Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Ektra part 4


__ADS_3

Ziva kesal dengan apa yang di katakan oleh Zie, ia langsung saja pergi meninggalkan yang lainnya dan menuju kamar. Dengan cepat Vano menyusul Ziva untuk menjelaskan semuanya, sebab sangat tak mungkin sekali jika ia menikah lagi. Apa lagi menikah dengan guru Zie, bahkan Vano sama sekali tak mengenal siapa guru yang di maksut oleh Zie. Berjuta tanya muncul di kepala Vano, tentang dari mana Zie tau tentang itu dan mengapa Zie bisa berbicara begitu. Kepala Vano rasanya mau pecah, ia tau seperti apa Ziva yang sekarang sangat pecemburu sekali.


"Sayang."


Vano ikut masuk ke kamar dan dengan cepat ia menutup pintu, agar anak-anak nya tak mendengar jika nanti di antara mereka terjadi perdebatan. Vano juga ingin menjelaskan jika apa yang di katakan Zie tidak lah benar sama sekali, dan Ziva tak perlu memikirkan hal itu.


"Hiks.....hiks......." Ziva malah menangis karena tak bisa membayangkan jika Vano benar-benar sudah menikah lagi.


"Sayang kamu nangis?" tanya Vano semakin panik, perasaan Vano semakin tak karuan seiringan dengan jantung yang memompa darah semakin kencang saja.


"Ketawa!" jawab Ziva kesal setengah berteriak, untuk meluapkan segala emosi yang sedari tadi ia tahan.


Vano mendeguk saliva mendengar jawaban Ziva, istrinya itu memang angat galak sekali bahkan Vano tak bisa melihat wanita lain lama-lama. Maka sang istrinya akan marah sepanjang hari, apa lagi kini Zie yang berbicara jika dirinya sudah menikah lagi.


"Sayang, kamu nggak ngambek karena Zie bilang Mas udah nikah lagikan?" tanya Vano berharap Ziva mau tenang.

__ADS_1


Ziva menatap Vano dengan kesal, "Terus aku harus kasih tepuk tangan, ucapin selamat kalau Mas udah nikah lagi. Gitu?" tanya Ziva semakin kesal, ia ingin penjelasan bukan pertanyaan seperti apa yang di katakan Vano.


"Aduh salah lagj," gumam Vano sambil menggaruk kepala, rasanya Vano juga bingung bagaimana cara berbicara pada Ziva "Sayang, Mas nggak pernah nikah lagi. Mas udah cukup sama kamu aja," jelas Vano untuk meyakinkan Ziva, "Lagian Zie masih anak-anak, jadi nggak usah di dengarin," lanjut Vano lagi.


"Jadi menurut Mas, Zie bohong? Zie itu masih kecil. Dia nggak akan bohong, yang ada semua yang dia katakan semua pasti apa yang dia tau," jalas Ziva yang masih kesal, karena Vano sudah menikah lagi. Ziva berjalan menuju lemari dan mengambil koper dan kemudian setelah itu ia membuka lemari, untuk mengisi koper itu tentunya.


"Sayang kamu mau kemana?" Vano semakin panik saat melihat apa yang di lakukan Ziva, "Jangan pergi, Mas nggak pernah nikah lagi, Bahkan nggak ada sedikit pun niat Mas buat nikah lagi?" tutur Vano dengan panik, ia sangat takut Ziva pergi meninggalkan dirinya.


Ziva diam dan menatap Vano, ia menyeret koper mendekati Vano dengan pandangan mata yang tajam.


"Ini koper isinya pakaian Mas, dan Mas pergi dari sini. Ini rumah Ziva sama anak-anak. Ziva nggak akan pergi ke mana-mana. Ini real di dunia novel, bukan di dunia sinetron. Yang kalau suaminya nikah lagi istrinya yang pergi sendiri dari rumah, atau di usir sama suami karena mau bawa istri barunya kerumah. Tapi Ziva minta Mas keluar dari rumah ini," Ziva membuka pintu dan menghempaskan koper Vano.


