
Seli kini hanya diam dan menangis, rasanya ia tak tau lagi harus apa yang ada hanya pertanyaan-peryanyaan yang banyak mengganjal di hati. Bukan kah ia yang ingin perceraian ini? Bukan kah ia di paksa dan terpaksa menikah dengan Arman, lalu kenapa saat Arman sudah mengabulkan keinginannya kini ia malah terluka, apa terluka? Apa masih ada kata terluka di hati Seli, sepertinya tidak bukankah ia tak pernah mencintai Arman.
Kalau ia tak mencintai Arman lalu kenapa ia harus menangis? Kenapa harus bersedih? Kenapa harus diam membisu dengan rasa tertusuk perihnya di tinggalkan Arman. Apakah cinta perlu ungkapan? Apakah cinta perlu pembuktian? Bukan kah Arman sudah membuktikan bahwa ia sangat mencintai Seli, bahkan Arman menjadi dewa penolong di antara ke kusahan Seli, bahkan tanpa Seli ketahui. Lalu di mana kurangnya, di mana keraguannya? Mengapa hati Seli masih bimbang, mengapa Seli menganggap semua bagai mainan.
Ya. Saat ini Seli masih diam membisu memandang bingkai fhoto saat Arman mengucapkan ijab kobul di hadapan penghulu, saat pertama kalinya Arman mengecup keningnya, saat pertama kalinya Arman melingkarkan mahar di leher Seli, tidak ada kata yang bisa di jelaskan, yang ada hanya air mata yang menggambarkan bertapa hati kini sangat terluka.
"Seli," Terdengar suara Lastri yang menghampiri Seli masuk ke dalam kamar, dengan cepat Seli menyimpan fhoto yang ia pegang ke bawah bantalnya.
"Bunda," Seli menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipi, menampakan senyum pada Lastri menutupi bertapa ia ingin Arman ada di sisinya.
Lastri tersenyum lalu berjalan masuk, mendekati sang putri, tidak lupa Lastri membawa sepiring nasi berisi lauk dan sayur juga segelas susu. Karena Lastri tau Seli belum makan sedari pagi hingga hari sudah malam.
"Kamu makan ya Nak," Lastri menyuapi sang putri.
"Tapi Seli lagi malas makan Bunda," Semejak hamil Seli memang jarang makan, dan ia tidak suka walau hanya bau masakan di tambah lagi saat ini, hati dan pikiran yang sedang kacau, seolah semakin mendukung untuk tak menyup sesuap nasi pun.
"Kamu harus makan, kamu nggak lapar tapi anak kamu bagaimana?" Lastri mencoba membuat Seli mengerti dan memikirkan anak yang kini di kandung.
"Iya udah," Seli dengan terpaksa makan dengan di suapi Lastri, menahan rasa mual yang terdorong dari dalam.
__ADS_1
"Kamu udah nggak sanggup ya?" Lastri tau sang putri memaksa kan diri, Lastri ingat dulu ia juga malas makan saat mengandung Seli dan tampaknya Seli pun mengalami itu. Tapi Lastri ingat jika mendiang suaminya yang menyuapi ia akan makan dengan lahap. Apakah Seli juga demikian? Entah lah Lastri hanya mampu menarik nafas dengan dalam berharap ada ke ajaiban yang membuat sang putri tetap bersama Arman.
"Seli minum susu aja ya Bun?" Pinta Seli di angguki Lastri.
"Iya, kamu udah makan setengah dari isi piring ini, sekarang lanjut susu aja dan setelah itu kamu tidur ya," Lastri memberikan segelas susu buatannya untuk Seli. Dan dalam sekejap Seli meminumnya hingga tandas.
"Assalamualaikum..." Terdengar suara Ziva yang datang bersama Vano.
"Walaikumsalam.." Lastri keluar dari kamar lalu tersenyum melihat Ziva dan Vano. Vano langsung duduk di kursi sementara Ziva berdiri di depan pintu kamar Seli.
