Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 79


__ADS_3

"Ck" Dengan kesal Vano pergi menjauh dari Ziva.


"Pakai baju dan keluar dari sini. Mulai sekarang sampai waktu yang belum di tentukan Mama akan menginap di sini!"


"Ya terserah Mama saja" kata Vano sambil pergi mengambil baju di lemari.


"Ziva ayo makan" kata Sinta.


"Ya Ma" jawab Ziva.


Ziva mulai menyuapi nasi satu persatu ke dalam mulutnya dan tidak harus menunggu lama nasi itu sudah habis dalam waktu sekejap saja.


"Minum" Sinta memberikan gelas berisi air.


"Terimakasih Ma" kata Ziva.


"Sama sama. Sekarang kamu minum obat" kata Sinta sambil memberikan obat yang sudah di siapkan Anggia pada Ziva.


"Ya Ma" Ziva menelan obat nya.


"Kamu istirahat ya" kata Sinta sambil menarik selimut Ziva.


Drettt dreettt dretttt.


Ponsel Ziva berdering.


Ziva mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, ia melihat tertulis nama sahabatnya di sana.


[Seli]


"Siapa?" tanya Sinta.


"Seli Ma. Sahabat Ziva"


"O"


"Halo Sel" kata Ziva setelah panggilannya tersambung.


"Kamu di mana Zi? aku kangen banget" kata Seli.


"Di rumah. Sel datang k sini dong. Bawain aku mangga muda ya" kata Ziva pada Seli.


"Ck. Ibu hamil permintaannya aneh" gerutu Seli.


"Hehehe. Ayo dong Sel. Suruh Arman jemput kan bisa. Jadi kamu tidak repot" kata Ziva dengan sedikit jail.


"Ya udah. Ada lagi yang bumil pesan?" tanya Seli.


"Ada sih tapi nanti aja ya"


"Okey. Aku siap siap dulu kesana"


Bipp.


Panggilan terputus.

__ADS_1


"Ziva. Tadi kamu nyebut Arman. Itu maksudnya bagaimana?" tanya Sinta penasaran.


Sinta bingung maksud dari ucapan Ziva. Dan itu membuat jiwa julidnya meronta ronta. Karena ia tau Arman tidak pernah jatuh cinta apa lagi memiliki kekasih. Bertahun tahun Sinta mengenal Arman namun tidak pernah satu kali pun ia penah melihat Arman bersama wanita atau pun berbicara soal wanita.


Sinta juga bingung kalau membandingkan sifat Arman dan Vano. Vano terkenal playboy dan selalu ia di buat pusing karena wanita wanita yang di pacari Vano datang ke rumah. Kadang bisa sampai tiga wanita dan lebih parahnya tiga wanita itu tidak tau kalau Vano memacari mereka semua. Karena mereka datang satu persatu belum sempat yang satu pulang, sudah datang yang lain lagi.


Tapi kalau Arman tidak Sinta juga kadang meragukan Arman pria normal atau tidak. Banyak wanita yang mendekatinya namun tidak satu pun yang berhasil memenangkan hatinya. Dan itulah perbedaan Vano dan Arman. Vano si playboy dan Arman si pria di ragukan ke normalannya oleh Sinta.


"Iya Ma" jawab Ziva.


"Memangnya ada hubungan apa sahabat kamu itu sama Arman?" tanya Sinta semakin kepo.


"Em" Ziva ragu mengatakan nya pada Sinta. Dan ia mencoba berpikir sambil mempertimbangkan jawabannya.


"Ziva jawab Mama?" kata Sinta karena ia semakin penasaran dengan Ziva diam saja.


"Ziva juga nggak tau Ma. Cuman Arman suka sama Seli" jawab Ziva dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Sinta.


"Alhamdulliah. Ternyata Anak ku itu normal?" jawab Sinta.


"Maksud Mama Arman tidak normal" tanya Vano yang tiba tiba berdiri di dekat Sinta.


"Ya gitu. Soalnya Mama dari dulu tau dia dan Mama memang ragu dengqn kenormalannya?" jawab Sinta.


"Mas udah makan?" tanya Ziva karena hari sudah sangat siang. Dan ia belum melihat Vano makan.


