Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Ektra part 1


__ADS_3

Enam tahun kemudian.


Enam tahun sudah berlalu, keluarga Vano terlihat semakin bahagia bersama dengan empat orang putra dan satu orang putri. Namun kini setiap pagi, siang atau pun malam, di antara anak-anaknya selalu terlibat pertengkaran hanya karena masalah mainan. Terkadang yang satu mengejek yang lainnya, dan di situ lah Vano juga Ziva merasa bahagia.


"Bunda, Zie udah cantik belom?" tanya Zie yang baru saja keluar dari kamarnya dengan memakai seragam sekolah, sebab Zie sudah duduk di bangku kelas satu SD. Sebenarnya Zie masih duduk di bangku TK, namun ia tak mau lagi sekolah di sana sebab sudah dua tahun ia duduk di bangku TK.


Ziva memperhatikan gaya putrinya, dengan seragam putih dan rok biru. Di padu dengan rompi, sempurna sudah penampilan putrinya. Namun mata Ziva menatap bagian bawah baju Zie yang di ikat tepat di bagian pusatnya.


"Zie, bajunya kok gitu?" Ziva mendekati Zie berniat memperbaiki baju putrinya, namun Zie menjauh dengan menggelengkan kepala.


"Ini namanya cewek gaul Bunda, jadi biar begini aja ya," kata Zie menggoyangkan pinggulnya, sementara Ziva ingin tertawa melihat tingkah konyol putrinya.


"Nggak ada, gaul-gaul apaan. Udah kayak orang gila," kata Ziva memarahi putrinya agar tak melakukan hal aneh-aneh lagi.


"Enak aja, Bunda udah kayak ibu-ibu rempong aja nggak tau gaul," tegas Zie lagi.


"Ahahahahaa," terdengar suara Alfa yang baru saja datang bergabung dan ia langsung duduk di kursi meja makan.


"Ngapain ketawa?" tanya Zie kesal.


"Kak Zie, gaya mu kayak orang gila," Alfa terus tertawa lebar mengejek Zie.


"Ahahahaa Kak Zie, jadi model apa?" tanya Bastian yang juga mulai mendudukan pantatnya di kursi, karena mereka akan segera sarapan.


"Kak Zie bukan jadi model, tapi ondel-odel," timpal Chandra.


"Bunda!!......" teriak Zie kesal kepada adik-adiknya yang sangat suka sekali mengejek dirinya.


"Udah-udah," Ziva langsung menengahi anak-anaknya, hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari Ziva dan kadang ia juga di buat pusing.


"Selamat pagi?" sapa Vano yang ikut bergabung bersama anak-anaknya, untuk sarapan bersama. Vano datang bersama Davit, Davit tak banyak bicara ia hanya sesekali saja berbicara ia lebih pendiam dari yang lainnya. Namun jika Davit mulai berbicara ia bisa lebih rusuh dari yang lainnya.


"Pagi Ayah," jawab semuanya dengan bersamaan.


Ziva langsung menyajikan sarapan untuk Vano, dan kelima anak-anaknya.

__ADS_1


"Zie, kamu kenapa bajunya di ikat begitu?" tanya Vano.


"Gaul Yah," jawab Zie tanpa melihat sang Ayah.


"Ini lagi," Chandra menarik rambut Zie yang di kuncir namun di bagi empat bagian, "Seperti ekor kuda," lanjut Chandra.


"Sakit......!" teriak Zie.


"Kak Zie brisik!" kata Alif yang sangat tak suka dengan keributan.


"Sudah semuanya kita mau ke pantai jangan brisik," tergur Bastian yang sedang bermain game di ponselnya.


"Ke sekolah Bas," Ziva langsung mengambil ponsel yang di pegang Bastian, sebab anaknya yang satu itu sangat suka bermain game.


"Bunda balikin," pinta Bastian berusaha merebut kembali ponsel kesayangannya.


"Ayo sarapan dulu, kalian harus segera sampai di sekolah," Ziva memperingati Bastian yang masih duduk di bangku Tk bersama dengan ketiga kembarannya, namun semuanya sudah merasa dirinya sangat dewasa.


"Bunda balikin," pinta Bastian lagi.


