
Saat ini Vano sudah berada di rumah nya. Ia ingin mengambil pakaiannya dan ia akan tinggal bersama Ziva. Ia sudah tidak memikirkan Keyla kalau pun Keyla minta berpisah Vano sama sekali tidak keberatan sama sekali.
"Vano" Sinta yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Hardi suaminya dan juga Keyla yang sedang menangis memeluk mertuanya itu.
Vano menghentikan langkahnya dan memutar badan nya. Menatap wajah Hardi dan Sinta.
"Duduk!" kata Hardi.
Hardi adalah Orang yang sangat tegas dan punya pendirian. Ia tidak mau mempermaikan hati seseorang apa lagi bila mempermaikan hati seorang wanita.
Vano duduk di sofa dengan saling berhadapan dengan ketiga orang itu.
"Ada apa Pa?" tanya Vano.
"Papa sangat malas mencampuri urusan rumah tangga kalian. Namun karena kalian tinggal di rumah Papa dan Keyla menceritakan masalah nya pada Papa. Jadi Papa mencoba menengahi namun keputusan tetap di tangan kalian. Hanya yang Papa minta ketegasan dalam pernikahan kalian. Bila kamu sudah tidak mencintai Keyla jangan sakiti dia dengan perlakuan acuh mu. Kembalikan dia pada orang tua nya. Namun bila kau masih mencintai nya maka bersikap baiklah pada nya dan perbaiki hubungan kalian!" kata Hardi. Hardi sangat tidak suka lelaki plin plan yang tidak punya pendirian.
"Pa. Keyla enggak mau pisah sama Vano. Keyla mau nya Vano kembali seperti dulu lagi. Hiks hiks" Keyla masih menangis di pelukan Sinta.
"Vano. Kenapa kamu pergi di malam resepsi pernikahan kalian. Dan kamu baru pulang sekarang. Kamu kemana?" tanya Sinta.
"Vano ada urusan Ma. Dan kalau Papa ingin Vano tegas dalam hal ini Vano akan memulangkan Keyla pada orang tua nya" kata Vano.
"Tidak. Aku tidak mau. Kita baru kemarin malam mengelar resepsi dan hari ini kamu mau menceraikan aku?. Kamu punya hati atau tidak?" kata Keyla sambil berteriak.
"Maaf Keyla tapi aku hanya menggambil keputusan yang terbaik untuk kita berdua" kata Vano.
"Keputusan? kamu bilang keputusan terbaik. Terbaik dari mana nya?" tanya Keyla.
"Sudah lah Keyla aku terlalu lelah kalau harus berdebat dengan mu?" kata Vano.
Vano bangun dari duduk nya dan pergi meninggalkan ketiga orang itu ia mulai menaiki tangga menuju kamarnya tapi dengan cepat Keyla juga berlari mengikuti nya dari belakan. Dan kini kedua nya sudah berada di dalam kamar. Vano mulai mengambil koper dan membuka lemari. Ia ingin membawa baju-baju nya.
"Vano. Kamu mau ke mana?" tanya Keyla.
__ADS_1
"Aku mau pergi dari sini" jawab Vano.
"Pergi? Lalu bagai mana dengan aku?" tanya Keyla.
"Kalau kau mau aku bisa mengantar mu pulang hari ini juga kerumah orang tua mu" kata Vano. Sambil terus memasukkan bajunya kedalam koper.
"Enggak aku mohon Vano. Kita baru kemarin melakukan resepsi dan kalau hari ini kita bercerai aku akan sangat malu dengan keluarga ku" kata Keyla.
"Jadi bagai mana maumu?" tanya Vano.
Vano mulai berbicara serius. Ia berdiri menatap wajah Keyla. Begitu juga dengan Keyla. Berdiri sambil menangis.
"Aku mohon Vano beri aku satu kesempatan. Dan aku rasa aku tidak memiliki kekurangan lalu kenapa kau ingin berpisah dari ku. Bukan kah kau tidak bisa hidup tanpa aku?" kata Keyla.
