Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II □ BAB 169


__ADS_3

"Sayang udah ya cepet turun."


Arman yang berada di bawah pohon mangga itu merasa khawatir pada keadaan sang istri yang malah duduk di atas pohon mangga, sambil memakan buah mangga yang baru di petik.


"Kak, Seli nggak tau caranya turun," Seli mendadak merasa geli saat ia melihat kebawah ternyata ia sudah berada di puncak.


"Sayang kamu jangan main-main, jangan buat Kakak panik," kata Arman.


"Seli turun pelan-pelan ya Kak," kata Seli setengah berteriak agar Arman mendengarnya, "Kak ada tawon," jerit Seli.


"Sayang kamu turun cepetan."


Arman benar-benar panik melihat Seli sedang berusaha melindungi dirinya, sementara ia ada di bawah tanpa bisa melakukan apa-apa.


BUUUK.


Seli terjatuh, kakinya hampir saja menjangkau tanah tapi karena takut tersengat tawon itu? ia memutuskan sedikit melompat.


"Kak, lari," Seli menarik lengan Arman dengan membawa mangga pada baju yang ia jadikan sebagai tempat mangga.


"Seli," kata Arman melihat penampilan sang istri.


"Hehehe," Seli malah cengengesan melihat wajah Arman.


Kini keduanya sudah berada di dalam rumah, mangga muda itu ia masukan kedalam wadah lalu meminta Art untuk membersihkannya. Sedangkan Seli menunggu di meja makan masih bersama Arman yang duduk di sampingnya.


"Sayang, kamu nggak bersihin badan kamu dulu?"


Arman bisa melihat penampilan Seli dengan rambut acak-acakan dan piama tidur yang masih di gunakan Seli sudah sangat kusut.


"Nanti ya Kak, Seli masih capek banget," jawab Seli sambil mengipas tangannya.


"Ck, kamu ini udah seperti anak kecil," Arman merasa aneh dengan tingkah istrinya, mendapat mangga muda saja sudah seperti mendapat segudang uang.


"Kak," Seli meremas perutnya yang sakit, sejenak Seli menutup mata karena rasa sakit sungguh kini sedang sangat terasa di perutnya.


"Sayang kamu kenapa? Kamu nggak lagi becandakan?" tanya Arman sambil memegang lengan Seli, ia melihat wajah Seli sangat pucat dan ia yakin kali ini Seli tak bercanda seperti sebelumnya.


"Kak, perut Seli sakit banget," rintih Seli.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit," kata Arman dengan panik.


Dengan gerakan cepat Arman mengangkat tubuh mungil sang istri, bahkan tapa berpamitan pada Lastri karena Arman sudah terlalu panik.


***


Rumah Sakit.


Veli kini tengah memeriksa keadaan Seli yang berbaring di ranjang, ia terus memeriksa tanpa bicara sedikit pun. Dan itu sungguh membuat Arman bingung.


"Veli, istri ku kenapa?" tanya Arman yang sedari tadi menunggu Veli menjelaskan kondisi Seli namun Veli hanya diam dengan wajah datarnya.


"Veli..." sekali lagi Arman memanggil Veli, hingga dengan sedikit kesal Veli mulai menjawab.


"Seli lu duduk dulu, tadi ada sarapan?" tanya Veli sambil membantu Seli untuk duduk.


"Ada," jawab Seli sambil meremas perutnya yang masih sakit.


"Yaudah.....lu telan obat ini ya, biar sakitnya reda," Veli memasukan opat pada mulut Seli dan memberinya minum, agar rasa sakit yang di rasakan Seli segera hilang.


"Veli kamu belum menjawab pertanyaan saya!" kata Arman dengan perasaan yang semakin kesal dan penasaran.


"Veli....kamu kalau ngomong yang jelas, kita mah bebas mau main di mana aja, tapi maksud kamu apa?" tanya Seli yang membuat Arman mengusap wajahnya kasar, ia memang suka bermain di mana saja tapi kenapa Seli harus berkata demi kian pada Veli manusia super gesrek.


"Ahahahahahaa," tawa Veli pecah seketika, melihat bertapa polosnya Seli yang langsung membenarkan perkataan.


