
Pagi ini masih sama seperti pagi biasanya, Seli sibuk dengan memasak untuk sang suami. Karena setelah itu ia akan berangkat kekantor menjadi bodyguart sang suami, agar tidak di tikung pelakor terutama wanita yang bernama Yuli.
"Selesai," Seli memasukan semua masakannya pada kotak makanan dan meletakannya keatas meja, setelah itu ia bersiap-siap mengganti pakaiannya sebelum berangkat.
Setelah Seli selesai memakai pakaian yang baru, ia bercermin dan memandang tubuhnya di cermin. Mata Seli tertuju pada bagian perutnya yang terlihat sedikit membuncit, Seli mulai mengingat ia sudah menikah dengan Arman selama tiga bulan, tapi ia juga tidak pernah telat dalam kedatangan tamu bulanan. Seli menepis pikiran kalau ia hamil, Seli berjalan keluar dari kamar dan berniat mengambil bekal yang tadi ia siapkan, namun belum sempat tangannya menggapai bekal tiba-tiba terdengar sura bell berbunyi. Seli bertanya-tanya siapa yang datang, kalau Ziva tidak mungkin menekan bell karena ia tau pasword apartemen itu, dengan mengurungkan niatnya mengambil bekal ia melangkah menuju pintu dan membukanya, belum jelas Seli melihat siapa tamunya tubuhnya sudah di dorong seseorang.
"Heh," kata Yuli.
"Auu," Seli terduduk di lantai dan merasa sakit pada perutnya karena terjatuh.
Mata Seli menatap siapa orang yang mendorongnya, dengan cepat Seli berdiri sambil menatap tajam Yuli, dengan gerakan cepat Seli melepas high heels kesayangannya yang baru saja di belikan Arman kemarin untuknya.
"Kenapa?" tanya Yuli mendekatinya.
Lalu apakah Seli takut? Tentu saja tidak. Kalah dalam berperang itu biasa bagi Seli, tapi kalau mengalah sebelum perang itu baru pantas di namakan pecundang.
"Mau apa lu ke rumah gw!" ketus Seli.
Yuli malah menerobos masuk begitu saja, tanpa ijin dari Seli ia terus melenggang masuk seolah ia lah ratunya.
"Ini apartement Arman! Lu cuman numpang!" Yuli mendudukan tubuhnya di sofa dengan santai tangannya menyalakan telepisi.
"Ya lu bener gw cuman numpang, tapi gw bininya dan sekarang gw minta lu keluar," tutur Seli berdiri di hadapan Yuli.
Yuli berdiri dan mendekati Seli dengan memandang remeh, seakan Seli hanya wanita yang tak berarti apa-apa dan tak sebanding dengannya.
"Lu memang istri Arman, tapi paling sampai dia bosan," tutur Yuli.
"Itu urusan gw sama laki gw lu nggak ada hak," ketus Seli.
"Ya jelas itu urusan gw!" kata Yuli melipat tangan di dada dengan menunjukan bertapa ia sangat membenci Seli.
"Urusannya apa?"
__ADS_1
"Arman udah ngambil sesuatu yang berharga dalam diri gw, dan dia harus bertanggung jawab. Dan sekarang aku dan dia sedang bertengkar, tapi....setelah kami baikan lagi aku yakin kau akan di tendang, sebab kau hanya pelampiasan saja," tutur Yuli penuh percaya diri.
Seli merasa kesal dengan apa yang di ucapkan Yuli, entah mengapa Seli berubah menjadi perasa dan sangat sensitif. Namun ia tetap berusaha mengendalikan diri sekuat mungkin saat ini, dan ia lebih memilih meluapkannya pada Arman.
"Masih pagi udah mimpi," jawab Seli santai.
"Kita lihat saja nanti, kau hanya gembel yang menumpang hidup pada Arman jadi tidak usah sombong dan terlalu bangga, bersiap-siap saja kembali kejalanan," tutur Yuli tak mau kalah.
"Ya kau benar, aku hanya gembel," tutur Seli merendah.
"Bagus kalau kau sadar!" Yuli merasa bangga ia yakin Seli akan pergi meninggalkan Arman setelah ini, dan mungkin ia akan kembali lagi pada Arman dengan mudah.
