
Resepsi Pernikahan Arman dan Seli.
"Aduh sayang ku, kamu makan terus ya," kata Vano. Keluarga lain sibuk menyambut tamu tapi Ziva malah duduk di sudut dengan banyak makanan.
"Kak Ziva bener deh udah seperti orang kelaparan," kata Daffa yang juga bersama Vano menghampiri Zava.
"Iya nie Kak Ziva malu-maluin, suami pengusaha malah di kira orang pasti nggak pernah di kasih makan," seloroh Daffi lagi sambil menahan tawa.
"Heheheh, apa sih bocah pergi sono," kesal Ziva.
"Iya!" jawab Daffa dan Daffi sambil berlalu pergi.
"Sayang sikembar ada benarnya loh," kata Vano.
"Ziva nggak kuat lihat makanan Mas," Ziva juga merasa malu saat melihat banyak piring kosong di hadapannya, "Maaf ya Mas," Ziva menutup mulut dan merasa tidak enak sendiri.
"Sayang," Vano memeluk Ziva yang duduk di kursi, Ziva juga memeluk pinggang Vano dan mendongkak agar melihat wajah sang suami, "Kenapa harus minta maaf, Mas ngerti kok lagian Mas seneng kamu banyak makan jadinya gemuk," tutur Vano.
"Mas suka Ziva gemuk?"
"Iya dong," Vano mengelus perut buncit Ziva.
"Kenapa? Kan cantikan kurus sexy," tutur Ziva.
"Kalau kamu gemuk tandanya kamu bahagia yang," jawab Vano dengan konyol.
"Emang orang kurus nggak bahagia Mas?" Ziva malah seperti anak kecil yang memikirkan hal yang tidak penting.
"Ya nggak tau, kan Mas nggak ngurusin orang. Mas cuman ngurusin istri Mas yang cantik ini saja," kata Vano.
"Ish, Mas," Ziva mendadak malu karena banyak tamu di sana tapi Vano malah menggobal di hadapan orang banyak.
"Ziva, Vano ayo ambil fhoto keluarga," kata Ratih orang yang sangat aktif bila sudah acara.
"Ya Mi," jawab Ziva sambil berjalan mendekati Seli dan Arman.
"Ciyee nikah bro," goda Bilmar sambil bersalaman ala-ala pria.
"Lu mah ngoda gue mulu," jawab Arman merasa malu.
"Cie jadi belah duren bro," kata Vano menimpali.
"Ini lagi bos steres," kesal Arman.
__ADS_1
Vano dan Bilmar menarik Arman menjauh dari Seli dan yang lainnya, karena Bilmar dan Vano ingin mengoda Arman.
"Lu bisa yang itu nggak? Apa mau gue ajarin cara belah duren?" seloroh Vano.
"Sialan lu," kesal Arman.
"Mana tau lu nggak bisa, lu harus berguru sama gue," kata Vano lagi.
"Otak lu berdua nggak ada yang sehat," gerutu Arman sambil kembali mendekat pada Seli.
Semuanya terlihat bahagia apa lagi Arman senyumnya terus terukir, tapi tidak dengan Seli yang hanya tersenyum di hadapan para tahu saja, hingga senyum Seli hilang saat seorang pria menghampirinya dan menjabat tangannya.
"Selamat ya," tutur pria tersebut bernama Fahri senior Seli sekaligus lelaki yang di taksir Seli.
"Ya makasih," kata Seli tersenyum kecut.
"Semoga bahagia," tutur Fahri sebelum akhirnya ia menjabat tangan Arman yang berdiri di samping Seli.
Dengan berat hati Arman menjabat tangan Fahri, Arman tau Seli menyukai Fahri sebab Arman sangat mencintai Seli dan tak ingin orang lain memilikinya.
"Kalau lu nggak bisa bahagiain dia, masih ada gue," bisik Fahri sambil penepuk pundak Arman.
Arman tidak suka dengan kata-kata Fahri yang seolah meremehkannya, tapi Arman hanya diam saja lagi pula ia sudah menikah dengan Seli.
Semua sibuk mencari pasangannya masing-masing.