"Belum Yang. Mas ada urusan di kantor. Dan Mas buru buru" kata Vano yang sudah memakai setelan baju kerjanya. Karena perusahaan sedang ada sedikit masalah, jadi mau tidak mau ia harus ke kantor.


"Makan dulu Mas. Nanti abis makan baru berangkat" kata Ziva merasa khawatir.


"O"


"Mas pergi ya sayang" pamit Vano pada Ziva.


"Ehem" Sinta berdehem karema keduanya melupakan kehadiran Sinta juga ada di sana. Vano dan Ziva memandang Sinta dan keduanya tersenyum.


"Dunia milik berdua ya Mas Vano. Mama di sini cuman pajangan" kata Sinta sambil memutar bola matanya dengan malas.


"Makanya Mama keluar. Vano kan nggak bebes ngapa ngapain sama Ziva. Gara gara Mama" kesal Vano.


"Berani kamu. Berani!!" kata Sinta mulai mengambil kemoceng yang tadinya tergantung di dinding.


"Nggak Ma" jawab Vano sambil tangannya melindungi tubuh nya bila Sinta benar benar akan memukulnya.


"Keluar!" perintah Sinta.


"Yang punya kamar siapa. Yang di usir siapa" gerutu Vano.


"Mama dengar Vano" jawab Sinta.


"Sayang Mas pergi ya" kata Vano berlalu meninggalkan Sinta dan Ziva.


"Hati hati Mas"


***

__ADS_1


Setelah kepergian Vano kini hanya tinggal Sinta da Ziva saja yang berada di kamar itu. Selang infus yang terpasang di tangan Ziva juga sudah di lepas oleh Anggia karena Anggia melihat Ziva sudah sangat membaik. Tidak berselang lama Seli mulai mengetuk pintu kamar Ziva dengan membawa mangga pesanan Ziva.


Tok tok tok!.


"Masuk"


Clek!.


"Ziva" kata Seli.


"Masuk Sel" jawab Ziva.


"Iya" Seli berjalan mendekati Ziva dan matanya juga menatap wajah Sinta.


"Ini Mama nya Mas Vano" kata Ziva memperkenalkqn Seli pada Ziva.


"Seli tante" kata Seli sambil mencium punggung tangan Sinta.


"Iya ayo duduk di samping Ziva" kata Sinta dengan ramah.


"Iya tante"


"Seli kamu kenal sama Arman?" tanya Sinta to the point.


Seli bingung harus menjawab apa. Ia menatap wajah Sinta dan Ziva secara bergantian.Karena pertanyaan konyol Sinta.


"Ya tante" jawab Seli dengan ragu.


"Tidak usah malu. Arman memang tidak lahir dari rahim tante. Tapi tante yang merawat dan membesarkan Arman. Bagi tante Arman dan Vano sama saja. Tidak ada bedanya, keduanya memiliki posisi yang sama di hati tanta" kata Sinta.


"Em" kata Seli bingung.


"Sel kamu bawa mangga ya?" tanya Ziva.


"Iya nih" kata Seli mengangkat kantung plastik yang ia bawa.


"Kupasin dong" kata Ziva.


"Okey" jawab Seli.


Sinta tersenyum ia yakin Seli juga gadis yang baik. Sinta bisa menebak dari cara Seli dan tutur kata Seli. Sinta menbayangkan kalau Arman juga menikah lalu pikirannya mengarah pada Seli hamil dan memberinya cucu. Lalu rumahnya ramai dengan anak kecil. Karena nnak Vano dan anak Arman yang akan membuat keributan di rumahnya.


"Seli kamu masih kuliah atau bagaimana?" tanya Sinta.


"Ya tante dan masih semester awal" jawab Seli.


"Yah masih lama dong" keluh Sinta.


"Apanya yang masih lama tante?" tanya Seli bingung.


"Kamu lah"


"Saya kenapa tante" tanya Seli lagi.


"Kamu menikah saja secepatnya dengan Arman. Tante pengen nimang cucu dari Arman juga. Kamu kuliahnya sambil nikah juga"

__ADS_1


Seli memandang Ziva dengan seolah ia bertanya dengan ucapan aneh dari Sinta. Namun Ziva hanya tersenyum dan mengangkat bahu nya. Sebagai jawaban ia tidak iku campur dengan urusan Seli dan Sinta.


__ADS_2