Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II □ BAB 160


__ADS_3

Malam ini Arman tak tidur sama sekali, sebab ia menunggu hari esok tiba, sebentar lagi bulan suci ramadan. Jadi tidak boleh di sia-siakan detik-detik ini sebab nantinya sudah tidak boleh melepas puasanya di siang hari, jadi Arman tidak mau terlewat satu detik pun.


"Kakak belum tidur," Seli yang terbangun di tengah malam melihat sang suami yang sedang menatapnya menjadi bingung, ia dapat memastikan jika Arman belum tidur sama sekali. Sebab mata Arman masih segar.


"Kakak lagi liatin jam," jawab Arman, telunjuknya mengarah pada jam dinding berukuran sangat besar di kamar itu.


"Buat apa jam di liatin," Seli bingung mengapa suaminya seaneh ini, jam? Untuk apa jam terus-terusan di perhatikan begitulah yang Seli pikirkan saat ini.


Seli tak perduli ia balik memunggungi Arman, hari masih gelap dan di tengah malam begini hanya ada kantuk saja. Seli tak mau ambil pusing dengan keanehan sang suami tercintanya itu sama sekali. Hingga kini jam menunjukan pukul tiga pagi Seli berbalik untuk memeluk sang suami, mata Seli terbuka lagi dan melihat Arman masih setia melihat jam dinding.


"Kakak, belum tidur?" Seli bertanya dengan mata tertutup sebab masih sangat mengantuk, bahkan ia sudah tak mendengar jawaban Arman.


Pagi harinya jam menunjukan pukul tujuh pagi, Seli terjaga dan matanya menatap jam dinding. Bibir Seli melengkung membentuk senyuman melihat Arman yang tertidur lelap, Seli hanya bisa geleng-geleng kepala dalam kebingungan mengingat tingkah konyol sang suami. Ia pun turun dari ranjang dan mulai mandi di kamar mandi, serelah di rasa sudah cukup Seli keluar dan matanya masih menatap sang suami yang tertidur dengan lelap.


"Seli pengen masak deh," gumam Seli, ia memakai pakaiannya dan setelah mengeringkan rambut pendeknya, ia keluar dari kamar. Kamar Arman dan Seli terletak di lantai satu sebab Arman yang lama tinggal di apartemen dalam ketinggian sudah malas dengan ketinggian.


Seli selesai masak dan sudah di tata di meja makan di bantu oleh Art, tidak tanggung-tanggung Arman memperkerjakan 15 pekerja di rumah besarnya itu, dengan berbagai tanggung jawab nya masing-masing. Sebab ia tak mau jikalau Seli mengerjakan apa-apa sendiri di tambah lagi Lastri. Lastri memang tinggal bersama Arman dan Seli. Awalnya Lastri menolak karena merasa malu tapi Arman memaksa, sebab Arman kasihan pada Lastri yang tinggal sendirian di rumah. Bahkan Arman mengsongkan sedikit lahan bagian belakan rumahnya untuk Lastri berkebun, sebab itu adalah hoby Lastri yang dapat mengusir kejenuhannya.


"Seli kamu masak Nak?" Lastri yang baru saja menyirami tanamannya kini berada di dapur dan melihat Seli menata makanan di meja.


"Iya Bunda, makan yuk," Seli tersenyum bangga atas apa yang sudah ia lakukan.


"Kamu jangan bikin Arman marah, kamu tau kan Bunda aja kemarin cuci piring pas Arman lihat semua pekerja kena imbasnya, kasihan tau Nak kalau Art jadi korban," Lastri ingat saat kemarin di mana semua Art terancam di pecat semua hanya karena Lastri mencuci piring, padahal itu keinginan Lastri sendiri.

__ADS_1


"Nggak Bunda, kalau masak Kak Arman nggak akan marah...kecuali Seli bersih-bersih rumah atau yang lainnya baru Kak Arman marah, Kak Arman tau Seli suka masak dan Kak Arman juga sering minta di masakin sama Seli," tutur Seli.


