Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 38


__ADS_3

Malam hari nya Ziva terbangun dari tidurnya karena merasa haus dan ia ingin minun. Ziva bangun dan turun dari ranjang nya ia keluar dari kamar dan ia melihat Vano yang tidur meringkuk di sofa. Ziva tidak peduli ia terus berjalan kedapur. Dan setelah ia minun ia kembali lagi kekamar dan ingin melanjutkan tidur nya. Namun saat Ziva hendak masuk ke kamar nya ia melihat Vano. Ziva mulai berjalan ke aras sofa. Ia melihat wajah Vano sedikit pucat dan Indah memegan dahi dan tangan suami nya. Vano tidak menggunakan selimut ia seperti kedinginan.


"Ziva jangan tinggal kan aku. Aku mohon aku berjanji akan selalu di samping mu. Dan aku menyesal atas apa yang sudah aku lakukan. Ziva aku mohon. Zivaaa" Vano terus mengingau menyebut nama Ziva dengan wajah yang semakin pucat.


"Mas" tangan Ziva menggoyangkan tubuh Vano.


"Mas." Ziva terus memanggil Vano yang mengingau dalam tidur nyenyaknya.


"Mas" kata Ziva lagi yang merasa khawatir.


Ziva berusaha membangun kan Vano. Sambil terus mengoyang-goyang kan tubuh Vano yang terasa dingin. Namun Vano sangat sulit sekali di bangun kan ia terus saja berteriak menyebut nama Ziva.


"Ziva!!!!." Vano berteriak dengan napas yang memburu seolah ia sehabis berlari. Tubuhnya dingin namun ia juga mengeluarkan keringat. Vano mulai tersadar dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Vano melihat Ziva yang duduk di samping nya. Vano mulai bangun dan mendudukan dirinya dengan cepat Vano memeluk tubuh mungil istri nya. Ia sangat takut mimpi buruk tentang Ziva meninggalkan dirinya menjadi nyata.


"Sayang kamu jangan tingal kan Mas ya" kata Vano yang terus memeluk Ziva.


Ziva diam tidak menjawab hatinya yang sekeras batu itu. Sepertinya sangat susah sekali untuk di lunakan. Rasa benci karena Vano sudah memaksa menikah dengannya masih belum bisa di terima Ziva. Dan di tambah lagi ia harus menjadi istri simpanan. Lalu Vano selalu bersikap sesuka hati tanpa memikirkan perasaan Ziva.


Vano mulai melepaskan pelukannya ia sedikit menjaukan tubuh nya dan tubuh Ziva. Vano ingin melihat wajah Ziva. Karena ia diam saja bahkan tidak mengatakan apapun pada Vano. Vano sangat takut karena sampai saat ini Ziva belum bisa menerima dirinya. Dan tidak juga menjab pertanyaannya.


"Ziva Mas mohon beri Mas satu kesempatan saja" kata Vano.

__ADS_1


"Aku sudah pernah bilang Mas. Tidak ada kesempatan kedua" jawab Ziva dengan tegas.


Ziva berdiri dan ia hendak melangkah masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur. Namun saat Ziva melangkah Vano menarik pergelangan tangannya menaha Ziva agar tidak masuk ke kamar sebelum memaafkan dirinya. Ziva yang pergelangan tangannya di tarik langsung berhenti melangkah karena tangan nya terus di pegang oleh Vano.


"Mas mohon Ziva" Vano mendudukan diri nya di lantai dan menundukan kepalanya.


"Tidak usah seperti ini Mas" kata Ziva dengan sinis.


"Mas mohon. Apa mas harus bersujud di kaki mu agar kau yakin bahwa Mas tulus meminta maaf" kata Vano.


Deeg!.


Hati Ziva mulai tersentuh dengan apa yang barusan di ucapkan Vano. Ziva ikut mendudukan diri nya di lantai dan kini keduanya duduk saling menatap satu sama lain. Tidak ada lagi wajah sangar Vano dan ucapan pedas dari bibir nya. Yang ada hanya air mata Vano mulai menetes. Karena rasa takut yang begitu besar bila Ziva meninggalkannya.


