Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 177


__ADS_3

Tia masih menangis saat mengetahui fakta jika ia hanyalah anak tiri dari mendiang sang Ayah yang selama ini menganggapnya anak kandung, ia pun tak menyangka ternyata kenyataan itu ia ketahui setelah banyak yang terluka. Bahkan sampai meregang nyawa.


"Aku nggak percaya, Ibu pasti bohong!" teriak Tia sambil berusaha melepaskan ikatan tangannya.


"Tidak Tia, itu memang kenyataannya," tutur Mirna membenarkan kembali ucapannya.


"Kenapa baru sekarang Ibu bilang," kesal Tia tak bisa terima.


"Maaf Tia....hiks....hiks....maaf" kata Mirna dengan suara putus asa.


"Terlambat Bu, kedua orang tua Ziva sudah meninggal dan kita orang di balik kejadian itu," tandas Tia lagi kesal pada sang Ibu, yang ternyata menyimpan rahasia sebesar itu.


"Ziva, maafkan Nenek. Nenek salah.....hiks....hiks. Karena sikap iri dan dengki yang Nenek miliki, Nenek lupa akan kebaikan Kakek kamu dulu yang mau menutupi aib Nenek. Maaf....." Mirna hanya bisa menunduk dengan tangan terikat kebelakang, menyesali semua yang sudah terjadi.


Ziva pun hanya bisa menangis mengingat kejadian saat itu, ia harus kehilangan orang tua di saat ia masih belum bisa hidup mandiri. Bahkan membesarkan dua adiknya dengan berbagai cobaan yang terus menghampirinya, dan kini adiknya masih berjuang di rumah sakit antara hidup dan mati masih karena perbuatan orang yang sama, orang yang melenyapkan kedua orang tuanya.


"Bu, kenapa baru bilang sekarang, sekarang semua sudah terlambat Bu. Permintaan maaf Ibu juga sudah percuma," teriak Tia masih dengan menangis.


"Ziva maafin Nenek, Nenek mohon," pinta Mirna lagi, ia sangat berharap Ziva memaafkannya.


"Nggak Ziva nggak akan pernah bisa maafin Nenek dan Tante, kalian berdua harus bertanggung jawab karena udah buat keluarga kami hancur," tandas Ziva.

__ADS_1


Hati Ziva tak sekeras batu, namun tak juga selembut sutra. Ziva terlahir sebagai manusia biasa dengan sejuta kekurangan termasuk melupakan kejahatan orang padanya, itu tidak mungkin. Hatinya tak semurah itu namun tak juga sekejam yang di bayangkan, akan tetapi semua manusia biasa terlahir dengan batas kesabaran. Memaafkan mungkin saja bisa tapi tidak dengan melupakan, retaknya perasaan masih bisa di obati namun masih meninggalkan bekas luka sebagai tanda kau lah pembuat luka ku.


"Nenek sangat menyesal Ziva, Nenek tau Nenek salah dan pantas di hukum, namun tidak kah kau mau memaafkan Nenek dengan tulus dari hati kecil mu. Papa dan Mama mu adalah orang baik dan bermurah hati, aku yakin kau pun sedikit banyaknya pasti mewarisi sifat itu. Nenek mohon ya....maafkan Nenek," tutur Mirna lagi.


"Aku sudah terlatih hidup dalam kerasnya dunia, terombang ambil tanpa arah. Pergi mengikuti arah angin yang berharap akan membawa ku ke tepian, dan sejak saat aku sampai di tepian. Aku sadar siapa yang ada bersama ku saat aku terluka, saat aku terombang ambing. Banyak yang datang setelah aku sampai di tepian tapi bagi ku yang tulus hanya orang-orang yang ada saat aku lemah. Dan kalian tidak ada saat itu, lalu di mana aku harus iba, kemana hati kalian saat aku memohon berharap kalian meringankan sedikut kesedihan ku. Tidak ada. Kalian justru menghina bahkan saat kalian menikmati harta orang tua ku, dan sekarang kalian mengharap maaf? Aku tak sebaik itu," tandas Ziva.