"O," Lastri menarik kursi dan duduk, "Armannya mana?" Lastri tak melihat menantunnya di sana, mereka sudah biasa sarapan bersama-sama jadi aneh rasanya bila salah satu dari mereka belum ada.


"Kita sarapannya duluan aja ya Bunda, Kak Arman semalam begadang mungkin dia kecapean dan nggak bisa tidur. Jadi Kak Arman biarin aja dulu tidur nanti sarapannya kalau udah bangun aja Seli temanin," Seli juga tak tega membangunkan suaminya yang tertidur sangat lelap.


"O, ya sudah," Lastri mengerti dan ia mulai sarapan dengan Seli.


Jam menunjukan pukul satu siang, Arman mengerjabkan mata tidurnya terusik karena cahaya panasnya mentari di siang hari mulai menyentuh tubuhnya, perlahan Arman di hampiri kesadaran matanya menatap jarum jam yang ternyata sudah menunjukan pukul satu siang.


"Jam satu," gumam Arman dengan shock, dengan reflek ia melihat kesamping dan istrinya tak ada di sana. Dengan cepat Arman turun dari ranjang dan keluar dari kamar mencari keberadaan sang istri.


"Sayang."


"Arman kamu cari Seli?" tanya Lastri yang duduk tidak jauh dar Arman.


"Iya, Bunda lihat Seli?" tanya Arman di selingi kantuk yang masih terasa.


"Nah itu dia," telunjuk Lastri menunjuk Seli yang baru saja masuk, dengan mencium bunga mawar yang baru saja ia petik dari hasil berkebun bunga sang Bunda.


"Kakak cari Seli?" Seli bingun dengan suaminya yang hanya menggunakan celana boxer selutut tanpa baju, jangan lupakan Arman kini memakan sendal bulu-bulu milik Seli yang berwarna ungu dengan boneka besar tentunya.


"Iya," Arman merangkul pundak sang istri dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


"Kakak kenapa sih aneh banget, ini lagi sendal Seli di pakek," telunjuk Seli menujuk kaki Arman, mata Arman melebar ternyata tadi ia berpenampilan sangat bodoh di hadapan Lastri. sang mertua.


"Lupa yang ngantuk," Arman menggaruk pantat memasukan tangan kedalam boxsernya.


"Kakak jorok banget sih," Seli merinding melihat kelakuan aneh suaminya, "Makanya malam jangan begadang begini kan jadinya," kesal Seli.


"Apa sih," Arman menarik Seli keranjang dengan cepat, ia sengaja tak tidur karena tak ingin terlewat walau satu menit menunggu hari esok tapi malah tertidur di saat hari sudah subuh, dan siang harinya iya baru terbangun.


"Kak, lepas," Seli mendorong Arman dan menolak ketika Arman hendak menciumnya.


"Apa lagi," tanya Arman masih dalam kekesalannya.


"Mandi dulu, napas Kakak bau banget Seli nggak kuat, kalau nggak mandi Seli nggak mau," kata Seli sambil mendorong Arman bangun dari atasnya.


"Nanti aja mandinya ya yang," kata Arman berharap Seli luluh.


"Maaf suami ku sayang," Seli menggeleng pertanda ia menolak.


"Ayolah yang udah nggak tahan, udah sampek di ujung banget yang. Udah kebelet banget," tutur Arman berharap Seli luluh.


"Kakak mandi dulu, gosok gigi, Seli tunggu di sini Seli nggak mau sekarang Kakak juga bau jigong begini," ucap Seli sambil mencari udara segar.


"Iya udah....." dengan perasaan kesal Arman masuk kedalam kamar mandi, bukan hanya kehilangan satu menit tapi Arman kehilangan banyak waktu saat ia akan kembali merasakan hangatnya hal itu. Tapi semua kembali di tunda dan kini Arman berusaha secepat mungkin mandi agar bisa mendapatkan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2