Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Jual Mahal


__ADS_3

"Stop."


Taksi berhenti. Nadine terkejut melihat colt pick up bermuatan barang elektronik parkir di jalan depan rumahnya.


Dia segera mendatangi Gerdy yang duduk di kursi teras bersama dua orang pria berseragam sebuah toko elektronik. Pasti pemuda itu yang membeli alat elektronik dan kursi teras. Dia tidak pernah memesan.


Nadine menarik Gerdy untuk menjauh dan berhenti di sudut halaman.


"Jangan menghambur-hamburkan uang," tegur Nadine. "Simpananku habis, lebih baik kumpulkan buat biaya kelahiran bayi."


"Aku sudah siapkan biaya untuk itu," sahut Gerdy santai. "Kamu tinggal pilih caesar apa normal. Aku maunya caesar biar tak ada perubahan."


Nadine memandang gemas. "Aku ingin punya anak sebanyak-banyaknya, kamu mau perutku banyak sayatan?"


"Aku tidak butuh perutmu, aku butuh di bawah perutmu," kata Gerdy kurang ajar.


Nadine pergi dengan keki. Mami, Prilly, dan Mimin sudah menunggu di depan pintu. Mami memperhatikan gerak-gerik anaknya yang membuka pintu, tapi dia masih bersabar untuk tidak bertanya di depan banyak orang.


"Bagaimana, bos?" tanya salah seorang pegawai elektronik kepada Gerdy yang datang menghampiri.


"Istriku ingin AC segera dipasang, panas katanya," jawab Gerdy. "Kulkas, oven, dan peralatan elektronik lainnya segera bawa ke dalam."


"Siap, bos."


Mami yang masih berada di luar terkejut mendengar Gerdy menyebut istri. Dia segera mendatangi Nadine dan membawanya ke sebuah kamar.


"Tolong ceritakan padaku apa yang terjadi," tatap Mami tajam. "Mengapa Gerdy memanggilmu istri?"


Nadine sebenarnya sudah berniat untuk berterus terang dan tak menyangka kesempatan itu datang lebih awal. Dia menceritakan kejadian yang menimpa mereka secara jujur.


"Maafkan aku, Mam," kata Nadine di akhir ceritanya. "Aku tidak bisa menjaga kehormatanku."


Mami menarik nafas dengan berat. "Setidaknya kamu lebih baik dari kakakmu. Aku ingin kalian jadi pasangan suami istri sungguhan, bukan cuma pura-pura. Pikirkan nasib bayi di rahimmu."


"Aku tidak mau Papi jadi waliku."


"Ayahmu tidak pantas jadi wali. Aku akan minta adiknya untuk menikahkan kalian."


"Apa Om Dennis mau?"


"Itu urusanku."


"Bagaimana dengan kuliah Gerdy?"


"Apa pengaruhnya? Kalian itu cuma meresmikan hubungan demi anak dalam kandunganmu. Untuk kehidupan jalani seperti biasa."


Pintu kamar ada yang mengetuk. Nadine membuka pintu. Gerdy berdiri di luar kamar.

__ADS_1


"Maaf mengganggu," kata Gerdy. "Ruangan lain sudah dipasang indoor AC, tinggal kamar ini. Masih lama?"


Nadine menariknya masuk dan menutup pintu. Kemudian berbisik, "Mami ingin kita segera menikah."


"Aku maunya begitu," ujar Gerdy. "Kamu jual mahal, padahal barang...."


Nadine mendelik. "Kamu mau bilang aku barang bekas? Yang menyentuhku siapa? Sama saja kamu menghina diri sendiri!"


"Sore nanti kita berangkat ke rumah adik suamiku," kata Mami. "Lebih cepat lebih baik."


"Mami tidak apa-apa kalau dalam acara pernikahan orang tuaku tidak datang?" tanya Gerdy.


"Sebenarnya aku berharap orang tuamu datang, tapi tidak mungkin."


Mami tidak bisa menuntut kepada calon menantunya sesuatu yang tak dapat dipenuhi. Dia minta mereka menikah diam-diam sebenarnya untuk menyelamatkan nama baik orang tua Gerdy dari kehancuran yang dalam.


Mereka tidak mungkin menyembunyikan persoalan ini selamanya. Suatu saat orang tua Gerdy pasti tahu. Mami berharap saat itu adalah saat yang tepat.


"Sebenarnya ada masalah yang mau aku bicarakan berdua dengan calon menantuku," ujar Mami. "Tapi nanti sajalah. Kamar ini mau dipasang AC."


"Mereka sudah disuruh pasang outdoor dulu," kata Gerdy. "Jadi ada waktu buat kita ngobrol berdua."