Mirna terdiam mendengar apa yang di katakan Ziva, tadinya ia sangat berharap dengan memohon ia akan terbebas dari semua hukuman yang akan ia terima. Namun ternyata salah, luka itu sudah sangat dalam hingga tak ada kata ampun dan maaf lagi yang pantas untuk di ucapkan, Mirna juga kini iklas menerima hukuman apa pun yang akan ia terima dari pada ia terus di hantui rasa bersalah karena sudah melenyapkan dua nyawa tak bersalah.


"Baiklah Ziva, Nenek akan terima apa pun hukuman yang akan kau berikan. Nenek sadar salah Nenek sangat banyak sekali, namun saat ini Nenek sangat menyesali semua yang telah terjadi," ucap Mirna penuh penyesal.


"Percuma Nek, menyesal pun sudah tidak ada artinya. Kalau dengan memaafkan Nenek bisa mengembalikan Mama dan Papa aku yang akan meminta maaf pada Nenek. Tapi itu mustahil. Yang ada sekarang keadaan Daffa sangat memprihatinkan dan itu karena kalian, bahkan Tante masih belum puas semakin menjadi-jadi," Ziva tak habis pikir mengapa Mirna dan Tia tak pernah puas untuk menyakiti mereka, keadaan Daffa sudah parah dan Tia masih memperparah juga.


"Maaf Ziva," kata Mirna.


"Kita apakan dia boss?" tanya Tomi adalah orang kepercayaan Arman.


"Kita sate saja, lalu kita bagikan untuk berbuka puasa para hewan buas," jawab Arman santai.


Mirna dan Tia tau bagaimana cara Hutomo mati, sebab Arman sewaktu itu memang memerintahkan Tomi menunjukan sedikit rekaman Hutomo saat bersama hewan buas itu berniat ingin memperingati keduanya, agar menjauh dari kehidupan Ziva dan kedua adiknya. Namun Arman salah justru Tia malah semakin mencari masalah dengannya.


"Bos benar sekali, aku sangat suka bagian menyincang dan membuat bumbu," seloroh Tomi.

__ADS_1


"Dan aku yang akan melempar apa hewan kelapan itu!" tandas Arman lagi.


"Tidak. Aku mohon jangan ampunilah kami.....kami sangat menyesal, sangat menyesal," ucap Tia bergidik ngeri.


"Menyesal? Ahahahhahaha," semua anak buah Arman tertawa lepas mendengar jawaban Tia.


"Bisa juga dia menyesal bos," kata Tomi.


Ziva juga merasa takut dengan pembicara para lelaki bertubuh kekar itu, ia menatap Vano sambil mendeguk saliva bertanya tentang kebenaran pembicaraan mereka.


"Mas, mereka nggak sekejam itu kan?" Ziva takut dan kembali memeluk Vano dengan erat.


"Sudah, jangan dengarkan mereka," kata Vano ingin menutupi siapa mereka di sana.


"Ziva tante mohon, suami tante sudah di habisi dengan cara yang sadis bersama seekor binatang. Jangan lakukan itu pada tante juga," kata Tia dengan melas.


"Mas apa itu benar?" Ziva mendeguk saliva sambil bertanya pada Vano, kalau benar ia berarti selama ini ia hidup dengan seorang mafia. Ia juga mendadak takut melihat Vano.


"Sayang, kenapa menjauh," Vano menarik Ziva kembali, "Kalian semua bawa mereka ke kantor polisi, biarkan mereka seumur hidup di sana. Sampai busuk ya....pastikan itu!" perintah Vano pada Tomi.


"Nggak jadi di sate bos," seloroh Tomi sebab ia tau Vano mencoba menutupi jati dirinya dari Ziva.

__ADS_1


"Kau yang ku buat sate mau!" bentak Vano dengan nada tinggi, Tomi masih saja menggodanya padahal mereka sudah melihat Ziva ketakutan.


__ADS_2