"Tapi aku bingung dengan orang kaya raya seperti kau."
"Apa maksud mu!" kesal Yuli.
"Kau punya banyak uang tapi kenapa kau sia-sia kan. Seharusnya kau gunakan dengan baik, seperti memakainya untuk membeli obat dan menemui spikiater agar gangguan jiwa mu segera sembuh," Seli terkekeh melihat wajah kesal Yuli.
"Kurang ajar!" Yuli merasa terhina dengan perkataan Seli yang justru merendahkannya. Dengan cepat Yuli melayangkan tangan pada pipi Seli.
PLAK.
PLAK.
PLAK.
"Kurang ajar," Seli mendorong tubuh Yuli sampai terjatuh di sofa.
"Heh sialan," teriak Yuli sambil kembali berdiri, "Kau berani sekali melakukan ini pada ku, ini sudah berkali-kali kurang ajar!" teriak Yuli kesal.
"Katakan apa mau mu!" kata Seli.
"Tinggalkan Arman!" jawab Yuli cepat.
__ADS_1
"Kenapa aku harus meninggalkan suami ku, dasar perempuan tak tau malu," ketus Seli.
"Karena sebelum kau ada kami selalu bersama, bahkan kau sudah sering kali melakukan hubungan itu," Jawab Yuli tanpa ragu.
"Oh ya?" tanya Seli kesal
"Iya dan aku sudah sangat hapal dengan permainan ranjangnya," tutur Yuli mencoba memanasi Seli.
Seli melangkah dan mengambil high heels yang tadi ia lepaskan dari kakinya, Seli melayangkan heels itu tepat depan wajah Yuli.
"Rasanya aku ingin menghabisi mu sekarang juga," Seli mendorong tibuh Yuli hingga terhempas di lantai, Seli memang cuek dan jutek tapi untuk berbuat kasar Seli sangat tidak pandai, tapi entah mengapa kali ini Seli rasanya ingin sekali menghajar habis-habisan wanita yang ada di hadapannya.
"Heh, kau mau apa?" Yuli yang masih terduduk di lantai merasa merinding sebab bagian tajam heels itu di arahkan Seli padanya, Yuli mendeguk saliva sambil mundur dengan masih duduk.
"Kau aku habisi saja, itu lebih baik sepertinya. Karena kau terlalu terobsesi pada suami ku!"
"Aaaa," teriak Yuli menutup wajahnya sebab Seli sudah hampir memukul kepala Yuli.
Namun saat heels itu sampai pada Yuli, tiba-tiba tangan Seli tertahan dan ternyata Arman yang menahannya. Arman memang sudah berangkat ke kantor tapi ia memasang cctv pada pintu masuk apartemennya, hingga ia melihat kala Yuli datang menemui Seli. Arman panik saat melihat Yuli mendorong Seli hingga terjatuh dengan segera Arman pulang karena takut Seli di celakai Yuli.
"Sayang jangan," Arman mengambil heels yang di pegang Seli dan kepalanya menggeleng.
"Kenapa!" Teriak Seli, ia pikir Arman berusaha melindungi Yuli.
"Sayang, jangan mengotori tangan suci mu ini. Kau terlalu berharga untuk melakuan hal sekasar itu," Arman menarik Seli kedalam pelukannya, Arman memang seorang mafia berdarah dingin bahkan Seli tak pernah tahu sisi gelap suaminya, tapi Arman tak ingin Aeli juga demikian.
"Lepas," Seli melepaskan diri dari Arman.
"Kau lihat Seli, Arman melindungi aku. Kau tau! Itu artinya dia lebih sayang pada ku," kata Yuli dengan yakin dan berteriak.
Seli yang entah mengapa berubah sensitif kini menatap Arman dengan kesal.
PLAK.
__ADS_1
Tangan Arman menampar pipi Yuli, Arman sudah tidak lagi bisa menahan amarahnya.
"Kalau kau masih mengusik rumah tangga ku, maka siapkan batu nisan segera untuk mu!" tutur Arman dan mendorong Yuli keluar dari apartemennya.