"Anggia sayang dansa sama Abang yuk," Bilmar berlutut di bawah kaki Anggia bahkan di hadapan orang banyak, dengan menyimpan rasa malu Anggia menggaguk dan memegang tangan Bilmar.
Sementara Vano juga menghampiri istrinya.
"Istri ku sayang, makannya nanti di lanjut ya, kita dansa dulu," tangan Vano mengambil sendok di tangan Ziva.
"Tapi kita udah pasangan lama Mas," Ziva merasa malu karena keduanya sudah memiliki anak, apa masih mungkin ikut berdansa pikir Ziva.
"Walau pun kita udah tua dan berambut putih, cinta kita nggak akan berubah. Ayo apa perlu Mas gendong kamu?" tanya Vano sambil melingkarkan tangan di pinggan Ziva.
Sinta dan Hardy juga tidak mau kalah, Hardy menaik turunkan alis matanya pada Sinta. Sinta mengerti Hardy memberinya kode untuk berdansa.
"Yuk," Sinta memeluk Hardy dengan cepat.
Sementara Ratih hanya diam saja sebab Rianda tidak akan mau bila di ajak berdansa.
"Pi ayo," Ratih melas di hadapan Rianda, berharap sang suami mau ikut berdansa seperti yang lainnya.
__ADS_1
"Kita udah tua malu Mi," Rianda terkekeh melihat wajah kesal sang istri.
"Papi lihat itu," Ratih menunjuk Sinta dan Hardy yang sudah berdasa, "Mbak ratih sama Kak Hardy juga udah tua tapi mereka masih seperti anak muda," kesal Ratih.
"Kita dansa di kamar saja," kata Rianda menarik tangan Ratih menuju kamar.
"Papi dansa ya di sini, bukan di kamar," gerutu Ratih.
"Besok Papi keluar negeri Mi, jadi kita dansa ala-ala kita saja," Rianda malah mengangkat tubuh istrinya menuju kamar, memang malam ini mereka semua akan menginap di hotel milik leluarga Zavano.
Sementara Seli merasa gemetar saat tangan Arman melingkar di pinggangnya, untuk hari ini Seli berubah menjadi gadis anggun dan tidak banyak bicara.
"Kau lelah," tanya Arman tepat di telinga Seli membuatnya merasakan deru hangatnya nafas sang suami seketika membuat Seli mermang.
"Sedikit," jawab Seli.
"Mau istirahat," tanya Arman lagi.
"Boleh," Seli juga sangat lelah kalau memang di bolehkan maka ia ingin sekali istirat.
"Ayo saya antar," kata Arman.
"Heh sabar, tamu masih banyak," kata Vano yang berbisik di telinga Arman, sebab Arman melewati Vano dan Ziva yang sedang berdansa.
"Otak lu nggak pernah benar?" jawab Arman.
"Yuk," Arman membawa Seli pergi kekamar untuk istirahat.
"Au," Seli yang tidak biasa memakai high heels tersandung dan hampir terjatuh, tapi dengan cepat Arman menangkapnya.
"Kau kenapa?" tanya Arman.
"Aku hanya lelah jadi tidak fokus saat berjalan lagi pula sepatu ku terlalu tinggi," jawab Seli.
Seli terpaksa memakainya sebab Sinta dan Ratih yang memaksa, Seli yang bertubuh pendek bahkan hanya sedada Arman saja membuat Sinta ingin membuat Seli sedikit tinggi.
"Bisa jalan," tanya Arman.
"Bisa,"Jawab Seli dengan tangannya melepas helg heels putih yang ia pakai.
Tapi Seli merasa tubuhnya melayang saat tangan kekar Arman mengangkatnya, dengan reflek Seli melingkarkan kedua tangannya di leher Arman.
Seli hanya diam dengan menunduk, ia tidak berani menatap bola mata Arman. Untuk hari ini keduanya sangat akur, Seli pun hanya menerima apa pun yang di lakukan Arman tanpa bantahan. Hari Seli memang sedang sangat kacau dan tidak karuan hingga ia berubah diam.
__ADS_1