
"Zi kenapa martabaknya nggak di makan?" tanya Seli, sudah satu jam Seli dan Arman membawa martabak yang di pinta Ziva. Namun tidak sedikit pun di sentuh oleh Ziva.
"Tau nih Sel. Perut aku berasa mules dari tadi" ujar Ziva, yang memang dari tadi tidak nyaman dengan perutnya. Bahkan sudah beberapa kali ia keluar masuk kamar mandi.
"Apa sakit yang?" tanya Vano yang merasa cemas, karena ia juga melihat Ziva sangat gelisah.
"Sakit nggak mas. Mules tapi" jawab Ziva sambil mengelus perut buncitnya.
"Kita kerumah sakit aja ya yang. Di sini nggak ada Anggia mas khawatir kalian kenapa-kenapa" ujar Vano mengutarakan kecemasannya.
"Ya tapi Ziva mau liat Seli suapi Arman makan martabak, terus Arman suapi Seli" Ziva mulai mengutarakan keinginannya sedari tadi ia tahan. Ia juga menyadari permitaannya terdengar aneh, namun ia juga ingin sekali melihat Arman dan Seli bersuap-suapan.
Sementara Seli di buat melongo dengan permintaan Ziva. Yang terasa begitu menggelikan untuk Seli. Kalau Arman tetap santai, di suruh suap-menyuapi. Sebenarnya Arman kecewa dengan permintaan Ziva, kenapa bukan mencim saja permintaan wanita hamil itu.
"Nggak" ketus Seli.
"Dikit doang Sel" pinta Ziva lagi.
"Ogah" Seli melempar pandangannya ke arah lain.
"Sel lu tega. Aduh Sel sakit" rintih Ziva yang merasa perutnya sedikit berputar dan sakit.
"Sayang kita ke rumah sakit" Vano mulai mengangkat Ziva. Tapi Ziva mengeleng ingin melihat Seli dan Arman saling menyuapi, baru ia mau di bawa kerumah sakit.
"Mas nggak" teriak Ziva menolak.
"Tapi yang" Vano merasa khawatir melihat Ziva meringis kesakitan.
"Seli apa kamu mau membunuh istri saya" kali ini Vano yang berbicara dengan suara berat dan tegas, tidak lupa dengan tatapan tajam, sungguh Vano merasa khawatir melihat sang istri.
"Ta-tapi tuan" Seli mulai merasa sakit di tenggorokannya.
"Bro jangan bentak dia, urusannya tar sama gua" ujar Arman yang tidak suka melihat Seli di bentak oleh Vano.
"Sel please" Ziva sedikit memohon.
__ADS_1
"Ok, demi lo dan ponakan gue" Seli menatap tajam Arman, sementara Arman tersenyum samar.
"Auw, mas sakit" teriak Ziva.
"Ia betar sabar ya ponakan tante Seli" Seli mengelus perut Ziva meminta sang bayi untuk sabar sebentar.
Seli mulai mengarahkan tangannya pada Arman dengan martabak yang ia pegang, dengan menyipit kan matanya. Arman melahap habis martabak yang di suapi Seli tidak lupa ada senyum kemenangan di sana.
"Udah Zi" ujar Seli pada Ziva yang duduk di sampingnya.
"Yang ayo ke rumah sakit" Vano sudah sangat merasa khawatir melihat wajah Ziva yang pucat dan mengeluarkan keringat.
"Iya mas. Sakit" rintih Ziva memeluk Vano.
"Arman!!" seru Vano.
Arman dan Seli ikut berlari, Vano dan Ziva duduk di kursi penumpang, Arman mengemudi dan Seli di samping Arman.
"Mas sakit" Ziva terus merintih memeluk lengan Vano.
Arman mengemudi dengan kecepatan penuh, namun di perjalanan ada kecelakaan dan itu membuat jalanan menjadi tertutup. Membuat macet begitu panjang.
"Arman kenapa bernenti?" Vano bertanya tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Tuan di depan ada kecelakaan. Kita tidak bisa mundur tuan di belakang juga banyak mobil" Arman turun dari mobil dan melihat bertapa padatnya jalan.
