Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 139


__ADS_3

Seli memeluk Lastri yang duduk di ranjang bersamanya, Seli masih saja menangis mengingat apa yang Arman lakukan padanya. Rasanya Seli tidak bisa lupa dan kesalnya pun tidak pernah hilang.


"Seli udah nangisnya ya, nggak baik begitu terus. Udah.....Arman khilaf dan dia tadi bilang sama Bunda kalau dia menyesal," Lastri membujuk putrinya untuk tetap mau memaafkan Arman.


"Nggak, Seli mau pisah aja sama Kak Arman," Tutur Seli, Lastri melepaskan Seli dari pelukannya karena merasa panik dengan permintaan Seli.


"Seli, kamu sedang hamil. Jangan ngomong cerai, gimana nasip anak mu nanti, kalau kamu dan Arman cerai Bunda mati saja. Bunda nggak kuat lihat cucu Bunda yang ke kurangan kasih sayang," Kata Lastri,


Entah sampai kapan Seli akan dewasa yang jelas Seli masih saja cengeng, sekilas Lastri ingat saat dulu Arman mengatakan ingin menikahi Seli. Lastri tidak menutupi ke kurangan putrinya tapi Arman tetap saja ingin menikah dengan Seli, hingga Lastri yakin saat itu Arman mencintai Seli karena Arman membiayai kuliah Seli,


Bahkan selalu memberi uang berobat pada Lastri. Hingga Lastri sekarang sembuh, bukan hanya sampai di situ saja Arman bahkan selalu mentransfer uang ke rekening Lastri bahkan sampai sekarang, setiap bulannya Arman terus saja begitu, Lastri sering kali terkejut melihat nominal di tabungannya bertambah dan ia sering kali juga minta untuk tidak lagi Arman mentranfer uang padanya. Namun tetap saja karena Arman kasihan melihat Lastri malam membuat kue untuk di titip ke warung-warung bahkan dalam jumlah yang bayak untuk membiayai Seli.


"Tapi Seli kesel," Kata Seli.


"Seli, Arman sangat mencintai mu Nak, semua yang dia lakukan pasti ada alasannya," Tutur Lastri penuh harap agar anak dan menantunya itu segera berdamai.


Seli menjauhi Lastri karena kesal, kondisi perasaan Seli tampaknya kini memang sedang tidak bersahabat. Hingga tak ada kata damai untuk saat ini siapa saja bisa jadi lawan, kalau tidak sesuai dengan maksud Seli.


"Bunda kenapa sih, dulu maksa Seli nikah sama Kak Arman, sekarang juga Bunda belain Kak Arman. Seli di tampar Bun, tapi Bunda malah sangat yakin Kak Arman cinta sama Seli? Kalau Kak Arman cinta sama Seli dia nggak akan nampar Seli Bunda ngertikan?" Veli menangis dan mengusap kasar wajahnya, melihat sang Bunda yang terus saja membela suami.


"Seli Bunda yakin karena ada alasannya," Lastri awalnya ingin terus menutupi semuanya sesuai perjanjiannya dulu dengan Arman, tapi sekarang ia harus mengatakan agar Seli tidak ragu jika Arman memang mencintainya.


"Terserah Bunda aja, anak Bunda kan Kak Arman bukan Seli," Seli melempar pandangannya ke arah lain, seolah menggambarkan kalau saat ini ia sedang kesal.

__ADS_1


"Seli, kamu tau kenapa kamu masih bisa kuliah? Arman yang membiayai kamu, dan kamu tau kenapa Bunda bisa sembuh dari sakit asma Bunda? Itu juga Arman yang membiayai Bunda, selama kamu kenal dengan Arman, dia sudah membiayai hidup kita Nak, dan di saat itulah Bunda yakin kalau Arman sangat mencintai mu. Hingga Bunda memaksa mu menikah dengan Arman sebab Bunda yakin kau akan bahagia dengan Arman," Lastri mengatakan semua yang sudah ia simpan selama ini agar tidak ada lagi yang membuat Seli ingin berpisah dari Arman, hanya karena alasan Arman tak mencintainya.


