
"Sayang"
"Yang"
"Zivanya Sabilla istri Mas yang cantik" kata Vano yang terus berusaha membujuk Ziva untuk bicara padanya. Karena dari tadi pagi Ziva tidak mau bicara pada Vano.
"Ziva" terdengar suara Sinta dari kejauhan mulai mendekat pada Ziva yang duduk lesehan di gazebo taman belakang.
"Ya Ma" jawab Ziva mulai melihat Sinta yang berjalan semakin mendekat padanya.
Sinta mengusir Vano yang duduk di samping Ziva. Dengan berat hati Vano menggeser tubuhnya, setelah Vano bergeser Sinta mulai mendaratkan pantatnya tepat di samping Ziva dengan senyum bahagia di bibir merah merekahnya. Sementara Vano merasa jengkel karena sang Mama mebuatnya menjauh dari istri tercintanya, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Ziva kamu tau gak?" tanya Sinta sambil menunjukan layar ponsel miliknya yang terlihat ada gambar tas keluaran terbaru dengan harga yang cukup pantastis.
"Tas" gumam Ziva saat melihat apa yang di tunjukan sang Mama mertua.
"Iya ini harganya gak mahal Zi, cuman 1m" ujar Sinta dengan mudahnya keluar dari mulutnya.
"Cuman?" tanya Ziva.
Sewaktu Ziva hidup masih bersama kedua orang tuanya. Mungkin Ziva tidak merasa lucu dengan harga barang mahal, namun setelah apa yang ia alami selama bertahun lamanya demi ia bisa sekolah dan untuk kedua adiknya, menurut Ziva harga tas itu terlalu mahal.
"Iya Zi. Kita ambil dua, kamu satu Mama satu" kata Sinta lagi.
"Ziva gak usah dululah Ma. Lain kali mungkin" jawab Ziva.
"Apa sih. Suami banyak duit bukan di manfaatin, malah di acuhin" guman Sinta menatap Vano dengan Sinis.
"Mama apa sih?" tanya Vano karena Sinta menatapnya dengan tatapan ngeri.
"Kamu cinta gak sama istri" tanya Sinta mendekatkan wajahnya pada Vano.
"Ya cinta lah Ma" ketus Vano.
"Ya udah beliin" teriak Sinta di depan wajah Vano.
"Sayang kamu mau?" tanya Vano.
"Ya mau lah. Kecuali kamu gak beliin" lagi-lagi Sinta menyambar ucapan Vano.
"Mama gak usah jadi orang ketiga" jawab Vano menatap Sinta dengan sinis.
"Kamu pikir Mama pelakor!!" jengkel Sinta.
"Ma. Biasanya kalau ada perempuan dan laki-laki berduan, yang ketiganya siapa?" tanya Vano pada Sinta dengan menaik turunkan alisnya.
"Setan" jawab Sinta dengan enteng.
"Nah berarti Mama?" tanya Vano dengan menunjuk wajah sang Mama.
__ADS_1
"Maksud kamu Mama setannya!!" kata Sinta sambil meletakan kedua tangannya di pinggang.
"Vano gak bilang. Mama sendiri tadi yang jawab" kata Vano.
"Anak kurang ajar!!"
Buk buk buk!.
Sinta langsung menghujami Vano dengan pukulan.
"Mama sakit" teriak Vano.
"Diammmm!" teriak Ziva yang merasa pusing dengan keributan dua orang di sampingnya. Entah mengapa suasana hati wanita hamil itu bisa berubah dalam waktu bahkan menit bisa secara bersamaan kadang berubah lembut kadang juga pemarah. Sinta dan Vano diam dan mulai melirik Ziva.
"Mas yang di bilang Mama benar" ucap Ziva.
Vano merasa senang akhirnya Ziva mau berbicara padanya.
"Apanya yang" tanya Vano dengan bahagia.
Ziva mulai merentangkan tangan kanannya pada Vano. Mengerakkan kelima jemarinya, seolah meminta sesuatu, namun Vano tidak mengerti.
"Apa yang?" tanya Vano bingung.
"Dompet" kata Ziva.
"Mana" kata Ziva menatap tajam Vano.
"Ii-iya. Ini" Vano mulai meletakan dompetnya di telapak tangan Ziva.
