Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 136


__ADS_3

Ziva kini terlihat berbeda dari sebelumnya, bahkan hamil kali ini ia tak ingin Vano pergi meninggalkannya lama-lama, dan akhirnya kemana Vano pergi Ziva juga ikut, seperti hari ini Ziva juga ikut ke kantor menemani Vano.


Vano tersenyum dari kursi kebesarannya melihat sang istri duduk di sofa yang sedang memakan jambu dengan taburan garam, Ziva terlihat sangat menikmati makanannya tanpa perduli sudah berapa kali rekan bisnis Vano datang menemui suaminya, ia terap santai di sudut ruangan yang terpenting adalah setiap ia ingin melihat Vano selalu ada di pandangan matanya.


"Sayang," Vano bangun dari kursinya dan mendekati sang istri.


"Iya," Jawab Ziva dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Vano terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya, Ziva kini bukan lagi seperti seorang wanita yang sudah memiliki anak, tapi ia lebih seperti anak kecil yang hanya memikirkan makanan, hamil bayi kembar empat membuatnya selalu saja merasa lapar, bukan hanya siang malam juga begitu.


"Mas mau dong," Vano mengambil satu potongan jambu milik Ziva, dan langsung memakannya.


"Mas apasih udah ya, entar abis Ziva ini aja belum cukup," Ziva memeluk piring berisi potongan jambu seolah ia melindungi jambu miliknya.


Vano menggaruk tengkuk yang tak terasa gatal, namun melihat tingjah Ziva mendadak terasa gatal. Vano menoel-noel hidung Ziva sebab terasa gemas di mata Vano.


"Is," Ziva menepis tangan Vano karena kesal, "Apasih," Ziva kembali melanjutkan ritual makannya.


"Mas mau pergi," Kata Vano pamit pada Ziva.


"Mas!" Ziva setengah berlari dengan cepat memegang lengan Vano, "Ikut," Ziva menatap Vano penuh harap.


"Mas cuman..."Ucapan Vano terpotong karena Ziva dengan cepat menimpali.


"Ikut titik!"


"Ayo," Vano mengecup kening Ziva dan melingkarkan tangan di pinggang Ziva.


Ziva tersenyum karena Vano kali ini pun tidak lagi melarangnya ikut, namun Ziva merasa aneh mereka bukan keluar tapi masuk ke ruang istirahat Vano. Lalu Vano menggandeng Ziva masuk ke toilet.


"Mas," Ziva berhenti Vano juga ikut berhenti, Ziva mendongkak menatap Vano penuh tanya, "Mas kok ke toilet?" Tanya Ziva.


"Ya kan Mas mules yang," Kata Vano santai.


Ziva malah melongo, dengan cepat telapak tangan Vano mengusap wajah Ziva yang mumbuat sang istri kembali sadar dari keterkejutannya.


"Kenapa nggak bilang!" Kesal Ziva.


"Sayang ku, tadi Mas udah mau bilang tapi sayangnya Mas kan tadi maksa," Vano menarik hidung Ziva agar sang istri mengingatnya kembali.


"Tapi kan Mas harusnya tetap bilang kalau mau ke toilet," Ziva lagi-lagi hanya bisa meluapkan kekesalannya pada Vano.

__ADS_1


"Udah, kamu tunggu di sini, liatin Mas ya, mau ngapain," Kata Vano.


Ziva kembali melebarkan mata mendengar keinginan sang suami, yang konyol.


"Enak aja, Mas pikir Ziva apaan sampek Mas mau buang air Ziva lihat, kan bau," Ziva keluar dari kamar mandi dan memilih kembali duduk di sofa dan menghabiskan jambu yang tadi ia makan sampai habis.


Sementara Vano tertawa lepas melihat wajah kesal sang istri karena berhasil ia kerjai di siang hari ini, tidak lama kemudian Vano sudah keluar dari toilet ia berjalan menemui Ziva.


"Sayang," Vano ikut duduk di samping Ziva, Ziva tidak menghiraukan Vano ia masih kesal dan kembali melanjutkan memakan jambunya.


