Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Dunia Panggung Pura-pura


__ADS_3

Leny, istri muda Papi, lulus SMA langsung jadi istri kedua bandar jeruk, bertahan satu tahun. Kemudian jadi istri sirih pejabat kelurahan, satu tahun juga. Nah, paling singkat dengan Papi, satu bulan.


Tapi sensasinya tidak kalah dengan satu tahun. Papi bisa sampai lima kali dalam sehari.


Gadis semuda itu berumah tangga sama Papi tidak trauma saja bagus.


Katrin salut pada Mami yang dapat bertahan puluhan tahun.


Siang ini Leny datang dengan diantar abangnya yang bernama Gondo untuk menggugat cerai.


"Kedatangan aku ke sini untuk minta cerai," kata Leny menjelaskan maksudnya. "Aku ingin bertemu Papi."


"Sebentar," tukas Katrin bingung. "Papi sudah satu bulan tidak pulang. Aku dapat kabar tinggal di rumah istri mudanya, berarti tinggal bersamamu. Mengapa tiba-tiba saja kau datang ke rumahku untuk bertemu Papi?"


"Kemarin malam Papi pergi," sahut Leny. "Kau tentu sudah dengar kabar juga."


"Tapi aku tidak tahu apa alasannya."


Leny kelihatan serba salah. Dia menoleh ke abangnya untuk minta bantuan. Gondo gelagapan.


Katrin memandang heran. "Ada apa ini? Coba kalian ceritakan yang sejujurnya."


"Begini," ujar Gondo. "Kemarin terjadi pertengkaran di antara mereka, kemudian Papi pergi."


"Papi tidak mungkin pergi dalam hujan deras kalau cuma pertengkaran biasa. Aku minta kalian jujur. Tolong ceritakan, apa sebenarnya yang terjadi?"


Emi muncul menyajikan minuman. Asisten rumah itu hendak kembali ke ruang dalam, Katrin mencegah, "Kamu duduk di sini."


Emi duduk di sofa tunggal, dan bertanya, "Ada apa, Nyonya?"


"Leny dan abangnya mau ketemu Papi untuk minta cerai...."


Emi terbelalak. "Minta cerai? Baru satu bulan nikah minta cerai? Duit Papi pasti sudah habis, terus ditendang."


"Sudah, jangan negative thinking," tegur Katrin halus. "Kamu jelaskan ke mereka, Papi ada di rumah atau tidak."


"Sudah satu bulan Papi tidak pulang," jawab Emi. "Menggenjot bini mudanya secara maraton...."


"Hush! Kamu kalau ngomong suka gitu deh."


"Perempuan ini satu kelurahan sama saya."


"Mentang-mentang satu kelurahan, terus boleh ngomong seenaknya, begitu? Sudah, kembali kerja sana."


Emi pergi.


"Nah, kalian dengar sendiri apa kata si Emi. Jadi setahu kami, Papi tinggal bersama istri mudanya. Adalah aneh tiba-tiba kamu datang ke rumahku menanyakan Papi dan minta cerai."


"Berarti Papi tidak pulang ke sini," keluh Leny. "Ada rumah lagi selain di sini? Soalnya aku cari ke tempat judi, Papi semalam tidak muncul di sana."


"Rumah Papi itu banyak," kata Katrin. "Di mana ada janda di situ Papi tinggal. Aku tidak bisa mencari Papi ke setiap rumah."


"Aku cari nanti," potong Gondo. "Kami pamit kalau begitu."

__ADS_1


Katrin menahan mereka dengan santai namun mengandung ancaman dalam sinar matanya. "Gak usah buru-buru. Kalian boleh memeriksa rumah ini untuk memastikan kalau Papi tidak ada. Lagi pula, aku belum tahu apa yang terjadi. Aku pasti mengambil langkah hukum kalau kalian tidak bercerita sejujurnya. Kalian sudah membuat ayahku pergi entah ke mana."


Leny tampak ketakutan. Abangnya mencoba tenang. Barangkali gengsi dengan jaket ormasnya.


Katrin merasa di atas angin. Dia duduk sedemikian rupa sehingga sangkar burung terlihat oleh Gondo yang duduk di hadapannya. Lelaki itu tak berkedip dibuatnya.


Katrin menatap Leny dengan tenang, namun menusuk. "Coba ceritakan apa sebenarnya yang terjadi."


"Aku akan bercerita dengan jujur," ujar Leny. "Tapi tolong jangan di adukan ke polisi, aku tidak bersalah."


"Tergantung bagaimana ceritamu."


"Kemarin malam Papi minta berhubungan intim, aku menolak karena aku capek baru pulang bepergian dengan abangku...."


"Pulang bepergian apa habis bercinta sama abangmu?" tanya Katrin pedas.


Gondo tersinggung. "Jangan membuat fitnah. Aku bisa tuntut kamu."


"Sudah, Bang," potong Leny dengan mata sedikit marah. "Jangan menambah rumit keadaan."


