Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 118


__ADS_3

"Napa lu?" tanya Vano pada Arman yang sedang duduk termenung di teras.


"Tau lah," jawab Arman sambil menyeruput kopi pahit.


"Yakin?" Vano tampaknya tau kalau adik angkatnya itu sedang dalam kegalaian.


"Gue bingung apa gue batalin aja rencana buat nikahin Seli, gue cinta sama dia. Tapi lu tau lah gimana dia ke gue," Arman diam dan kembali menyandarkan tubuhnya di tembok.


Vano menepuk pundak Arman, "Perjuangin lah kalau lu cinta, lu ingat nggak gue dulu gimana perjuangin Ziva, udah ngemis-ngemis gue lu mah belum seberapa," Vano memberi semangat pada Arman serta mengingatkan kisahnya dulu yang di tolak mentah-mentah oleh Ziva. Tapi karena ketulusannya mencintai Ziva, kini ia dan Ziva hidup bahagia bahkan sebentar lagi Ziva akan kembali melahirkan anak kembar 4 mereka.


"Iya sih," Arman mengangguk mengerti, "Ok, gue bakal coba lagi, demi cinta!" Arman lansung berdiri.


"Lu mau kemana?" tanya Vano yang malah di buat bingung.


"Mau nemuin Mama," teriak Arman dari kejauhan.


"Buat apa?" Vano masih bingung sepertinya.


"Buat lamarin Seli lah, emang elu yang nggak menghargai orang tua nikah aja diem-diem," kata Arman sambil menghilang dari pandangan Vano.


"Sialan tu anak," Vano malah kesal ia menyemangati Arman tapi balasan Arman malah menyindinya.


****


Arman dan Sinta juga Hardy kini sudah berada di rumah Seli dan berbincang hangat dengan Lastri bunda dari Seli.


"Saya sangat merasa tersanjung sekali, hari ini ada tamu yang terhormat mau datang ke rumah kami yang masih di bawah sederhana ini," tutur Lastri, ia sangat terharu dan tidak menyangka kalau pengusaha hebat dan terkenal datang kerumahnya.


"Sama saja mbak, kami juga hanya warga biasa seperti mbak," jawab Sinta yang selalu merendahkan diri.


"Ibu Sinta memang suka sekali merendah, saya jadi merasa terharu," tutur Lastri, ia membenarkan gosip di luar sana yang mengatakan jika Sinta Zavano sangat lembut dan baik, bahkan tidak sombong walau hidup bergelimang harta. Lihatlah saat ini saja mereka duduk di kursi sederhana, tapi ketiganya tidak merasa jijik sama sekali.


"Jadi begini bu, kami datang kemari untuk membicarakan hubungan Arman dan Seli," kata Hardy yang kali ini berbicara pada Lastri.


"Ya bagaimana baiknya saja Tuan," jawab Lastri.

__ADS_1


"Saya calon besan anda Bu Lastri bukan calon pekerja saya," Hardy terkekeh mendengar perkataan Lastri yang begitu menghormatinya.


"Iya Pak Hardy," Lastri merasa tidak enak sendiri.


"Jadi bagaimana Bu Lastri, apa anda merestui mereka memikah?" tanya Hardy lagi.


"Saya setuju saja pak Hardy," jawab Lastri.


"Baiklah kalau ibu Lastri setuju berarti pinangan kami di terima bukan begitu ibu Lastri," kata Hardy tersenyum bahagia karena sebentar lagi putra angkatnya akan menikah juga.


"Iya pak," jawsb Lastri lagi.


"Cie nikah," Sinta malah menggoda Arman yang sedari tadi diam duduk di sampingnya.


"Mama apa sih," Arman malah malu sendiri karena Sinta menggodanya di hadapan Lastri.


"Mbak Lastri, Seli dari tadi kok nggak kelihatan," Sinta mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Seli yang sedari tadi tidak kelihatan.


"Ada mbak Sinta, anak gadis biasa lah di kamar, malu-malu meong anak jaman sekarang mbak Sinta seperti tidak pernah muda saja," seloroh Lastri.