"Bunda jangan becanda, waktu itu Bunda bilang jual warisan Nenek di kampung," Seli ingat saat mereka sedang dalam kesusahan, tiba-tiba Lastri memiliki uang untuk ia kuliah dan Lastri berobat dengan rutin, bahkan Lastri tidak pernah lagi menitip kue kering buatanya namun mereka tidak pernah kekurangan. alu Lastri mengatakan juka ia menjual warisan di kampung.


"Nggak, Bunda serius," Jawab Lastri.


"Berarti Bunda jual Seli ke Kak Arman dong?" Tanya Seli yang lagi-lagi bersedih.


"Ya udah, bilang sekarang kamu nggak cinta sama Arman!" Lastri juga ikut kesal berbicara dengan anaknya, yang selalu berpikir negatif.


"Apasih," Seli membaringkan tubuhnya karena kesal dengan perkataan Lastri.


Lastri malah tersenyum melihat tingkah putrinya, yang sebenarnya cinta pada Arman tapi masih gengsi mengakui itu. Dan semua tertutup karena kemarahan Arman hingga Arman menampar Seli. Yang kini malah di jadikan putrinya menutupi jika ia pun tak bisa kehilangan Arman.


"Ayo bilang, kalau nggak biar Bunda yang minta Arman cerain kamu, kalau memang kamu tidak bahagia menikah dengan dia," Gertak Lastri.


"Yaudah begini saja, kamu terserah mau marah sama Arman sampai kapan. Tapi jangan berlarut-larut kasihan Arman."


"Ya Seli bakalan baikan sama Kak Arman, kan Bunda udah jual Seli ke Kak Arman," Jawab Seli.


"Kamu jangan mikir gitu dong," Lastri bingung sendiri di buat putrinya.


"Turus apa?" Kesal Seli.

__ADS_1


"Seli," Lastri berusaha memeluk Seli.


"Pantesan Kak Arman gampang nampar Seli, karena Seli nggak berharga bagi Kak Arman," Kata Seli kembali menangis.


Suara Seli terdengar jelas hingga sampai di luar, Arman langsung masuk melihat apa yang terjadi pada istrinya. Lastri yang mengerti dengan keadaan langsung keluar, ia ingin meninggalkan Arman dan Seli menyelesaikan masalahnya.


"Sayang," Arman naik keranjang sederhana milik Seli dan ingin menenangkan istrinya yang sedang menangis, tapi Seli masih kesal dan tak mau Arman dekat dengannya.


"Apa? Mau tampar Seli lagi, bunuh sekalian biar puas," Teriak Seli.


"Seli Kakak minta maaf," Arman tak pernah lelah mengucap kata maaf dari bibirnya sebab Seli masih berkeras hati untuk terus memperbesar pertengkarannya.


"Buat apa? Kakak kan udah beli Seli, jadi Kakak bebas, nikahin Seli dengan paksa, nampar Seli dan apa pun yang mau Kakak lakuin Bunda juga nggak akan marah," Kata Seli kesal.


"Beli kamu?" Arman masih bingung tampaknya dengan arah pembicaraan Seli.


"Iya, Kan Kakak udah kasih Bunda uang, udah biayai kuliah aku juga, jadi Kakak bebas mau apa," Jawab Seli yang terasa menyakitkan hati Arman.


"Sayang Kakak tidak bermaksud begitu," Arman masih mencoba meyakinkan Seli agar sang istri luluh padanya dan semua pertengjaran akan berakhir.


"Udah nggak usah di jelasin Seli ngerti," Jawab Seli.


"Ya sudah kamu mau pisah sama Kakak kan?" Arman tidak mau orang yang ia cintai merasa tersiksa hidup dengannya, jadi mungkin apa pun yang di ingikan Seli akan ia kabulkan kali ini termasuk perpisahan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu mau kita pisah, Kakak akan mengurus semuanya, tapi kamu tidak boleh menolak uang yang Kakak berikan pada mu, sebab itu untuk anak Kakak yang kamu kandung, Kakak akan pergi dan tidak akan memaksa mu lagi ya," Arman mengecup kening Seli untuk perpisahan.


"Elisya Seliyani dengan ini dengan sadar saat ini aku menjatuhkan talak pada mu dan kau bukan lagi istri ku," Tutur Arman sambil menangis lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Seli, ia merasa berdosa sudah menampar Seli dan ia tidak mau Seli malah membencinya atau pun terpaksa hidup dengannya.


__ADS_2