"Mas hiks hiks hiks" Ziva teris menangis merintih menahan sakit.
"Sabar sayang" Vano mengelus dahi Ziva membersihkan peluh yang membasahi tubuh wanitanya itu.
"Zi sabar ya" Seli juga merasa takut.
"Arman pikirkan sesuatu" Vano tidak bisa berpikir jernih, saat ini hanya Arman yang bisa ia andalkan dalam berpikir.
"Tuan sebentar saya sudah menghubungi ambulan dan polisi" ujar Arman,.
__ADS_1
"Mas hiks hiks hiks" Ziva terus saja menangis menahan sakit.
"Tuan kenapa kaki Ziva basah" Seli panik melihat ada air yang mengalir dari tubuh sahabatnya itu. Seli menangis dan merasa semakin khawatir, Vano juga duduk memangku kepala Ziva mulai melihat apa yang di ucapkan Seli.
"Mas aku sudah tidak sanggup" Ziva mencengkram kuat lengan Vano, seolah ia ingin melawan rasa sakit yang menghujam tubuhnya saat ini.
"Sa-sayang, kamu harus bertahan, demi anak kita" Vano mulai meneteskan air mata tidak sanggup melihat Ziva merintih menahan sakit. Belum lagi cairan yang terus keluar dari tubuh Ziva.
Seli yang sudah tidak kuat melihat sahabatnya. Mulai turun dari mobil dan berlari ketengah kerimunan ia berteriak sehisterisnya di sana. Membuat orang-orang bertanya ada apa dengan gadis itu.
"Tolong berikan kami jalan!!!!" teriak Seli seperti orang gila.
"Menyikir biarkan kami lewat!!!" Seli terus berteriak hingga semua mobil menyingkir memberikan jalan untuk mobil yang di tumpangi Ziva bisa kembali berjalan.
"Tolong sahabat saya mau melahirkan berikan jalan" teriak Seli.
Lalu beberapa orang di sana ikut berteriak karena merasa kasihan dan ikut prihatin.
"Biar kan mereka lewat!" seru seorang yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Hey semua biarkan dia lewat ada pasien" teriak yang lainnya.
"Seli cepat naik" seru Arman saat semua mobil sudah memberikan jalan untuk mobil mereka lewat.
Beberapa mobil bahkan sedikit tergores oleh mobil Arman, namun mereka tidak perduli jalan sangat padat dan keselamatan nyawa yang sedang menahan sakit di mobil itu jauh lebih berharga menurut mereka.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam Ziva berhasil di bawa kerumah sakit milik Vano. Ziva segera di tangani oleh beberapa dokter, namun Ziva sudah tidak sadarkan diri setelah sampai di rumah sakit. Bahkan lima menit sebelum mereka sampai Ziva sudah tidak sadarkan diri.
Ziva memang akan melakukan oprasi caesar namun masih terhitung tujuh hari lagi. Entah apa yang terjadi hingga Ziva mengalami kontraksi yang begitu hebat, hingga membuatnya tak sadarkan diri. Vano terus menangis berdiri di depan ruangan di mana sang istri tengah berjuang antara hidup dan mati demi anak mereka. Vano terlihat lemah ia bahkan beberapa kali membenturkan kepalanya, melihat keadaan sang istri yang lemah tak berdaya.
Kedua orang tua Vano juga sudah berada di sana, setelah beberapa saat lalu Arman menghubungi mereka. Sinta dan Hardy memang sedang menghadiri peresmian sebuah restauran milik rekan bisnis Hardy. Dan tempatnya cukup dekat dengan rumah sakit milik Hardy, hingga hanya membutuhkan waktu sepuluh menit mereka sudah berada di sana.
"Vano kamu solat nak" ujar Sinta mengelus bahu sang anak yang di penuhi dengan kecemasana.
"Iya ma" jawab Vano dengan memeluk tubuh Sinta.
__ADS_1
Sudah satu jam berlalu namun belum ada tanda-tanda dokter yang keluar membawa kabar bahagia untuk keluarga yang menunggu di luar. Vano sudah tidak sanggu walau hanya menopang tubuhnya, ia mendudukan dirinya di lantai dan menopang kepalanya.