Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 100


__ADS_3

Pov Vano.


***


Aku mencintai mu selalu mencintai mu sampai kapan pun, bagiku kau nafas dalam hidup ku tanpa mu aku tidak bisa hidup, kau segalanya bagi ku tiada mu aku bagai jasad mati hidup namun tak berarti. Tak bisa ku katakan bagaimana bahagianya akau saat ini, kebahagian ku tak bisa ku ungkap kan yang pasti aku sunggu, sunggu dan sungguh bahagia.


Aku tak ingin meninggalkan mu walau hanya satu detik pun, bagi ku satu detik itu satu jam dan satu jam itu satu hari, dan satu hari itu terlalu lama, sungguh aku rela di perdaya cintaku padanya tidak mrngapa asal aku selalu bersamanya.


Pagi ini aku merasa istri ku semakin cantik, setelah dua minggu ia melakukan oprasi caesar tubuhnya yang dulu langsing kini mendadak gemuk, pipinya yang dulu tirus, kini menjadi cabi tapi aku suka tidak masalah mau dia gemuk atau kurus aku tetap padanya.


"Sayang," aku membuka selimut yang menutupi wajah cabi istri ku.


"Em," Ziva ku mulai bersuara namun ia semakin mempererat pelukannya pada tubuh ku.


"Sayang bangun," tutur ku lagi sambil berusaha merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya.


Sekilah mentari pada yang menerobos masuk dari sela-sela kaca memantulkan cahayanya di wajah kekas halal ku. Aku bangga padanya, bagaiman aku mengungkapkannya, aku ingin merasa berhutang padanya yang sudah memberi warna dalam hidup ku, tapi aku tidak bisa membayarnya aku hanya bisa mengatakan aku cinta, ya aku cinta pada hanya itu saja. Aku tidak bisa membayar apa yang dia berikan pada ku.


"Sayang," lagi-lagi aku terus berusaha membangunkannya.


"Ya Mas," jawab kekasih halal ku itu dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Kami bagaikan pengantin baru, karena malaikat kecil kami tidak pernah tidur satu malam pun dengan kami, ia selalu tidur dengan malaikat di kehidupan ku, malaikat yang selalu ada dalam suka mau pun duka ku. Di mama ku Sinta wanita yang juga sangat berarti dalam hidup.


"Sayang, asi kamu sampek banjir gini," aku melihat dadanya yang sudah basah karena air asi yang banjir, aku bingung dan juga kasihan padanya sepertinya ia merasa sakit dan kurang nyaman.


"Mas ambilin anak kita kekamar Mama, tolong, sakit banget ini Mas asinya nggak keluar," tutur istri ku dengan wajah acak-acakan khas bangun tidurnya.


"Mas aja yang, Mas juga mau minum susu." seloroh ku, tapi tidak kalau memang dia memboleh kan aku juga beneran mau, heheh, jiwa mesum ku meronta-ronta harap maklum ya aku puasa udah dua minggu, andai ada kamera aku mau lambaikan tangan aku nggak kuat.


"Mas apasih, kayak bayi aja." Lihatlah kekasih halal ku malah mengejek ku padahal aku serius.

__ADS_1


"Dikit ngak apa yang, Mas penasaran rasanya apa?" tanyaku menaik turunkan kedua alis mata ku berharap ia mengabulkannya.


Dia mengangguk aku tersenyum tentunya, akhirnya dahaga ku akan sedikit terobati pikir ku, "Enggak," tiba-tiba ia menjawa tidak sungguh mematahkan jiwa berswmangat ku.


"Sayang, sedikit ayolah kasihan asinya tumpahkan." Aku terus berusaha merayu mana tahu dapat jatah ya lumayan kan rejeki anak soleh di pagi hari begini, oh Ziva kusayang love you.


"Ziva," terdengar suara malaikat ku ya Sinta istri dari papa ku yang nama Hardy yang sangat menyebalkan itu, yang dulunya suka mencabut semua pasilitas yang ia berikan pada ku kalau aku bandel saat sekolah, tapi tetap aku pada mu pak Hardy kau juga malaikat ku.


"Ya Ma." jawab Ziva ku.


"Ini Zie haus," Mama ku memberikannyabpada istri ku, oh Ziva ku wajah putri ku sangat cantik secantik diri mu.


"Haus ya Nak," Ziva ku mencium anak ku, mata ku melotot, tenggorokan ku terasa haus dan kering saat melihat lahapnya anak ku menyedot asi. Aku juga mendadak haus, andai tidak ada Mama ku rasanya aku juga mau menyusu di susu yang sebelah lagi kasihan kan nganggur.


"Ziva abis kamu kasih asi, Zie mau Mama mandikan." Lihatlah mama ku itu rasanya istri ku hanya botol susu, saat Zie haus baru Ziva bisa menggendongnya, kalau tidak ya Zie hanya bersama Mama dan Mami ku saja.


"Mi sehari saja Zie sama Vano dan Ziva."


"Sehari saja Ma." Pinta ku lagi.


"Ya udah Mama pulang saja."


Mama ku bangun dari sisi ranjang yang tadinya ia duduki.


"Ma Vano bercanda," aku langsung memeluk mama ku ya ngambel itu.


"Mama mau pulang," aku bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca aku jadi merasa bersalah.


"Jangan nangis ya, Vano cuman becanda,"


"Ma Zie udah selesai, dia tanyain Oma mana katanya." Istri ku juga ikut merayu mama ku yang ngambek.

__ADS_1


"Apa benar," mata Mama ku berbinar seketika saat istri ku mengatkan seperti itu.


"Iya Ma," jawab Ziva lagi.


"Cucu Oma." Mama ku kembali mengambil Zie dari pangkuan istri ku dan langsung membawanya pergi tanpa pamit.


Aku hanya bisa menggaruk kepala ku saja, rasanya gatal sekali namun mau bagaimana lagi Mama ku juga segalanya bagi ku. Bia4lah ia bermain dengan anak ku lagi pula aku tidak mungkin bisa membalas keringat saat ia melahirkan ku. Palingtidak aku bisa membuatnya sedikit bahagia itu sudah cukup.


"Mas pengen tau yang gendong Zie, tidur sama Zie," aku mulai curhat pada Istri ku.


"Mas biar aja sama Mama, Mama pengen punya anak perempuan dari dulu, tapi lahir malah laki," seloroh istriku sambil terkekeh.


"Sayang maksud kamu apa." kesal ku.


"Nggak becanda, tapi dulu Mama pernah bilang kalau Mama pengen punya dua anak satu laki-laki satu perempuan. Tapi nggak kesampean."


"Oke lah anggap aja kita bulan madu lagi ya yang."


"Iya," istri ku malah memeluk ku dan suara manjanya membuat ku tak tahan, Oh Tuhan ini kan cobaan.


"Sayang mandi dulu, biar sarapan, kasihan Zie nanti minum asi kamu kurang enak kalau kamu nggak makan."


"Iya Mas ku." Ziva mengecup bibir ku, tanpa aba-aba aku langsung menarik tengkuknya, dia memang wanita ku yang terlalu pandai membangkitkan gairah ku.


"Yang bantu ya," wajah ku melas, mata ku seperti berkaca-kaca memohon bantuan istri ku.


Ah senangnya dia mau walau pun hanya dengan tangan mulusnya rasanya sungguh tiada tara, lebih baik dengan tangan lembutnya dari pada aku bermain solo di kamar mandi, oh jiwa mesum ku kenapa kau meronta-ronta di saat waktu yang tidak tepat begini sungguh kau menyiksa ku.


... ...


... TAMAT....

__ADS_1


__ADS_2