Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Ektra part 2


__ADS_3

Sore harinya keluarga Zavano dan keluarga Rianda berkumpul di rumah Sinta, mereka sangat suka makan malam bersama dan malam ini giliran rumah Sinta yang di serbu anak-anak Vano dan Bilmar. Rumah Sinta sudah seperti tak pernah di bersihkan selama satu minggu, ia pun sudah mulai terbiasa akan hal itu. Karena cucunya sangat banyak dan juga nakal, Sinta tak pernah mempermasalannya mamun terkadang ia juga di buat pusing tujuh keliling. Seperti saat ini, Alif, Bastian, Chandra, David, Zie, Gibran, Alif dan Alma. Semuanya sedang bermain di ruang keluarga, dua cucu perempuannya bermain boneka, sementara ke enam cucu laki-lakinya sibuk dengan bermain perang-perangan.


"Sayang anak ku bobo, syantik ya nak," Zie sedang memberikan susu formula pada boneka, seolah mereka sedang menidurkan seorang bayi.


"Zie, itu adik kita bukan anak," kata Alma yang mulai protes, karena ia menyebut boneka itu adik bukan anak seperti yang di sebutkan Zie barusan.


"Suka-suka aku dong, kan yang main aku," jawab Zie tak mau menuruti perkataan Alma.


"Itu boneka," Alfa melempar bonek milik Zie, "Itu boneka," ulang Alfa lagi pada sang Kakak.


"Alfa....." Alma marah karena berani melempar boneka milik Zie.


"Uweeeee," Alfa malah menjulurkan lidahnya pada Zie dan Alma.


"Alfa........" teriak Zie dan Alma secara bersamaan.


Lalu Sinta datang karena mendengar keributan cucu-cucunya.


"Ada apa ini?" tanya Sinta yang berdiri di antara ketiga cucunya.


"Alfa, nakal Oma. Dia lempar boneka Zie," Alma mulai mengadu pada Sinta, kemudian Sinta menatap Alfa.


"Alfa.....apa itu benar?" tanya Sinta berpura-pura marah.


Alfa malah menggoyangkan pinggangnnya, "Benar nyonya Sinta," jawab Alfa lalu ia berlari dengan cepat.


Ratih hanya di buat geleng-geleng dengan tingkah Alfa sangat sama persis dengan tingkah Vano, yang sangat suka menjaili dirinya.


"Udah Alma sama Zie main lagi ya, Alfa udah pergi," kata Sinta.


"Kemana Oma?" tanya Alma yang sangat suka banyak bertanya.


"Kesana," jawab Sinta.


"Ngapain?" tanya Alma lagi.


"Main."


"Main apa?" Alma memang banyak bertanya selama ia belum menemukan jawaban yang menurutnya tepat, ia akan terus bertanya.


Sinta geleng-geleng kepala dengan tinggkah cucunya yang berbeda-beda.


"Oma nggak tau," dengan gerakan cepat Sinta pergi meninggalkan Alma dan Zie, karena ia pusing dengan pertanyaan Alma yang tak pernah ada habisnya itu.


"Oma kenapa Zie?" Alma kini malah bertanya pada Zie.


"Nggak tau," jawab Zie.


"Kok nggak tau?" tanya Alma lagi.

__ADS_1


"Nggak tau," jawab Zie masih dengan jawaban yang sama, kemudian Alma diam dan tak bertanya lagi.


"Alma, Daddy Bimar sama Ayah Vano, sama Papa Arman. Lagi berenang di kolam berenang kita ikutan yuk," kata Zie.


"Yuk," Alma bersama Zie langsung berlari menuju kolam berenang, dan benar saja di sana ada Ziva, Anggia, dan Seli juga. Di tambah dengan lima orang pria kecil yang masih berusia lima tahun.


"Daddy," teriak Zie pada Bilmar.


"Anak Daddy mau ikut berenang?" tanya Bilmar.


"Mau dong," Zie langsung masuk ke dalam kolam renang, dengan Bilmar yang menggendongnya.


"Alma juga mau, Papa Alma gendong," kata Alma meminta pada gendong bersama Arman.


"Ayo," Arman menggendong Alma di punggungnya dan berenang bersama.


"Alif ikut...."