"Dulu aku memang begitu tapi tidak untuk saat ini!" jawab Vano.
"Apa kekurangan ku?" tanya Keyla.
"Oke. Aku akan memberi mu anak tapi kau jangan pernah meninggalkan aku" kata Keyla.
"Sudah terlambat. Aku sudah tidak mengingikan anak dari mu lagi!" kata Vano.
"Kau tidak mengingin kan anak dari ku lagi?" tanya Keyla.
"Ya" jawab Vano.
"Apa kau mempunyai wanita lain?" tanya Keyla.
Vano diam ia sedang memikirkan sesuatu. Kalau ia mengatakan Ziva adalah istrinya ia takut Keyla akan mencelakai Ziva. Vano sungguh tidak rela bila terjadi sesuatu pada Ziva walau hanya seujung kukunya saja ia bisa melakukan apa saja bagi orang yang berani menyakiti Ziva.
"Kenapa diam? jawab pertanyaan ku!" kata Keyla.
"Ya. Aku memang memiliki wanita lain" jawab Vano.
__ADS_1
Deeg!.
Hati Keyla terasa sakit. Kata-kata Vano bagai petir yang mengelegar di telinganya. Bukan kah selama ini Vano begitu mencintainya. Bahkan Vano tetap mau menikah dengannya setelah ia meninggalkan Vano. Itu lah sebab nya Keyla merasa menang karena Vano berada dalam kendalinya selama ini dan ia bebas melakukan apa saja. Namun kali ini ia benar-benar lengah sapai suami nya bisa berpaling dari nya. Rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi kalau Vano tidak akan meninggal kan nya seperti nya salah.
"Apa. Jadi kau selama ini bermain di belakang ku?" tanya Keyla dengan emosi.
"Kenapa kau tega sekali" tanya Keyla lagi sambil menarik kerah jas Vano.
"Tanya kan pada diri mu sendiri!' kata Vano.
"Katakan aku ingin mendengar dari mulut mu" kata Keyla.
"Baik. Kau selama ini tidak pernah memperhatikan aku. Dan bersama wanita itu. Dia selalu memperharikan ku. Bahkan tanpa di suruh ia menyeduh kan kopi dan sarapan untuk ku. Tidak seperti mu. Yang kau tau hanya berpoya-poya dan begitu seterus nya dan aku sudah muak" kata Vano.
"Sayang aku janji akan berubah aku akan memperbaiki semuanya. Tapi kau harus berjanji untuk meninggalkan wanita itu" kata Keyla.
"Tidak. Semua sudah terlambat. Dan aku tidak akan mau meninggalkannya" jawab Vano.
"Tapi aku janji. Aku pun akan memberi kan mu anak" kata Keyla berusaha meluluhkan hati Vano.
"Aku sudah tidak tertarik" kata Vano.
"Ayo beres kan barang-barang biar ku antar kerumah orang tua mu" kata Vano.
"Tidak sayang. Aku mohon kalau kau ingin bersama wanita itu baiklah aku setuju tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Dan kalau kau mau meninggal kan ku tolong jangan sekarang aku akan sangat malu pada keluarga ku karena baru kemarin resepsi pernikahan kita" kata Keyla.
"Baiklah. Aku akan memberi mu waktu satu bulan setelah itu aku akan mengantar mu ke rumah orang tua mu. Tapi ingat jangan pernah kau mengurus-urusan ku. Aku mau pulang ke rumah ini atau tidak itu bukan urusan mu sama sekali" Vano dengan tegas.
"Baiklah" jawab Keyla.
"Kurang ajar siapa wanita murahan yang berani merebut Vano dari ku. Aku akan mencari tau dan menghabisi nya" batin Keyla.
Vano mulai menarik kopernyan dan keluar dari kamar itu. Ia tidak perduli dengan Keyla dan ia akan kembali ke rumah Ziva dan akan tinggal selamanya bersama Ziva.
__ADS_1