"Diam!" kata Arman dengan suara berat dan tertahan.


"Pasangan kocak," tutur Veli di sela tawanya, "Jadi Seli, lu lagi hamil ini udah tiga minggu, dan sakit yang kamu rasakan itu akibat benturan yang barusan kamu alami."


Seli dan Arman saling pandang, dengan cepat Arman memeluk Seli begitu juga dengan Seli yang membalas pelukan Arman dengan perasaan bahagia.


"Sayang makasih," Arman menitihkan air mata bahagia dan mengecup seluruh bagian wajah sang istri, dengan penuh cinta melupakan Veli yang hanya menjadi saksi di antara keduanya.


"Heh, liat-liat tempat dong, nggak usah depan gw juga keles!" ketus Veli serasa di abaikan.


"Veli kamu seriuskan?" tanya Seli melepas pelukannya.


"Iya....selamat," Veli memeluk Seli sesaat setelah Arman melepaskan Seli dari pelukannya.

__ADS_1


"Ya ampun Vel.....gw nggak tau harus ngungkapin kebahagian gw dengan cara apa," tutur Seli dan keduanya melepas pelukan itu.


"Ingat kali ini nggak boleh ceroboh ya...." kata Veli dengan penuh rasa haru, Seli mengangguk mendengar nasehat Veli yang sangat peduli padanya.


"Makasih udah ingatan," jawab Seli penuh haru.


"Ok....bapak Arman, kondisi kandungannya istri anda sangat lemah. Jadi anda harus puasa sampai kandungan istri anda kuat, mungkin sekitar empat bulan....nah setelah itu baru anda bisa menjenguk anak anda," kata Veli sambil menuliskan resep obat untuk Seli.


"Seli....kamu mau mengerjai saya!" tanya Arman dengan kesal.


"Tidak!" jawab Veli dengan serius, "Saya seorang dokter dan tidak ada bercanda dalam mengatakan keadaan pasien," jawab Veli menatap Arman dengan serius.


"Tapi untuk usia kandungan istri saya empat bulan itu sungguh lama sekali," kata Arman protes.


"Kandungan Seli sangat lemah, dan harus benar-benar di jaga. Ingat jangan sampai rahim yang nantinya harus di angkat dan kau tidak akan bisa menjadi seorang Ayah," jawab Veli agar Arman mengerti kalau ia sedang tidak bercanda.


"Kak Arman....sabar ya, kan masih bisa cium Seli dan Seli bantu pakek tangan jadinya aman," jawab Seli dengan enteng.


"Seli....." Arman gemas sendiri dengan istrinya yang berbicara sembarangan, kini Arman mengerti mengapa Seli berubah. Ternyata ia sedang mengandung.


"Seli aja tau," kata Veli terkekeh.


"Yaudah kita balik yuk," kata Seli pada Arman.


"Ingat Sel....suruh laki lu puasa kalau mau punya anak, kalau pun ada gaya baru tunda dulu sampai waktu yang di tentukan, dan satu bulan sekali kamu harus cek kandungan ya," kata Veli memberi nasehat.


"Makasih ya Vel, kita balik dulu," pamit Veli sambil memeluk lengan Arman keluar dari sana.


"Sayang makasihya," Arman merangkul pundak Seli, lalu Seli memeluk Arman dari samping dan keduanya berjalan keluar.


"Kali ini kita jaga anak kita sama-sama ya Kak, jangan tinggali Seli lagi, Seli nggak bisa kalau nggak ada Kaka."


Arman berhenti melangkah, begitu pun juga dengan Seli. Arman bisa melihat manik mata istrinya yang hitam pekat itu berkaca-kaca menahan air mata.


"Ya sayang....Kakak janji," Arman mengecup pucuk kepala Seli dan ia tersenyum, dengan cepat Arman mengangkat Seli.


"Kak kok di gendong, banyak orang."


"Biar kamu nggak capek."

__ADS_1


Seli melingkarkan tangannya pada tengkuk Arman dan menyembunyikan wajah pada dada Arman, karena di sana sangat banyak orang yang berlalu lalang.


__ADS_2