Nadine menatap maminya separuh protes. "Masalah apa yang mau diceritakan sampai aku tidak boleh mendengar? Soal Karlina?"


Mami terkejut. "Kamu sudah tahu?"


"Kamu rela diduakan?"


"Suamiku tidak akan berani menduakan aku."


"Karlina dijodohkan sama calon suami kamu. Tahun depan mereka menikah."


"Jadi duluan aku dong nikahnya? Aku tidak masalah dengan perjodohan itu. Aku percaya suamiku tidak akan menikah sama perempuan yang kualitasnya di bawah aku."


"Kalau kualitasnya lebih tinggi, bagaimana?" tanya Gerdy.


"Nyebelin banget," dengus Nadine ketus.


"Aku cuma nanya."


Mami berkata pada anaknya, "Mami senang mendengar kamu tidak masalah dengan Karlina."


"Bukan aku yang menikah dengan Karlina tahun depan," ujar Gerdy. "Robby pacarnya. Tapi sudahlah. Jadi panjang urusannya." 


Gerdy membuka pintu. Pegawai toko elektronik sudah menunggu di luar.


"Aku sudah bilang kalian kerjakan outdoor," sergah Gerdy. "Malah menunggu di sini."

__ADS_1


"Sudah beres, bos. Tinggal kamar ini."


"Cepat sekali."


"Hidup di kota besar kalau lambat bisa terbalik periuk nasi."


Mereka keluar. Gerdy mendatangi Mimin yang lagi duduk-duduk di ruang tengah, dan berkata, "Min, sementara waktu kamu tidur sama Mami. Besok aku buatkan kamar pada lahan kosong di belakang."


Gerdy sudah menghubungi kontraktor untuk membangun kamar, kanopi, garasi, dan mencat rumah. Pekerjaan dimulai besok.


"Saya tidur di mana saja jadi, Tuan," ujar Mimin.


"Kalau begitu tidur di jalan raya di depan rumah," canda Gerdy.


"Masa di jalan raya? Tuan tega banget."


"Katanya di mana saja."


"Kenapa kamu tidak minta pendapatku lebih dulu untuk membangun semua itu?" tanya Nadine dengan sinar mata protes. "Aku tidak suka kamu menghambur-hamburkan uang."


"Aku sudah kirim chat tapi centang satu, atau nomorku diblokir?"


"Aku ganti nomor."


"Kamu harusnya bilang dulu ke aku kalau ganti nomor."


"Barusan aku bilang."


"Menang sendiri."


"Biarin."


Nadine ingin memulai lembaran baru di rumah ini. Dia tidak mau teman-temannya mengganggu ketenangan hidupnya. Dia ingin menghapus jejak masa lalu.


Nadine mengundurkan diri dari dunia modeling. Keputusan yang mengejutkan itu tentu saja mengundang banyak pertanyaan, dia tidak peduli dengan segala kabar miring.


Nadine ingin menghindari perburuan kakaknya, itu tujuan utamanya. Katrin pasti akan melacak keberadaan mereka dengan berbagai cara. Maka itu dia tidak memberikan alamat rumah kepada siapapun.


Nadine tidak mau adik dan maminya diambil secara paksa. Katrin pasti menggunakan kekuatan ayahnya untuk meluluhkan mereka. Dia tidak mau mereka kembali ke sarang iblis.


Kepindahan sekolah Prilly pun diurus secara online. Jadi Nadine tinggal mengambil berkas kalau sudah selesai.


Katrin pasti mencari informasi ke sekolah dan dia sudah berpesan ke bagian administrasi agar merahasiakan kedatangannya, dengan alasan ada ibu tiri jahat yang mau membawa adiknya.


Nadine tahu beban tanggung jawab yang dipikulnya sangat berat. Dia kerja di tempat baru dengan gaji standar sehingga tidak bisa menabung untuk biaya sang bayi. Maka itu dia tidak setuju Gerdy hidup boros.


Pemuda itu sudah terbiasa dengan gaya hidup mewah. Dia berharap calon suaminya mulai bisa menahan diri untuk tidak konsumtif, karena masa depan mereka belum jelas. Lain masalah kalau Nadine calon menantu pilihan. Mereka akan menjalani hidup dengan mudah.

__ADS_1


Nadine senang Mami dapat menerima apa yang terjadi dengan dirinya. Barangkali perbuatan keji di rumah itu begitu mengguncang jiwanya sehingga terpaksa memaklumi. Masalah yang paling menentukan adalah...apakah omnya bersedia jadi wali nikah?


__ADS_2