"Sayang ku," Vano tau istrinya sedang marah dan ia mencoba merayu sang istri, "Sini," Vano mengangkat tubuh gemuk Ziva untuk duduk di pangkuannya.


"Apa sih," Kesal Ziva tapi ia malah bersandar pada dada Vano, tanpa niat berpindah sedikitpun.


"Ngomong nggak sopan sama suami, turun," Vano berpura-pura menurunkan Ziva dari pangkuannya, tapi Ziva berusaha menolak.


"Nggak," Jawab Ziva malah memeluk Vano.


"Turun!" Kata Vano lagi.


"Mas," Ziva menunjukan wajah sedihnya pada sang suami agar tak di minta turun.


"Mas hiks, hiks," Ziva turun tapi duduk di lantai seperti anak kecil yang sedang minta di belikan mainan.


Sementara Vano ingin tertawa lepas melihat kekonyolan sang istri yang berubah manja, untuk hamil yang kedua ini Vano merasa Ziva sangat berbeda, selain berubah manja Ziva juga kini berubah cengeng.


"Apa?" Tanya Vano dengan wajah datarnya.


"Hiks, hiks, Ziva mau pangku...." Teriak Ziva.


"Satu jam dua juta," Jawab Vano asal, ia bahkan menunjukan dua jarinya berjongkok pada Ziva.


"Tapi Ziva punya banyak uang di tabungan," Jawab Ziva.


"Itu uang Mas yang kasih kan?" tanya Vano.


"He'um," Ziva manggut-mangut dengan bibir manyun.


"Mas mau uang yang hasil kerja kamu sendiri," Tutur Vano.


"Nggak ada, uang Ziva yang pas kerja sama Mas udah abis," Jawab Ziva dengan polos.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Buat," Ziva berpikir dan mulai menghitung dengan jarinya, "Buat beli keperluan si kembar, buat Ziva beli baju, buat Ziva beli alat kosmetik, terus apa lagi ya lupa," Ziva mengetuk-ngetuk kepala berusaha mengingat, sementara Vano kini mulai kasihan pada istrinya yang ia kerjai, tidak ada lagi Ziva yang galak untuk saat hamil kedua ini.


"Kenapa kamu habiskan semua uangnya?"


"Mas bilang uang yang Ziva cari itu bebas buat beli apa aja dan sekarang marah-marah, udah Ziva minta pangku sama satpan di rumah aja," Jawab Ziva sambil berusaha berdiri.


"Eh, kok sama satpam?" Vano menahan lengan Ziva yang hendak pergi.


"Kan Mas nggak mau!" ketus Ziva.


"Mau, ayo sini" Vano mengangkat tubuh Ziva untuk duduk di pangkuannya.


Ziva tersenyum dan langsung memeluk Vano, begitu juga dengan Vano yang menghujami Ziva dengan ciuman.


"Yang kamu cinta nggak sama Mas?" Tanya Vano.


"Cinta dong," Jawab Ziva tangannya kembali mengarah pada jambu yang tadi sempat terhenti.


"Sebesar apa?" Tanya Vano dengan hati berbunga-bunga.


"Ini," Ziva menunjuk tanganya yang kosong tak berisi apa-apa.


"Apa? Nggak ada apa-apa, jangan-jangan kamu bohong lagi cinta sama Mas," Tutur Vano dengan kecewa.


"Ini memang ngga ada apa-apa, karena memang cinta Ziva sama Mas nggak bisa di ukur pakek apa-apa. Kan cinta Ziva tak terbatas Mas, udah di paketin sama Tuhan nggak akan berkurang dan habis," Jawab Ziva santai.


Vano tak mengerti lagi dadanya mendadak kembang kempis, pertama kalinya Ziva mengucap kata gombalan yang membuat Vano menjadi panas dingin.


"Sayang kamu kok pinter ngebombal sih?"


"Di ajarin Bilmar," jawab Ziva.


"Jadi tadi nggak dari hati kamu?" tanya Vano kesal.


"Kan Ziva bilang di ajarin Bilmar!" Jawab Ziva tegas.


"Ziva...." Vano kesal dan memelum Ziva dengan kuat.


"Ahahahah, Ampun Mas," Teriak Ziva.

__ADS_1


__ADS_2