Katrin tersenyum sinis pada lelaki itu. "Aku tahu tabiat laki-laki pemabuk macam kamu, apalagi istrimu kerja di luar negeri. Kamu tidak sungkan untuk menyantap adikmu. Aku kira dia lebih menarik daripada janda-janda di luar."


"Kurang ajar," geram Gondo marah.


Katrin menatap tajam. "Kurang ajar mana dengan matamu yang melotot melihat sangkar burungku?"


Katrin merubah posisi duduk sehingga pemandangan yang luar biasa itu hilang dari mata Gondo. Wajah pria itu memerah menahan malu.


"Aku capek habis bercinta sama abangku," kata Leny jujur. "Lagi pula, Papi sudah tiga hari berturut-turut tidak memberi uang belanja."


"Dia ngasih uang setiap kali habis berhubungan intim. Kemarin malam dia maksa minta dilayani, kemudian terjadi pertengkaran."


"Abangmu menginap malam kemarin?"


"Dia mampir sebelum pergi ke warung minuman, minta berkah dariku."


"Kamu paranormal?"


"Menurut si Abang, aku membawa hoki. Setiap kali habis berhubungan badan denganku, dia pasti menang taruhan bola."


Emi muncul membawa kue, dan mencemooh, "Modus. Persis eyangku. Setiap pergi lomba mancing minta bercinta denganku."


"Terus kamu usir Papi?" selidik Katrin.


"Aku cuma bercanda, aku kira dia duduk di beranda, begitu ditengok tidak ada."


"Kamu bisa dengar dari suara mobilnya kalau Papi pergi."


"Mobilnya ditahan sama abangku."


"Kenapa?"


"Biar Papi berusaha keras untuk ngasih nafkah lahir, jangan cuma nuntut nafkah batin."

__ADS_1


"Bagaimana ayahku bisa berikhtiar kalau mobilnya ditahan?"


"Aku berharap Papi pulang ke rumah untuk mengambil uang."


"Papi tidak punya simpanan di rumah. Hasil judi dan lotere habis tidak karuan."


"Katanya punya ATM berjalan."


"Maksudnya aku. Dia minta sama aku kalau kehabisan duit. Sekalinya punya duit banyak kawin lagi. Bagaimana aku bisa suka padamu? Usiamu jauh di bawahku dan kamu sudah menyakiti ibuku."


"Aku minta maaf, aku dipaksa nikah sama ayahku."


"Cerita ini cukup untuk menyeret kalian ke meja hijau. Aku kasih kesempatan selambat-lambatnya besok siang untuk mengembalikan mobil, itu punyaku."


"Jangan mengancamku," desis Gondo gusar. "Aku tidak suka diancam, apalagi oleh perempuan."


Katrin menjawab dengan tenang, "Aku tidak mengancam, aku memberi kesempatan pada kalian untuk hidup bebas. Pengusiran Papi karena nunggak cicilan birahi dan hubungan inses kalian, aku kira akan membuat tetangga kalian heboh dan tidak menerima kalian. Jadi penjara adalah rumah yang pantas buat kalian."


"Baiklah," kata Leny. "Aku akan segera mengembalikan mobil."


Katrin tersenyum penuh kemenangan. "Bersikap kooperatif kan enak. Kamu serah terima nanti sama si Emi."


"Ya."


"Pesanku sesama wanita, baiknya kamu pergi ke rumah sanak famili yang sekiranya aman, jangan tinggal di rumah abangmu. Capek kamu jadi budak nafsunya, kecuali kamu berani menghabisinya."


"Aku sendiri sudah muak dengan situasi ini. Dia sudah menjual aku ke ayahmu, kemudian menggarap aku juga."


"Kamu masih punya adik perempuan?"


"Dia tinggal bersama nenek."


"Nah, kamu tinggal saja di sana. Aku kira kamu punya cukup perhiasan untuk bekal hidup yang baru."


Leny menatap tak percaya. "Kamu tidak menyita perhiasanku?"


"Aku tidak sekejam itu, meski kamu sudah berbuat kejam pada ayahku."


Leny tersenyum senang. "Terima kasih. Kalau begitu aku permisi."


Mereka pergi.


"Kira-kira Papi pergi ke mana, Nyonya?" tanya Emi bingung.


"Aku tidak tahu."


"Kita harus lapor polisi kalau dalam dua hari Papi tidak pulang."


"Sudah seharusnya begitu." Katrin bangkit dari duduknya. "Aku istirahat dulu."


Hidup sulit diduga, batin Katrin. Dia sebenarnya tidak berniat untuk mengambil mobil itu, tapi kesempatan datang dengan sendirinya. Dunia sungguh panggung pura-pura, dan dia memainkan peran dengan sempurna.


Semua demi ibu dan adik-adiknya. Dia harus memastikan mereka nyaman diam di rumah ini.

__ADS_1


Tinggal satu masalahnya. Sastro.


__ADS_2