
Sejenak kita fokus permasalahan Ziva, setelah itu baru kita tuntas si Arman ya, biar satu-satu
****
Masih ingatkah kalian dengan Hutomo?. Ya Hutomo adalah pengacara dari keluarga Ziva, dan di adalah suami dari Tia adik dari alm. Ayah Ziva, itu berarti Hutomo adalah adik ipar dari Rahman Syarif ayah kandung Zivanya Sabilla. Akan tetapi Rahman tidak tau jika Tia dan Hutomo memiliki hubungan, sebab Tia dan Hutomo menikah dengan Tia setelah Rahman meninggal dunia.
Flashback On.
"Zi.....!" teriak Kirana ibu kandung Ziva.
"Apa?" Ziva datang dengan rambut acak-acakan.
"Ya ampun, anak gadis udah SMA nyisir rambut aja kalau nggak Mama yang sisirin nggak di sisir," Kirana marah dan langsung menyisir rambut Ziva.
"Kak Zi?" teriak Daffa.
"Semprol," jawab Ziva kesal.
"Dasar anak manja udah mau di kawinin sama tukang kebun tapi nyisir rambut aja masih sama Mama," ejek Daffa.
"Heh kurang ajar lu ya," kesal Ziva.
"Kak Zi calon mang jaja si tukang kebun," kata Daffi lagi, alhasil ketiganya bertengkar dan mereka sudah terbiasa dengan pertengkaran itu.
Beberapa hari kemudian.
"Zi, Daffa dan Daffi udah siap," tanya Kirana karena mereka akan segera berangkat keluar kota untuk jalan-jalan.
"Udah dong," jawab ketiganya.
"Kita jalan?" kata Rahman yang mulai mengemudi menuju bandara.
Diperjalanan tiba-tiba Rahman merasa aneh mobilnya tidak bisa di kendalikan bahkan kecepatannya sangat tinggi.
"Pah mobilnya kenapa?" tanya Kirana panik.
"Nggak tau Mah," jawab Rahman panik sambil berusaha memberhentikan mobilnya, namun sayang entah sengaja atau tidak sebuah mobil buss terlihat datang dari arah yang berlawanan, dan buss itu berada di tengah jalan tanpa berpindah sedikit pun.
Karena panik Kirana berusaha bangun berjalan kebelakang dan membuka pintu mendorong Ziva keluar, lalu Daffa dan Daffi juga terjatuh di aspal. Tidak sempat Rahman dan Kirana melompat mobil mereka sudah di tabrak bus hingga mobil mereka terjatuh kejurang. Ketiga anak itu selamat walau pun banyak memar karena terkena aspal. Namun tidak dengan Rahman dan Kirana.
Beberapa jam kemudian.
"Mama," teriak ketiga anak itu.
__ADS_1
"Papa," ketiganya menangisi jenazah kedua orang tua mereka.
Setelah kedua orang tua mereka meninggal ketiganya menjadi yatim piatu.
Satu minggu kemudian.
"Mas usir aja anak-anak Kak Rahman dari rumah ini," kata Tia.
"Iya," kata Mirna membenarkan ucapan Tia.
"Tapi bagaimana caranya, lagi pula kenapa mereka tidak mati bersama kedua orang tuanya," kesal Hutomo.
"Kamu sih Mas kenapa nggak suruh Buss itu cepat menabrak mereka biar semuanya mati," kesal Tia.
"Sudah tidak usah pikirkan, anak itu hanya debu biar nanti aku bilang semua di sita bank mereka pasti percaya." kata Hutomo tersenyum penuh arti.
"Iya sih, tapi aku kesel Ayah dulu nggak adil bagi harta aku kan juga anak Ayah, aku sama Kak Rahman memang beda ibu, tapi kami kan satu Ayah jadi haknya sama. Dan Ayah dari dulu nggak adil pilih kasih terus, Ayah pas masih hidup lebih sayang sama Kak Rahman," Tia mengatakan kekesalannya.
"Sudahlah Tia kan anak itu sudah mati, Zi dan sikembar lempar aja kejalanan semuanya bisa kamu nikmati kan," Mirna menenangkan sang anak.
