
"Sayang......"
Arman baru saja pulang dari kantor dan kini ia sudah masuk ke kamar, namun ia tak melihat istri tercintanya di sana. Arman melepas dasi dan melempaarnya di sofa, setelah itu membuka jas mahal miliknya masih dengan cara yang sama melepar jas itu sesuka hatinya. Sama halnya kini ia duduk di sofa dan membuka sepatunya yang di biarkan di sana begitu saja, bahkan kaos kakinya juga terlempar begitu saja.
"Sayang...."
Arman melipat lengan kemejanya hingga sampai siku, ia keluar dari kamar dan mencari di mana keberadaan sang istri tercintanya.
"Seli?" panggil Arman setengah berteriak.
"Cinta gw di mana ya, nggak tau apa gw udah kangen banget," gumam Arman saat kini ia di lantai dua dan pandangannya mengedar mencari keberadaan sang istri, sebab kebiasaan Seli adalah duduk di balkon sambil membaca majalah, Arman berpikir mungkin sang istri tertidur tapi tidak juga ada hingga seorang pekerja melihat tuannya sedang meneriaki nama nyonya mereka.
"Tuan cari nyonya?" tanya Art tersebut.
"Iya, tau di mana istri saya?" tanya Arman berkacak pinggang.
"Nyonya di dapur tuan, bersama nyonya besar Lastri sedang membuat kue," tutur si Art, tangan Arman terangkat pertanda meminta si Art pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
Arman memang sangat dingin pada setiap pekerjanya dan membuat peratura tidak boleh centi atau pun berpakaian sexy. Sebab Arman tak mau ada yang menggodanya diam-diam atau pun ada yang berbuat zina sesama pekerja di rumahnya, tidak ada yang boleh berpacaran sesama pekerja kalau ketahuan akan di pecat langsung secara tidak terhormat. Begitulah peraturan yang di buat oleh Arman.
"Sayang."
__ADS_1
Terdengar suara Arman yang kini sudah berada di dapur, ia ingin memeluk sang istri dari belakan terlihat istrinya sangat sexy. Rasanya Arman hanya fokus memandang pinggang ramping sang istri. Bagian yang paling di sukai Arman, Seli selalu menggunakan pakaian yang tidak membuat tubuhnya jelas terbentuk, tapi ia selalu menggunakan pakaian yang longgar. Namun orang-orang tidak akan yakin di balik pakaian yang longgar itu, tubuh istri Arman Alfarisi itu sangat sexy bagai gitar sepanyol.
Bahkan Arman pun tak bisa berpaling lagi pada yang lain, istrinya memang sangat pendek semua orang pasti memikirkan itu tapi tidak dengan Arman. Arman dari semenjak sebelum menikah sudah yakin di balik pakayan longgar itu, tersimpan tubuh yang indah. Arman juga dulu sering memperhatikan Seli bila sedang bergoyang menghibur Ziva, tanpa sepengetahuan Seli tentunya.
"Kakak udah pulang?"
Seli terkejut melihat suami tercintanya sudah ada di hadapannya, bukankan sang suami ke kantor dan baru beberapa saat pergi tapi nyatanya kini sudah di rumah lagi.
"Iya, yang ikut Kakak bentar yuk," pinta Arman, ia tak mungkin langsung memeluk sang istri di hadapan Lastri, mungkin kalau hanya ada Art saja tidak masalah tapi Lastri adalah mertuanya dan ia sudah menganggap Lastri seperti ibu kandungnya sendiri.
"Kak, Seli lagi buat kue kesukaan Seli sama Bunda," tolak Seli dengan halus agar suaminya tak tersinggung, lagi pula ia sedang sangat asik dengan mengadon kue.
"Seli nggak baik bantah suami begitu," tutur Lastri dengan lembut.
"Tapi Seli lagi bikin kue Bunda," Seli tampaknya tidak mengerti dengan keadaan Arman saat ini, hingga Arman mendekati Seli.
"Kalau nggak ikut Kakak ke kamar, abis kamu di sini sama Kakak di hadapan Bunda juga," bisik Arman dengan suara yang pelan. Yang hanya keduanyanya yang mendengar.
Seli melebarkan mata, mulutnya terbuka lebar, mendeguk saliva dengan susah payah. Seli tak bisa membayangkan jika sampai Arman melakukan itu di sini, mata Seli reflek menatap Arman yang menatapnya juga dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Bunda di bantu Art aja ya, Seli sebentar lagi kalau belum siap Seli bantu lagi," pamit Seli yang mulai berjalan setengah berlari, karena Arman sudah berjalan jauh darinya. Lastri hanya geleng-geleng melihat pasangan muda di hadapannya.
__ADS_1
Kini keduanya sudah masuk kamar, Arman dengan cepar mengunci pintu tanpa bertanya apa-apa lagi.
"Mmnfp," Seli saja terkejut ketika bibirnya sudah di lahap habis oleh sang suami tercintanya, padahal ia ingin mengomeli sang suami yang sudah mengganggunya membuat kue bersama sang Bunda.
"Sayang, tadi Kakak suruh istirahat. Tapi kenapa kamu di dapur," tutur Arman dengan suara yang berkabut gairah.
"Ssstt," Seli ingin menjawab pertanyaan Arman, namun tidak bisa sebab Arman meremas dan menghisap miliknya, sudah lama Seli tak pernah merasakan itu dan saat kini Arman memberikannya nafkah batin rasanya Seli seperti seorang janda yang sudah lama tak pernah di beri sentuhan manja.
"Ah......." satu rintihan lolos tak kala Arman menghisap bagian, Seli hanya bisa meremas rambut Arman dan menekan semakin dalam untuk mengobrak abrik pabrik miliknya. Entah sejak kapan pakaiannya terlepas dari badan yang jelas kini keduanya sama-sama polos.
"Ah....ah....ah...." tanggan Seli hanya bisa mencengkram sapre dengan erat, merasakan kayu keras itu menusuk tubuhnya. Rasanya tak bisa di ucapkan dengan kata karena semua hanya bisa di rasakan dengan rasa yang sangat luar biasa.
Di rumah baru mereka itu ini adalah pertama kalinya terjadi, ruangan itu menjadi saksi suara rintihan yang saling bersahut-sahutan. Siang hari tak jadi penghalang untuk mencari kenikmatan surga dunia yang begitu penuh mendamba. Keringat yang mengalir di seluruh tubuh keduanya menjadi bukti nyata jika semua terasa melelahkan, namun lelahnya terbayar sesaat setelah puncak kenikmatan itu tiba.
"Kak," Seli terkulai lemas memeluk Arman yamg kini berada di sampingnya.
"Makasih sayang."
"Kak Seli haus pengen minum," Seli sangat lelah dan ia butuh minum, Arman bangun dan memberikan air yang ada di atas nakas pada Seli. Seli mendeguk habis air itu rasanya sangat menyegarkan tenggorokan, setelah itu ia kembali berbaring dan Arman menyelimuti sang istri.
"Capek?" Arman terkekeh sambil menyisir rambut sang istri dengan jari-jarinya.
__ADS_1
"He'um," jawab Seli dengan setengah sadar dalam sekejap ia sudah terbawa dalam tidurnya, bahkan ia sudah tak bisa lagi membuka mata.