"Ah, iya mbak saya panggilin Seli dulu ya," kata Lastri sambil bangun dari duduknya.


Tidak lama berselang Seli keluar dengan senyuman, tentu saja karena ada Sinta dan Hardy. Kalau hanya ada Arman dia pasti akan marah-marah saja karena kesal, sebenarnya Seli marah karena Arman memiliki kedekatan dengan seorang wanita bernama Yuli. Namun karena Seli wanita yang tertutup dan tidak mau mengungkapkannya, alhasil ia marah-marah tidak jelas bila berdekatan dengan Arman.


"Mama," Seli mencium punggung tanggan Hardy lalu Sinta.


"Eh, anak Mama," Sinta meminta Seli ikut duduk di sebelahnya.


"Mama udah lama datang," tanya Seli berbasa-basi, padahal ia mendengar semua pembicaraan Sinta.


"Udah dong buat lamar kamu," Sinta mencubit gemas dagu Seli yang akan segera menjadi menantunya.


Sementara Seli menatap Arman dengan jengah, tapi terpaksa tersenyum pada Sinta.


"Oh ya, biasanya orang mau nikah itu minta mahar kan ya, kamu mau minta apa?" tanya Sinta yang sangat menghargai menantunya. Bahkan dulu saat ia tahu Ziva juga ternyara istri Vano, tidak lama kemudian Sinta membelikan satu set perhiasan untuk Ziva, menghargai bahwa Ziva menatunya sebab Ziva menikah pun tanpa resepsi dan Sinta sebagai seorang wanita juga merasa sedih.

__ADS_1


"Apa aja yang Mama kasih Seli terima," kata Seli.


"Anak manis, sepertinya ada yang malu-malu ya," kata Sinta lagi menggoda Seli.


"Mama apasih," Arman juga kesal dengan Sinta yang mencoleknya.


"Kamu mau kan jadi menantu Mama?" tanya Sinta memegang dagu Seli.


Seli diam dan memperhatika wajah Sinta yang penuh harap, dengan terpaksa Seli mengangguk sebab tidak enak menolak Sinta yang selalu baik dan menyayanginya.


"Alhamdulilah, mbak Lastri kita jadi besan," kata Sinta tersenyum bahagia pada Lastri.


"Iya mbak Sinta, saya sangat terharu sekali. Lelah saya selama ini akan terbayar dengan mereka memberi kan cucu pada kita," kata Lastri dengan bahagia.


GUUK.


Seli hanya bisa menelan saliva mendengar perkataan Lastri, tadi ia menjawab tanpa berpikir kesana. Tapi mau di tolak sekarang rasanya tidak mungkin lagi melihat Lastri dan Sinta kini malah berpelukan, lalu bercerita dengan bahagia.


"Jadi kapan rencana pernikahannya menurut mbak Lastri?" tanya Sinta yang terlihat antusias.


"Saya terserah saja mbak sederhana yang penting sah," tutur Lastri yang tidak dapat mencurahkan rasa bahagianya dengan kata-kata.


"Iya itu benar sekali kalau begitu biar saya putuskan satu minggu lagi mereka menikah," Sinta tidak mau menunda-nunda lagi karena ia ingin mengadakan resepsi besar-besara, karena setelah Ziva melahirkan ia juga akan mengadakan resepsi pernikahan Ziva dan Vano.


"Mama apa nggak terlalu cepat?" tanya Hardy.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Sinta santai.


"Iya mbak, niat baik sebaiknya di segerakan," Lastri ikut menimpali.


Sepertinya Seli hanya bisa diam sebab kedua wanita itu melupakannya malah mereka sudah memutuskan sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Seli kenapa diam, apa satu minggu terlalu lama, kalau begitu besok saja," kata Sinta manusia usil yang sangat suka menggoda.


"Enggak, enggak Ma, satu minggu lagi saja," kata Seli dengan cepat, paling tidak masih ada waktu satu minggu untuk ia benapas lega, sebelum akhirnya menyandang status nyonya Arman Alfarizi.

__ADS_1


__ADS_2