
Ziva, Vano dan Sinta di tambah si kecil Zie kini duduk santai di dalam apartement milik Arman. Dari semalam ponsel Arman tidak bisa di hubungi membuat Sinta khawatir, dan siang ini Sinta memutuskan pergi ke apartement milik anak angkat yang sangat ia sayangi itu, Ziva yang juga merasa khawatir pada Seli akhirnya ikut karena berulang kali Ziva menghubungi Seli tapi tidak satu pun panggilannya di jawab. Bahkan Ziva menemukan ponsel Seli yang tergeletak di atas ranjang.
"Ma, Seli sama Arman kemana ya?" Ziva terus saja kasak-kusuk sedari tadi, sudah setengah hari mereka menunggu Seli dan Arman tapi sampai hari gelap pun keduanya belum pulang membuat kehawatiran Ziva dan Sinta semakin menjadi-jadi.
"Ziva apa mereka brantem ya?" Sinta juga tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Iya Ma, Ziva juga mikir gitu. Soalnya Seli dan Arman suka berantem kan?" Ziva tau Seli selalu berselisih paham bila bersama dengan Arman, dan kini keduanya tinggal bersama kemungkinan keduanya juga bertengkar seperti biasanya.
"Kamu apa sih yang, namanya juga pengantin baru seperti nggak pernah aja," tutur Vano yang yakin Seli dan Arman sedang bahagia di sana, tapi Ziva dan Sinta malah cemas.
"Kalau memang begitu ya sukur, tapi masalahnya dari semalam Mama hubungi Arman nggak bisa, dan nggak biasanya Arman sehari nggak hubungi Mama," Sinta ingat sekali dimana pun Arman berada pasti selalu menghubunginya, kadang Arman cuman menanyakan apakah Sinta sudah makan itu saja dan Sinta sangat kawatir sehari semalam Arman tidak bisa di hubungi.
"Mama tenang aja dia sekarang paling lagi honeymoon," kata Vano lagi yang sedang santai bermain dengan Zie.
"Kamu nggak usah ngomong, bikin Mama pusing saja," kesal Sinta.
Vano diam terkadang ia pun bingung, ia yang anak kandung tapi seperti anak angkat. Tapi Arman yang hanya anak angkat malah mendapat posisi anak kandung, Sinta sangat menyayangi Arman sebab Arman adalah anak yang penurut dan tidak suka membantah.
Arman juga bukan pria yang suka bermain dengan wanita, apalagi dengan wanita malam Arman sangat anti dengan hal itu. Tapi bagaimana dengan Vano? Vano sejak Smp sudah mengerti pacaran saat SMA ia sudah mulai memasuki club malam dan bermain wanita, dan hal yang paling di benci Sinta Vano nekat mempunyai istri simpanan.
"Mama ku sayang, percaya deh mereka lagi kikuk-kikuk," kata Vano lagi.
"Diam!" bentak Sinta.
Vano mendeguk saliva, tidak ada kata menang bila berhadapan dengan Sinta, hingga beberapa menit kemudian pintu terbuka terlihat Armann yang mengangkat tubuh Seli mulai masuk tanpa Arman sadari ia melwati keempat orang yang memperhatikannya.
Vano mengikuti Arman dari belakang sementara Ziva dan Sunta hanya diam saja duduk. Arman membaringkan tubuh Seli yang sudah tidak sanggup bangun, Arman menarik Selimut untuk menyelimuti Seli.
"Masih sakit?" tanya Arman.
Seli diam tak menjawab wajahnya malah memerah sebab matanya menatap Vano yang berdiri di belakang Arman. Seli mala menutup wajah dan membelakangi Arman.
"Cie istri aku malu-malu," Arman malah memeluk tubuh Seli.
__ADS_1
"Kak, jauh-jauh," Seli menolak Arman yang memeluknya.
"Kenapa masih sakit emang, tenang yang Kakak cuman peluk," Arman terus mencoba memeluk Seli tapi Seli terus menolak.
"Kak jangan!" teriak Seli.
"Omm om om," terdengar suara Zie yang berjalan memasuki kamar.