"Bas, lu mau sekolah. Lu udah gedek, berhenti jadi anak-anak, kita udah dewasa," tambah Davit yang mulai membuka suara.


"Gede Dav, bukan gedek.....ngomong aja belum jelas. Udah sok dewasa," kata Zie mengomeli adiknya.


"Tau ni, kencing aja masih bengkok!" sambung Alif lagi.


"Aku udah bisa lulus tau," jawab Davit dengan bangga.


"Lurus! Apaan lulus ngomong aja nggak bener udah ngaku dewasa," jawab Zie anak perempuan itu memang paling cerewet di antara yang lainnya.


"Diam, diam, diam," Ziva sangat kesal dengan keributan putra-putrinya yang tak pernah akur, apa lagi saling mengalah. Sementara Vano hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya.


Semua diam saat mendengar Ziva yang marah, namun itu tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian Zie kembali menjulurkan lidahnya pada Davit.


"Kak Zie nggak pelcaya aku bisa kencing lulus," kata Davit kembali melanjutkan pertengkaran mereka yang tadi sempat terhenti, karena Zie mengejek Davit tak mau tinggal diam.

__ADS_1


"Percaya! Bukan pelcaya. Lurus, bukan lulus, cadel!" kesal Zie memperbaiki perkataan Davit, "Sok dewasa," lanjutnya lagi.


"Nggak pecaya, nih lihat," Davit berdiri di atas kursi meja makan dan menurun kan rel sreting celanannya, "Lihat ya," Davit sudah bersiap-siap menyemburkan air kencingnya.


"Davit!" Ziva kembali berteriak dengan panik, bagai mana bisa anak bungsunya itu membuang air kencing di meja makan. Bahkan di sana banyak makanan, "Turun!" tegas Ziva.


"Kak Zie halus lihat duyu Bunda, Davit udah belajal, Davit udah dewasa," kata Davit lagi tersenyum bangga.


Vano menahan tawa melihat tingkah anak bungsunya, namun ia tak menunjukannya di hadapan anak-anaknya.


"Davit," Vano bersuara dengan pelan dan menatap Davit dengan santai.


"Iya Yah, Davit nggak jadi tunjukin di sini," Davit kembali membenarkan duduknya, karena semua anak-anaknya memang sangat takut pada Vano.


"Huuuuh......" Ziva membuang napas dengan lega, karena hampir saja Davit menyiram semua makanan dengan air kencing.


"Zie bajunya perbaiki!" kata Vano menujuk baju Zie yang masih terikat.


"Tapi Yah, ini gaul," Zie masih sangat keberatan dengan apa yang di perintahkan Vano, namun ia juga sangat takut pada Vano.


"Ayo Kak Zie, kasih contoh yang baik buat adik-adiknya," timpat Ziva.


"Contoh? Kak Zie belajar membaca aja nggak beres," Bastian malah mengejek Zie, yang artinya memancing kembali pertengkaran, "Kak Zie kalau baca gini Bas denger sendiri kemarin," Bastian mulai mencontohkan cara membaca Zie yang masih belajar menyambungkan hurup, "Kah a ka, r eret. Di baca. Mencret," lanjut Bastian.


"Ahahahahaaa," yang lainnya malah tertawa terpikal-pikal mendengar apa yang di katakan Bastian.


"Heh, aku udah bisa baca ya, aku pinter!" kata Zie yang berusaha membela diri.


"Kah a ka. R eret. di baca, Mencret," Alif malah ikut mengulangi apa yang di katakan Bastian barusan, sambil tertawa terpikal-pikal.


"Ahahahahaaaa......" Alif, Bastian, Chandra dan Davit kembali tertawa, tanpa bisa berhenti.


Sementara Ziva dan Vano saling pandang, memikirkan bertapa konyolnya putra-putri mereka.


"Diam!" teriak Zie.

__ADS_1


"Gaul, kemarin aja masih ngompol," kata Bastian yang sangat suka menjaili Zie.


"Bunda.......Ayah........" teriak Zie dengan sekencang-kencang nya, bahkan yang lain sampai menutup telinga karena suara Zie yang begitu kencang sangat mengganggu gendang telinga.


__ADS_2