"Ziva, masuk Nak, Bunda keluar dulu ya," Pamit Lastri dengan tersenyum pada Ziva.
"Ya Bunda," Jawab Ziva sambil kakinya melangkah masuk dan duduk di atas ranjang Seli.
"Makasih ya Zi, kamu ada untuk temani aku," Tutur Seli.
"Seli, kamu jangan ngomong gitu. Dulu juga cuman kamu yang ada saat aku sedang dalam kesulitan, kamu ingat dulu sewaktu kita sekolah? Nggak ada yang mau temenan sama aku saat mereka tau aku udah jatuh miskin, tapi kamu datang waktu itu untuk menjadi teman ku, kamu ada sampai saat ini. Dan sekarang kamu seperti ini aku juga harus ada untuk kamu ya," Ziva tersenyum menguatkan Seli.
"Iya," Seli melepas pelukannya, dan mulai tersenyum.
__ADS_1
Sudah seminggu ini Arman benar-benar menghilang entah kemana tak ada yang tau, entah Vano juga saat ini tidak tau di mana adik angkatnya itu berada atau mungkin ia sudah tau tapi tak memberi tahu karena permintaan Arman. Yang jelas tak ada wajah Arman terlihat saat ini.
"Aku bawa buah buat kamu," Ziva ingat tadi ia membawa buah tapi ia tinggalkan di meja depan.
"Aku masih kenyang Zi, Bunda baru antarin aku makanan," Kata Seli.
"Em, kamu jangan sedih terus dong, kamu kan kuat," Tutur Ziva.
Ziva tau seberapa kuatnya Seli menyimpan luka hati, mungkin Seli berhasil membohongi semua orang dengan mengatakan ia baik-baik saja. Tapi tidak pada Ziva, Ziva sangat tau Seli saat ini berusaha kuat dan tabah menerima ke adaan namun entah sampai kapan Seli terus menyimpan luka lara yang kini mengerogoti relung hati.
"Apa aku terlalu egois ya Zi?" Tanya Seli.
"Aku ngerti gimana ke adaan kamu saat ini, kamu memang tidak mencintai Arman saat kamu menikah dengannya, tapi saat ini kamu tidak bisa berbohong untuk mengatakan kalau saat ini kamu tidak mencintai Arman," Tutur Ziva.
"Iya kamu benar Zi, dan sekarang saat aku tau aku sudah mencintainya semua sudah terlambat, aku bukan lagi istrinya, dan dia pun menghilang entah ke mana, biar dia pergi semoga dia juga bahagia di sana dengan wanita yang jauh lebih baik dari pada aku," Seli menunduk dan hanya bisa mengusap setiap air mata yang menetes.
"Seli, kamu ngomong begini aku juga pingin" teriak tau nggak," Ziva kembali memeluk Seli.
Ziva berpikir permasalahan Seli tidak serumit permasalahannya dulu yang berstatus istri simpanan, bahkan Arman terang-terangan mengatakan cinta pada Seli. Berbeda dengan Vano yang serakah menginginkan dua istri sekaligus, namun Ziva juga tidak membenarkan tindakan Arman yang main tangan tanpa bertanya asalmuasal permasalah terlebih dahulu.
__ADS_1
"Nggak papa Zi aku kuat kok," Tutur Seli tetap tersenyum.
Setiap orang memiliki ke sempatan untuk memperbaiki kesalahan, apakah Seli dan Arman tak memiliki kesempatan itu. Tuhan saja maha pengampun apa mungkin manusia tak memiliki belas kasihan bahkan untuk wanita yang di cintainya sekali pun. Arman mungkin akan kembali bila ia tau Seli sudah mencintainya namun Arman saat ini tak tau akan hal itu, hingga ia lebih memilih pergi menjauh agar tak lagi melihat Seli yang hanya membuatnya terluka.