
Saat ini Ziva sedang memandang tas yang ia beli baru saja beberapa menit yang lalu. Ziva membolak balik tas yang berharga cukup pantastis itu, Ziva merasa senang dan bahagia sampai-sampai ia mengabaikan Vano yang sedari tadi terus memanggilnya. Bayi besarnya itu seperti seorang bayi yang sangat kecil merengek minta di beri asi. Dan suami mesumnya juga tidak jauh-jauh dari permintaan itu, hanya saja bedanya Vano tidak minum asinya hanya ngopeng saja. Pada tempat si penampung asi.
"Yang" Vano terus berusaha memeluk Ziva karena ingin di temani tidur siang.
"Mas" Ziva mejauh ia tetap fokus pada tas yang baru saja ia beli.
"Ayolah yang. Mas haus" rengek Vano.
"Minum!" bentak Ziva.
"Mas maunya minum yang itu" Vano menunjuk gundukan milik Ziva.
"Nggak ada" Ziva menunjukan wajah masamnya. Dan tidak lupa bibir manyun yang ia tunjukan pada Vano.
"Ayolah yang. Besok Mas beliin kamu mobil keluaran terbaru" Vano terus berusaha merayu Ziva karena Ziva sangat susah di ajak kerja sama untuk siang ini.
"Mas pikir aku jual diri. Abis di tidurin di bayar" Ziva mulai bercakak pinggang berdiri di sisi ranjang. Dengan darah yang mulai mendidih, bertapa Vano mulai mengukur harga dirinya dengan uang. Itu sama saja Vano mengingatkan Ziva pda masalalunya yang terasa sakit.
"Yang bukan begitu. Ayolah semua apa yang Mas miliki buat kamu juga, jangan sensitif gini dong yang. Mas cinta sama kamu, dan Mas nggak bisa di cukin sama kamu" kata Vano yang terus melas di hadapan sang istri. Dan berharap sang pujaan hati tidak lagi marah padanya.
"Mas lupa tadi pagi. Mas maksa Ziva buat itu..terus Mas tinggalin Ziva gitu aja di kamar mandi. Tanpa meminta maaf ataupun merasa bersalah sedikit pun. Mas lupa ya!!!" Ziva merasa jengkel mengingat kelakuan Vano saat pagi tadi dimana Vano memaksa dirinya untuk melayaninya, namun saat ia sudah masuk dalam gairah itu. Vano malah pergi begitu saja meninggalkannya.
"Mas minta maaf yang, Mas cuman bercanda" ujar Vano mendekati Ziva dan memeluk tubuh mungil sang istri. Terlihat perut istrinya itu sudah membuncit, karena usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat.
"Nggak ada. Mas keterlaluan dan nggak lucu" Ziva terus meluapkan emosi yang sedari tadi ia tahan dengan susah payah. Kini Vano pun harus merasakan apa yang tadi pagi ia rasakan.
"Yang"
"Ngak. Rasain. Gimana rasanya enak" ketus Ziva dihadapan Vano. Berbicara dengan setengah berteriak, tidak perduli mau di sebut istri durhaka, yang jelas Vano harus mendapat ganjaran darivperbuatannya.
Ziva pergi menuruni anak tangga. Namun Vano masih setia mengikuti tubuh mungil Ziva yang sedang tidak mau berdekatan dengannya, Ziva mulai mendaratkan pantatnya di atas karpet berwarna putih, berbulu tebal. Dan menyalakan tivi yang berukuran cukup besar. Di pasang di ruang keluarga. Dengan tubuh bersandar pada sofa yang terletak di belakangnya.
Ziva tidak perduli dengan keberadaan Vano yang sudah ikut duduk di sampingnya. Ziva mengambil makanan ringan yang di tata di atas meja tidak jauh darinya, menurut Ziva lebih baik makan dari pada pusing. Menghadapi bayi besar yang merengek minta sesuatu yang tadi pagi membuatnya jengkel. Ziva mulai menonton kartun kesukaannya, dengan sesekali tertawa karena lucu.
"Ck" Vano terus merasa kesal karena Ziva tidak perduli padanya. Vano berniat ingin menawarkan Ziva belanja di mall dengan ia yang menemani, namun ia takut Ziva lagi-lagi salah paham. Ia tau kini kebiasaan baru Ziva adalah berbelanja itu saja yang di sukai wanita yang tengah hamil empat bulan itu.
__ADS_1
Plak.
Ziva menepis tangan Vano yang sedang meremas gundukannya.
"Yang belanja yuk. Shoping. Bebas" tawar Vano memberanikan diri.
