Indahnya Cinta

Indahnya Cinta
Di Sini Kita Pernah Berjanji


__ADS_3

Nadine melempar pandang ke luar kaca depan mobilnya, mengawasi orang-orang yang keluar dari pintu gerbang mesjid selesai shalat Jum'at. Tapi orang yang dicarinya belum kelihatan sampai pengunjung terakhir meninggalkan rumah suci itu.


Nadine menunggu dengan sabar. Satu jam yang lalu sewaktu lewat pulang kuliah dia sempat melihat Gerdy masuk ke mesjid itu dengan berjalan kaki, dan sekarang pasti masih di dalam.


Rupanya Gerdy sudah bertaubat, pikir Nadine terharu. Dia sudah menemukan kembali jalan kebenaran. Atau ingin menghibur kegersangan hati dengan kesejukan firman-Nya?


Segera Nadine keluar dari dalam mobil yang parkir di pinggir jalan raya begitu dilihatnya Gerdy muncul bersama pria bersorban.


Pak Haji terheran-heran melihat perempuan cantik berpenampilan elok mendatangi mereka.


"Assalamu'alaikum, Pak Haji," sapa Nadine ramah.


"Wa'alaikumussalam," balas Pak Haji. "Siapa ya?"


"Saya adik Gerdy."


Pak Haji terkejut. "Adik Gerdy?"


Gerdy sendiri terperangah. Dia mengangkat bahu ketika Pak Haji menoleh ke arahnya.


"Dia pergi dari rumah," senyum Nadine manis. "Biasa. Masalah anak muda. Dia tidak pernah cerita sama Pak Haji?"


"Saya malah baru tahu Gerdy masih punya keluarga dan punya adik secantik ini," gumam Pak Haji tak habis pikir.


Dia tahu Gerdy bukan orang biasa. Meski tidak tahu banyak kehidupan pribadinya, dia percaya muridnya orang baik-baik. Bukan residivis atau buronan seperti anggapan beberapa orang warga. Tapi dia sama sekali tak menduga kalau Gerdy berasal dari keluarga kaya raya. Harga mobil itu beberapa kali lipat dari biaya pembangunan mesjid baru ini.


Tak habis-habisnya Pak Haji menasehati muridnya. Apapun alasannya tidak dibenarkan kabur dari rumah. Gerdy diam saja mendengarkan walau telinganya terasa panas.


Dia menurut saja waktu Pak Haji memintanya ikut pulang bersama Nadine. Dia baru mengeluarkan unek-uneknya ketika mereka sudah berada di dalam mobil yang meluncur kencang di jalan raya.


"Mau kamu apa sebenarnya?" gerutu Gerdy sengit. "Bualanmu tidak bermutu."


"Justru Pak Haji tidak percaya kalau aku ngomong jujur," ujar Nadine santai. Matanya menatap lurus ke jalan raya. "Meski aku merasa sangat cocok jadi istri."


"Mantan."


"Terima kasih," senyum Nadine senang. "Setidaknya kamu sudah ingat kalau kita pernah tidur satu pembaringan."


"Beliau tidak sama dengan orang-orang di sekelilingmu," dengus Gerdy ketus. "Yang boleh kamu kibuli seenak-enaknya."


Nadine tersenyum berlumur madu. "Apapun akan kulakukan untuk bisa pergi bersamamu."


"Ke mana kau akan membawaku?"


"Ke mana saja yang kamu suka."


"Aku lebih suka turun di sini."


"Coba kalau berani."

__ADS_1


Serentak Nadine menginjak gas dalam-dalam. Mobil melesat separuh terbang. Melalap habis mobil-mobil sadar hukum.


Gerdy mengatupkan rahang dengan geram. Tentu saja pikirannya masih waras untuk meloncat turun.


"Belum tahu mantan istrimu jago balapan." Nadine tersenyum penuh kemenangan. "Nah, kalau mantan suamiku jago di ranjang."


"Cari mati," omel Gerdy keki.


"Asal berdua."


Nadine menambah kecepatan lari mobilnya, meluncur di jalan menuju ke luar kota.


Nadine baru melambatkan lari mobilnya setelah jauh meninggalkan kota Bandung. Melaju di jalan mendaki dan berkelok memasuki daerah pantai. Dan berhenti di tepi laut yang membiru.


Sesaat mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing. Membiarkan pandang terbawa gelombang yang menderu dan terhempas di pesisir.


"Di sini kita pernah berjanji," gumam Nadine memecah kesunyian. "Pada nyanyian ombak, pada jingga matahari."


Di depan matanya membayang sepasang muda-mudi yang berkejar-kejaran sambil tertawa-tawa. Alangkah indahnya, begitu mesranya, seolah dunia milik mereka berdua, tiga dengan cinta.


