
"Maaf tapi sepertinya kalian sudah melewatkan sesuatu" kata Vano.
"Maksud nya?" tanya Rina.
"Sebaiknya anda tanyakan sendiri ke pada putri anda apa yang membuat saya lebih memilih wanita lain di luar sana dari pada hidup dengan putri anda" kata Vano dengan tegas.
"Kau membandingkan anak ku dengan perempuan jal*ng yang kau jadikan istri simpanan mu itu?" kata Rina dengan tersenyum miring.
"Berhenti menghinanya anda sudah terlalu menguji kesabaran saya!" kata Vano dengan tegas.
"Tapi itu lah kenyataannya. Putri ku wanita baik-baik kau tinggalkan, sementara wanita malam yang tidak jelas kau jadikan istri. Jangan-jangan di memakai susuk untuk memikat suami orang dan kau tidak sadar" kata Rina dengan jengkelnya.
"Nyonya jaga ucapan anda" kata Arman yang berdiri di samping sofa sigle yang di duduki Vano.
"Kalau anda tidak tau apa-apa sebaik nya tidak usah bicara" kata Vano.
"Aku tidak perduli, sebagai seorang ibu aku tidak akan membiarkan anak ku terhina. Apa lagi posisinya bergeser hanya dengan seorang pelac**. Menjijikan sekali" kata Rina dengan menekankan setiap kata-kata nya.
"Ya dan apa pantas seorang pengusaha hebat menikahi seorang pelac**?. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada di kepala kalian. Kalian orang hebat dan terpandang tapi kalian tidak melihat latar belakang orang yang masuk kedalam keluarga kalian. Aku tau? dan yakin mungkin di balik kesombongan dan tahta yang kalian miliki kalian juga banyak memiliki wanita pelac**" kata Herman dengan sinis dan menghina Hardy dan Vano yang duduk di hadapannya.
"Tentu saja kalau tidak bagaimana mungkin ini semua terjadi. Mungkin istri tuan Hardy juga sama seperti wanita malam itu. Maka dari itu kau juga ikut membela perbuatan salah anak mu" kata Rina kembali menimpali.
"Nyonya Rina tolong duduk dan semua kita bicarakan baik-baik" kata Hardy yang dari tadi duduk mendengarkan pembicara mereka namun sepertinya Hardy tidak bisa lagi diam ia pun merasa emosi dengan ucapan mantan besan nya itu.
__ADS_1
"Apa yang kita bicarakan baik-baik tuan Hardy. Anak anda sudah menghina anak saya!!" kata Rina.
"Tolong berbicara dengan baik nyonya. Apa anda manusia yang tidak berpendidikan? Sehinga anda tidak tau bagai mana cara berbicara yang baik dan bersikap sopan?" tanya Hardy yang mulai mengepalkan tangannya ia mulai tidak bisa menahan emosinya karena Rina dengan berani menyebut istri yang paling ia jaga dan ia cintai wanita murahan.
"Ya lalu apa yang harus aku katakan dengan semua ini. Apa kau pukir aku diam saja bila orang berani menyakiti anak ku?" tanya Rina.
"Sekarang tujuan anda kemari apa?" tanya Hardy karena ia merasa dari tadi hanya permasalah yang tidak berpenyelesaian.
"Saya datang kemari ingin menuntut hak anak saya dan saya tidak terima anak anda mencampakan anak saya begitu saja" kata Rina dengan tegas dan ia tidak mau kalah. Baginya anak nya memiliki hak atas harta yang Vano miliki dan ia tidak mau pulang dengan tangan kosong.
"Hak apa yang ada maksud. Apa hak masalah kekayaan yang di miliki Vano?" tanya Hardy.
"Iya dan di sana ada hak Keyla juga" jawab Herman dengan bangganya.
"Tapi dia anak anda tuan dan Keyla menatu anda. Dan mereka belum memiliki anak jadi pada siapa kalau bukan pada Vano anda mewariskan semua. Lalu cucu? mana mungkin. Keyla dan Vano belum memiliki anak" kata Awah Keyla.
"Ya dan tidak ada hak menantu di harta mertuanya hanya ada hak cucu dan mereka tidak memiliki anak. Dan pertanyaannya hak apa yang kalian maksud?" tanya Hardy dengan wajah datar nya.
"Tapi tetap saja kau sudah mencampakan anak ku yang tidak bersalah" kata Rina dengan berteriak karena emosi yang tidak lafi dapat ia tahan.
Arman mulai berjalan masuk ke ruang kerja Vano dan mengambil photo Keyla bersama laki-laki dan bukti kalau Keyla pergi keluar negeri bersama kekasih gelap nya dengan menggunakan uang Vano. Dan semua ia letakan di atas meja dengan mata yang melebar kedua orang tua Keyla melihat semua bukti-bukti itu dan kedua nya panik mereka pikir anak mereka adalah korban namun ternyata mereka salah.
"Ini tidak mungkin!" kata Rina.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang kau pergi dari sini" kata Vano.
"Tidak kau harus bertanggung jawab anak ku di rawat di rumah sakit karena kau" kata Rina.
"Anak mu itu tidak papa ia hanya beracting agar mendapat simpati dari kami dan kami sama sekali tidak tertarik untuk menjenguk putri mu itu" kata Vano.
"Kau sekarang kasar pada putri ku dulu kau yang datang pada nya dan ingin menikah dengannya" kata Rina yang tidak mau menyerah.
"Dulu aku bodoh tidak bisa membeda kan mana berlian dan mana imitasi. Aku pikir anak mu itu wanita baik-baik dan ternyata kini aku tau dia hanya wanita yang rela menjual dirinya hanya demi satu barang mahal yang ingin ia miliki" kata Vano.
"Cukup kau menghina anak ku" kata Rina.
"Sepertinya tidak ada lagi yang penting. Silah kan anda keluar dari sini" kata Vano sambil meletakan cek dan sudah ada nominal yang cukup besar.
"Tidak" kata Rina.
"Arman!" kata Vano. Vano bangun dari duduk nya melangkah pergi ia bosan dengan menghadapi mantan mertuanya yang tidak tahu malu itu.
"Silahkan pergi nyonya" kata Arman.
"Ingat tuan Hardy kami tidak akan diam saja dengan penghinaan ini. Kalian akan membayar semuanya dan tunggu apa yang bisa keluarga kami lakukan pada keluarga anda!" kata Herman ayah dari Keyla.
"Ya" jawab Hardy tersenyum miring.
__ADS_1
Rina dan Herman mulai bangun dan berjalan keluar sementara pengacara yang tadi di bawa oleh keduanya sudah dari tadi meninggalkan rumah itu. Karena ia baru tau ternyata lawan nya adalah seorang pengusaha muda yang selalu mendapat penghargaan di setiap tahunnya. Dan ia yakin pengacara rendahan sepertinya bukan tandingan keluarga Vano. Dari pada ia mendapat masalah yang akan membuat karirnya hancur lebih baik ia mundur saja itu lebih baik.