Ziva mulai memutar lehernya kekanan di mana ada Vano di sana. Mata Ziva berbinar, bibir manisnya memancarkan senyuman, mendengar tawaran yang Vano berikan.
"Kenapa nggak ngajak dari tadi" kata Ziva dengan sedikit tersenyum, kalau berbelanja ia tidak akan pernah menolak.
"Yuk. Kekamar ganti baju" kata Vano ia tidak menyangka ternyata ide yang dari tadi ia pikirkan ternyata berhasil.
"Tau begini mulusnya dari tadi aku keluarin ide ini" batin Vano.
"Mas yuk. Siap-siap ke mall" Ziva terlihat antusias dan kini ia terlihat sangat bersemangat.
"Yuk" Vano memengang tangan Ziva. Dan keduanya menaiki anak tangga.
"Mas kita naik motor ya nanti" pinta Ziva yang ingin jalan-jalan naik motor.
"Ok" jawab Vano enteng.
Mendengar perkataan Ziva. Vano diam ia mulai memikirkan seperti apa kondisi sepeda motor milik satpam itu. Harus di dorong baru menyala, belum lagi keadaannya sangat buruk. Bahkan berwarna ping. Kaca spion dua seperti sedang mengaminkan orang yang sedang berdo'a. Di tambah banyak bendera yang terpasang di beberapa bagian sepeda motor itu. Dan yang paling menyedihkan adalah jok yang sudah bolong-bolong sungguh memprihatinkan.
"Yang" Vano ingin mengajukan penawaran tapi ia melihat senyum Ziva mulai hilang.
"Ya udah" kata Ziva yang mengeti Vano tidak mau. Ziva menunduk dan keluar dari kamar, dengan wajah cemberut. Namun dengan cepat Vano menarik tangan istrinya dan tersenyum.
"Ya udah ia. Kita naik motor Didin" tidak ada salahnya mencoba menurut Vano. Lagi pula Vano ingin Ziva memeluknya lama dan motor Didin adalah solusi yang terbaik. Karena kalau biasanya ke mall hanya memerlukan perjalanan 15 menit saja dari kediaman mereka. Berbeda bila mengendarai motor cangih Didin besar kemungkinan perjalanan terasa panjang memakan waktu 60 menit. Itung-itung pacaran setelah menikah.
"Serius Mas" tanya Ziva dengan bahagia.
"Ya tapi bayarnya di depan ya" kata Vano.
Ziva hanya diam saja saat Vano mulai merengguh manis madu bibirnya. Ziva juga membalas apa yang Vano berikan padanyanya.
__ADS_1
"Sssst" Ziva mulai mendesah saat Vano mulai meremas gundukan miliknya.
"Enak yang?" tanya Vano dengan senyum bangganya karena berhasil membuat Ziva mendesah.
Setelah 40 menit keduanya melakukan olah raga siang hari. Kini keduanya sudah bersiap-siap untuk pergi sesuai dengan janji Vano tadi.
"Dorong bos" Arman mulai menggoda Vano yang sedang mendorong motor milik Didin agar menyala.
"Kurangajar" gumam Vano tidak terima Vano mengejeknya.
"Bisa Mas?" tanya Ziva.
"Bisa yang kalau di kasih kiss" kata Vano pada Ziva.
Cup!.
Ziva mencium pipi Vano di hadapan Arman.
"Huek huek huek" Arman berpura-pura muntah melihat Vano.
"Kau!!" Vano menatap tajam Arman yang terus mengejeknya.
"Mas ayo dorong" ucap Ziva karena ia ingin motornya segera menyala dan segera jalan-jalan naik motor itu.
"Bos lebih serem mafia kejam di luar sana atau istri?" tanya Arman dari kejauhan.
"Istri" teriak Vano, karena ia ingin Arman berhenti mengejeknya.
"Ahahahha" teriak Arman.
"Heh awas lo. Kalau nanti takut istri juga, ya. Beliin gua jet pribadi" teriak Vano mengajak taruhan.
"Ngak sekalian beli istri yang ketiga bos" kata Arman.
"Arman!!!!" teriak Ziva dengan berapi-api. Kali ini bukan lagi Vano yang menjadi lawan Ziva namun Ziva.
__ADS_1
"Noh kalo berani jangan hadapi gue. Ini hadapi bini gue" Vano menunjuk Ziva yang bersiap-siap melepar sendal miliknya pada Arman.
"Ampun" teriak Arman dan masuk ke dalam mobilnya pergi dengan secepat kilat, karena Ziva lebih berbahaya dari pada Vano.