Arman menangkap suara Zie tapi itu seperti tidak mungkin pikir Arman, tapi lagi-lagi Arman mendengarnya. Arman berbalik bukan hanya Zie yang ada di sana tapi Vano juga ada, Sinta pun sudah berdiri di depan pintu.
"Kita khawatirin lu tapi lu ternyata...." Vano mencekik leher Arman dengan rasa kesal.
"Vano gila sakit," Arman juga balas mencekik Vano.
"Sialan lu," kesal Vano menghempaskan tubuh Arman kelantai.
"Arman kau ya..." Sinta juga geram pada Arman dan ingin memukulnya, tapi ia bingung harus memukul pakai apa. Mata Sinta mencari benda yang bisa ia gunakan untuk memukul Arman, Vano mengerti dan mengambil payung yang ada di dalam sebuah guci.
"Pakek ini Ma," Vano memberikan payung itu pada Sinta.
"Ampun Ma," teriak Arman seperti anak kecil yang di marahi oleh Mamanya.
"Sakit nggak?" tanya Sinta yang kesal.
"Sakit Ma," jawab Arman yang masih duduk di lantai mendongkak menatap wajah Sinta yang berkacak pinggang dengan memegang payung sebagai alat memukul Arman.
"Tadi juga kamu tanya Seli sakit atau nggak, apa kamu pukuli Seli!" teriak Sinta yang merasa kesal.
Arman mendeguk saliva mendengar pertanyaan Sinta lalu matanya menatap Seli yang sudah duduk di ranjang, Seli yang di lihat Arman langsung menutup wajahnya dengan selimut, dengan rasa malu yang tak terkira.
"Mama itu bukan di bukuli tapi..." Vano menggantung ucapannya dan menatap wajah Sinta, Vano yakin Sinta mengerti.
"Ah....benarkah, berati Mama bakalan punya cucu lagi dong oh senangnya," Sinta melempar payung di tangannya tanpa sengaja payung itu terjatuh di wajah Arman.
__ADS_1
"Au," Arman mengelus wajahnya lalu bangun.
"Seli," Sinta langsung memeluk sang menantu dengan rasa yang bahagia, karena sudah berpikir ia juga akan mendapat segera mendapat cucu juga dari Arman.
"Mama," Seli tidak tau lagi harus apa wajahnya sudah sangat merah.
Sementara Arman keluar dari kamar bersama Vano yang merangkul bahunya.
"Gimana bro?" seloroh Vano.
"Gila lu," jawab Arman menghempaskan tangan Vano yang merangkul bahunya.
"Sayang masih sakit," Vano menirukan suara Arman yang tadi bertanya pada Seli.
"Sialan lu!" kesal Arman karena Vano ternyata mendengar
"Ahahahaa," Vano memegang perutnya merasa sakit sebab menertawai Arman.
"Diam brengsek!" teriak Arman.
"Sayang masih sakit, Ahahahah," Vano lagi-lagi menertawai Arman.
Ziva hanya tersenyum melihat wajah Arman yang juga ikut duduk di sofa dengan rasa malu. Ziva juga ingin mengejek Seli tapi nanti setelah Sinta keluar dan hanya tinggal mereka berdua saja. Sebab Ziva ingin bertanya banyak hal dan Seli pasti tidak mau menjawab bila ada Sinta juga.
"Kita udah seharian nunggu lu, tapi ternyata lu lagi bahagia, sialan lu," kesal Vano sambil duduk di samping Ziva.
"Kalian seharian nungguin?" Arman seperti bingung dengan ucapan Vano.
"Iya, Mama khawatir lu dari semalam menghilang," jawab Vano.
"Aku juga hubungi Seli tapi nggak ada jawaban," kesal Ziva.
"Hehehe," Arman menggaruk kepala merasa malu sendiri.
__ADS_1
"Terutama Mama tu gue dari tadi jadi sasaran kemarahanya, nah elu malah lagi bahagia," Vano mengingat saat Sinta membentaknya bila memberi paendapat karena Arman dan ternyata Arman sedang bahagia.