Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Pagi Kelabu


__ADS_3

Makan pagi sungguh tidak nikmat. Nyonya besar hampir tidak pernah marah sehebat ini. Dia biasanya dapat mengendalikan emosi dengan baik. Meja makan adalah satu-satunya tempat yang paling dihindari untuk terjadinya perdebatan.


"Ini adalah perintah," kata Umi tegas. "Siapapun di ruangan ini tugasnya mendengarkan. Silakan keluar kalau tidak setuju. Aku tidak mau ada perdebatan di meja makan."


Semua orang yang hadir diam membisu. Para pegawai menyantap makanan dengan kepala tertunduk. Wisnu dan ayahnya kelihatan santai menikmati hidangan.


Umi memberi perintah ke manajer rumah tangga, "Silvana, hari ini kamu pergi ke Bandung. Temui tuan muda dan suruh pulang untuk dinikahkan dengan Karlina. Aku tidak mau kehilangan muka di hadapan calon besan. Jika dia menolak, sita semua fasilitas yang diberikan."


Silvana terkejut. Meminta tuan muda untuk meninggalkan anak dan istrinya adalah perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya.


"Kau keberatan?" tatap Umi tajam. "Kau berani menentang perintahku?"


"Tidak, Nyonya," sahut Silvana segera. Pengabdiannya selama sepuluh tahun berakhir percuma jika dia berani membangkang. "Selesai makan, saya langsung berangkat."


"Kau tidak perlu memaksanya untuk pulang. Jika dia memilih perempuan bedebah itu, aku coret dari silsilah keluarga."


Wisnu menghentikan makan dan bangkit dari kursinya.


"Mau ke mana kamu?" pandang ibunya menusuk. "Kita belum selesai makan."


"Aku tidak setuju dengan Umi," kata Wisnu tenang. "Maka itu aku mengakhiri makan lebih cepat."


"Apa yang membuatmu tidak setuju?"


"Aku tahu kakakku akan memilih anak dan istrinya. Aku tidak rela dia jadi gelandangan. Perlu diketahui, perjodohan itu hanya berlaku di depan Umi dan Abi. Di belakang, mereka jalan dengan kehidupan masing-masing."


Umi menggebrak meja dengan marah. "Kenapa kamu tidak lapor kalau perjodohan mereka dijadikan kesempatan oleh kakakmu?"


"Aku tahu hal ini saat Umi dan Abi berada di Tanah Suci, dan semua sudah terlambat untuk disampaikan."


"Kamu bisa memberi tahu aku saat itu," geram ibunya marah. "Kamu sudah menutupi kebusukan yang terjadi di rumah ini."


'Situasi ini tidak perlu terjadi seandainya Umi memberi sedikit kebebasan untuk menentukan pilihan."


"Kurang ajar! Kamu berani menyalahkan ibumu?"


"Aku tidak menyalahkan Umi," sahut Wisnu sabar. "Aku cuma berangan-angan seandainya saja di rumah ini ada sedikit kebebasan...."


"Itu berarti kamu menyalahkan aku!" potong Umi sengit. "Aku tidak mau kalian menikah dengan perempuan yang tidak cocok denganku!"


Wisnu tersenyum samar. "Umi sudah tertipu oleh keadaan. Karlina tidak sebaik seperti apa yang terlihat."

__ADS_1


Gerdy pernah menunjukkan video syur Karlina, sekedar membuktikan kalau gadis itu tidak pantas untuk tinggal di rumah ini. Kakaknya merasa percuma untuk memperlihatkan kepada Abi dan Umi karena sudah terlanjur percaya dengan pencitraan. Pergi dari rumah adalah satu-satunya jalan terbaik.


"Aku persilakan kamu pergi dari ruangan ini kalau tidak setuju denganku," desis Umi bengis.


Wisnu beranjak pergi. Pagi ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan pembelaan terhadap kakaknya. Kemarahan ibunya sedang berada di puncak. Dan mungkin tidak akan pernah ada waktu yang tepat kalau ibunya bersikukuh untuk memaksakan kehendak. Dia berharap pacar Karlina memenuhi janji sehingga persoalan ini reda dengan sendirinya.


"Duduk," perintah Abi tiba-tiba. "Tidak ada yang boleh meninggalkan ruangan ini sebelum makan pagi selesai."


Wisnu terpaksa kembali ke kursinya.


"Persoalannya adalah putera sulungku," tegas Abi. "Jadi jangan melebar ke mana-mana.... Silvana."


"Ya, Tuan."


"Kamu laksanakan perintah Nyonya. Aku tidak peduli putera sulungku jadi gelandangan atau apa. Dia sudah menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia sudah tidak menganggapku orang tua dengan pernikahan diam-diam itu."