"Kau masih ingat kata-kata terakhirku waktu kita berpisah di pintu tol?" tanya Nadine ketika Gerdy tidak bersuara, bersandar diam di kursinya. "Jangan bilang bukan aku yang kau cinta. Kata-kata itu sampai sekarang masih membelenggu hatiku."


"Aku tidak ingat apa-apa lagi," ujar Gerdy tawar. "Masa laluku telah hanyut terbawa arus kehidupan."


Nadine menggigit bibirnya, menentramkan dadanya yang berdebur pedih. Dipandangnya Gerdy dengan sinar mata berselimut kabut.


"Benar kamu tidak ingat lagi?" Suaranya segetir tatapannya. "Sudah lupa masa lalu kita?"


Sambil mendesah pelan, Nadine melayangkan matanya ke deretan perahu yang tertambat di tepi pantai. Di sana mereka pernah memadu hati, mengukir janji dalam satu cinta.


"Minggu depan manajer logistik pensiun," kata Nadine sesak. "Kau bisa menggantikan posisinya."


"Hidupku lebih tenang di jalanan."


"Tapi jiwamu terancam."


"Kau bukan jarum jam yang menghitung detak jantungku."


"Kondisimu tidak memungkinkan hidup di jalanan," desis Nadine pahit. "Kalau mau bunuh diri, carilah cara yang lebih baik."


"Semua orang bakal mati," sambar Gerdy tersinggung. "Cuma soal waktu."


"Tapi mereka tak pernah memutar waktunya."


"Mungkin suratanku harus mati muda, daripada jadi tua dengan jabatan itu."


Nadine terdiam perih. Kematian bukan hal yang menakutkan buat Gerdy. Kehidupannya sendiri telah lama mati. Tapi bagi orang-orang yang ditinggalkan?


"Mengapa kau selalu menolak kebaikanku, beb?" tatap Nadine sendu. "Apa karena aku istri Bradley? Mengapa dulu kau berikan kalau sekarang akan menggugatnya?"

__ADS_1


"Aku cuma ingin menjalani hidup apa adanya, bukan ada apanya."


"Aku mencemaskanmu."


"Ada yang lebih pantas dikhawatirkan, suamimu."


"Ada apa dengannya sampai harus dikuatirkan?"


"Istri harus mengkhawatirkan suami meski tanpa alasan."


"Kamu tidak kasihan sama orang tuamu?"


"Gerdy Dharmendra tidak pernah terlahir dari rahim perempuan terhormat bernama Saraswati."


"Mereka sangat merindukanmu, beb," keluh Nadine kelu. "Sangat mengharapkan kepulanganmu."


"Tahu dari mana?"


Nadine mengalihkan pandangnya ke lautan. Gambaran masa lalu tampak menari-nari dalam deru gelombang, dan tenggelam menyisakan sepenggal luka.


"Mereka sudah mengampuni dosa kita, dan menerima Idyla sebagai cucunya."


Ada letupan kaget melintas dalam kebekuan wajah Gerdy. Dia menoleh dan berpapasan dengan mata Nadine. Tapi sekejap kemudian dia menarik tatapannya kembali tanpa memberi komentar apa-apa.


"Kau tidak rindu pada orang tuamu? Tidak ingin pulang?"


"Seandainya ada keinginan, waktunya telah berlalu. Aku tak punya apa-apa lagi untuk dibawa pulang."


"Baby...." Tak sadar Nadine meraih tangannya. "Kau ingin aku kembali padamu? Ingin membawa anak istri pulang ke rumah orang tuamu? Katakanlah, beb. Kau ingin aku bercerai dengan suamiku?"


"Aku ingin kita segera pulang ke Bandung," sahut Gerdy datar. "Sebelum polisi menangkapku karena dituduh menculik seorang presiden direktris."


Mobil meninggalkan pantai. Tapi bukan segera pulang ke kota Bandung, belok memasuki pelataran sebuah hotel dan berhenti di depan pintu lobi.


"Mau apa parkir di sini?" tanya Gerdy heran.


"Kemalaman kalau pulang," jawab Nadine santai. "Kita menginap satu dua malam sekalian week end."


"Kita?"


"Ya kita. Memangnya di dalam mobil ada siapa lagi?"


Nadine keluar dari dalam mobil. Ketika Gerdy tidak turun juga, dia berjalan memutar dan membuka pintu.


"Cepetan turun," kata Nadine sambil menarik tangannya. "Apa perlu panggil security untuk menyeretmu keluar?"


Gerdy terpaksa turun daripada jadi pusat perhatian tamu hotel. Nadine menggandeng tangannya dengan erat dan membawanya berjalan menuju ke front office untuk memesan kamar.


"Aku sudah pesan dua kamar," senyum Nadine. "Tapi cuma sisa satu. Jadi jangan berpikiran kotor."

__ADS_1


Biar Gerdy tidak berpikiran kotor dan Nadine tidak pernah menggodanya, tapi siapa yang mampu bertahan dari pesona yang demikian memikat itu?


__ADS_2