"Mas mohon" lirih Vano.


"Iya. Aku akan memberi satu kesempatan. Tapi hanya satu kesempatan lagi Mas. Bila Mas melakukan kesalahan maka Mas harus berjanji untuk menceraikan aku dan tidak lagi masuk dalam kehidupan ku" kata Ziva dengan tegas.


"Terimakasih. Mas janji. Mas tidak akan pernah menyakiti mu lagi" kata Vano.


Ziva berdiri dan Vano juga ikut berdiri. Ziva berjinjit dan memegang dahi Vano. Tubuh Vano terasa sangat dingin.


"Ayo Mas tidur di kamar saja" kata Ziva.

__ADS_1


Vano berjalan memegang tangan Ziva. Ia merasa bahagia karena ia mendapat maaf dari Ziva dan ia tidak akan pernah lagi menyakiti Ziva. Ziva mulai merebah kan dirinya di kasur begitu juga dengan Vano. Vano memeluk tubuh Ziva.


Ziva diam saja ia tidak menolak karena ia sudah berjanji memberi kesempatan pada Vano. Lagi pula ia ingin membuktikan sebesar apa cinta Vano padanya dan kalau memang Vano tidak pernah mencintainya. Vano harus meninggalkannya sesuai dengan janjinya itu dan Ziva juga tidak mau hidup dalam rumah tangga yang tidak memiliki kejelasan.


"Sayang" kata Vano.


"Em. " jawab Ziva yang sudah menutup kedua mata nya.


"Kamu tau nggak?" tanya Vano.


"Enggak" ketus Ziva.


"Mau tau nggak?" tanya Vano lagi.


"Enggak" jawab Ziva lagi. Karena matanya sudah sangat mengantuk. Dan Vano terus saja memanggilnya.


"Sayang ayo lah" kata Vano mulai membuka satu persatu kancing piama Ziva.


"Aku ngantuk Mas" Ziva menup tubuhnya dengan selimut namun Vano juga ikut masuk.


Dan Vano memulai aksinya di sana. Rasa yang berhari-hari bergelora, kini melebur selama 2 jam lamanya. Setelah pergulatan panas itu terjadi selama 2 jam kini keduanya tertidur saling berpeluk kan. Dengan tubuh polos Keduanya merasa lelah dan sudah mandi keringat dengan hati yang bahagia.


Vano terbangun dari tidur lerlelapnya ia hanya memandang seorang wanita yang sangat berharga untuknya. Sesekali ia memencet hidung sang kekasih halal namun Ziva tidak mengingat apa-apa rasa lelahnya sungguh membuatnya tidak mengingat apapun. Vano mulai membelai pipi Ziva memperhatikan wajah wanita itu hingga ia merasa puas, namun Vano tak pernah bisa merasa puas dalam hal memandang istri kecilnya itu.

__ADS_1


Ziva memang masih cukup belia namun pesona Ziva mampu membuat Vano lemah tak bisa berpaling dari seorang gadis kecil yang dulu sempat menjadi pelampiasan satu malam. Dan siapa sangka pertemuan satu malam itu justru membawa keduanya pada ikatan pernikahan. Pernikahan bukan hanya di dunia namun juga Vano berharap di akhirat juga bisa bersama Ziva.


Vano tak pernah membayangkan pernikahannya dengan wanita yang paling ia cintai dulunya akan kandas di tengah jalan. Dulu Vano berjuang mati-matian demi ia bisa mendapat cinta Keyla. Sungguh dunia berputar, begitu juga dengan kehidupan. Tidak ada yang menjamin cinta pertama itu akan menjadi cinta terakhir. Namun Vano ingin cinta terakhirnya adalah Ziva tidak ada yang lain. Vano ingin hidup dalam bahtera rumah tangga bahagia dan sempurna bersama denga Ziva. Memilli banyak buah hati.


__ADS_2