mereka pasti berhenti untuk ikut ratiban."
Acara ratiban adalah rangkaian kegiatan zikir dan doa untuk keselamatan jemaah haji selama pelaksanaan ibadah haji di dua kota suci, Mekah dan Madinah.
__ADS_1
Di kelurahan ini biasanya kalau tokoh mengadakan acara tasyakuran warga berduyun-duyun datang. Kalau rakyat jelata, paling beberapa belas saja yang hadir, itu sudah termasuk lalat ijo.
Ada kesan mereka datang bukan karena ikhlas, tapi karena isi gelas.
"Awalnya aku kaget dipanggil sama Abi," kata Gerdy saat makan malam bersama Karlina di sebuah kafe di kota satelit. "Aku kira bukan ingin membicarakan masalah ini."
"Aku tahu kamu pasti mengira aku sudah mengadu," sahut Karlina dingin. "Sumpah otakku masih waras."
"Aku justru berharap kamu lapor," ujar Gerdy. "Aku sudah siap menanggung semua risiko. Aku tidak akan membeberkan video syur itu. Cukup namaku saja yang tenggelam."
"Kalau begitu hapus rekaman videonya."
"Untuk jaminan agar pacarmu tidak lari dari tanggung jawab."
"Kamu nggak lihat keakraban orang tua kita tadi? Aku tidak berani membayangkan kalau kita gagal menikah."
"Aku tidak mungkin berpisah dengan Nadine."
"Aku tidak minta kamu berpisah dengan istrimu."
Gerdy memandang kaget. "Maksud kamu kita melangsungkan pernikahan tanpa aku harus menceraikan Nadine?"
"Untuk laki-laki ada hak, kan?"
"Bagaimana dengan Robby? Kamu sudah tidak mencintainya lagi?"
"Aku makin hari makin ragu."
"Kamu ingin kita menikah tanpa cinta? Kamu bahagia menjalani rumah tangga seperti itu?"
"Selama ini kita menjalin hubungan tanpa cinta."
"Aku jadi menyesal dengan semua yang telah kita lewati berdua. Padahal aku berharap jadi kenangan indah untuk hari tua. Aku tidak mau menduakan istriku. Hidupku akan semakin hancur."
"Hidup kita sudah hancur."
"Maka itu kita perbaiki agar hidup kita tidak tinggal puing-puing."
Gerdy tahu kenapa Karlina bersedia jadi istri kedua. Dia tidak berharap cinta darinya. Dia cuma ingin memiliki tubuhnya untuk mencukupi kebutuhan batin.
__ADS_1
Sesuatu yang mustahil terjadi. Orang tuanya pasti memberi ultimatum untuk memilih, dan dia sudah tahu siapa yang tersingkirkan.