"Sayang, Mas nggak pernah nikah lagi," terang Vano.


"Terus kenapa Zie bilang Mas udah nikah lagi?" tanya Ziva dengan melipat kedua tangannya di dada dan menatap Vano.

__ADS_1


"Kita ributnya, jangan di sini. Malu di lihat anak-anak. Nggak bagus juga buat pertumbuhan mereka," Vano kembali menarik Ziva masuk kedalam kamar dan ia mengunci pintu dengan cepat, "Mas nggak pernah nikah lagi," ucap Vano lagi untuk meyakinkan Ziva.


"Terus kenapa bisa Zie bilang begitu, pasti dia tau sesuatu. Kalau nggak, nggak mungkin dia bisa bilang begitu kan!" Ziva masih terus berusaha agar Vano bersuara tentang apa yang di katakan Zie.


Vano menarik napas dengan panjang, dan menghembuskannya dengan kasar, "Sayang, Mas nggak pernah nikah lagi setelah nikah sama kamu," Vano rasanya tak tau lagi bagaimana cara memberikan penjelasan pada Ziva.


"Mana Ziva tau, dulu juga Mas nikahin Ziva buat di jadiin istri kedua. Bahkan Ziva itu istri simpanan, terus di jadiin asisten. Terus Mas bebas mesra-mesraan dulu sama istri sah Mas, di hadapan Ziva!" Ziva ingat saat itu Vano dan Keyla bercumbu mesra di hadapannya, sementara ia hanya di jadikan penonton saja. Saat Vano membutuhkannya barulah Vano datang, itu pun datang hanya setelah menyalurkan keingingannya saja. Setelah selesai ia langsung pergi begitu saja, tanpa perduli dirinya yang masih meringkuk menangis di bawah selimut. Bahkan sering kali Vano meninggalkan uang sebelum ia pergi, ia benar-benar seperti wanita bayaran.


"Sayang, Mas minta maaf. Dulu Mas memang jahat, tapi setelah Mas memutuskan untuk hidup sama kamu Mas nggak ada niatan buat nikah lagi. Nggak ada sayang, Mas cuman maunya kamu aja udah cukup. Lagian kenapa Mas harus nikah lagi semua udah Mas dapatin setelah nikah sama kamu. Kamu cantik, kamu selalu urusin Mas, perhatiin segala keperluan Mas, kamu juga kasih Mas anak. Bahkan anak kita sekarang lima. Jadi apa lagi alasan Mas buat menikah lagi, dulu alasan Mas nikah lagi karena Mas nggak bisa dapatin apa yang sekarang kamu kasih ke Mas, tapi setelah Mas dapatin seperti ini, Mas nggak akan pergi lagi," terang Vano.


Ziva masih saja kesal, ia menghapus air matanya dan melempar pandangannya ke lain arah. Sebelum ada penjelasan yang bisa meyakinkannya rasanya Ziva belum yakin, sebab Vano sudah pernah melakukan nikah dengan diam-diam. Jadi sulit sekali percaya begitu saja dengan penjelasan Vano sebelum ada bukti.


"Sayang, kamu percaya sama Mas kan?" tanya Vano yang masih ketakutan, sebab Ziva masih diam saja menatap lain arah. Sambil sesekali tangannya mengusap air mata.


"Ziva nggak percaya, Mas pasti udah nikah lagi. Kalau nggak dari mana bisa Zie ngomong begitu. Udah Mas pergi aja dari sini, jangan bawa anak-anak, anak-anak semua sama Ziva Mas pergi bawa koper Mas. Temuin dan tinggal bareng sama istri baru Mas, Ziva nggak sudi, Mas tidur dengan wanita di luar sana. Sampek di rumah Mas tidur sama aku, Jijik tau Mas," tutur Ziva.

__ADS_1


__ADS_2