Ziva dengan cepat mengambil dompet Vano. Ziva mulai membuka dompet milik Vano. Lalu mengambil semua kartu kredit, Atm, dan juga yang membuat mata Ziva berbinar ada kartu tanpa batas milik Vano di sana. Ziva juga mengambil dolar dan juga beberapa lembar rupiah yang tersusun rapi. Ziva meninggalkan empat ratus ribu rupiah di dalam dompet Vano.
"Makasih" kata Ziva tangannya terulur mengembalikan dompet Vano yang terlihat sudah lebih ringan.
Dengan berat hati Vano menerima dompet miliknya yang tadi di ambil oleh sang istri. Vano membuka dompet kesayangannya dan melihat isinya yang hanya ada rupih empat lembar, lalu matanya menatap Ziva.
"Yang kenapa di ambil semua?" tanya Vano.
"Kenapa?" tanya Ziva sambil tangannya terus menghitung dolar yang tadi ia ambil dari dompet Vano.
"Tinggalin Atm nya satu yang" kata Vano lagi.
"Itu udah Ziva tinggalin 400 ribu. Buat isi bensin sama rokok" ketus Ziva dengan tangannya terus menghitung dolar dan mengulang lagi dari awal karena Vano mengajaknya bicara ia jadi lupa berapa nominal yang sudah ia hitung.
"Yang uang segini mana cukup" Vano mengambil uang di dompetnya dan menujukannya pada Ziva.
"Kalau gak mau. Bawa sini. Ziva mau Mas, buat makan bakso sama Mama" jawab Ziva santai.
"Ck" Vano berdecak kesal dengan berat hati terpaksa menyimpan uang 400 ribu itu pada dompetnya.
__ADS_1
"Mulai hari ini. Mas setiap pagi dapat uang saku 400" kata Ziva.
"Yang yang benar dong" jengkel Vano.
"Protes?" tanya Ziva dengan menatap tajam Vano.
"Bukan gitu yang. Tapi kamu gak kasian sama Mas" kata Vano dengan tegas.
"Ambil" kata Ziva mengembalikan apa yang tadi sudah ia ambil dari dompet Vano.
"Yang kamu serius" tanya Vano dengan mata yang berbinar, karena Ziva mengembalikan isi dompetnya.
"Ya dan Mas ambil semuanya" kata Ziva. Dengan cepat Vano mengambil apa yang Ziva berikan.
"Makasih yang kamu memang istri terbaik" jawab Vano sambil mencium kartu miliknya.
"Kumpulin tesemua pergi dari sini. Gak usah balik lagi" kata Ziva setengah berteriak. Vano mendeguk air liurnya mendengar ucapan Ziva.
"Yang kamu serius" tanya Vano dengan melas.
"Ayo pergi" kata Ziva lagi.
"Ini yang semua kamu yang simpan" Vano memberikan semua yang tadi Ziva kembalikan.
"Gak" ketus Ziva membuang wajahnya kesamping.
"Ini yang" kata Vano meletakannya di telapak tangan Ziva.
"Iklas gak?" tanya Ziva.
"Iklas yang" jawab Vano dengan merinding. Sudah lama sekali Vano tidak melihat Ziva segalak saat ini dan ia takut kalau Ziva kembali dingin padanya seperti dulu.
"Beneran iklas. Kalau gak iklas ambil lagi" Ziva memberikan pada Vano. Namun Vano menolak dengan mendorong tangan Ziva.
"Iklas yang. Mas 400 ribu setiap pagi gak papa" jawab Vano.
"Ma yuk kita ke dapur. Makan rujak" kata Ziva mengajak Sinta.
"Yuk" jawab Sinta dan keduanya mulai berjalan ke dapur.
"Nanti tas yang tadi kita beli dua Ma, pakek kartu tanpa batas Mas Vano" kata Ziva yang masih bisa di dengar oleh Vano.
"Yang!" teriak Vano.
"Apa" teriak Ziva.
"Sinta istrinya Hardy si pengusaha itu. Gak usah kamu bayarin yang. Si Hardy masih mampu!" seru Vano.
"Bocah kurang ajar" teriak Sinta mengejar Vano. Vano dengan cepat berlari keluar karena ia harus menemui Arsitek yang akan medisain rumah mereka akan segera di renopasi.
__ADS_1