"Ya Tia Ibu benar," kata Hutomo.
Semenjak kepergian orang tua Ziva, dunia seakan berubah menjadi neraka. Tidak ada lagi kelembutan Mirna yang biasa ia tunjukan, tidak ada lagi kebaikan Tia juga yang selalu menyayanginya.
"Ziva kamu masak ya," perintah Tia.
Satu bulan kemudian.
"Daffa, Daffi," teriak Mirna dari kejauhan.
"Ya Nek?" jawab keduanya yang sedang main Ps.
"Kalian main terus ini rumah belum di pel," teriak Mirna.
"Tapi kan ada bibik Nek yang biasa ngerjain," jawab Daffa.
"Anak kurang ajar masih berani kalian jawab ya," sang Nenek marah dan memukuli keduanya dengan sapu.
Dua hari kemudian.
"Rumah kalian sudah di sita bank," kata Hutomo.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Ziva.
__ADS_1
"Sekarang kalian bertiga keluar dari rumah ini," perintah Hutomo.
Ziva menangis dan memohon pertolongan kepada Hutomo, Tia dan Mirna untuk memberikan mereka tempat tinggal.
"Zi mohon Nek," Ziva duduk di bawah kaki sang Nenek berharap mengasihani.
"Tidak dan saya bukan Nenek mu lagi, pergi!" kata Mirna menghempaskan Ziva yang memeluk kakinya.
Ziva pergi membawa koper kecil tanpa baju mahal bermerknya, tanpa perhiasan mahal yang dulu di belikan sang Mama. Namun saat itu entah mengapa Kirana mentransfer uang saku Ziva cukup banyak. Dan ternyata uang itu kini sangat berguna untuk ketiganya.
"Kak Daffa capek," terlihat wajah Daffa pucat karena terus berjalan tanpa arah.
"Daffi lapar banget kak dari pagi belum makan," Daffi memeluk perutnya.
"Sabar ya itu ada tempat makan kita makan dulu," kata Ziva menunjuk tempat makan.
Setelah ketiganya makan dan beristirahat sebentar, akhirnya mereka berjalan kembali mencari kontrakan yang bisa mereka tempati. Hingga akhirnya mereka berhasil mengontrak rumah kecil untuk mereka tinggali.
Singkatnya, Ziva yang bersekolah sambil bekerja hampir putus sekolah karena sang adik yang sakit. Dan kebetulan tetangga Ziva adalah seorang wanita malam, hingga Ziva menjual Diri.
Setelah itu ia kembali bekerja di tempat hiburan malam sebagai mengantar minuman.
"Hay," kata seorang pria yang tak sopan padanya.
"Permisi tuan saya hanya mengantar minuman," jawab Ziva sofan.
"Udah sama kita aja, berapa tarip mu semalam?" tanya orang itu.
"Saya tidak melayani itu tuan," jawab Ziva yang sama sekali tidak takut sebab ia sudah mulai terbiasa hidup dengan keras.
"Sombong sekali," seorang pria hampir meremas gundukannya.
KRANG.
Ziva memecahkan gekas di kepala pria itu.
"Jalang sialan," teriak pria itu menarik rambut Ziva.
BUUK.
Dengan cepat Ziva menendang bagian utamanya, hingga pria itu meringis kesakitan dan melepaskan Ziva.
"Kalian semua berani kurangajar saya bunuh," kata Ziva sabil mengacukan gelas yang sudah setengah pecah di tangannya.
__ADS_1
Tiga bulan lamanya Ziva menjadi pelayan, dan satu kali ia menjual dirinya, menjual kesuciannya pada Kenzi Zavano demi biaya perawatan sang adik, Ziva lebih memilih ia yang hancur dari pada adiknya meninggal dunia. Sering kali para tetangga menghinanya karena tau Ziva yang bekerja di club malam, tapi Ziva tidak pernah merasa sedih. Semua hanya demi adik-adiknya ia sama sekali tidak perduli dengan lingkungannya, bahkan hanya satu orang yang mau berteman dengannya ya itu Seli.
Flashback Of.