"Bas juga...."


"Gibran juga..."


"Alfa ikut...."


"Chan juga....."


"Davit kenapa nggak ikut?" tanya Seli.


"Davit nggak ah Ma, Davit takut," jawab Davit menatap Seli.


"Kok takut?" tanya Anggia yang juga ikut penasaran.


"Takut aja Mom, Davit di sini aja," jawab Davit lagi.


"Dasar cowok penakut," teriak Alfa.


"Banci..." teriak Chandra.


"Penakut....." seru Gibran.


"Nggak papa aku di sini aja," kata Davit melipat kedua tangannya, dan ia sama sekali tak terpancing dengan saudaranya yang mengolok dirinya.


"Penakut....."


"Cengeng....."


"Lemah......."


Yang lainya terus mengejek Davit, kalau kata-kata takut yang di katakan yang lainnya Davit tak marah. Karena ia memang takut, tapi kalau lemah dan cengeng ia sangat tidak terima karena memang dirinya tak cengeng seperti yang diserukan yang lainnya.

__ADS_1


"Aku nggak lemah, aku bilang aku takut," jelas Davit.


"Sama aja takut sama lemah," teriak Gibran.


"Kamu kan cengeng," seru Bastian lagi.


Davit seperti berapi-api saat mendengar ejekan dari yang lainnya, ia langsung masuk ke kolam renang bergabung dengan yang lainya.


"Nih liat aku nggak lemah!" kata Davit dengan serius.


"Lemah, udah di paksa baru mau," jawab Bastian lagi.


"Udah, udah, udah, cucu Oma," Sinta berteriak karena merasa ribut.


Sementara Ziva, Seli dan Anggia malah tertawa melihat wajah kesal Sinta. Tak lama berselang Ratih juga datang.


"Cucu Oma semuanya, ayo kita bergoyang," kata Ratih dengan baju renang dan menyalakan musik dengan sangat kencang dari ponselnya, "Goyang pinggulnya semua," teriak Ratih.


Jika para anak-anak ikut bergoyang, namun tidak dengan Sinta, Vano, Bilmar, Arman, Ziva, Anggia dan Seli. Ketujuh orang itu malah melingo dengan apa yang di lakukan Ratih.


"Saya masih ting-ting......" Ratih terus bergoyang sambil bernyanyi di ikuti pada cucu-cucunya, yang menjadi penonton hanya di buat geleng-geleng kepala. Hingga Ratih melihat sesuatu di tengah kolam renang, dan dengan cepat ia menjeda musiknya.


"Oma kok di matiin sih," kesal Bastian.


"Iya, lagi seru tau Oma....." kata Alma juga.


"Itu apa kok ada kuning-kuning di tengah kolam," tangan Ratih menunjuk bagian tengah kolam renang, dengan adanya benda berwarna kuning yang cukup misterius.


Semua mata mengarah pada benda kuning itu.


"Itukan kotorang," kata Vano dengan cepat keluar dari kolam renang, begitu pun yang lainnya karena merasa jijik.


"Hueeek....." semua anak-anak itu malah muntah kecuali Davit, hinga mata Ziva menatap Davit penuh tanya.


"Siapa yang buang air besar di kam barusan?" tanya Ziva.


"Davit Bunda," jawab Davit.


"Kenapa kamu malah buang air besar di kolam, bukannya pergi ke toilet," omel Ziva.


"Jorok....."


"Jorok...."


"Dasar jorok," teriak anak-anak yang lainnya.


"Tadi Davit kan udah bilang, Davit takut. Tapi kalian semua bilang Davit cengeng dan lemah, karena Davit mules dan takut kelepasan. Tapi kalian tantang Davit kan, jadi Davit kelepasan. Padahal tadi Davit mau ketoilet," terang Davit sambil cengengesan mengingat tadi sebelum ia masuk ke kolam banyak yang mengejeknya.


Yang lainya sadar jika Davit tadi mengatakan takut, namun tetap saja mereka mengejeknya. Akhirnya kini mereka tahu jika Davit mengatakan takut dengan arti, takut kelepasan buang air besar di kolam dan akhirnya terjadi dan yang mengolok Davit menyesal setelah apa yang teejadi.

__ADS_1


__ADS_2