"Baik, Tuan."


"Kau bawa dua orang security untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan."


"Baik, Tuan."


Tentu saja Wisnu menentang keras keputusan orang tuanya. Menyita semua fasilitas sama saja dengan membunuh kakaknya secara pelan-pelan. Dia tidak rela hidupnya terlunta-lunta.


Maka itu Wisnu mendatangi Silvana dan dua security yang sudah bersiap-siap pergi ke Bandung.


"Aku minta kalian paham situasi," kata Wisnu. "Suatu saat aku jadi tuan besar kalian. Jadi aku ingin kalian tidak menuruti perintah Nyonya Besar."


"Apa yang Tuan Muda inginkan?" tanya Silvana.


"Kamu videokan saja situasi apartemen dan interview temannya yang bisa dikondisikan," jawab Wisnu. "Kamu jadikan video itu untuk bukti kepada Nyonya Besar kalau kamu sudah menjalankan tugas dengan baik."


"Nyonya Besar pasti menyuruh saya untuk memblokir rekening kalau tidak bertemu dengan tuan muda hari ini."


"Aku kira rekening bisa diatur kemudian."


"Baik, Tuan."


"Aku tidak mau masa depan kakakku kiamat karena arogansi Nyonya Besar."


"Baik, Tuan."

__ADS_1


"Aku tidak mau ada pengkhianat di antara kalian karena hal itu akan membuat kalian menderita."


"Baik, Tuan. Saya pastikan tidak ada pengkhianat. Saya sudah memberi tahu mereka kalau Karlina bukan perempuan yang cocok untuk jadi nyonya muda. Saya pernah melihatnya check in bersama pemuda sebaya."


"Pemuda itu adalah Robby pacarnya. Aku ada bukti yang lebih dahsyat, tapi percuma karena Nyonya Besar melihat topeng dan beliau percaya."


"Ya, Tuan."


"Aku sudah chat kakakku kalau hari ini kamu akan datang ke apartemen."


"Lalu tanggapannya bagaimana, Tuan?"


"Dia menunggu kalian. Ceritakan saja apa yang terjadi di sini. Semua orang rumah berharap dia tidak pulang karena tidak setuju dengan keputusan Nyonya Besar."


Hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan hidup Gerdy. Wisnu tahu kakaknya kerja paruh waktu, tapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia sudah terlanjur lahir untuk jadi orang kaya.


Wisnu mendukung Gerdy untuk pergi dari rumah. Dia berharap suatu saat kakaknya bisa pulang dengan membawa anak istri. Seandainya saat itu tidak ada, maka mereka harus bersabar sampai dirinya jadi tuan besar.


"Kamu ke mana saja dicari dari tadi?" tegur ibunya ketika Wisnu muncul di ruang keluarga.


"Ada apa mencariku?" tanya Wisnu santai sambil duduk di hadapan orang tuanya.


"Aku ingin membahas kemungkinan terburuk yang terjadi di rumah ini," kata Umi. "Jika kakakmu menolak untuk menikah dengan Karlina, maka aku minta kamu menggantikan posisinya."


Wisnu terkejut. Hal ini sangat di luar dugaan. Menjadi suami Karlina adalah malapetaka terbesar dalam hidupnya. Dia paham kenapa ibunya mengambil keputusan kontroversial ini. Beliau ingin menyelamatkan kehormatan keluarga di depan orang tua Karlina.


"Bagaimana pendapatmu?" tanya Umi separuh mendesak.


"Aku tidak mengerti kemauan Umi. Waktu aku pacaran dengan Rarasati, Umi meminta aku memilih Andini. Pada saat hatiku sudah mulai menerimanya, Umi meminta aku menikah dengan Karlina. Segampang itu Umi mempermainkan perasaanku. Bunuh saja aku."


"Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan memintamu pergi dari rumah kalau tidak menuruti perintahku."


"Andini bagaimana?"


"Aku belum bicara apa-apa kepada orang tuanya. Sementara orang tua Karlina menunggu keputusanku."


"Aku sebenarnya lebih memilih pergi daripada harus menikah dengan Karlina, tapi kepergianku tidak menyelesaikan masalah. Aku bersedia memenuhi permintaan Umi kalau sekiranya dapat menyelamatkan muka keluarga. Tapi satu hal Umi perlu tahu, Karlina tidak pantas jadi nyonya muda di rumah ini."


"Yang menentukan pantas tidaknya bukan kamu," geram Umi marah. "Aku cuma butuh mendengar jawabanmu."


"Umi sudah mendengar jawabanku."

__ADS_1


Wisnu pergi. Dia tahu kekejaman ibunya tidak akan berakhir sampai di sini.


__ADS_2